IX - Rumpang

1702 Kata
Rumah yang Tuan Nakamto maksud tidak lebih dari sekadar puing-puing bangunan yang telah dibuat rata oleh tanah. Susunan bata dan semen di atas tanah seluas hampir 250 meter persegi itu tidak lagi membentuk rumah. Tidak ada jejak apapun yang dapat Azka jadikan sebagai petunjuk. Pun, satu-satunya harapan Azka sudah meninggal. Jauh sebelum peristiwa yang menimpa dirinya terjadi. Secara tanpa sadar Azka mengembuskan napas kasar. Untuk kesekian kalinya ia merasa sesak setiap kali melangkah mengitari reruntuhan bangunan. Tampaknya keluarga Adira tidak memiliki sanak saudara lagi. Mereka hanya memiliki satu sama lain sebagai tempat untuk bertumpu. Lalu bagaimana dengan Hana sekarang? Kepada siapa gadis itu bersandar? Seharusnya Azka menahan Hana lebih lama. Seharusnya Azka mendengar lebih banyak penjelasan dari wanita itu. Seharusnya Azka datang dan memeluk Hana. Mengucapkan maaf sebanyak mungkin. Azka waktu itu hanya mementingkan kebahagiaan dirinya sendiri. Ia egois. “Cari siapa, A?” Dari jarak dekat, Azka bisa mendengar suara seseorang. Ketika berbalik, ia menjumpai seorang pria asing. Pakaiannya sederhana dan ia bertanya pada Vadi yang sedang berdiri di samping Tuan Nakamoto. Azka berjalan mendekat secara hati-hati. “Ini Mamat. Penanggung jawab kebersihan di sini. Mamat, ini tamu saya.” Pria bernama Mamat itu menangguk dan tersenyum ramah, mengubah raut wajahnya yang semula terlihat dingin menjadi lebih hangat. “Oh iya. Nyari siapa memangnya, Pak? Soalnya kemarin juga ada datang yang ke sini nyariin keluarga Bu Adira ceunah mah.” Hana. Pasti orang itu Hana. Dengan segera Azka bergabung ke dalam obrolan tersebut. “Perempuan bukan, Pak?” Yang ditanya segera menoleh dan mengangguk. “Muhun, Bu. Namanya Hana seinget saya mah da.” Seolah-olah baru saja mendapatkan angin segar, Azka bertanya secara antuasias. Satu benang kusut lainnya mulai terurai. “Bapak tau Hana tinggal di mana?” Tanpa perlu menunggu lebih lama lagi, Azka segera tahu kalau Hana memang berada di sekitarnya. “Kurang tau ya, Bu. Tapi katanya mah, Bu Adira dirawat di Rumah Sakit Cihampelas. Katanya, sakit makannya nyari keluarganya di sini." Saat itu juga Azka dan Vadi segera berpamitan dan pergi menuju tempat yang dimaksud. Sepanjang perjalanan, jantung Azka bergemuruh kencang. Ia gugup, tapi juga senang. Ia merasa lega sekaligus takut. Mendadak seluruh kata yang telah Azka siapkan buyar begitu saja. “It’s okay. Relax aja,. What’s supposed to happen will happen.” Vadi yang mampu membaca keresahan dari diri Azka mencoba untuk menenangkan. Jujur saja, ia juga jadi ikut gugup. Bayangan tentang sosok Hana bahkan masih separuh di dalam kepalanya dan ia sangsi kalau Azka dan Hana akan bertemu dalam perasaan damai. Entahlah. Vadi merasa demikian. *** Rumah Sakit Cihampelas berjarak hampir tigapuluh kilo meter dari Lembang. Azka mulai merasakan tubuhnya yang kelelahan. Hanya saja, melihat Vadi yang terlihat baik-baik saja mendorong Azka untuk mengeyahkan rasa lelah di sepanjang ototnya. “Kamu kalau lagi gugup biasanya ngapain?” Tiba-tiba saja Azka bertanya, mencoba memecah sunyi di antara mereka. Biasanya Vadi akan mengajaknya bicara terlebih dahulu. Laki-laki itu mungkin tahu kalau Azka sedang butuh waktu untuk berpikir. Akan tetapi, Azka sedang tidak ingin berpikir sekarang. Betul. Sesuatu yang seharusnya terjadi memang sebaiknya terjadi. Azka tidak memiliki kuasa atas hal tersebut. “Umm ... nyanyi?” “Kamu suka sekali sama musik ya?” Vadi terlihat tersenyum tipis. “Iya. Kamu tau nggak apa cita-citaku?” Azka merubah posisinya agar lebih condong ke arah Vadi. Upaya tersebut dilakukan supaya dirinya dapat lebih mudah berbicara dengan laki-laki itu. Setelah menghabiskan waktu beberapa jam bersama Vadi, Azka mulai meninggalkan batasan was-was yang ia pasang untuk laki-laki ini. Bagi Azka, pada satu sisi Vadi terkesan berbahaya dan asing. Namun, pada sisi yang lain juga terkesan baik dan naif. Laki-laki semacam ini bisa berkamuflase menjadi apa saja. “Jadi penyanyi, mungkin?” “Itu salah satunya.” Dahi Azka berkerut tipis. Vadi ini selain naif juga agak rumit dalam membuat percakapan. Ia akan membuat Azka berpikir terlebih dahulu sebelum kemudian memberikan jawaban. “Memang ada lagi?” “Ada dong. Aku pengin jadi song writer.” “Oh ya? Kenapa?” Vadi menginjak pedal rem secara perlahan manakala lampu lalu lintas di depan sana berubah menjadi warna merah. “Seperti yang aku bilang sebelumnya, aku bisa mengabadikan seseorang, menghidupkan mereka, dan mengenang mereka lewat lagu. Yah, mungkin musik akan jadi semacam catatan pribadiku cuma bedanya dikasih nada aja.” “Cool. Aku yakin kamu bisa jadi song writer. Kayaknya kamu berbakat.” “Makasih lho. Nanti kalau ada kesempatan, mau kutulis lagu soal kamu nggak?” Azka mendengus dan memalingkan wajahnya dari condong menghadap Vadi. Hamparan langit sore mulai terlihat. Rupanya mereka berdua sudah cukup lama berada di luar. Azka mulai merasa tidak enak hati harus melibatkan Vadi dalam situasi seperti ini. “Kenapa harus aku?” Bertepatan dengan pertanyaan itu, ponsel Azka bergetar tipis. Ada nama Daniel di sana. Azka membuat kode pada Vadi kalau dirinya akan menerima panggilan dari seseorang. Vadi tidak lama kemudian mengangguk “Ya, Niel? Ada apa?” “Aku lagi di Bandung.” Suara Daniel terdengar tidak lama kemudian. Ada latar suara knalpot di balik sana. Azka tebak laki-laki itu sedang berada di luar bangunan kantor. “Ngapain?” “Aku ada rapat di sini.” “Oke.” Azka menjawab sekenanya lalu tidak ada sahutan lagi setelah itu. Azka bahkan sempat memeriksa apakah sambungan telepon masih terhubung atas sudah terputus sampai akhirnya Azka bertanya, “You there?” “Iya. Aku...,” jawaban Daniel mengangantung, kentara sekali kalau dirinya sedang ragu. “Kamu enggak lagi ngidam apa-apa. Kata Arif, biasanya wanita hamil suka ngidam makanan atau apapun itu.” Azka tercenung. Ia bahkan lupa apakah dirinya pernah merasakan ngidam. Azka rasa ia tidak merasakan banyak perubahan setelah hamil. Ia tidak mual. Ia juga tidak menginginkan apapun. Azka jadi bertanya-tanya, apakah hal seperti ini memang normal bagi wanita hamil? “Enggak?” Daripada menjawab, Azka justru terkesan balik melemparkan pertanyaan. Seolah-olah dirinya sedang bertanya balik pada Daniel. “Aku nggak seperti itu. Aneh nggak ya?” Mobil mereka kemudian melaju setelah lampu lalu lintas berubah menjadi hijau. Melalui ekor matanya, Vadi melihat Azka yang masih sibuk dengan gawainya. Ya, tidak masalah sih. Lagi pula itu ranah pribadi Azka, hanya saja Vadi mulai merasa janggal. Ia mulai berpikir, apakah Azka sudah terikat status dengan orang lain? Wanita ini terlihat berada dan cantik. Ia bisa saja masuk dalam kategori sempurna apabila ingin. Gilak, kalau dia pacar orang gimana ya?! Vadi mulai membatin. Ya tidak masalah sih Azka mau punya pacar atau suami sekalipun. Toh Vadi hanya ingin berteman dengannya. Berteman ya? Vadi agak ragu. “I see. Nggak apa-apa. Itu normal kok. Kata Arif, selama bayinya tumbuh dengan baik dan beratnya bertambah ya nggak apa-apa.” Azka tertawa tipis. Hal tersebut sontak saja menular pada Daniel. Ia juga ikut tersenyum di seberang sana. “Kok Arif tau hal yang kayak gitu sih?” “Nggak tau, tapi lumayan deh dia jadi lebih berguna. So, kamu nggak mau aku bawain apa-apa?” “Nggak. Lagi pula aku masih di luar.” Terdengar suara Arif tidak lama kemudian. Ada suara Daniel juga yang menyakut. Keduanya terlibat dalam percakapan beberapa saat kemudian. Dan, Azka memilih untuk mendengarkan. Ia tidak menutup panggilan. Tidak juga meminta Daniel untuk menyudahi percakapannya. Tak apa. Azka rasanya mau menunggu. “Sorry, sorry. Tadi Arif ngajak ngobrol dulu. Tadi kamu bilang di luar ya? Lagi ngapain memangnya?” Tanpa ragu Azka menjawab, “Cari Hana.” “Itu, biar aku aja yang cari, Zka. Baiknya kamu nggak banyak melakukan pekerjaan yang berat.” Vadi menginjak pedal rem untuk kedua kalinya. Sekarang ini mobil mereka sudah sampai di parkiran rumah sakit. Vadi belum mengatakan apapun, namun Azka tahu kalau tempat tujuan mereka telah berada di depan mata. “It’s okay. Aku nggak sendiri kok.” “Memangnya sekarang posisi kamu lagi di mana?” Azka melihat Vadi yang telah melepas sealtbealt. Dengan satu tangannya yang bebas, Azka juga melakukan hal serupa. “Rumah Sakit Cihampelas. Lokasimu di mana memang?” “Aku sekitar situ kok. Nanti aku ke sana ya.” Setelah mengatakan oke, panggilan diputus oleh Azka. Tempat yang dimaksud merupakan salah satu rumah sakit swasta. Ketika Azka bertanya mengenai jam besuk, petugas resepsionis mengatakan bahwa jadwalnya sudah habis. Azka mungkin harus datang lagi besok. Sembari menelan kecewa, Azka bersama Vadi berjalan melewati lorong rumah sakit untuk kembali pulang. Tak apa. Setidaknya Azka masih menemukan satu bagian rumpang lainnya milik Hana. Ia mungkin masih bisa mendapatkannya besok. “Hey, you okay?” Sebelum sempat keluar dari bangunan rumah sakit, Vadi sudah terlebih dahulu menahan lengan kanan Azka. Laki-laki itu menunduk guna melihat wajah Azka. “Hah? Ya...,” Azka menyahut dengan napas yang mulai memberat. Rasanya paru-paru Azka terasa mulai menyempit. Udara di sekitarnya juga mendadak seperti sukar untuk dihidu. Azka menatap Vadi takut-takut. Pria itu seperti sedang membaca sesuatu dari matanya. “Kamu punya asma?” tebak Vadi tepat sasaran. Pada awalnya Azka berniat untuk membantah, namun dadanya terasa semakin sesak. Ia butuh istirahat saat ini. Jadi, Azka mengangguk seadanya. “Ayo duduk dulu.” Secara hati-hati Vadi menuntun Azka agar duduk pada salah satu kursi tunggu. Lorong rumah sakit sore itu sepi. Hanya ada mereka berdua di sana. “Kamu bawa inhaler?” Lagi-lagi Azka hanya mengangguk. “Ada di dalam mobil.” Vadi memandang pintu lobi sebentar. Jarak antara lobi menuju parkiran mobil kurang dari sepuluh meter. Laki-laki itu bisa berlari dan membawakan Azka inhaler atau membawanya ke ruang rawat dengan bantuan seorang perawat. Akan tetapi, opsi pertama terdengar lebih mudah mengingat kondisi saat itu cukup sepi. Vadi juga tidak yakin dapat menemukan perawat lebih cepat di jam sekarang. “Tunggu sebentar ya. Aku pasti kembali.” Jadi, ia berjanji pada Azka dan berlari sekuat tenaga menuju tempat di mana mobil mereka parkir. Dan, Azka memang menunggu. Hal seperti bukan sesuatu yang baru lagi bagi Azka. Maka, ia berusaha untuk melakukan hal yang dulu pernah ia lakukan setiap kali asmanya kambuh dan ia tidak membawa inhaler. Azka mulai duduk pada posisi tegak dan mengatur napasnya. Ia mengambil napas panjang dan dalam selama beberapa kali sampai sesak di paru-parunya terasa sedikit membaik. Pada saat itu Azka melihat kehadiran seseorang, ia berjalan dari arah bangsal menuju pintu keluar. Oh, itu Hana.   ***  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN