bc

Bukan Rumah Singgah (Ingin Pulang)

book_age16+
917
IKUTI
6.7K
BACA
love-triangle
love after marriage
arranged marriage
independent
CEO
single mother
bxg
city
spiritual
athlete
like
intro-logo
Uraian

Bisakah membangun kisah baru tanpa ada yang terluka? Tidak yakin. Ingin kembali tapi terlalu takut.

Semula, Kalila dan Rayden tak pernah mengenal jarak. Namun setelah ikrar sehidup semati itu tersemat, semuanya mendadak berubah. Pernikahan tak seindah romansa di sosial media.

Kini tangan yang saling menggenggam erat itu harus merenggang. Tak bisa lagi seirama melangkahi tangga kehidupan.

Terkadang takdir memang seperti itu. Mempertemukan orang yang tepat, namun di waktu yang salah. Pada akhirnya mereka harus terluka untuk mendewasakan diri.

Sempitnya dunia tak pelak mempertemukan Kalila dan Rayden—sang pembalap Moto-2, setelah lima tahun berpisah. The Iberian Peninsula menjadi saksinya. Pun pertemuan tersebut justru menjadi boomerang saat hati Kalila mulai goyah pada Jordan yang selalu memberikan jalan untuknya itu menjadi seorang penulis novel.

Begitu juga dengan Rayden. Melamar Yasmin seolah menjadi sebuah beban saat hatinya terus berbisik tentang Kalila.

Belum lagi ada impian, harapan orang tua yang juga harus diperjuangkan.

Lagi, nyatanya pertemuan Kalila dan Rayden bukanlah ketidaksengajaan belaka. Seseorang berperan besar dibalik semua itu. Lantas, siapa dia?

Dan apakah Kalila akan melupakan Rayden dan membuat kehidupan baru bersama Jordan? Lalu, apa yang akan dilakukan Yasmin saat tau bahwa dirinya hanya dijadikan pelampiasan oleh Rayden?

chap-preview
Pratinjau gratis
Prolog
Kalila berhasil mendapatkan kunci untuk membuka pintu keluar. Kendati demikian, betulkah apa yang digenggam adalah kunci yang tepat? Ia tetap mencoba dengan pilihannya. Bukankah ketika untuk mengetahui mana kunci yang benar, kita harus mencobanya dahulu? Sudah beberapa pekan belakangan Kalila banyak melakukan istikharah sampai akhrinya ia memilih memantapkan pilihannya untuk keluar dari pekerjaan yang selama hampir setahun berhasil menghidupi keluarga dengan penghasilan tetap. Memang tampaknya begitu sayang. Tetapi, Kalila juga punya mimpi. Pekerjaan itu bukan impiannya. Siapapun berhak bermimpi. Dan setiap pemimpi, sebisa mungkin mewujudkannya. Kalila tak ingin kehidupannya hanyalah terbuang sia karena banyangan masa lalu yang menyengsarakannya. Kalila ingin bangkit dan kuat. Awalnya Pak Bagus menolak pilihan Kalila sebab ia adalah karyawan yang sangat kompeten dan memiliki kinerja yang sangat baik. Setelah perempuan itu menjelaskan perihal satu dan lainnya, pimpinan redaksi itu melunak. Banyak pihak yang menyayangkan tindakan Kalila yang terlihat gegabah, namun nyatanya ini yang terbaik, sebab Kalila tak bisa membagi waktu antara kompetisi dan pekerjaan yang super padat sebagai editor media olahraga. Memperjuangan impian adalah tekadnya. Meskipun begitu, Kalila tak mau membebani semuanya pada Eyang. Ia lantas sibuk mencari lowongan kerja paruh waktu agar bisa mengimbangi kesibukannya dan menemukan sosok Alshad—Sang penghuni kosan samping rumah. Ia membantu Kalila untuk bekerja di kafe tempatnya bekerja. Kalila bertekad untuk mewujudkan impiannya. Ia tak mau kehilangan kesempatan. Masa lalunya sudah begitu berlubang. Sangat besar. Ia ingin mengisinya dengan berbagai warna. Masa lalu boleh kelam dan menyedihkan. Toh, semua orang juga punya hal serupa. Tapi, tidak dengan masa depan. Semua orang berhak memperjuangkannya. Kalila ingin mimpinya terwujud, tanpa menyusahkan orang-orang sekitar. Selagi ada kesempatan dan jalan terang tuk berjuang mewujudkannya, Kalila akan terus maju. Sebelum menutup hari, Kalila datang ke Poo-Poo Cafe untuk sekedar mengisi perut sembari membahas pekerjaan barunya di kafe tersebut, tepat sebelum gadis itu memulai kegiatannya sebagai peserta The Author’s Indonesia. “Mau makan apa lo?” tawar Alshad dari balik bar. “Uhmm...” bibir Kalila mengerucut sambil menimbang, “gue laper, tapi nggak mau makan banyak.” Alshad menggeleng heran, “Kapan hidup lo nggak ribet?” Kalila menyeringai, “Bener. Kapan, ya?” “Zuppa soup aja sama lemon squash.” Alshad mengambil keputusan asal. Terkadang gadis itu memang sulit untuk dimengerti. Kalila menarik satu kursi. mengedarkan pandangan ke seluruh sudut ruangan kafe yang sangat nyaman, "Untung kafe ini buka lowongan kerja paruh waktu." "Seberapapun gajinya, setidaknya gue punya pegangan untuk nini dan Ochan." lanjutnya menyemangati diri sendiri. Jika bukan diri sendiri, lantas siapa lagi? Alshad sempat ke belakang karena masalah perutnya. Ia hanya meninggalkan dua porsi zuppa soup di meja. Kalila mengambil satu dan memakannya hanya dengan garpu yang dibawa Alshad. “Garpu?” Kalila melirik milik Alshad yang ternyata juga garpu “Mana bisa makan pake garpu doang? Tuh anak gimana, sih?” Ia menggaruk belakang kepala yang tak gatal. Terpaksa Kalila memakan zuppa soup dengan garpu kecil. Apada awalnya nampak mudah saat garpu itu menyentuh kulit yang menutupi sup tersebut. Namun saat menyentuh kuah kentalnya, kesulitan baru terasa. Belum sempat mengambil pelayan, tiba-tiba seseorang meletakkan sendok kecil di atas meja. “Dimana ada sendok, pasti ada garpu. Mereka ditakdirkan bersama”. Suara itu? Kalila terpekik mendengar suaranya. Suara lembut yang sangat familiar di telinga. Mungkinkah?. Perlahan mendongak ke atas. Rasa canggung penuh kejut berkepanjangan itu semakin menjadi saat kedua pasang mata itu saling bertemu. Tatapan hangat, senyum yang manis. Gurat wajah yang baru saja ditemui setelah lima tahun lalu. Pertemuan yang sudah diniatkan agar tak berkelanjutan. Tapi apa ini? Kalila dan Rayden kembali bertemu?. Masa lalu nan pedih itu tak kan pernah bisa diubah. Tak kan pernah ingin dikenang dan tak bisa terulang. Semua kesakitan di masa lalu kan membaik, bahkan bisa dirangkai kembali dengan alur cerita baru seiring dewasanya seseorang serta ketaatannya pada Sang Illahi Rabbi. Tapi ada kepercayaan yang harus digenggam. Sedang kepercayaan itu bagai kaca yang bisa pecah kapan saja. Sanggupkah? Apakah ini saatnya pulang? “Akhirnya aku sadar.. aku dan kamu memang ditakdirkan untuk mengarungi hidup di dunia yang sama meski badai sempat memisahkan. Apakah ini saatnya untuk pulang?”—Kalila. “Selama ini, aku tak pernah punya tempat untuk kembali. Dan kini aku sadar, bahwa kamulah rumah tempatku kembali. Aku sudah berkelana terlalu jauh, aku ingin pulang”—Rayden. Rindu.. Hati ini punya ruang kosong disaat merindu. Rindu itu menyakitkan, sebab kerinduan kan hadir saat jarak memisahkan. Ego melumpuhkan dan epilog menamatkan kisah yang sempat terukir bersama. Bisakah membangun kisah baru tanpa ada yang terluka?. Tidak yakin. Ingin kembali tapi terlalu takut. Sejauh apapun kita berkelana, nyatanya sendok dan garpu akan selalu ditakdirkan berada di atas piring yang sama. Lagi, sepertinya inilah saatnya kembali. Kembali pulang ke rumah. Bukan rumah untuk singgah. Tapi rumah masa depan. Masih saling menatap dalam waktu yang cukup lama. menyelam ke dalam pikiran masing-masing. Semua sedang beradu. Antara tak percaya, marah, hingga kerinduan. Tapi, Kalila tetaplah pada pendiriannya ia berusaha untuk tak menoleh lagi ke belakang. Masa lalu hanyalah sebatas cerita mimpi buruk. Lagi, kehadirannya hanya sekedar intermezo. Tanpa maksud lain dan tanpa tau bahwa tatapan dalam yang dilontarkan Rayden sangatlah mengandung arti. Pria itu memberikan senyuman terbaiknya. Ada secercah cahaya dari matanya yang teduh. Cahaya yang begitu terang, juga memiliki bayangan yang nyata. Bayangan rasa bersalah dalam diri Rayden lah yang telah memupuk. Jadi, bisakah mereka kembali pulang bersama-sama? Sekalipun bisa, sepertinya Rayden tak tau diri. Ia telah merenggut masa muda Kalila dengan keegoisan semata. Pertemuannya dengan perempuan itu memang mengundang banyak harap, sekaligus banyak sesal dan rasa bersalah. Rayden tak bisa mengontrol situasi. Pun jika diperbaiki, dunia sudah berubah. Bahkan hanya dengan melihat Kalila tumbuh dewasa, sudah cukup membuatnya lega dan bersyukur. "Hai!" Rayden menyapa, walau agak sedikit canggung. Gadis berhijab itu tampak menampilkan guratan wajah yang sederhana. Datar, "Udah aku bilang, kan.. aku nggak mau pertemuan kita berkelanjutan." "Kalila!" Sebuah suara membuat Kalila maupun Rayden berbalik ke satu arah yang sama. Seorang pria lengkap dengan jas necis masuk dari pintu. Tergesa mendekat ke arah tempat duduk perempuan berhijab tersebut. "Bang Jordan?!" seru Kalila dan Rayden bersamaan. cukup terkejut. Jordan bersama rupa dinginnya itu langsung menatap Rayden tajam yang sedang mengeraskan rahangnya, "Sepertinya pertemuan ini tak perlu berkelanjutan." Lalu ia menatap perempuan itu dengan senyum seadanya, "Ayo, pulang!" Rayden semakin tak keruan. Hatinya tersulut macam-macam emosi. Apalagi saat mendapati Kalila yang justru memilih untuk menatap Jordan ketimbang dirinya. Pun tak berselang lama, seorang gadis berambut panjang dengan dress menawan itu datang. Menarik satu tangan Jordan. "Ayo, Kak!" "Y-yasmin?" "Kak Rayden nggak sendiri." ungkapnya lembut. Rayden tak punya pilihan, ia hanya bisa menurut. Mengikuti setiap langkah Yasmin yang saat ini sedang melingkarkan tangan di lengannya. Namun, pandangan hati Rayden tak bisa bohong. Ia selalu menoleh ke belakang. Ke arah Kalila dan Jordan. Seseorang mungkin bisa membawa pergi raganya, tapi tidak dengan hati. Ia bisa tertinggal dimana saja.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
30.6K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
188.9K
bc

TERNODA

read
198.8K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
233.9K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
61.8K
bc

My Secret Little Wife

read
132.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook