Usaha Yang Belum Tercapai

1184 Kata
Raihana tercenung. Hijab putihnya masih dalam pelukan. Dia berencana menggunakan waktu senggang ini untuk berkeliling halaman rumah Tuan Kin, mencari celah yang bisa dijadikannya jalan untuk melarikan diri. Dia tidak bisa membiarkan waktu akan membawanya ke atas tempat tidur Tuan Kin, membiarkan dirinya disetubuhi tanpa ikatan pernikahan. Jelas itu zina. Tapi masalahnya, Tuan Kin mungkin tidak pernah mengenal kata Zina. Raihana berdiri dari duduk bertopang lutut di depan pintu lemari pakaian Tuan Kin yang besar dan panjang karena terdiri dari 10 pintu. Menyampirkan hijab di bahu, mengambil nampan berisi sarapan Tuan Kin, melangkah biasa menyebrangi luasnya kamar tersebut, keluar, dan terakhir menutup pintunya. Dia tahu, setelah pintu tertutup kamar besar dan megah itu tak akan bisa dimasukki sembarang orang. Hanya orang-orang yang kepercayaan Tuan Kin-lah yang bisa masuk. Salah satu dari orang-orang kepercayaan itu adalah dirinya. Mungkin dan dia yakin, para pelayan di rumah besar bak istana ini menyimpan rasa iri kepadanya. Bagaimana tidak, waktu sehari telah membuat Tuan Kin membawanya bermalam bersama dan bisa keluar masuk kamar dengan mudah. Bangga? Tidak sama sekali. Raihana justru merasa ini sebuah petaka terbesar dalam hidupnya yang Tuhan takdirkan kepadanya, entah sebagai cobaan atau hukuman. Raihana melangkah turun. Melewati anak-anak tangga yang besar-besar dan membuat ritme suara teratur dalam kesenyapan. Raihana tidak setuju jika tempat ini disebut kamar. Menurutnya, tempat ini lebih pantas disebut menara. Menara Tuan Monster. Raihana tersenyum geli sendiri. Ya, menara Tuan Monster dirasanya sangat pantas untuk tempat ini. Dan Tuan Kin sangat mirip dengan tokoh dongeng 'Beauty and The Beast'. Tentu saja Tuan Kin adalah 'The Beast-nya'. Lalu yang jadi 'Beauty-nya'? Raihana bergidik jijik. Dia tidak mau jadi 'Beauty-nya' Tuan Kin. Dia mau jadi penonton saja. Raihana telah sampai di pintu yang besar dan tingginya seperti pintu gerbang film kerajaan-kerajaan. Tidak hanya di luar, di bagian dalam juga ditaruh dua penjaga pintu yang tubuhnya seperti besi. Raihana yakin, orang akan langsung sakaratul maut jika dihajar oleh penjaga pintu itu. Melihat Raihana, kedua pria itu langsung membuka pintunya. Harum bunga yang berbagai rasa, langsung tercium indera penciumannya begitu Raihana melangkah ke luar. Di depannya pun, terhampar lautan bunga. Cantik, berwarna-warni, dan semerbak harum. Raihana jadi bertanya-tanya kenapa adalah lautan bunga di sekitar kamar Tuan Kin. Apakah pria itu menyukai bunga? Raihana tidak kembali ke dapur. Gadis itu justru memilih berkeliling. Ini adalah bagian dari rencananya, mencari jalan keluar. Setelah setengah jam berkeliling, Raihana mulai putus asa. Jangankan menemukan celah untuk keluar dari halaman rumah Tuan Kin yang super duper luas, kalau letak gerbang masuk saja dia sudah lupa di sebelah mana. Waktu dia masuk ke sini, dia di dalam mobil dan duduk di tengah-tengah pria suruhan Tuan Kin yang membawanya sehingga tidak bisa melihat keluar. Raihana menghela nafas berat. Gadis itu menatap ke langit pagi yang biru. Nampan berisi sarapan Tuan Min masih di tangannya. Begitu pun dengan hijabnya, masih tersampir di bahu. "Ya Allah... Mau Kau takdirkan aku jadi seperti apa hingga aku sekarang berada di tangan pria yang ingin menyetubuhiku. Aku sekarang ini merasa sedang berada di pulau terpencil. Aku tidak tahu jalan keluar dari sini." Bertetes-tetes bening mengalir menyusuri lekuk pipi Raihana yang kenyal. Masa depan suram, terpampang nyata di pelupuk mata. Haruskah Malam ini dia pasrah disetubuhi pria yang bukan suaminya? Sementara itu, di sebuah mobil super mewah yang hanya ada satu-satunya di negeri ini dan sedang dalam perjalanan menuju Kinnan Jaya Company, Tuan Kin menatap sebuah layar tipis di tangannya. Di dalamnya terlihat gambar seorang gadis yang berjalan ke sana ke mari bak putri yang tersesat. "Dia berusaha untuk melarikan diri rupanya." Tuan Kin menarik bibirnya. Pria itu tampak ragu untuk tersenyum geli atau menyeringai merendahkan kebodohan gadis di dalam layar. "Ya, dia gadis yang aneh sekaligus bodoh." Sahut Cakra. "Banyak wanita yang ingin tidur dengan anda dan banyak pelayan yang ingin mendapat tugas melayani anda sepertinya, tapi dia malah ingin melarikan diri." Tuan Kin memberikan layar tipis itu pada Cakra. "Jadi menurutmu, apa yang harus aku lakukan agar dia ciut dan tidak berani untuk melarikan diri lagi." "Dihukum tuan. Raihana harus dihukum agar jera. Mungkin beberapa cambukkan akan membuatnya menyadari kesalahannya." Tuan Kin langsung tertawa tertahan begitu mendengar saran dari Cakra. Wajah tampannya sampai memerah karena tawanya tersebut. "Kamu bercanda." Kening Cakra mengerut banyak. "Bercanda? Maksud anda?" "Hukuman cambuk tidak akan membuatnya jera. Justru itu adalah hukuman yang paling dia inginkan. Tadi malam, dia memohon-mohon untuk dihukum cambuk ketimbang tidur nyaman dalam pelukanku. Tidur denganku jauh lebih menakutkan baginya ketimbang hukuman cambuk. Dia sampai gemetar setelah tahu kalau dia akan tidur denganku." Mata Cakra melebar. Dia tidak menyangka dengan apa yang dia dengar. Baru kali ini ada orang yang lebih memilih dicambuk ketimbang tidur dengan pria yang nyaris sempurna seperti Tuan Kin. "Kalau begitu dia memang sangat bodoh." Tuan Kin menyandarkan punggungnya di sandaran sofa mobil, sebelum akhirnya membuang pandang keluar jendela. "Aku rasa dia tidak bodoh melainkan mempunyai pola fikir yang berbeda dari wanita lain. Cara berfikirnya itulah yang membuat aku kagum dan menyukainya selain paras jelitanya yang menggemaskan." "Itu artinya anda akan memanggil Raihana kembali ke kamar anda malam ini?" "Tentu saja iya. Aku sudah tidak tahan menahan gejolak nafsuku. Selain itu, aku harus menghukumnya dengan caraku sendiri atas apa yang dia lakukan. Tidak menuruti kehendakku berarti siap menghadapi kemarahanku." *** "Kau dari mana saja? Seharian ini kulihat kamu menghilang beberapa kali." Ibu Asih menatap Raihana dengan tatapan sedih. Raihana melihat keadaan sekitar. Setelah yakin tidak ada siapa pun, dia berbisik pada Ibu Asih. "Mencari jalan untuk melarikan diri Bu. Dan aku, baru menemukan gerbang masuknya. Wah, sangat jauh." Ibu Asih tersentak kaget. "Apa-apaan kamu ini? Jangan berbuat sesuatu yang mengundang murka Tuan Kin." Jawab Ibu Asih dengan suara lirih tapi penuh penegasan dan kekhawatiran di dalamnya. Raihana menyandarkan punggungnya di dinding. Wajah cantiknya seketika berubah jadi muram dan tampak memendam cemas yang sangat. "Aku...aku sangat ingin keluar dari sini, Bu. Aku ingin pulang." "Tapi melarikan diri hanya untuk pulang ke rumahmu, itu sama saja percuma tho? Tuan Kenzo tau di mana rumahmu dan pasti jadi tempat pertama untuk mencarimu jika kamu hilang." Deg. Benar ucapan Ibu Asih. Rumah bukanlah tempat yang aman untuk dijadikan tempat berlabuh seandainya dia berhasil melarikan diri. Ibu Asih membelai rambut Raihana penuh kasih. "Kasian kamu nak. Di usia belia sudah harus dihadapkan masalah sebesar ini. Menjadi pembayar hutang. Tapi meskipun ibumerasa iba padamu, ibu tidak bisa menolong nak. Hanya pada Tuhanlah tempat kamu bergantung. Dia juga yang sudah menentukan takdir atas hidupmu. Terbelenggu dalam pelukkannya atau kamu hidup bebas di luar. Raihana menundukkan pandang. Seharian ini mencari jalan untuk melarikan diri, tapi dia belum bisa mewujudkan niatnya tersebut. Orang yang keluar masuk gerbang depan tidak sembarangan. Mereka mempunyai izin untuk itu. Waktu sehari, itu pun diselingi dengan pekerjaannya, tak cukup untuk mendapatkan ide keluar dari sini. "Hana!" Raihana dan Ibu Asih tersentak kaget dan langsung menoleh. Didapatinya Cakra sudah berdiri menatap mereka. Seperti juga melihat Tuan Kin, melihat Cakra tidak kalah menakutkannya. "Ya tuan." Jawab Raihana. "Ini jam berapa kamu masih stand by di kamar Tuan Kin? Tuan sudah pulang dan mencarimu!" Deg. Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN