"Hana, kamu tidak boleh begitu. Setelah aku mengucapkan ijab qabul, kamu itu sah milik aku. Kata lain, tubuh kamu itu milik aku, Hana.” Tuan Kin mencoba memberikan serangan rayuan pada Raihana karena dia melihat istrinya itu tampak sangat menolak permintaannya. Raihana menajamkan matanya. “Tapi aku sangat belum siap.” “Untuk berhubungan, oke aku akan tahan. Tapi untuk melihat, tak apalah, Hana. Bagian atasnya saja. Aku hanya ingin tahu bagaimana bentuk punya istriku.” “Ya, sama saja dengan yang lain,” sahut Raihana masih dengan menyilangkan tangan di depan d**a. Tuan Kin menghela nafas berat. Begitu sengsaranya dia mau apa-apa dengan tubuh istrinya sendiri. Betapa berat cobaannya selama ini menahan hasratnya baik ketika Raihana belum menjadi istri maupun sudah menjadi istri. Dengan w

