Tangan Yang Gemetar

1056 Kata
Raihana sedang menyiapkan sarapan untuk Tuan Kin ketika Aster masuk ke dalam dapur dan mendekatinya. “Senang ya baru sehari bisa bermalam dengan majikan?” Sindir Aster sembari mengambil sayuran dalam kulkas. Saat ini hanya ada mereka berdua di dapur. Raihana menghentikan pergerakan tangannya dan menoleh. “Maksudmu apa? Aku tidak merasa senang seperti yang kakak duga.” Aster menyeringai dan membawa sayuran ke meja. “Munafik.” Raihana menggeram. Dia tidak terima dengan pernyataan yang diucapkan oleh Aster. Bagaimana semua orang di rumah besar dan seperti istana ini menjadikan hal seperti ini sebagai lelucon? Di mana hati nurani mereka yang membiarkan seorang gadis disekap di dalam kamar majikan seolah itu bukan tindak criminal? Tidakkah mereka berusaha menolongnya? Dia hampir mati ketakutan semalam? Dan mirisnya, semua orang-orang di rumah ini mengira dia bersenang-senang dengan Tuan Kin. “Munafik? Siapa yang kamu sebut munafik itu? Aku?” Raihana menunjuk dirinya sendiri. Aster melirik Raihana. Dia tidak menyangka kalau gadis belia yang diajaknya bicara adalah gadis pemberontak, berani, dan tidak mau ditindas. Aster menaruh sayurannya dan menghadap Raihana. “Kalau iya, kenapa?” Raihana balik menatap Aster. “Dengar ya kak. Aku memang lebih muda dari kakak. Tapi harap kakak tau, harusnya kakak juga menjaga adab ketika berbicara dengan yang lebih muda, karena itu mencerminkan kepribadian kakak.” Kening Aster mengerut dengan mata melebar. “Jangan sok pintar kamu! Ngajarin orang pula!” “Kalau kakak tidak mau orang lain menilai kakak buruk, kakak juga jangan menilai orang buruk. Nih, kalau kakak mau menggantikan tugasku melayani Tuan Kin, silahkan! Harap kakak tau ya, aku tidak senang dengan tugasku ini! Kalau aku memang bisa, aku ingin pergi dari rumah ini sekarang juga!” “Kok kamu jadi nyolot, sih?” “Yang mulai duluan siapa?” Aster terdiam. Dia kembali mengurus sayurannya lagi. Raihana sendiri, langsung mengangkat nampan yang sudah berisi sarapan Tuan Kin dan lalu pergi dari dapur itu. Aster melempar sayuran di tangannya. “Sialan tuh cewek! Lihat saja nanti aku akan buat dia dibenci oleh Tuan Kin!” *** Raihana menatap pintu di depannya. Di tangannya ada nampan berisi sarapan Tuan Kin. Sebenarnya, Raihana sangat tidak mau datang lagi ke kamar ini. Kejadian semalam cukup membuatnya trauma. Tapi untuk saat ini dia tidak bisa berbuat apa-apa melainkan menuruti semua perkataan Tuan Kin. Raihana langsung masuk ke dalam karena pintu memang tidak tertutup. Sepertinya Tuan Kin memang sengaja tidak menutup pintu untuknya, agar dia mudah masuk membawakan sarapan. Bersamaan dengan Raihana menaruh nampan ke atas meja, Tuan Kin keluar kamar mandi. Tuan Kin yang hanya melilitkan handuk di pinggang, otomatis membuat Raihana menjerit dan berbalik badan. Reaksi itu, membuat Tuan Kin menghentikan langkahnya dan menatap Raihana. “Oh, kamu sudah ada datang rupanya. Kebetulan, bantu aku memakai baju. Sekarang juga ambillah bajunya!” Raihana mengangguk. “Baik tuan.” Gadis itu pun lalu berjalan sambil menutup pandangannya dari melihat tubuh Tuan Kin dengan meletakkan telapak tangannya di samping mata sebagai perisai. Tapi begitu sampai di depan lemari, dia bingung mau membuka pintu yang mana karena ada sepuluh pintu. Seolah tahu dengan kebingungan Raihana, Tuan Kin berkata, “Setelan jas di pintu nomer 6, kemeja nomer 7, pakaian dalam nomer 3, dan dasi serta kaos kaki nomer 1.” Glek. Raihana menelan ludah. Tuan Kin mengucapkan itu dengan sekali lewat. Untungnya, Raihana gadis yang cukup cerdas sehingga daya tangkapnya kuat. Dia mengingat semua nomer yang disebutkan Tuan Kin. Raihana pun langsung membuka pintu lemari nomer 6, tapi keningnya otomatis mengerut melihat jejeran kemeja di depannya. “Anda mau memakai jas warna apa?” “Yang mana saja yang sesuai dengan selera kamu. Mulai hari ini, kamulah yang menentukan aku mau pakai baju yang mana!” Raihana menghela nafas. Mana bisa seperti itu? “Tapi tuan-“ “Jangan banyak protes!” Tak mau berdebat, Raihana lalu mengeluarkan setelah jas berwarna abu-abu, kemeja putih, dasi berwarna senada, begitu pun dengan kaos kakinya. Namun begitu hendak mengambil pakaian dalam Tuan Kin, hatinya merasa miris. ‘Mengapa untuk benda yang sangat privacy ini, harus aku juga yang ambilkan?’ “Sudah semua tuan.” Ucap Raihana sembari menaruh pakaian dalam Tuan Kin di atas tempat tidur bersama semua yang diambilnya tadi. “Pakaikan semua padaku!” Mata Raihana melebar. “Apakah pakaian dalam aku juga yang harus memakaikan?” Tuan Kin tersenyum penuh arti sembari menatap Raihana yang sampai saat ini tidak mau mengarahkan pandang kepadanya hanya karena dia masih telanjang d**a. “Kalau iya memang kenapa? Bukankah nanti malam kamu akan melihat semuanya?” Tangan Raihana mengepal. Ingin rasanya dia menimpuk kepala Tuan Kin. ‘Kenapa bisa semudah itu dia bicara seperti itu? Dasar otak m***m. Bagaimana orang-orang bisa berfikir kalau dia tidak punya hasrat pada perempuan?’ “Tuan aku tidak bisa memakaikan yang satu itu.” Jawab Raihana kemudian. “Aku tau itu. Aku hanya bercanda.” Tuan Kin mengambil pakaian dalamnya dan memakainya sendiri dengan bibir tak berhenti tersenyum. Dia menyukai semua sikap Raihana. Dari penolakkannya, ketakutannya, marahnya, dan apapun itu. Tuan Kin melangkah mendekati Raihana hingga mereka sangat dekat. “Aku sudah selesai. Kini pakaikan aku baju.” Ucapnya kemudian. Menyadari Tuan Kin sangat dekat dengannya, Raihana mundur selangkah. Tapi Tuan Kin malah langsung menariknya hingga wajah Raihana hampir mencium dadanya. “Jangan menjauh dariku. Karena itu akan sulit untukmu memakaikanku baju. Satu lagi, jangan mengalihkan pandanganmu. Karena itu juga akan mempersulitmu melakukan kewajibanmu.” Deg. Jantung Raihana berdegup sangat kencang bersamaan dengan wajahnya yang terangkat ke atas, berhadapan dengan d**a Tuan Kin yang sangat bidang dan terlihat kokoh. Dengan tangan gemetar, Raihana lalu memakaikan Tuan Kin kemeja. Bersentuhan kulit pun tidak bisa dia elakkan. Selanjutnya, Raihana memakaikan Tuan Kin celana panjangnya. Tapi dia tidak sanggup ketika harus menyeletingkan celana pria itu. “Maaf, bisakah anda memakainya sendiri?” Tuan Kin kembali tersenyum. “Aku mengerti.” Lalu mengambil alih celananya dan menyeletingkan sendiri. Raihana pun menghela nafas lega. “Pakaikan jas-ku!” Raihana mengangguk. “Baik tuan.” Raihana memakaikan Tuan Kin jas sekaligus memakaikan pria itu dasi, masih dengan tangan yang gemetar. Jantungnya seperti mau lepas ketika tiba-tiba Tuan Kin menggenggam tangannya erat. Sontak Raihana berusaha menarik tangannya. “Tuan lepaskan!” Bukannya melepas, Tuan Kin malah menggenggam tangan Raihana dengan erat. “Jangan dulu menarik tanganmu. Aku mau mengajari sesuatu.” Mata Raihana melebar. ‘Mengajari sesuatu?’     Bersambung… Follow i********:-ku; Mayang_noura    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN