“Kenapa kamu tadi lari, hah?” Tanya Tuan Kin dengan tatapan tajam. Sungguh dia sangat ketakutan ketika melihat Raihana jatuh terguling dari tangga. Meninggalkan luka dan tidak sadarkan diri. Kejadian itu mengingatkannya pada peristiwa saat kecelakaan itu terjadi yang mengakibatkan kedua orangtua dan adik perempuannya meninggal dunia. Meninggalkan dia sendiri di dunia tanpa seorang terkasih pun di sampingnya. Kejadian yang baru saja menimpa Riahana memberinya sedikit trauma.
“Apa itu harus dipertanyakan lagi?” Jawab Raihana lirih sembari memilin-milin ujung selimutnya. Gadis itu masih merasa sakit, perih, dan pusing karena jatuh dari tangga serta takut. “Tentu saja karena aku takut pada anda.”
Deg.
Mendengar jawaban itu, Tuan Kin tercenung beberapa detik, sebelum akhirnya bertanya,
“Apa... aku seperti monster hingga kamu harus takut?” Tanya Tuan Kin dengan lirih dan tatapan penuh selidik.
‘Memang seperti monster.’ Jawab Raihana dalam hati. Tapi dia tidak berani mengucapkannya. Dia terdiam dengan kepala tertunduk.
Tuan Kin menghela nafas berat. Diamnya Raihana seolah jawaban bahwa dia memang sangat menakutkan di mata gadis itu. Tapi dia masih tak mengerti mengapa Raihana harus takut?
Mengapa di saat wanita lain dengan senang hati menawarkan tubuh sendiri padanya, gadis itu malah takut?
Tuan Kin mendengus sembari memasukkan tangannya ke kantung celana. "Kamu memang gadis paling aneh yang pernah aku temui. Jangan lagi lari di tangga seperti tadi."
Raihana mengangkat wajahnya cepat menghadap Tuan Kin. "Tapi anda jangan lagi memintaku untuk tidur dengan anda ya?"
Tuan Kin menipiskan bibir. "Kalau itu, urusannya berbeda, Hana. Mana bisa aku mengontrol hasratku?"
"Kalau begitu aku akan tetap lari kalau anda berusaha untuk memaksaku." Ucapan Raihana tersebut disudahi dengan bibir yang mengerucut.
"Coba saja kalau bisa! Aku tidak akan membiarkanmu bisa berlari nanti. Aku akan menali kaki dan tanganmu pada tiang tempat tidur sehingga aku bisa melampiaskan hasratku dengan leluasa!"
Mata Raihana melebar. Sepertinya Tuan Kin tambah jahat saja kepadanya hingga harus menalinya. tepat pada saat pintu ruangan terbuka. Dokter Arif masuk. Bersama seorang perawat dan Cakra. Tuan Kin menoleh pada dokter Arif.
"Tuan, ini ada obat untuk penghilang rasa sakit dan demam. Raihana agak demam sedikit." Dokter Arif mengulurkan beberapa macam obat kepada Tuan Kin dan menjelaskan aturan minumnya.
Tuan Kin menerima obat tersebut. "Baik dok, terima kasih. Apa....ini artinya Hana boleh pulang?"
Dokter Arif mengangguk. "Iya, boleh. Tapi tidak boleh banyak bergerak karena akan memperparah cidera dikakinya. Nanti setiap hari akan ada perawat yang datang untuk membantunya melepaskan gift hingga dia bisa berjalan."
Tuan Kin mengangguk. "Baik dok."
Bersamaan dengan Dokter Arif dan perawat keluar ruangan, Raihana bergerak turun. Tapi belum juga kakinya sampai, Tuan Kin berteriak. "Eit kamu mau kemana?"
Alis Raihana terangkat ke atas. Matanya yang bening menatap Tuan Kin polos. "Bukankah dokter tadi bilang aku boleh pulang?"
"Memang boleh pulang, tapi bukan berarti kamu boleh berjalan, Hana. Kamu itu sedang cidera. Otak kamu dimana sih?"
Raihana menggeram. Lagi-lagi Tuan Kin memarahinya.
Sebuah kursi roda didorong seorang perawat pria ke samping tempat tidur. Tuan Kin yang bersiap membantunya berpindah dari tempat tidur ke kursi roda, langsung diusirnya. "Tidak. Aku bisa sendiri."
Tuan Kin terdiam sambil terus melihat Raihana yang dengan hati-hati berpindah. Gadis itu tampak sedikit meringis ketika berpindah. Setelah duduk manis di kursi roda, mereka semua keluar ruangan menuju luar rumah sakit. Mobil Tuan Kin sudah menunggu di sana.
Tuan Kin langsung bergerak untuk memindahkan Raihana dari kursi roda ke dalam mobil ketika gadis itu kembali mencegah. "Tidak tuan. Aku sen-"
Belum menyelesaikan kalimatnya, Tuan Kin sudah meletakkan telunjuknya di bibir Raihana. "Diamlah cerewet!"
Tentu Raihana langsung terdiam. Lalu dengan mudahnya, Tuan Kin memindahkan gadis itu ke dalam mobil. Tak lama, mobil itu bergerak meninggalkan halaman rumah sakit.
Sementara itu di dalam mobil, Raihana melirik Tuan Kin berulang kali. Dia ingin mengatakan sesuatu, tapi ragu. Tapi ternyata, Tuan Kin peka akan hal itu.
"Ada yang ingin kamu katakan?" Tanya Tuan Kin tanpa menoleh.
Raihana mengangguk samar. "Iya."
"Apa? Katakanlah!"
Raihana memilih ujung rok-nya. "Hm...aku akan dipulangkan kemana?"
"Tentu saja ke rumahku."
Raihana menipiskan bibir kecewa. "Hm...aku 'kan lagi sakit. Apa tidak sebaiknya aku diantar ke rumah ayah sampai sembuh. Paling cuma beberapa hari. Aku butuh perawatan bukan?"
"Aku juga bisa merawatmu." Sahut Tuan Kin cepat.
"Tapi kalau sakit, ayah biasa memelukku dan aku langsung merasa baikkan karena itu."
"Tenang saja. Aku akan menggantikan peran ayahmu. Dengan senang hati aku akan memelukmu."
"Ah, bukan itu maksudku." Raihana panik seketika. "Aku...aku sangat rindu ayah..." Katanya bersamaan dengan airmata yang menetes.
Tuan Kin menoleh. Dia melihat airmata di pipi kenyal Raihana itu sebelum akhirnya berkata. "Ayahmu akan tetap hidup meski dengan memendam rindu padamu. Tapi aku? Aku tidak bisa menjali hariku tanpa..."
Tuan Kin langsung mengantupkan bibirnya. Kalimat yang baru saja meluncur di bibirnya adalah tanpa rencana. Dia sendiri bingung mengapa bisa mengatakan itu. Raihana sendiri tidak perduli dengan apa yang barusan terlontar dari bibir Tuan Kin. Ketakutannya setiapa kali bersama Tuan Kin mendominasi keadaan hatinya.
Suasana di dalam mobil kemudian hening. Tuan Kin memilih untuk membisu. Sementara Raihana tercenung kecewa dengan berlinang airmata karena permintaannya tidak dipenuhi oleh Tuan Kin.
Begitu sampai di rumah Tuan Kin, Cakra cepat-cepat keluar dari mobil dan bergerak membuka pintu belakang. Dia langsung membungkukkan badan hendak bermaksud membopong Raihana masuk ketika tiba-tiba Tuan Kin memukul tangannya.
"Kamu mau apa?"
"Tentu saja untuk membopong Raihana tuan. Dia tidak bisa berjalan sendiri bukan?"
Tuan Kin melotot pada Cakra. "Siapa yang menyuruhmu melakukan itu? Biar aku saja yang membopongnya."
"Tapi tadi waktu berangkat anda sudah membopongnya. Membopong itu berat. Jadi biar aku yang melakukannya."
Cakra menjulurkan tangan ke arah belakang tubuh Riahana, tapi ditariknya kembali kedua tangannya tersebut karena tatapan mata Tuan Kin yang menyorot padanya penuh kemarahan.
"Ah, baiklah kalau begitu. Silahkan anda saja yang membopongnya." Ucap Cakra kemudian sembari bergerak mundur. Raihana hanya melihat perdebatan antara bos dan assistennya itu dengan bola mata yang bergulir bergantian dari wajah Tuan Kin ke wajah Cakra.
Setelah Cakra mundur, Tuan Kin keluar mobil dari pintu satunya dan langsung membopong Raihana. Semua pelayan yang menyambut kedatangan mereka, menatap iri pada Raihana.
Di tengah perjalanan, Raihana protes karena Tuan Kin tidak mengantarkanya ke kamar Ibu Asih dan malah menuju kamar Tuan Kin sendiri.
"Tu-tuan. Anda mau membawaku kemana?"
"Tentu saja ke kamarku."
"Kenapa harus ke kamar anda? Mengapa tidak ke kamar Ibu Asih?"
"Tidak. Aku ingin kamu menemaniku tidur."
Raihana terhenyak. "Tapi aku sedang sakit. Aku tidak bisa melayani anda."
Tuan Kin menghentikan langkahnya bersama dengan wajah yang menggeram. Cakra yang mengiringi dari belakang, juga menghentikan langkahnya dengan mendadak."Kamu bisa diam tidak sih? Kalau masih protes saja, aku akan menciummu sekarang juga di depan para pelayan. Mau begitu?"
Raihana Menggeleng cepat. "Tidak. Tidak. Aku akan diam."
"Bagus. Jadilah gadis yang penurut. Selama kamu di sini, kamu membuatku pusing saja. Benar-benar merepotkan."
Tuan Kin melangkah kembali. Begitu sampai di kamar, dia menaruh Raihana dengan hati-hati. Setelahnya, pria itu duduk di samping Raihana. Tapi gadis itu terhenyak karena tangan Tuan Kin tiba-tiba memegang kancing baju Raihana.
"Anda mau apa?" Tanya Raihana sembari menepis tangan kekar Tuan Kin dari bajunya.
"Mau membantumu mengganti baju. Kamu lihat, bajumu kotor. Ada noda bercak darah yang menetes dari luka di kepalamu itu."
Bersambung...
Maaf selama. beberapa hari tidak menulis karena di luar kota.