Langkah pertama yang Vadi lakukan adalah mencari kemungkinan keberadaan Hana berdasarkan tempat tinggal kerabatnya terlebih dahulu. Azka mengatakan kalau keluarga Hana pernah tinggal di Lembang. Dalam ceritanya, Hana menyebut kalau rumah bibinya kecil dan sederhana. Mereka hanya memiliki dua jendela di bagian depan bangun serta dipan kayu yang diletakkan di teras. Di samping rumah itu pula terdapat sebuah pondok berukuran besar.
"Kamu bilang nama belakang Hana itu Yokata?" Vadi bertanya begitu ia menginjak pedal gas. Tidak lama kemudian mobil Azka melaju di jalanan yang tampak lengang. Azka sendiri duduk di samping kursi supir, tepat di samping Vadi yang sedang menyetir.
"Ya. Itu nama marganya Hana."
"Dia berdarah campuran?"
Azka mengangguk. "Ya. Sepertinya begitu. Banyak hal yang tidak saya tau soal Hana, Di. Seperti siapa orangtuanya, bagaimana hubungan Hana dengan orangtuanya, bagaimana kondisi tempat yang Hana sebut dengan rumah. Saya merasa bukan teman yang baik. Kamu berpikir seperti itu juga?"
"Nggak juga. Aku malah berpikir kalau semua orang punya batasan terhadap hidupnya. Seperti Hana, mungkin batasan dia yang sempit terhadap kamu sebagai teman adalah satu-satunya hal yang bisa membuat dia merasa nyaman."
Azka memandang lurus pada kaca mobil. Di depan sana pemandangan jalanan terlihat jelas. Laju lalang roda dan pejalan kaki yang hilir mudik bergerak. Apabila berbicara soal Hana, maka akan ada banyak hal yang bisa Azka katakan. Hana yang begini dan Hana yang begitu. Namun, Hana dalam bayangan Azka sudah lama pergi. Ada gambar Hana yang kosong pada sudut hatinya yang lain.
"Tapi, saya malah berharap kalau Hana bisa bersikap lebih terbuka. Lebih-lebih pada saya. Kamu tau, kami sudah bersama sejak SMA. Rasanya Hana mungkin sudah tau seluruh hidup saya, sementara saya bahkan nggak tau apapun soal Hana."
"Kamu sebelumnya sudah pernah meminta ke Hana? Maksudku, apakah kamu pernah meminta pada Hana untuk jujur? Untuk bersikap lebih terbuka?"
"Belum." Azka merasa terkejut atas jawabannya sendiri. "Atau mungkin pernah. Saya cuma ingat setiap kali Hana menutup diri, saya hanya akan diam dan berusaha menghargai. Saya pikir, mungkin memang akan ada waktunya buat Hana dan saya."
"Pemkiran seperti itu nggak salah kok. Serius. Kamu pernah denger nggak kalau life is about timing?" Vadi menoleh sebentar pada Azka guna menemukan sebuah gelengan tipis dari perempuan tersebut. "Ya, pada intinya semua itu butuh waktu. Entah itu cinta, kematian, akhir yang bahagia. Semua ada waktunya. Dan, mungkin waktu untuk kamu mengenal Hana adalah sekarang."
"Bukannya sudah terlambat ya? Saya bahkan ragu kalau kami bisa bertemu kembali."
"Aku adalah tipikal orang yang merasa kalau nggak ada yang namanya terlambat. Yang ada itu takdir dan bagaimana kamu menyikapi sebuah peristiwa sebagai takdir tergantung dari bagaimana kamu memandang dunia."
Azka mengerutkan hidungnya. Kalimat Vadi terdengar agak berputar dan tidak langsung mengenai poin utamanya. "Jadi, maksud kamu sebetulnya kata terlambat itu nggak ada? Yang ada adahalah takdir? Takdir untuk berpisah? Seperti itu?"
Vadi mengangguk setelah mobil mereka berbelok di Jalan Pasir Kaliki. Masih ada sepuluh kelokan lagi yang harus Vadi lewati untuk bisa sampai ke tempat tujuan. "Betul."
"Tapi saya nggak mau pisah dari Hana. Saya ingin egois. Saya nggak mau kehilangan siapapun dalam hidup saya. Boleh seperti itu?"
Untuk pertama kalinya jawaban Vadi terdengar mengambang. "Boleh, tapi semua hal itu terdengar di luar kuasa kamu sebagai manusia. Kalau Tuhan izinkan kamu untuk bertemu lagi dengan Hana maka, nggak ada satupun hal di dunia ini yang bisa menghalangi kalian. Begitu juga sebaliknya. Semua tergantung bagaimana kehendak Tuhan."
"Kamu orang yang agamais ya ternyata."
"Nggak juga sih. Aku cuma berpikir kalau Tuhan itu pasti mendengar, memberi, dan membantu."
Azka menurunkan pandangan guna menemukan jari-jemarinya yang saling bertaut gugup. "Saya nggak tahu apakah Tuhan akan berpihak pada saya kali ini."
Azka tahu dirinya terdengar saat pesimis. Hanya saja, Azka mulai ragu kalau semesta akan merestui langkahnya. Semua masih terasa sulit untuk Azka terima.
"Tuhan itu Maha Baik, Azka. Dia tau yang terbaik untuk kamu. Aduh, aku kesannya menggurui banget nggak sih?" Vadi terdengar tertawa sedikit manakala menuntaskan kalimatnya. "Tapi, ya begitu. Kamu nggak perlu menyalahkan diri kamu sendiri kalau rencanamu nggak berjalan sesuai dengan harapan. That's how life works. Kamu tau nggak Tan Malaka pernah bilang, terbentur, tebentur, terbentur, terbentuk. Manusia itu mungkin memang harus tebentur ribuan kali supaya punya bentuk."
"Kamu terdengar sangat bijaksana saat ini. Don't you? Apakah kamu pernah takut juga ketika mengahadapi dunia yang nggak kamu inginkan?"
Oh, tentu. Ada ribuan malam yang Vadi habiskan dalam ketakutan yang membalut seluruh tubuhnya. "Ya. Aku juga pernah takut."
"How do you deal with fear?"
"Sampai saat ini aku juga masih takut. Aku cuma merasa kalau aku harus menerima ketakutan di dalam diriku. Aku nggak melawannya, tapi aku menerimanya dan berdamai kalau aku memang takut. Yang membuat aku keliatan berani di mata kamu mungkin karena aku nggak menjadikan ketakutan sebagai langkah terakhirku."
Azka mendengarkan sebagaimana dirinya selama ini. Kalimat dari Vadi terdengar masuk akal, namun juga tidak langsung Azka terima begitu saja. Namun, alih-alih membuang semuanya, Azka ingin mengingat perkataan Vadi selama mungkin. Pikir Azka, suatu saat nanti bisa saja Azka memiliki pandangan lain tentang hidup yang bertentangan dengan kacamata yang digunakan oleh Vadi.
"Memangnya, Hana di mata kamu orang yang seperti apa? Pertanyaan dariku boleh kamu diamkan kalau memang nggak mau dijawab."
“Orang yang baik," jawab Azka akhirnya.
Dan, Azka tidak berbohong perihal Hana. Sahabatnya memang baik atau pernah baik dan mungkin memang masih baik. Hana mungkin memandang kebaikan dengan cara yang berbeda dari Azka.
Hana adalah sahabatnya. Hana bagian dari keluarganya. Hana berharga baginya. Bagi Azka, Hana lebih dari sekadar teman dekat. Wanita itu pernah menjadi penyelamatnya, kakakknya, juga adiknya. Dengan Hana, Azka merasa dunia menjadi terasa lebih baik.
Tak apa selama ada Hana di sisinya. Dulu Azka selalu berpikir demikian. Lalu hari ini, Azka kehilangan Hana.
“Berarti kamu orang baik juga?"
"Kenapa begitu?" Azka mengalihkan pandangan pada Vadi. Laki-laki itu juga sama, untuk beberapa detik ia ikut mengalihkan pandangan pada Azka.
"Kata ibuku, orang baik cuma berteman dengan orang baik. Yah, aku nggak tau teorinya apa sih cuma aku percaya kalau perkataan ibuku betul."
Satu tawa lolos dari bibir Azka. Perempuan di samping Vadi itu tertawa ringan. Suara tersebut berhasil suasana yang semula terasa beku menjadi lebih hangat hanya dalam waktu yang singkat.
"Kedengarannya kamu sangat dekat sama Ibu kamu. Kalau aku boleh balik bertanya, memangnya Ibu kamu orang yang seperti apa?"
Satu tangan Vadi bergerak guna menggaruk keningnya yang tidak gatal. Merasa keki ditertawakan oleh Azka. "Ibuku mmm ... beliau bukan seseorang yang pandai berbohong. Ketika Ibu bilang kalau semuanya akan baik-baik saja maka semua memang terasa seperti akan baik-baik saja. Ketika Ibu bilang kalau ia akan pergi jauh, maka artinya Ibu tidak ingin disusul oleh siapapun. Ibuku ... seperti itu."
"Have you ever missed her?"
"Sering. Kayaknya hampir setiap hari aku merindukan ibuku. But life is still going on. Ibuku juga nggak akan suka kalau aku cuma larut dalam kesedihan."
"Kamu orang yang optimis, Vadi."
"Saat ini mungkin begitu. Nggak tau ya kalau besok lusa." Vadi menuntaskan kalimatnya dengan seulas senyum tipis di bibir.
Azka tidak dapat menafsirkan gerak bibir tersebut. Apakah perasaan Vadi saat ini pahit atau masam. Hanya saja, Azka menyemogakan agar Vadi bisa selalu seperti hari ini.
“Maaf ya, aku emang banyak omong gini. Kalau aku terlalu bawel, kamu pukul aja belakang kepalaku.”
“Lho kenapa begitu?” Azka bertanya ketika mobil mereka berbelok. Entah sudah berapa lama keduanya berada di jalanan. Satu yang pasti, dengan Vadi yang berada di sisinya, Azka merasa perjalanan kali ini tidak terasa sunyi.
Pemuda ini banyak bicara dan Azka bersedia untuk mendengarkan.
“Bukannya hal kayak gitu common ya? Maksudku ketika orang itu salah atau menganggu baiknya bagian belakang kepalanya dipukul biar dia sadar.”
Salah satu alis Azka naik. Ia merasa bingung atas perkataan Vadi. Rasanya jenis hukuman seperti itu tidak pernah Azka kenal. Lingkungan keluarganya tidak pernah menerapkan k*******n sebagai bentuk hukuman bagi siapapun. “Siapa yang bilang begitu?”
“Ayahku.”
Azka bungkam. Ia mulai menebak-nebak bagaimana cara ayah Vadi mengajarinya cara hidup. Dan, Azka tidak dapat membayangkan hal tersebut. “Sorry.”
Satu tawa lolos dari mulut Vadi. “Don’t be. Kenapa pula kamu harus minta maaf? Kan nggak salah apa-apa. Ayahku ya memang agak kasar sih aku akui. Tapi, ya nggak apa-apa.”
“Serius?”
Tidak juga. Vadi keberatan atas sikap ayahnya. Ayahnya jahat. Tapi, lebih baik baginya merasa baik-baik saja. Lagi pula untuk apa juga berduka atas sesuatu yang sudah lama terjadi? Dalam ingatannya, Ayah lebih sering marah dan memukul ibunya.
“Dulu ibuku suka sekali sama lagu. Banyak genre yang dia dengar, tapi cuma satu yang dia putar ketika lagi senang.” Jawaban Vadi terdengar mengawang keluar dari pertanyaan utama.
“Apa?”
“Rebirth as a Flower. Itu lagu band Dandelion. Katanya, lagu itu bikin ibuku ngerasa lebih baik. Kayak ada harapan dalam hidupnya. Jadi ya, aku nggak apa-apa. Kisah ayahku sudah lama. Cuma memang ingatannya masih membekas aja.”
Azka tahu lagu itu. Ia pernah mendengarnya juga.
I wish I could rebirt as a flower
I wish God paint me red or even yellow
I wish I could rebirth as a flower
And give you more color
Sesaat Vadi tertawa getir. “Kayaknya aku terlalu banyak curhat soal hidupku ya.”
“Nggak apa-apa.” Azka mengangguk mahfum. “Nggak apa-apa kalau kamu nggak keberatan. I',m
willing to listen. Terus, kalau summer apa? Kenapa kamu bilang kamu melihat summer di dalam diriku?”
“Ibuku suka sekali awal musim kemarau. Kamu tahu, di musim itu bunga-bunga bermekaran meskipun sebagian yang nggak tahan panas bakalan layu. She’s summer for me. Dan, kamu mirip ibuku. Maksudku, kalian sama-sama seperti summer, you two are as brighest as the sun of summer.”
“Kalau Hana suka bulan.”
“Hm?” Vadi menoleh. Sekarang mobil mereka sudah melewati Jalan Kolonel Masturi. Tinggal sedikit lagi dan mereka akan sampai. Vadi harap perjalanan hari ini menemukan titik terang.
“Kamu bilang kalau ibumu suka sekali awal musim kemarau kemudian kamu mengasosiasikan beliau sebagai kemarau. Kalau Hana, sahabatku suka sekali sama bulan. Dulu dia bilang kalau dia ingin tinggal di rumah dengan atap kaca supaya bisa melihat bulan. Well, she loves moon.”
Azka ingat percakapan itu. Ia ingat cita-cita Hana tentang rumah dengan atap kaca. Gadis itu mencintai bulan dan langit malam. Si gadis bulan.
“Kalau kamu? Apa yang kamu suka?”
“Buku?” Alih-alih menjawab, suara Azka lebih mirip pertanyaan.
Ah, buku. Vadi tahu aromanya. “Buku seperti apa?”
“Apapun yang cocok untuk dibaca.”
Vadi berdecih lucu, hal tersebut tak luput dari pandangan Azka. Wanita itu tertawa pelan. “Serius. Ya, aku suka baca buku cuma nggak semua buku cocok buatku.”
“Biasanya orang yang suka baca buku punya teman yang juga suka baca buku. Jadi apakah Hana juga suka baca buku?”
Tidak. Hana tidak menyukai aksara dan kertas. Gadis itu lebih suka menari di atas lapangan yang terik dan berkeringat. Ia terlihat luar biasa ketika mengenakan seragam khas pemandu sorak dengan rambut yang diikat oleh pita merah. Gambaran Hana dalam balutan seragam SMA mendadak muncul di dalam kepala Azka. Dulu mereka masing sama-sama muda. Dulu Azka belum jatuh cinta pada siapapun. Dulu dunianya mungkin lebih sering diwarnai oleh Hana.
“Nggak. Tapi dia gampang banget memahami suatu bacaan. Nilai bahasa Indonesianya juga bagus.”
Tepat setelah Azka menuntaskan kalimatnya, mobil mereka berdua memasuki kawasan pemukiman. Tempat di sini masih penuh dengan rerimbunan pohon. Pun, udara yang menguar terasa sedikit lebih dingin.
"Di sini?""
Vadi terlihat mencari-cari sesuatu di luar kaca jendela mobil. "Aku nggak tau apakah semesta sedang merestui kita atau nggak, tapi begitu kamu bilang soal pondok, aku cuma ingat satu tempat. Ini. Kalau nggak salah pemiliknya adalah orang keturunan Jepang."
Tidak lama dari itu, dengan jarinya Vadi menunjuk jalan besar di depan mereka. "Di maps tertulis, kita cuma perlu jalan lima menit untuk sampai di vila Nakamoto. Kayaknya juga satu-satunya vila d sini."
Seraya melepas sealtbealt-nya, Vadi berkata, “Ayo kita cari tahu dunia milik Hana."
Lantas, dunia seperti apa yang kamu miliki, Azka?
Vadi ingin bertanya, namun memilih bungkam. Ia menatap Azka sebentar, mencoba memahami gugup yang berpendar dari manik wanita itu.
“Ayo, kita cari Hana.”
***
Tentang Hana, Azka belum menemukan banyak. Vila tersebut milik keluarga Nakamoto. Vadi benar. Sejauh matanya memandang, hanya bangunan milik keluarga Nakamoto yang terlihat mirip pondok sementara, sisanya lebih menyerupai rumah pada umumnya.
Katanya, dulu pria Yokata pernah tinggal di sini selama beberapa waktu. Katanya pria Yokata itu jatuh cinta pada pribumi sebelum kemudian meminangnya dan membawanya ke ibukota.
“Adira. Nama gadis itu Adira. Saya terakhir kali melihatnya sewaktu upcara pernikahan mereka. Apakah semuanya baik-baik saja?”
Azka menatap cangkir teh di hadapannya. Asap dari teh tersebut mengepul tipis sebelum kemudian lenyap. Ada banyak hal yang Azka pikirkan. Tentang kemungkinan Tuan Yokata, tentang Ibunya, Adira. Di mana semua orang tersebut? Mereka seperti ikut lenyap bersama Hana. Tidak. Memang sejak awal Hana tidak banyak menyinggung keduanya.
Sebetulnya, dunia seperti apa yang kamu miliki, Hana?
“Apa lagi yang Bapak tau soal Bu Adira ya?” Vadi mewakili Azka dalam bertanya. Laki-laki itu terlihat cukup bisa diandalkan untuk sementara waktu.
“Dulu keluarganya tinggal di belakang rumah saya. Suami isteri dan dua anak. Tapi, mereka sudah lama meninggal.”
Jantung Azka mencelos. Tiba-tiba saja perutnya terasa mual. Ia tidak bisa lagi membayangkan kehidupan Hana dan leluhurnya. Rasanya mereka semua terlalu berantakan. Dan, bagaimana mungkin Azka baru mengetahuinya sekarang?
Azka merasa ia adalah teman yang buruk.
“Sakit atau kecelakaan?”
“Campak. Rumahnya sudah kosong. Sudah rubuh juga. Kalau mau lihat, saya bisa antar.”
Vadi melirik Azka yang sedari tadi masih diam. Wanita itu lebih banyak bungkam daripada yang Vadi pikirkan. Vadi mencoba memahami hal tersebut. Bagi Vadi, Hana masihlah sosok asing. Entah apa yang telah terjadi antara Azka dengan Hana.
“Boleh antar kami, Pak?”
Sebelum Vadi sempat menimpali, Azka sudah terlebih dahulu bertanya. Ia tampak baru saja tersadar dari mimpi panjang yang lama.
***