Raihana terdiam untuk beberapa jeda waktu, sebelum akhirnya dia bergidik ngeri membayangkan tidur bersama Tuan Kin. Sebelum ini saja, sebelum menikah, Tuan Kin sudah ganas. Apalagi sekarang, di saat dia sudah menjadi istrinya dan halal bagi Tuan Kin. Bisa habis dirinya. Raihana menggeleng cepat. “Tidak. Aku tidak mau tidur dengan anda! Aku…aku tidur di kamar pelayan saja!” Raihana menarik selimutnya kembali hingga ke wajahnya. Tuan Kin tersenyum. Dia menatap wajah Raihana yang sudah tertutup oleh selimut. Dia tidak marah atau pun membantah ucapan Raihana. Dia harus sabar dan banyak-banyak merayu. Dia sudah berjanji baik pada Adam atau pun Pak Pramudia kalau dirinya akan memperlakukan Raihana dengan lembut dan penuh kasih sayang apa pun yang terjadi. Dia yang mencintai Raihana, maka dia

