Raihana menengadahkan wajahnya dan menatap wajah Tuan Kin tegang. “Mengajari? Aku...aku tidak mau diajari yang macam-macam.”
Tuan Kin menyentil kening Raihana. ‘Pletak’. “Fikiran kamu itu yang macam-macam. Rupanya...kamu sudah berprasangka yang tidak-tidak. Jangan-jangan, kamu sudah tidak sabar menunggu malam hari tiba ya?"
“Oh, eh tidak seperti itu kok." Sanggah Raihana panik. "Aku hanya...hanya..."
“Sudahlah. Ayo!” Tuan Kin menarik tangan Raihana ke pintu. Lalu dia menempelkan ibu jari Raihana ke handelnya. “Ini yang aku maksud dengan mengajari kamu. Dengan begini, sidik jari kamu akan dikenali oleh sistem. Jadi kamu bisa masuk dan keluar kamar ini dengan mudah.”
Raihana menoleh pada Tuan Kin. Karena mereka sangat dekat, hampir saja dia mencium pipi Tuan Kin. Tapi, dia tak menyangka kalau pria yang sangat ditakuti orang-orang ini bisa bicara dengan suara lembut juga.
“Meng-mengapa anda membiarkanku dengan mudah keluar masuk kamar ini? Anda...begitu percaya padaku kah? Apa anda tidak takut aku bakal mencuri sesuatu yang berharga dari kamar ini ketika anda tidak ada?”
Tuan melepaskan tangan Raihana karena sidik jari gadis itu sudah terekam oleh sistem. Lalu, pria itu mengarah pandang pada Raihana. “Tak ada barang yang cukup berharga di kamar ini. Semua aku simpan di tempat rahasia. Kalau pun kamu mencuri barang berhargaku, itu juga memberikan keuntungan tersendiri untukku.”
Kening Raihana mengerut. “Keuntungan? Tak ada kehilangan yang menguntungkan menurutku?”
Tuan Kin menatap wajah Raihana lekat-lekat dengan diikuti senyum penuh arti. “Kamu mau tau itu keuntungan apa itu?”
Raihana mengangguk. “I-iya.”
Dengan terus menatap wajah Raihana, Tuan Kin memasukkan kedua tangannya ke saku celana panjangnya. “Keuntungannya adalah...aku bisa menghukum kamu. Kamu tau, aku sangat suka menghukummu. Dan...jika kamu benar-benar mencuri barangku, maka aku akan menghukummu dengan hukuman yang paling kamu takuti."
Bola mata Raihana bergerak ke sebelah kiri. “Hukuman yang paling aku takuti?”
Tuan Kin mengangguk. “Iya. Dan kamu pasti tau hukuman apa itu? Hukuman yang special. Beda dengan yang lain. Jika orang lain dihukum dengan siksaan, maka kamu akan aku hukum dengan kesenangan.” Mata Tuan Kin menyusuri tubuh Raihana dari atas sampai ke bawah. “Bukankah hukuman dengan kesenangan jauh lebih menakutkan bagimu ketimbang hukuman siksaan?”
Sontak Raihana menundukkan pandang. Degupan jantungnya kian berpacu dengan cepat. Tuan Kin sudah mengetahui titik lemahnya. Itu artinya, dia tidak bisa sembarangan bersikap dengan pria yang satu ini.
“Ya sudah. Jangan kamu fikirkan lebih dalam. Aku mau sarapan.” Ucap Tuan Kin sembari melangkah santai menuju sofa dan mengambil duduk di sana.
Jawaban Tuan Kin membuatnya cemas. Tapi tak urung dia mengangguk juga. “Baik tuan.” Lalu, gadis itu mendekati Tuan Kin, duduk bertompang lutut di atas karpet lantai di hadapan Tuan Kin. Selanjutnya, Raihana menyodorkan piring yang sudah berisi makanan pada Tuan Kin. “Silahkan tuan.”
Tapi bukannya langsung menikmati makanannya, Tuan Kin malah menatap lekat Raihana kembali. Entah mengapa, pria itu tidak juga merasa bosan memandang wajah imut Raihana. Tentu itu membuat Raihana bingung.
“Kenapa anda tidak juga sarapan? Apa aku harus menyuapi juga?”
“Kamu tau, aku tidak sedang ingin makan itu.”
Raihana melirik makanan di piring Tuan Kin, lalu kembali mengarah pandang pada Tuan Kin. “Tapi kata Ibu Asih, ini adalah menu sarapan kesukaan anda. Kata beliau juga, anda selalu minta menu itu untuk sarapan.”
“Iya, itu ‘kan sebelum ada kamu. Nah, sekarang beda.”
“Jadi anda mau makan apa tuan? Aku akan menggantinya?”
“Tak perlu diganti. Karna aku maunya... makan kamu.”
Deg.
Raihana langsung mematung.
Tuan Kin kian melekatkan tatapannya. “Bagaimana? Apa kamu bersedia memberiku makan itu?”
Raihana langsung berdiri dengan wajah pucat. “Maaf tuan, hari sudah siang. Anda bukannya harus segera pergi ke kantor ya?”
Tuan Kin tersenyum. Dia lalu memegang sendok dan garpu. Tak lama kemudian, dia mulai menikmati sarapannya. Namun, sepertinya melirik Raihana memang sudah menjadi kebiasaan barunya. Tuan Kin sarapan sembari melirik Raihana beberapa kali.
Tepat setelah Tuan Kin menghabiskan sarapannya, Cakra masuk. Pria itu langsung membungkuk hormat. “Selamat pagi tuan. Apa anda sudah siap untuk berangkat?”
Tuan Kin menoleh pada Cakra. “Ah, ya. Aku sudah siap. Kamu boleh menunggu di luar.” Tuan Kin melirik Raihana. “Karna... aku akan meminta pelayan tersayangku memakaikanku sepatu dulu.”
Dalam tundukkan kepalanya, kening Cakra mengerut. Selama ini, kalau hanya memakai sepatu, Tuan Kin tidak akan menyuruhnya keluar kamar. Cakra berfikir bahwa keberadaan Raihana telah mengalihkan dunia majikannya. Tapi tak urung, Cakra menganggukkan kepala juga. “Baik tuan.” Cakra berbalik badan dan keluar kamar. Tak lupa, dia juga menutup pintunya.
Sementara itu, Raihana bergerak dengan cepat mengambil kaos kaki dan sepatu Tuan Kin. Dengan menghilangkan rasa canggungnya, dia duduk bertopang lutut dan memakaikan sepatu Tuan Kin. Dia ingin Tuan Kin cepat pergi ke kantor sehingga dia bisa bernafas lega dan bebas bergerak. Semalaman dia berfikir, jika Tuan Kin pergi kerja maka dia akan mengitari sekitar istana Tuan Kin ini untuk melihat keadaan. Siapa tahu, dia bisa menemukan jalan untuk melarikan diri. Ya, dia harus menyelamatkan kesuciannya sebelum malam tiba.
“Selama aku tidak ada di rumah, kamu jangan coba-coba berfikir untuk melarikan diri dari rumah ini.” Ucap Tuan Kin sembari berdiri. Sepatunya sudah dipasang rapi oleh Raihana.
Deg.
‘Bagaimana pria ini bisa tau niatku?’
Tuan Kin menyipitkan matanya. “Kenapa kamu tidak menyahut ucapanku?”
Raihana mengangguk ragu. “I-iya tuan.”
“Nasib ayahmu ada di tanganku.” Tambah Tuan Kin. Dia mengancam begini karena tidak ingin kehilangan Raihana.
Raihana menggigit bibir bawahnya. ‘Kenapa monster m***m ini selalu mengancamku? Membuat orang mati ketakutan sepertinya memang hobinya.’
Tuan Kin melangkah ke pintu. Raihana mengikuti langkah pria itu di belakangnya. Tapi sebelum pria itu membuka pintu, secepat kilat dia mencium pipi Raihana, lalu berkata, “Aku pergi ya.”
Raihana kembali mematung. Apa yang baru saja dilakukan Tuan Kin membuatnya syok. Itu adalah ciuman pertamanya. Tuan Kin adalah pria pertama yang menciumnya.
“Ayo kita pergi Cakra!” Kata Tuan Kin sembari melangkah dengan santai tanpa menoleh lagi.
“Baik Tuan.” Cakra mengikuti langkah Tuan Kin.
Sementara itu, Raihana masih berdiri sambil memegangi pipinya. Untuk beberapa saat, gadis itu seperti itu. Wajahnya menyiratkan kekesalan dan kemarahan. Namun, dia tidak bisa berbuat apa pun karena Tuan Kin mempunyai kuasa atas dirinya. Dengan menyingkirkan rasa kesalnya, Raihana berbalik dan mencari sesuatu di dalam lemari Tuan Kin.
“Alhamdulillah ketemu.” Raihana memeluk hijab putih yang baru saja dia temukan. Itu adalah hijab yang dia kenakan ketika dia datang ke rumah ini. Dia sudah bertekad, jika dia sudah menemukan jalan keluar dari rumah ini maka dia akan melarikan diri. Dia tidak perduli lagi dengan janjinya pada Tuan Kin barusan untuk tidak pergi. Dia hanya tahu bahwa dia tidak boleh menyia-yiakan kesempatan yang ada.
Bersambung...
Follow ig aku: Mayang_noura
Mampir ke novel terbaru aku Incaran Presdir Kejam ya. Thanks