Arina mengencangkan rahangnya. Bagaimana tidak, ternyata tamu yang ada di hadapannya ini diperuntukkan untuk dirinya. Buktinya, papanya langsung kabur ke dalam rumah setelah pembantu rumahnya menyediakan minuman dan makanan kecil ke meja. Kalau sudah begini, mungkin dia harus berfikir cara lain untuk pergi. Duduk berdua dengan pria yang tidak dikenal dengab sikapnya yang sangat dewasa membuatnya merasa tidak nyaman dan tidak asyik. "Hm...aku sepertinya harus ke dalam untuk memanggilkan papa." Arina bersiap beranjak dari duduknya. "Tidak perlu!" Kalimat itu membuat gerakan tubuh Arina terhenti. Belum berdiri sempurna, tapi juga tidak duduk. "Aku datang memang untuk bertemu denganmu." Arina menoleh pada Adam. "Heh?" "Iya. Aku memang datang untuk bertemu denganmu. Apa suaraku kecil sehi

