Arah datang orang itu berasal dari ruang bangsal rumah sakit. Awalnya Azka kira sosok itu adalah perawat atau staf rumah sakit, tapi begitu matanya mampu menangkap dengan jelas fitur wajah di depan sana Azka seketika bangkit.
Itu Hana. Azka mengenalnya sebagai Hana. Sosok yang sedang Azka cari berada di dekatnya.
Azka baru mengambil langkah pertama saat Hana menyadari kehadiran Azka. Hana mengehentikan langkahnya saat jarak mereka tidak lebih dari dua meter. Sudah berapa lama mereka tidak berjumpa? Ah, rasa-rasanya Azka merindukan Hana. Merindukan masa muda mereka. Merindukan Azka dan Hana yang baik-baik saja.
Satu langkah maju dari Azka dan satu langkah mundur dari Hana. Ekspresi Hana saat itu belum terbaca, tapi dari gestur tubuhnya yang menghindar membuat Azka berasumsi bahwa Hana mungkin tidak ingin bertemu dengannya.
“Hana, we need to talk,” kata Azka mencoba membujuk. Azka sendiri terlihat buruk saat ini.
Hana tidak menjawab melainkan, pergi. Ia berjalan mundur secara perlahan sebelum selanjutnya berlari menuju arah kedatangannya. Azka juga ikut berlari kendati seluruh sendinya terasa siap hancur kapan saja. Azka juga ikut berlari, mencoba menggapai Hana. Lorong rumah sakit beraroma disinfektan tercium di sepanjang pelarian keduanya. Derap langkah mereka terdengar nyaring di antara sunyinya suasana sekitar.
“Tunggu!” Azka berteriak dan mencoba mengabaikan paru-parunya yang mulai terasa terbakar.
Sembari berlari, Azka meletakkan salah satu tangannya di depan d**a. Mencoba menekan bagian tersebut. Berharap dengan begitu rasa sesaknya dapat berkurang. Namun, usaha Azka berakhir sia-sia. Saluran pernafasannya terasa kian menyempit.
Azka bisa saja berhenti dan duduk pada tepian lorong atau menghubungi Vadi. Namun, Hana yang berlari di depannya terlihat lebih penting saat ini. Azka tidak ingin menunggu lebih lama lagi untuk bisa bertemu dengan Hana. Azka ingin hari ini setidaknya mereka berdua memiliki kesempatan untuk membuat temu baru.
Hana berlari sampai di parkiran belakang rumah sakit. Tempat itu juga sepi dan hanya menyisakan beberapa kendaraan tanpa sang empunya. Pada momen itu, di saat Azka mulai berpikir untuk menyerah, Hana justru menghentikan langkahnya dan berbalik.
Hana menemukan wajah Azka yang pucat. Ia tahu sahabatnya payah dalam banyak hal yang menyangkut kekuatan fisik. Seharusnya Azka diam saja di kursinya.
“Bukan salahku kalau kamu mengejar aku.” Kalimat pembuka dari Hana terdengar sangat tidak ramah di telinga Azka.
Azka jadi bertanya-tanya, ke mana perginya sosok Hana yang pernah ia kenal dahulu kala?
“Ya...,” sahut Azka sembari mencoba mengatur deru napasnya. “Ya memang bukan salah kamu.”
“Jadi kenapa kamu kemari? Bukan ... bukan ... gimana caranya kamu tau aku ada di sini? Sudah berapa banyak kamu mencari tau?” Hana mengabaikan kondisi Azka yang memburuk. Ia lebih jauh penasaran terhadap fakta kalau Azka mencarinya daripada Azka yang sedang kesulitan bernapas.
Apabila Azka sudah berhasil menemukannya, itu berarti Azka juga mulai mengetahui banyak hal yang mati-matian coba Hana sembunyikan. Dan, Hana membenci kenyataan tersebut. Hana membenci bayangan Azka yang menemukan masa lalunya, hidupnya, keluarganya. Sebab, semua itu hanya membuat Hana merasa semakin kecil dan payah.
Lebih daripada apapun, Hana membenci tatapan mengasihi dari Azka. Pandangan tersebut justru membuat Hana merasa muak dan tidak berdaya. Pandangan tersebut mirip tatapan orang-orang yang pernah ia temui dulu. Dulu, jauh sebelum mengenal Azka, orang-orang juga pernah mengasihani Hana. Mereka mengatakan bahwa hidupnya malang dan menyedihkan.
Akan tetapi, orang-orang itu tidak melakukan upaya apapun agar hidup Hana menjadi terasa lebih baik. Pada akhirnya, mereka hanya ingin tahu. Mereka hanya ingin tahu dari rahim siapa Hana lahir dan di tempat seperti apa Hana tumbuh. Setelah rasa penasaran mereka selesai, pada akhirnya mereka semua akan pergi. Membalik tubuhnya dan memunggungi Hana sejauh mungkin.
Azka mencoba mengatur napasnya. Sayang sekali, usaha tersebut tidak mengubah apapun. Sementara itu, Hana di depan sana tampak sudah tidak sabar menunggu. Ia bisa pergi kapan saja ketika merasa obrolan keduanya mulai terasa alot. Jadi, dengan dipaksakan Azka menjawab, "Aku tau kamu punya keluarga di Lembang. Kamu pernah cerita.”
Hana terlihat sedikit terkejut. Mungkin ia merasa takjub akan ingatan Azka yang tajam atau juga mungkin pada dirinya sendiri yang secara tidak sadar pernah mengatakan hal seperti itu. Dengan salah satu tangannya, Hana menyisir anak rambutnya ke belakang. Rambut Hana hari itu masih pendek. Pada kenyataanya, Hana di mata Azka masih tampak sama seperti saat keduanya masih akrab.
“Kamu ke sana? Lembang? Sebelum kemudian ke Cihampelas? You must be kidding be crazy, Zka."
“Ya," jawab Azka. "Iya, mungkin aku memang sudah gila, Hana. But tell me how to keep sane while your surrounding driving you nuts?"
Sepasang alis Hana menukik, sementara itu bibirnya berkerut tidak suka. Ia membenci sikap Azka saat ini. “Apa yang mau kamu cari dari aku? Mau menggeret aku di depan orangtua kamu lalu membiarkan mereka menghakimi aku atau gimana?”
Hana membenci Azka hari ini. Ia juga membenci Azka yang selalu terlihat sempurna di matanya. Gadis itu memiliki banyak kesempurnaan yang tidak akan pernah menjadi milik Hana. Padahal, Hana merasa jauh lebih baik dalam banyak hal. Ia pintar. Ia pandai bergaul. Ia mudah disukai. Seharusnya Hana lahir dari keluarga yang lebih baik sebab ia merasa pantas.
Tetapi sepertinya kepantasan tidaklah cukup.
“Aku minta maaf. Maaf karena mengabaikan kamu. Maaf karena nggak tau banyak soal kamu. Maaf aku bukan teman yang baik buat kamu.”
Lihat, Azka di depannya bahkan sungguh naif. Wanita itu naif.
“Kamu masih mau minta maaf kalau aku bilang, aku tidur sama suamimu?” Pertanyaan Hana meninggalkan sunyi yang panjang. Azka diam di depannya. Yang terdengar hanya tarikan napasnya yang masih terasa berat.
Perlahan Azka mulai merasa pusing.
“Kamu diam aja. Aku tanya, kamu masih mau minta maaf kalau aku bilang, aku pernah tidur sama suamimu? Kamu masih mau minta maaf kalau aku bilang, kami pernah saling suka? Lihat. Kamu diam terus. Jangan bodoh, Azka. Kamu ini terlalu bodoh untuk melihat kenyataan—“
“Ya.” Azka memotong apapun yang akan Hana katakan. “Ya. Aku masih akan tetap minta maaf. Karenanya aku ada di sini.”
Salah satu alis Hana naik. Hatinya sama sekali tidak merasa tersentuh atas kalimat Azka. Hana justru merasa harus menyadarkan Azka bahwa Azka pantas marah. Azka pantas untuk membenci dan mengutuk Hana. Dengan begitu, Hana tidak akan merasa menjadi penjahat seorang dalam situasi ini. Secara perlahan kakinya mendekati Azka.
Hana memandang Azka dari jarak dekat. “Kalau aku bilang, aku mau suamimu gimana?”
Azka telah kehabisan kata-kata.
Udara segar sekitar Azka tidak terasa membantu. Ia kehilangan kata-kata serta napasnya satu persatu. Azka mulai tidak yakin apakah dirinya mampu membuat percakapan lebih lama lagi dengan Hana.
"Lihat diri kamu sendiri, Azka. Kamu menyedihkan dan bodoh. Bukannya bagus ya kalau aku menjauh dari kalian? Dengan begitu kamu nggak perlu repot-repot menghakimi aku dan Daniel. Tugas kamu padahal cuma melupakan aku dan hidup dengan dunia kamu sendiri. Sulit ya buat kamu melakukannya?"
Azka menggigit bagian dalam bibirnya sendiri. "Kamu mau aku hidup seperti itu? Lantas kalau begitu, apakah kelak kamu yakin kalau diri kamu nggak akan dihantui oleh penyesalan? Apakah kamu yakin kalau suatu hari nanti kamu bisa memaafkan diri sendiri, aku, dan Daniel?"
Kali ini giliran Hana yang diam. Dalam benaknya, Hana mulai memikirkan pertanyaan bertubi-tubi yang Azka lontarkan.
"Apakah kamu akan merasa baik-baik saja setelahnya?" Azka bersuara lagi. Kali ini lebih pelan.
"Is that matter?" Hana kembali menemukan suaranya. "Apakah penting buat kamu sekalipun aku nggak bisa memaafkan diriku sendiri? Apa pentingnya penyesalanku buat hidup kamu?"
"Kamu bohong."
Hana mendengus kasar. Merasa tidak suka dengan jawaban Azka. "Kamu terlalu sok tahu atas hidupku, Azka. Kamu juga telalu sok tahu soal Daniel. Kamu ini sangat bodoh."
Angin sore itu meniup pelan kulit pipi Azka. Di hadapannya Hana bersikap sangat defensif. Azka ingin melawan, mengatakan apapun yang dapat mulutnya katakan. Namun, Azka kembali kehabisan amunisi kata-kata. Untuk sekarang ini, Azka mengakui bahwa kalimat Hana benar.
Melihat tidak adanya tanda-tanda kalau Azka akan menimpali kalimatnya membuat Hana memutuskan sesuatu. "Sudah, sampai di sini saja. Jangan cari aku lagi, bahkan kalau kamu bertemu denganku sebaiknya kita jangan saling tegur. Lupakan aku dan jalani hidup kamu sendiri, Zka. Kecuali, kalau kamu mau orangtua kamu menghakimi aku."
Setelah mengatakannya, Hana memilih untuk berbalik. Derap langkahnya terdengar di telinga Azka. Ketukan sepatu Hana secara perlahan-lahan lenyap dan hal tersebut berhasil meruntuhkan pertahanan Azka.
Hana telah hilang ditelan jarak.
Azka mencoba berpegangan pada sesuatu. Ia kehilangan keseimbangan sebelum sempat menemukan pegangan. Tubuhnya jatuh dalam kondisi terduduk. Deru napasnya pendek-pendek. Azka menekan dadanya lebih kuat sebab usaha mengatur napas terasa sangat mustahil untuk saat ini.
Azka berharap Vadi dapat menemukannya.
Azka berharap seseorang dapat menemukannya.
Tidak lama dari itu, Azka melihat mobil lainnya yang memasuki area parkir. Mobil tersebut berhenti dengan lampu depan yang menyorot Azka. Waktu itu langit mulai gelap saat Azka menemukan Daniel yang berlari menuju ke arahnya.
Laki-laki itu merengkuh Azka dan membawanya menuju bagian dalam rumah sakit. Azka mendengar suara Daniel yang memanggil perawat.
Dalam rengkuhan laki-laki itu, Azka tenggelam.
Ia menjadi kemarau yang tenggelam.
“It’s okay. You are safe now,” bisik Daniel sesaat sebelum tubuh Azka direbahkan di atas brankar.
Azka tahu pernikahannya sudah berantakan, tetapi Azka mulai meragu bisakah ia melepaskan Daniel untuk Hana?
Atau sebetulnya, apa yang harus Azka lakukan setelah hari ini?
***