"Tuan, apa anda memang sudah siap hati melepaskan Hana? Meskipun anda mengatakan pada Adam seolah anda sudah ikhlas, aku masih merasa kalau anda belum bisa melepaskan Hana buat Adam. Apa...perkataanku benar?" tanya Cakra pada Tuan Kin yang duduk di sebelahnya. Mereka sekarang sedang dalam perjalanan pulang setelah dari rumah sakit. Tuan Kin menghela nafas berat. Dia tahu, Cakra pasti sudah tahu isi hatinya. Assisten pribadinya itu sudah sangat mengenal dirinya. Dia tidak bisa menyembunyikan apapun dari pria itu, meski hanya sebuah perasaan. Jadi untuk apa dia berbohong. "Kamu benar, Cakra. Jika ingin mengikuti kata hati, maka aku belum bisa melepaskannya. Bahkan mungkin tidak akan pernah bisa. Karena itu, aku memaksakan diri untuk melepaskan Hana. Karena kalau tidak dipaksa, maka aku tid

