Dalam Pengejaran Tuan Kin

1073 Kata
Raihana merasa lelah. Semua usahanya memukul, mencakar, dan mencubit gagal. Tuan Kin jauh lebih buas dari yang diperkirakan. Tak ada yang dapat dia lakukan sekarang. Hanya airmata saja sebagai saksi hancurnya hati dicium oleh pria yang bukan suaminya. Tuan Kin yang merasa puas, menarik wajahnya mundur meninggalkan bibir Raihana. Dia melihat basah di wajah Raihana itu, tapi hasratnya sudah tak mampu dibendung lagi. Dengan kejamnya, pria itu berkata, “Tanggalkan semua pakaianmu!” Deg. Saat itu juga, Raihana merasakan jantungnya akan terlepas dari rongganya. Bagaimana bisa dengan mudahnya dia menanggalkan pakaiannya dan telanjang di hadapan Tuan Kin? Raihana memeluk tubuhnya sendiri. “Tu-tuan aku…” “Kenapa?” Sela Tuan Kin dengan sorot mata penuh selidik. “Kamu mau mengingkari perkataanmu sendiri? Aku bersedia mengundur waktu hanya demi memaklumi ketidaksiapan dirimu. Jadi, malam ini aku tidak akan menerima alasan apa pun.” Raihana menelan ludah bersamaan dengan tubuhnya yang gemetaran. Dia merasakan bulir-bulir bening terus berjubelan tanpa bisa dibendung lagi. Rasanya, mati lebih baik dari pada harus memperlihatkan tubuh pada yang bukan suaminya. “Tuan, bunuh aku saja…” “Tidak! Jangan bermain drama di sini!” Sahut Tuan Kin cepat. “Aku tidak akan membunuhmu. Aku juga tidak akan mencambukmu. Apa untungnya semua itu untukku? Aku hanya mau tubuhmu. Aku akan menghargainya dengan harga mahal. Setengah dari hutang ayahmu akan lunas. Jadi, buka pakaianmu sekarang!” Bukannya menuruti perintah Tuan Kin, Raihana malam memeluk tubuhnya kian erat. Melihat itu, Tuan Kin yang sudah mulai habis kesabaran, lalu mendengus geram. “Aku hitung sampai tiga. Jika tidak kamu buka juga, maka aku yang akan membuka bajumu secara paksa. Satu…” Raihana tak berkutik. “Dua…” Raihana tetap tak berkutik. “Tiga…” Beeeeer… Secepat kilat Raihana berlari keluar kamar. Tentu saja itu membuat Tuan Kin geram bukan kepalang. “Gadis ini…benar-benar menguji kesabaranku! Awas nanti aku gigit sampai kamu meminta ampun!” Tak mau membiarkan Raihana pergi, Tuan Kin lalu berlari menyusul Raihana. Ini kali pertama dalam hidupnya seorang Tuan Kin bermain kejar-kejaran dengan seseorang. “Hana! Jangan keluar kamu!” Sementara itu, Raihana yang sudah dekat dengan tangga dan mendengar teriakkan Tuan Kin, menoleh ke belakang. Matanya langsung melebar begitu melihat Tuan Kin sudah sampai di depan pintu kamarnya. Pria itu menunjuk ke arahnya. “Berhenti di sana! Kalau berani melangkah lagi, kamu bakal habis malam ini!” Raihana tidak perduli. Semakin Tuan Kin mengancam, semakin dia ingin melarikan diri dari pria tersebut. Raihana pun semakin larinya. Begitu pun saat dia menuruni anak-anak tangga. Tapi karena dia sangat panik, dia tidak bisa menghandle langkahnya. Kaki Raihana terkilir. Bersamaan dengan suara teriakkannya, tubuh Raihana berguling di tangga. Sontak Tuan Kin tersentak kaget dengan yang tertangkap dengan matanya. “Hana!” Segera pria itu berlari mendekati tubuh Raihana yang sudah tidak sadarkan diri dengan beberapa luka di kepala dan tubuhnya. Tuan Kin menggoyang-goyangkan tubuh Raihana dengan wajah panik. “Hana! Hana! Hana bangun! Bangun Hana!” Tuan Kin terus berusaha membangunkan gadis itu. Wajah tampannya memucat. Dia sangat ketakutan. Takut terjadi sesuatu pada Raihana. Dua penjaga pintu, langsung mendekati mereka berdua. “Tuan, apa kita harus membawanya ke rumah sakit?” Tanya salah satu dari penjaga pintu tersebut. “Tentu saja iya. Bukankah pintu!” Penjaga yang bertanya tadi menoleh pada temannya. Menyuruh temannya tersebut membuka pintu gerbang. Sementara temannya beranjak untuk membukakan pintu, penjaga pintu itu bersiap membopong Raihana. “Tidak! Jangan!” Larang Tuan Kin. “Biar aku saja yang membopongnya. Panggil Cakra dan siapkan mobil sekarang juga!” Dengan wajah bingung, karena baru kali ini Tuan Kin perduli dengan seorang pelayan bahkan mau membopong pelayan tersebut, penjaga pintu itu mengangguk. “Baik tuan.” Tak menunda lagi, dia langsung beranjak meninggalkan Tuan Kin. Tanpa fikir dua kali, Tuan Kin lalu mengangkat tubuh Raihana dan membopongnya keluar. Tentu itu menjadi tontonan semua pelayan dan penjaga di rumah itu. Mereka hampir tidak percaya Tuan Kin membopong seorang pelayan. Tidak hanya itu, Tuan Kin jelas terlihat sangat panik seolah yang dalam gendongannya adalah kekasihnya. Cakra yang sudah di samping pintu mobil, langsung membukakan pintu begitu melihat Tuan Kin. Setelah Tuan Kin dan Raihana masuk, mobil itu pun melaju meninggalkan halaman istana Tuan Kin yang super luas. “Hana, bangun! Apa kamu mendengar aku? Bangunlah! Jangan buat aku khawatir!” Ucap Tuan Kin sembari mengusap-usap pipi Raihana yang kenyal. Dari kursi samping kemudi, Cakra menatap mereka dengan hati terenyuh. Tidak bisa dipungkiri lagi. Tuan Kin bukan hanya sekadar menginginkan Raihana. Pria itu telah jatuh hati dengan gadis belia tersebut. Dia tidak menyangka, Raihana akan menjadi cinta pertamanya Tuan Kin. *** “Bagaimana dok? Apa dia baik-baik saja?” Dokter Arif tersenyum. “Tenang tuan, dia baik-baik saja kok. Dia hanya mengalami cidera di kepala, tangan, dan kaki. Kakinya yang agak parah. Dia terkilir dan mungkin akan kesulitan berjalan untuk beberapa hari.” Wajah tegang Tuan Kin perlahan memudar. “Syukurlah. Apakah dia sekarang sudah bisa aku lihat?” “Tentu saja, tuan. Dia sudah sadar kok. Jadi si-“ Tak menunggu Dokter Arif menyudahi kalimatnya, Tuan Kin langsung masuk ke dalam kamar tempat Raihana ditangani. Mendapati itu, Dokter Kin melirik Cakra. Tapi Cakra hanya mengendikkan bahu. Sementara itu di dalam ruangan, Raihana yang sedang memegangi kepalanya karena pusing, terhenyak oleh suara pintu yang dibuka. Gadis itu langsung berusaha untuk bangun begitu tahu yang masuk adalah Tuan Kin. Dia masih ingat dengan ancaman Tuan Kin sebelum dia terjatuh dari tangga. Apalagi, dia melihat Tuan Kin melangkah mendekat dengan rahang yang mengencang. “Puas kamu, hah?! Puas kamu membuatku hampir mati ketakutan?!” Seru Tuan Kin begitu sampai di dekat Raihana. “Tunggu sampai kamu sembuh, maka aku akan menelanmu bulat-bulat!” Raihana menggigit bibir bawahnya. Kepalanya masih pusing dan sakit, begitu pun dengan tangan dan kakinya. Tapi Tuan Kin sudah marah dan mengancamnya. Sungguh, dia merasa lelah dengan keadaan ini. Lelah tapi tidak mempunyai tempat bersandar untuk menumpahkan semua kesedihan dan ketakutannya. Jika saat ini ayahnya ada di dekatnya, tentu dia sudah masuk ke dalam pelukan hangat pria tersebut. “Kenapa kamu tadi lari, hah?” Tanya Tuan Kin dengan tatapan tajam. “Apa itu harus dipertanyakan lagi?” Jawab Raihana lirih. “Tentu saja karena aku takut pada anda.” “Apa aku seperti monster hingga kamu harus takut?” ‘Memang seperti monster.’ Jawab Raihana dalam hati. Tapi dia tidak berani mengucapkannya. Bersambung... Bagi yang belum kasih loves, jangan lupa untuk memberikan love-nya ya.    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN