Dalam Belenggu Tuan Kin

1128 Kata
Jantung Raihana langsung berdegum bak gendang yang ditabuh begitu mendengar sepenggal kalimat yang meluncur dari bibir Cakra. Bagi orang lain, mungkin kalimat itu terdengar sebagai kalimat biasa yang tidak berarti, tapi bagi Raihana, itu seperti ultimatum hukuman mati. "Apalagi yang kamu tunggu?!" Bentak Cakra yang membuat Raihana langsung menegang. "I-iya tuan." Raihana lalu menoleh pada Ibu Asih dan berbisik di telinga wanita tua itu. "Bu, tolong doakan aku ya. Mohon pada Tuhan agar Tuan Monster itu mendadak stroke sehingga tidak jadi menjamahku." Mendengar itu, mata Ibu Asih yang kulit kelopaknya sudah layu ke bawah, langsung membuka. Dia terkejut dengan apa yang dibisikkan oleh gadis belia tersebut. Namun, Raihana tidak perduli dengan ekspresi apapun yang tergambar di wajah tua Ibu Asih. Saat ini dirinya sedang berada di dalam jurang kehancuran. Ya, bagaimana bisa dikatakan tidak hancur kalau dia akan kehilangan kesuciannya? Raihana berjalan sangat lambat menuju kamar Tuan Kin. Gadis jelita itu sengaja berjalan dengan langkah yang kecil-kecil sehingga bisa lama sampai di kamar Tuan Kin. Kalau perlu, tiba-tiba tanah terbelah sehingga dia tidak bisa menyeberang. 'Ya Allah...mengapa malam ini tidak ada gempa bumi sih? Tolong, tolong turunkan bencana!' Raihana berdoa dalam hati dengan penuh kekhusyukkan. Ini kali pertama dia berdoa buruk pada Tuhannya. Semua bisa saja terjadi karena terpaksa. "Hei! Jalan cepat sedikit bisa tidak?!" Bentak Cakra yang rupanya mengikuti langkahnya dari belakang. "Melangkah kok seperti keong." Raihana menggeram mendapat teguran itu. Tangannya pun mengepal. Jika saja ini bukan dalam lingkup rumah Tuan Kin, tentu sudah ada sebuah tinjuan yang menghantam wajah tampan Cakra. Ya, Raihana mengakui kalau Cakra tak kalah tampan dari Tuan Kin, tapi pria itu suka melotot dan cerewet seperti perempuan. Raihana menipiskan bibir dengan bola mata bergerak ke atas. "Ya tuan." Terpaksa, dia pun mempercepat langkahnya. Cakra masih mengiringi dari belakang. Mereka berjalan dalam diam. Ketika sudah mencapai tangga, Cakra bersuara. "Baiknya kamu jangan banyak tingkah di kamar Tuan Kin. Turuti saja semua keinginannya." Langkah Raihana terhenti seketika. Ucapan Cakra barusan membuat hatinya bergemuruh dengan amarah. Lalu dengan mata berkaca-kaca, Raihana berbalik. "Termasuk keinginannya untuk menyetubuhiku?" Deg. Langkah Cakra pun ikut terhenti. Entah mengapa hatinya merasa tertohok. "Tuan tau, aku menutupi auratku adalah demi syariat agama yang aku anut." Ucap Raihana bersamaan dengan bulir bening yang menganak sungai di pipi. "Aku yakin dengan aku menjaga kesucian diri, kelak aku mendapat suami yang juga suci. Tapi dia, majikan tuan itu, mau mengambil yang bukan menjadi hak-nya! Aku bukan istrinya yang harus dengan senang hati memberikan tubuhnya pada dia!" Cakra menghela nafas. Pandangannya dia alihkan dari Raihana ke tembok yang seperti menjadi penyimak yang baik dalam percakapan mereka. "Apa perduliku tentang aturan agama yang kamu sebut? Aku hanya menjalani tugasku saja." "Lalu, jika ini terjadi pada adik atau anak gadis anda, apakah anda akan menyuruh hal yang sama pada mereka? Menyerahkan tubuhnya pada pria yang bukan suami mereka?" "Aku tidak punya adik perempuan dan aku belum menikah, apalagi punya anak perempuan." Raihana menyeringai. "Oh, jadi kalau tidak punya, anda menutup pintu hati? Bagus, itu artinya anda tidak punya hati." Cakra mendengus kesal. Dia tahu yang diucapkan Raihana adalah sebuah kebenaran. Tapi dia tidak memerlukan nasehat saat ini. Dia adalah tulang punggung keluarga. Menjadi assisten yang berdedikasi tinggi pada Tuan Kin adalah prinsipnya agar keluarganya bisa hidup layak dan berkecukupan. "Berhenti menceramahiku! Kamu hanya seorang gadis belia yang tidak mengerti apa-apa!" "Tapi aku..." "Lanjutkan langkahmu! Tuan Kin sudah lama menunggu!" Raihana menyeka basah di wajahnya. Hatinya sedih setelah mengetahui di rumah ini semua orang bagai tidak mempunyai hati. Sudah bisa dipastikan, dia tidak dapat menggantungkan harapan pada siapa pun di sini. Dia hanya memiliki diri sendiri dan Tuhan sebagai penolong. Raihana berbalik dengan wajah layu. Bersama Cakra, dia melangkahkan kakinya menuju pintu kamar Tuan Kin. Tanpa mengetuk, Cakra langsung membuka pintu itu. "Masuklah. Tuan Kin sudah menunggumu dari tadi." Raihana tidak bisa mengatakan 'tidak', karena itu percuma. Dia yang lemah, sendiri menghadapi kerumunan makhluk kuat bernama laki-laki. Dia tidak akan bisa menyelamatkan diri. Raihana melangkah lebih jauh ke dalam kamar hingga mendekati tempat tidur. Di sana, Tuan Kin yang sudah mandi, duduk santai dengan tangan bersedekap. Matanya yang tajam langsung menatap sosok Raihana yang menghampiri dengan wajah tertunduk. Jika diperhatikannya, Raihana semakin terlihat cantik dan memikat. "Tuan, apakah masih ada yang anda butuhkan?" Tanya Cakra penuh hormat. Tuan Kin menggeleng. "Tidak. Kamu boleh pergi. Aku ingin segera berdua saja dengan gadis ini." Cakra mengangguk. "Baik tuan." Dia pun melangkah mundur. Matanya sempat melirik pada Raihana, melihat rona sedih dan kecemasan di sana. Tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa meski hatinya mulai merasa iba. Ucapan Raihana tadi cukup membuat hatinya tersentuh. "Mendekatlah Hana." Ucap Tuan Kin setelah Cakra sudah keluar dari dalam kamar. Dengan jantung yang berdebar kencang, dia mendekat. Kini posisinya tepat di depan Tuan Kin. Mereka hanya berjarak 30 centimeter. "Kemana saja seharian ini hingga aku harus memakai pakaian sendiri?" Tanya Tuan Kin lirih dan lembut. "Aku...aku sibuk di dapur tuan." "Sibuk di dapur atau sibuk mencari jalan untuk melarikan diri?" Raihana terhenyak dan langsung mengangkat wajahnya menatap Tuan Kin. "Kenapa? Kamu terkejut aku bisa tau apa yang kamu lakukan di belakangku?" Raihana membisu. Dia tidak mempunyai kata untuk membela diri. "Aku...aku ingin pulang..." Ucap Raihana kemudian. Buliran bening kembali mengalir menyusuri pipi. Tuan Kin mengamati tetes demi tetes airmata Raihana yang meluncur cepat ke bawah seperti anak kecil yang bermain perosotan. Dalam sekejap, wajah gadis imut di depannya telah basah. "Untuk apa kamu menangis? Airmatamu tidak akan membuatku memulangkanmu kepada ayahmu." "Tapi aku ingin pulang tuan! Tolong kasihani aku!" Raihana mengiba. Berharap pria yang duduk di depannya ini tersentuh hatinya dan kemudian memulangkannya. "Tidak! Sampai hutang ayahmu lunas! Kamu sekarang milikku!" Raihana menggeleng-gelengkan kepala. "Bukan! Aku bukan milik anda!" "Milikku!" Balas Tuan Kin dengan suara lantang. "Bukan! Sekali kubilang bukan! Ya bukan! Aku bukan milik anda!" Mendapati sikap melawan Raihana, Mata Tuan Kin langsung berkilat dengan kemarahan. Dengan rahang yang mengencang, dia berdiri dan langsung menyambar tubuh Raihana. Tak berhenti sampai di situ, dengan cepat Tuan Kin mendekatkan wajahnya ke wajah Raihana. Kini bibir mereka menyatu. Mata Raihana langsung melebar begitu menyadari apa yang dilakukan Tuan Kin. Pria itu mencium bibirnya. Dengan sekuat tenaga, Raihana mendorong d**a Tuan Kin sehingga pria itu terdorong beberapa jengkal darinya. Tapi rupanya, nafsu sudah menguasai fikirannya. Untuk kedua kali, Tuan Kin menyambar tubuh Raihana dan menciumi bibir gadis tersebut dengan nafas yang memburu. Tidak hanya itu, pria itu juga mencengkram kelapa belakang Raihana dan menekannya ke depan sehingga gadis itu tidak bisa menggerakkan kepalanya kemana pun. Raihana meronta, memukul-mukul lengan Tuan Kin yang kekar. Tapi usahanya tersebut nihil. Dengan leluasa pria itu melumat bibir Raihana sepuasnya seolah itu adalah makanan lezat yang tidak mengenyangkannya. Tuan Kin seperti tak mau melepaskan bibir Raihana dari bibirnya. Bersambung... Aku deg-deg-an nulisnya. Komen dong. Baca novel terbaruku. Incaran Presdir Kejam ya kak. Thanks
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN