Bibir mungil Raihana terlihat begitu menggiurkan. Tuan Kin beberapa kali mencicipinya dan rasanya luar biasa. Dan kali ini, bibir itu terhidang sempurna di depan matanya. Mana mungkin Tuan Kin akan menyia-yiakan kesempatan itu? Tuan Kin mendekatkan wajahnya ke wajah Raihana meskipun dia tahu wanita pujaan hatinya itu sedang ketakutan. Hasratnya untuk mencium bibir mungil itu tak bisa ditahannya. Dari pada kepalanya pusing menahan, lebih baik dia melakukannya sekarang. Tapi rupanya Raihana tak tinggal diam. Ketika bibir Tuan Kin bergerak maju, dia cepat-cepat membekap bibirnya dengan jemari-jemari lentiknya dari kedua tangannya. Tuan Kin pun hanya bisa mencium punggung tangan Raihana. Dengan dengusan kecil, Tuan Kin menarik wajahnya sedikit menjauh. "Hana, aku hanya memberikan sebuah ci

