VII - Melangkah Kembali

2154 Kata
Yang mampu Daniel ingat ketika bangun adalah Azka yang mendaftarkannya sebagai pasien pada salah satu rumah sakit sebelum kemudian perawat memintanya untuk rebah pada brankar. Selnajutnya Daniel mendapat cairan infus di tangan kanan dan aroma disinfektan yang menyerang hidungnya kuat-kuat. Katanya, Daniel kelelahan. Katanya, ia harus tidur beberapa saat dan mendapat asupan obat apabila tidak ingin jatuh sakit lebih lama lagi. Daniel tidak suka suasana rumah sakit, Akan tetapi, Azka ada di sisinya. Perempuan ini terlihat khawatir saat menemukan tubuh Daniel yang berbaring lemas di atas brankar. Hampir setiap jam, Azka akan meletakkan tangannya di atas kening Daniel. Azka akan menerka-nerka apakah subuh tubuh Daniel sudah turun atau belum. Ia juga meraih tisu dan mengusap keringat yang menitik di kulit wajah Daniel. Azka merawatnya. "How do you feel?" Azka bertanya tepat setelah Daniel membuka matanya. Langit gelap yang semula menyeruak dari kaca di dinding kanan sudah hilang. Yang ada tinggal cahaya keemasan. Langit sudah pagi. "I feel better now. Kamu nggak tidur?" Azka mengangguk. Ia segera membantu Daniel yang terlihat ingin bersandar. Dengan telaten, Azka menempatkan bantal di belakang punggung Daniel. Membiarkan laki-laki itu duduk dalam posisi yang nyaman. "Tidur kok. Kamu mau sarapan apa? Aku sudah beli bubur, kamu makan bubur aja ya?" Daniel tampak tidak suka saat Azka menarik kotak sterefoam di atas nakas. Aroma nasi yang dikentalkan tercium aneh di hidungnya untuk saat ini. Daniel berniat untuk menolak jika saja Azka tidak segera meletakkan kotak sterefoam di atas pangkuan Daniel. Benda tersebut terasa hangat di atas permukaan kulitnya. Azka jadi menebak-nebak, sejak kapan Azka menyiapakn semuanya? "Harus banget makan bubur?" Daniel bertanya seraya mengaduk bubur. Makanan tersebut terlihat pucat dan hambar di mata Daniel sekalipun lauknya lengkap. Azka mengerutkan hidungnya. Terlihat tidak suka atas sikap Daniel sekarang ini. "Jangan pilih-pilih makanan. Kamu harus sembuh dan pulang ke Jakarta." Dengan setengah hati mau tak mau Daniel menyendok buburnya dan makan tanpa mengunyahnya. Ia ingin sesi makan ini segera berakhir. "Harus dihabiskan ya. Oh, dokter bilang, demam kamu sudah turun. Harusnya kamu bisa pulang siang ini."  Di tengah sesi makannya, Daniel tersenyum. "Terima kasih ya. Karena sudah merawatku." "Ya, makannya kamu harus segera sembuh supaya aku nggak perlu repot-repot merawat kamu. Lagi pula kamu ini sudah besar lho, Niel. Sudah sepantasnya kamu menjaga diri kamu sendiri. Jangan menyepelekan gitu lho kalau soal kesehatan." Daniel meringis mendengar omelan Azka. Hal seperti ini sering sekali terjadi dulu. Azka adalah tipikal manusia yang lebih pandai menunjukkan afeksinya melalui tindakan. Mulut gadis itu bisa saja mengomel, namun sesungguhnya ia peduli. Daniel pantas untuk bersyukur atas satu hal tersebut. “Ini. Harus dihabiskan. Aku bakal tungguin sampai wadahnya kosong," lanjut Azka sambil menunjuk bubur di atas pangkuan Daniel dengan jarinya. Lucunya Daniel tidak banyak melawan. Ia makan dengan perlahan dan sesekali berhenti agar rasa tidak enak dari bubur meninggalkan lidahnya terlebih dahulu. Di tengah kegiatan makan itu, Daniel ingat setiap harinya ia akan makan bersama Azka. Di rumah mereka. “Kamu sudah makan?” Daniel bertanya usai meletakkan sendok ke dalam wadah sterefoam. Buburnya tinggal tersisa setengah. “Sudah.” “Katanya wanita hamil nggak bisa makan makanan tertentu karena mual. Kenapa ya aku kayaknya nggak pernah lihat kamu mual? Kalau bukan karena Mbak Sarmi mana mungkin aku tahu kalau kamu hamil." Daniel terlihat berpikir sebentar. "Kenapa kamu nggak bilang sama aku?" Tempo hari, Azka melihat cincin miliknya yang berada di jari kelingking Daniel. Laki-laki itu mengenakan dua cincin di tangan kirinya. "Memangnya Mbak Sarmi bilang apa aja sama kamu?" "Persis seperti yang aku bilang tadi. Hanya itu." “Gejala mual nggak dialami oleh semua wanita hamil, Niel. Pada awalnya aku juga bingung, tapi ternyata memang seperti itu adanya. Soal kandunganku, aku juga belum sadar sampai akhirnya Mbak Sarmi meminta aku buat melakukan tes kehamilan. Maksudku, kita sudah lama menikah dan biasanya ketika aku pikir, oh my period either late again or maybe I'm actually pregnant this time, aku justru mendapatkan hasil yang sebaliknya."  Azka menggigit bagian dalam bibirnya sebentar. Ia merasa ragu untuk melanjutkan kalimatnya. Namun, melihat Daniel yang terlihat mendengarkan membuat Azka merasa terdorong untuk mengungkapkan isi hatinya . "Aku takut, aku cuma memberikan harapan kosong lagi ke kamu. Seperti yang sudah-sudah. I'm sorry. I never planned to keep it as a secret." Daniel meletakkan satu tangannya yang bebas dari jarum infus di atas bahu Azka. "Hey, it's fine. Aku nggak tau kalau kamu punya kekhawatiran seperti itu. Maaf, karena aku justru banyak nggak tau soal kamu."  Azka mengembuskan napas kasar. “Nggak apa-apa. Toh nggak semua hal harus kamu tau.” Terdapat jeda singkat sebelum Azka kembali bersuara. “Kamu bilang kalau Hana kemungkinan pindah ke perusahaan kompetitor di Bandung. Kamu tahu pasti alamatnya di mana?" Oh, pertanyaan itu. Daniel sadar apapun yang menyangkut Hana pasti tidak akan hilang begitu saja dari hidupnya. Lagi pula rasanya Daniel akan menjadi manusia paling egois apabila mengharapkan Hana dilupakan oleh Azka dan anggota keluarganya. Mau bagaimana pun Hana pernah menjadi sosok yang berarti bagi keluarga Brata. “Ya. Spesifiknya aku belum tau. Perusahaan kompetitor yang dimaksud ada dua di wilayah Bandung. Satu di kawasan Lembang dan satu lagi di Cihampelas." "Sampai saat ini kamu belum menghubungi Hana?" "Sudah," jawab Daniel jujur sekalipun dirinya sendiri belum memikirkan kalimat seperti apa yang terdengar pantas untuk dikatakan nanti ketika Hana menerima panggilan telepon darinya. "Lalu bagaimana hasilnya?" Ada banyak pertanyaan yang Azka ajukan dalam satu kali tarikan napas itu. Lalu kenapa tidak segera dihampiri? Lalu kenapa harus Hana? Lalu kenapa harus kalian berdua? "Tidak aktif. I'm trying to reach her out, tapi seperti yang kita tahu, Hana seperti menghilang." “Kamu nggak ada niat untuk minta maaf pada Hana?" Air muka Azka keruh. Ia terlihat tidak suka dengan jawaban Daniel yang terkesan sangat tidak bertanggung jawab. Laki-laki ini harus banyak belajar meminta maaf dan bertanggung jawab rupanya. Daniel balik menatap Azka. Dirinya seolah-olah baru menyadari sesuatu. Merasa terlalu lama menunggu, Azka memutuskan untuk melanjutkan kalimatnya. “Bagaimana pun, Niel kalian sama-sama saling menyakiti. Aku nggak tau siapa yang memulainya duluan. Aku nggak mau tau juga karena kalian berdua sudah salah di mataku. Tapi, harusnya kamu punya beban moral pada Hana. Aku nggak tau gimana cara orang lain memutuskan hubungan dengan selingkuhan mereka, tapi aku mau kamu nggak jadi pengecut. Kamu harus melangkah kembali, Niel. Memperbaiki semuanya. Bukan cuma padaku, tapi juga Hana.” Hari itu, Daniel mendengarkan Azka tanpa memotong sedikitpun kalimatnya.  *** Azka langsung tahu kalau ibunya menolak pilihan Azka. Wanita yang telah melahirkannya itu menyetujui ide Azka untuk berdamai bersama Daniel. Sebagai seorang Ibu, Fira belum bisa memaafkan perbuatan laki-laki itu. “Kami cuma berdamai sebagai sesama orangtua dari anak kami kok. Aku tetap akan mengajukan gugatan cerai. Kita harus kasih kesempatan.” Azka menempelkan ponselnya ke kuping. Hari ini Fira dan Brata tidak bisa menemani Azka di Bandung. Kedua orangtuanya memiliki urusan bisnis di luar kota. Biasanya setiap kali melakukan perjalanan bisnis yang bersifat lama, Brata akan ikut memboyong Fira. Pada awalnya Fira berinisiatif untuk tetap berada di samping Azka. Akan tetapi, puterinya menolak. Azka tidak ingin menganggu waktu kedua orangtuanya. Lagi pula ia baik-baik saja di sini. “Kamu yakin?” Azka mengangguk tanpa ragu. “Ya. Sekarang aku juga harus ikut mencari Hana. Kami harus menyelesaikannya bersama.” Daniel sudah kembali ke Jakarta tiga hari lalu. Kondisi laki-laki itu juga sudah lebih baik. Ia bahkan masih sempat tertawa ketika Azka tanpa sengaja membuat jokes. Rasanya mereka seperti baik-baik saja. Ia dan Daniel. “Kamu mau cari kemana?" Oh, Azka juga belum tahu. Dari yang Azka dengar, Hana hanya pindah ke Bandung. Apabila ingatan Azka belum rusak, Hana pernah berkata kalau ia memiliki seorang bibi dari pihak ibunya yang juga tinggal di Bandung. Katanya, keluarga bibi Hana tinggal di dekat sebuah vila di kawasan Lembang. Azka tidak tahu apakah cerita tersebut benar atau tidak. Satu yang pasti, Azka ingin mencoba untuk pergi ke sana. Mungkin, pertama-tama Azka harus mencari tahu keberadaan Hana dari sanak saudaranya. Yang menjadi masalahnya adalah Azka sendiri tidak tahu di mana letak tempat tinggal kerabat Hana. Lembang adalah tempat yang luas. Mencari Hana dengan melewati setiap titik perumahan di wilayah Lembang mungkin akan menjadi pekerjaan paling berat sekaligus pilihan terakhir yang bisa Azka lakukan. “Aku mungkin akan minta bantuan Vadi.” “Vadi?” ibunya membeo. Azka mengusap tengkuknya yang tidak gatal. Ia lupa menceritakan perihal pertemuannya dengan laki-laki itu. “Ya. Dia temanku. Dia mahasiswa Merah Putih jurusan musik.” “Orangnya baik?” Tanpa sadar Azka tersenyum. “Nggak tau, tapi anaknya punya pemikiran yang cukup dewasa. Mungkin aku harus lihat dulu, apakah dia tipikal orang yang bisa disebut baik atau nggak.” Siang itu, Azka memutuskan untuk menemui Vadi di W’s cafe. Dan, persis seperti dugaanya. Laki-laki itu ada di sana. Di atas mini panggung dengan tali gitar yang menggantung di lehernya. Pandangan mereka saling temu, sesaat Azka menemukan Vadi yang tersenyum padanya. Seperti sedang menyapa. Siapa sangka laki-laki itu menyanyikan lagu milik Gianna Lee. Itu adalah To You Who Has No Smile. Lagu yang sempat mereka bicarakan beberapa waktu yang lalu. To you who has no smile I think that’s fine Because someone over there also lost her smile She is you She looks so pale. She doesn’t even smile when the neighboor come to her house. Pada beberapa waktu, Azka merasa Vadi sedang berbicara padanya. Laki-laki itu seolah-olah sedang mengatakan sesuatu yang ingin Azka dengar. Perihal dirinya yang berharga. Pada menit kesepuluh semenjak kedatangannya, Vadi turun dan menghampiri Azka. “Kamu cari aku?” tanyanya sambil menarik kursi dan duduk di hadapan Azka. Ah, sudah berapa lama ya Vadi tidak berjumpa dengan Azka. Lihat, hari ini Azka terlihat sangat cantik. Vadi jadi lupa, apakah Azka memang secantik ini sejak pertemuan pertama mereka atau wanita itu memang memiliki semacam kelebihan untuk terlihat lebih cantik setiap harinya. Vadi mulai merutuki pikirannya. “Kenapa kamu nggak pakai embel-embel nama panggilan lain ketika ngobrol sama saya selain aku-kamu? Saya lebih tua lho daripada kamu.” Vadi mengetuk-ngetukkan tiga jarinya di atas meja kayu. “Tau.” “Terus?” “Aku bisa aja panggil kamu teteh atau mbak atau bahkan ibu kalau kamu mau, tapi aku merasa kalau kita sejajar dengan panggilan aku-kamu. Teteh, mbak, dan ibu cuma jarak yang bikin aku ngerasa nggak duduk sejajar sama kamu. Lagi pula, umur kadang cuma perihal angka saja.” Oh, Azka mulai tertarik dengan percakapan mereka. Sejenak ia melupakan niat kedatangannya kemari. “Oh gitu? Kalau saya minta kamu buat manggil teteh gimana? Di Bandung panggilan untuk kakak perempuan—teteh ‘kan normal sekali.” “Ya, boleh aja.” Vadi mengangguk setuju. “Tapi, nanti kamu dikira kakakku beneran gimana? Lebih enak juga aku-kamu. Memangnya kamu enggak merasa jauh lebih muda ketika ngobrol sama aku tanpa embel-embel lain?” “Saya enggak setua itu ya.” Azka cemberut dan memandang Vadi sinis. Yang ditatap hanya tertawa ringan. “Iya, enggak kok. Bercanda doang aku. Lagian kalau kamu datang ke Universitas Merah Putih dan mengaku sebagai mahasiswa tingkat dua pun, pasti bakal banyak yang percaya. You looks so bright.” “Stop sugar coating.” Azka memutar bola matanya malas. Ia perlahan tahu kalau Vadi banyak menunjukkan afeksinya melalui kalimat. “Saya butuh bantuan kamu sekarang.” “Oke, oke jadi kamu datang ke sini karena butuh bantuan dariku ya? Apa itu? Jangan terlalu susah ya.” “Well I’m not sure. Kamu sudah lama tinggal di Bandung?” Vadi segera mengangguk. “Tentu. Aku lahir dan besar di sini. Kenapa?” “Kamu tahu banyak soal seluk-beluk kota Bandung?” “Lumayan, tapi nggak semua. Ada apa sih? Jangan bikin aku deg-degan dong.” Azka menyodorkan ponselnya pada Vadi. Di layar tipis itu terpampang wajah Hana yang terlihat sedang tersenyum menghadap kamera. “Ini sahabat saya, Hana. Dia tinggal di Jakarta, tapi rasanya dia udah pergi dari Jakarta. Satu-satunya tempat yang mungkin Hana datangi ya rumah kerabatnya di Bandung.” “Kamu mau aku buat cari Hana?” Azka mengangguk. “Ada alamat pastinya nggak?” “Sayangnya enggak. Saya dengar dia punya kerabat di Lembang.” Vadi mengembalikan ponsel Azka pada pemiliknya. Ia terlihat sangat tidak berminat untuk menyanggupi permintaan Azka. “Kamu tau kalau luas Kota Bandung hampir tiga kali lebih luas dari San Marino? How can I find her? Aku bukannya nggak mau membantu kamu, tapi aku justru malah takut kasih janji kosong buat kamu.” Azka paham maksud Vadi. Jelas mencari seseorang di tengah kota yang padat bisa menjadi sesuatu yang mustahil. Kira-kira seberapa besar peluang Azka untuk menemukan Hana? Tidak tahu. Azka sendiri tidak dapat memperhitungkannya. “Tapi kalau cari sama-sama mungkin bisa. Maksudku, bukan Cuma aku yang kerja di sini, tapi juga kamu. Kamu bilang dia sahabat kamu ‘kan? Kita harus melangkah bersama tau.” Melangkah bersama ya? Tawaran tersebut terdengar bagai solusi. Dan, Azka memang tidak dapat menemukan solusi lain selain tadi. Jadi, ia setuju. Mulai hari itu, keduanya bergerak mencari Hana. ***  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN