Tuan Kin melangkah kembali. Begitu sampai di kamar, dia menaruh Raihana dengan hati-hati. Setelahnya, pria itu duduk di samping Raihana. Tapi gadis itu terhenyak karena tangan Tuan Kin tiba-tiba memegang kancing bajunya. "Anda mau apa?" Tanya Raihana sembari menepis tangan kekar Tuan Kin dari bajunya. "Mau membantumu mengganti baju. Kamu lihat, bajumu kotor. Ada noda bercak darah yang menetes dari luka di kepalamu itu." Kali ini Tuan Kin berbicara lembut. Dia berusaha untuk tidak membuat Raihana takut kepadanya. Tapi ternyata usaha Tuan Kin tidak cukup berhasil. Bola mata Raihana yang semula mengarah ke bawah, perlahan bergulir ke tengah-tengah. Dia menatap wajah Tuan Kin dengan ekspresi cemas. "Aku…aku bisa sendiri." “Aku tidak akan apa-apakan dirimu. Aku janji…” Kalimat ini terdenga

