Lima belas : Tersangka Baru

1259 Kata
Dalam ruangan sederhana yang tidak begitu luas itu, mereka bertiga masih duduk melingkari meja. Di depan ketiganya, masing-masing ada secangkir minuman hangat. Dua cangkir kopi masing-masing milik Andaru dan Pram, sedangkan sebuah gelas berukuran besar berisi s**u cokelat milik Bara masih tersisa setengah. Yah, Pram dan Bara kini tengah berada di rumah Andaru sepulang dari pantai. Mereka memutuskan untuk melanjutkan diskusi di rumah Andaru, sebab mengetahui fakta bahwa pelaku pembunuhan adalah orang yang berada di sekitar mereka. Bisa saja orang itu terus mengamati rumah Pram untuk menargetkan korban selanjutnya. Mendadak mati Alibi kematian ambigu Jejak kaki yang diseret Tempat kejadian dipalsukan Aparat bungkam Wayan Wijaya Cincin kawin Pembunuhan berantai Kalimat terakhir itu adalah tulisan tangan Pram. Bara menggigiti kuku tangan sambil menelusuri notes yang penuh dengan coretan. Ia terlihat sangat fokus dan serius, mengabaikan Andaru dan Pram yang masih bungkam dengan pikiran masing-masing. Sejauh ini, Bara menemukan banyak kemungkinan yang mendekati kepastian bahwa kasus ini sepenuhnya pembunuhan. Akan tetapi, pria itu juga tak ingin terlalu cepat memutuskan. Ia masih ingin menelusuri semuanya dengan jelas dan rinci. Setelah mendengar Andaru menyebutkan nama Wayan Wijaya, entah kenapa Bara menjadi sangat bersemangat untuk menggali lebih dalam tentang bosnya. Bahkan tadi siang, ia sempat menemui presdir Wayan di lokasi kejadian pembunuhan. Untuk apa lelaki itu datang? Toh, dia tidak dengat dengan Detektif tersebut. Pertanyaan itu melintas dalam benak Bara dan terus mendesak untuk dilontarkan. "Bisa dijelaskan, kenapa kau sangat ingin menempatkan Wijaya sebagai tersangka, Nona Andaru?" Bara mendadak menyodorkan pulpennya ke arah Andaru. Dengan pose mirip seorang wartawan yang sedang mewawancarai narasumber. Hal itu tak luput dari sikap jenaka yang melekat dalam kepribadian Bara. Gadis yang sedari tadi juga menerka-nerka kemungkinan terbesar, kini tertawa kecil, tangannya bergerak menjauhkan tangan Bara yang masih memegang pulpen di depannya. Tak hanya Andaru dan Bara yang tertawa kali ini, Pram pun ikut tersenyum menyaksikan tingkah Bara. Ia menyeruput kopi buatan Andaru. Kemudian menghela napasnya pendek. Pria itu merogoh sesuatu dari saku celana dan mengeluarkan sebuah cincin emas yang kemudian diletakkan di atas meja. Gerakan ringan dari Pram itu membuat perhatian Bara beralih padanya. Akhirnya Bara mengalah pada Andaru, pulpen ia letakkan kembali ke atas meja dan mengamati benda kuning berkilauan tersebut. "Jadi, ini alasannya?" tanya Bara menyentuh detail cincin tersebut. Pria itu mengangguk-angguk paham saat menemukan ukiran nama bosnya di sana. Kenapa semua ini terasa semakin jelas saja untuk Bara? "Bagaimana kau bisa menemukan benda ini?" sepasang mata Bara sama sekali tak beralih dari cincin di tangannya. Ia sibuk mengamati benda itu tanpa memperhatikan Andaru yang sibuk meremas jari tangan sebab gugup. Namun, hanya Pram yang menyadari hal itu. Pria itu berdehem sejenak sebelum kemudian bersuara. "Itu ditemukan di tempat kejadian yang sebenarnya," sahut Pram cepat. Seketika jawaban Pram membuat Andaru menoleh dengan ragu. Pria itu menjawab pertanyaan Bara untuk melindunginya dari perasaan berdosa. Sedangkan Pram masih dengan acuh menikmati kopi hitam yang tinggal setengah. Matanya sesekali mengelilingi seantero rumah Andaru yang terasa sangat nyaman. Semasa hidupnya, ia bahkan tak pernah berpikir bisa berada di rumah gadis bermata sendu tersebut. Apa lagi menjadi sedekat ini dengannya. Pram mengulum senyum yang tak sempat muncul di wajah. "Jadi, bukankah semua ini sudah jelas? Pasti Presdir Wijaya pelakunya!" terka Bara berapi-api. Dengan wajah malas Pram melirik Bara kesal, "bagaimana kau akan membuktikannya?" Pram melirik Andaru sekilas. Demi memastikan bahwa gadis itu baik-baik saja. Tidak banyak yang sedang dipikirkan kali ini selain bagaimana cara untuk menyelesaikan semua teka-teki rumit ini. "Pram benar, waktu kita memang tidak banyak. Tapi, bukan berarti kita bisa mengambil asumsi secepat itu," potong Andaru, "kita butuh lebuh banyak bukti yang kuat." "Kalau begitu, kenapa kita tidak pergi ke tempat kejadian yang sebenarnya saja? Setidaknya kau bisa menjelaskan bagaimana semua ini terjadi. Dengan begitu kita bisa membuat perkiraan baru yang lebih meyakinkan." Bara menutup notes di depannya dengan semangat. "Aku yakin, malam itu Presdir Wijaya melakukan sesuatu di rumahmu. Benar, tidak mungkin keliru!" gumamnya sangat yakin. "Dia memang melakukan sesuatu di sana. Tentu saja dia tidur!" "Tidak bukan itu maksudku, Pram." Pria yang memiliki lesung pipit tersebut menghela napas pendek. "Lalu apa yang kau maksud?" serah Pram dengan intonasi tajam. Keduanya sama-sama melempar pandangan saling mengintimidasi. Pram keras kepala kali ini, ia sangat yakin sepenuhnya kepada Presdir Wijaya. Pria paruh baya itu tidak mungkin mengkhianatinya. Toh, selama ini Presdir Wijaya yang banyak membantunya dalam segala hal termasuk pekerjaan. Sulit bagi Pram untuk berpikir bahwa Wayan Wijaya adalah dalang di balik kematiannya. Deheman pelan dari Andaru tak membuat kedua pria itu berhenti melontarkan ketidaksukaan mereka lewat tatapan mata. Tok ... tok ... tok ... Ketukan jari Andaru pada meja kayu itu memecah keheningan yang mencekik satu sama lain. "Hey, kita bicarakan baik-baik. Ini tidak akan selesai kalau kalian berdua bersikap seperti ini," ucapnya. Bara mengalah lebih dulu. Ucapan Andaru sepenuhnya benar, tetapi ia tak bisa menahan kekesalannya kali ini terhadap Pram. Bagaimana pun juga, ia hanya ingin membantu, tetapi respon dari Pram membuatnya kesal. "Pertama, kita harus mendengar asumsimu, Pram. Kenapa kau menolak untuk mencurigai Pak Wijaya?" Andaru dengan hati-hati menanyakan hal tersebut. Selain karena ia tau kedekatan Pram dan bosnya itu sudah seperti sahabat sejati, bahkan saudara, Andaru butuh sesuatu yang lebih meyakinkan dari kedua hal tersebut. Bahkan saudara sedarah pun masih bisa bertengkar dan berakhir untuk saling membenci kemudian menjadi orang asing. Bagi Andaru, hal ini bukan sesuatu yang mustahil untuk dijadikan kecurigaan tanpa sebab. Semua praduganya memiliki pondasi yang kuat dan sangat mendukung Wayan Wijaya untuk menjadi tersangka. Lama terdiam, Pram menelan salivanya kasar. Ia menatap Andaru dengan tatapan yang tidak biasa, gadis itu paham Pram tersinggung dengan ucapannya. Karena secara tidak langsung ia terkesan mendukung Bara. "Kau tidak boleh berpikir bahwa aku sedang memihak Bara. Kita harus menyelesaikan ini dengan kepala dingin, Pram. Setelah kau, Bara, aku juga akan mengatakan kemungkinan-kemungkinan yang sedang kami pikirkan." Andaru berusaha meyakinkan pria itu dengan kata-katanya. "Kita sedang mencari jalan keluar di sini, tidak ada yang lebih penting selain membantumu memecahkan semua misteri tentang kematianmu," imbuh gadis tersebut. Satu hal yang Pram benci dari seorang Andaru. Tatapan dari gadis itu selalu saja meluluhkannya. Entah sejak kapan sepasang mata sendu itu berubah menjadi candu untuk Pram. "Dia satu-satunya orang yang mendukungku," jawab Pram lirih. Hampir seperti gumaman kecil yang tak terdengar jika Bara dan Andaru tidak sepenuhnya menyimak ucapan pria tersebut. "Dia orang pertama yang memberikan kepercayaan padaku, yang mendukungku untuk mencapai posisi ini." Tak ada yang bersuara dalam ruangan itu, baik Andaru juga Bara sama-sama diam. Keduanya paham bahwa kehidupan Pram tak pernah menemui jalan yang mudah, dan Bara sendiri lebih mengenal Pram daripada Andaru. Ia tau bagaimana proses yang sangat rumit dalam setiap perjalanan hidup Pram. Mulai semenjak pria itu sekolah sampai ia bekerja di perusahaan berita tersebut. Tak ada hal yang mudah untuk Pram. Sudah pasti karena hal itu juga Pram sangat mempercayai Wayan Wijaya. "Aku paham, tapi kau juga harus mengerti di sini kita sedang mencari pelaku yang sebenarnya. Ini semua demi kebaikanmu," bisik Bara pelan. Ia tak ingin melukai perasaan Pram. Bagaimana pun juga, pria itu sudah mati. Ia tak mau menambah beban di hatinya. "Bara benar, lagi pula ini hanya sebuah kecurigaan. Kita hanya perlu membuktikan apakah Wayan Wijaya benar-benar bersalah, atau sebaliknya." Andaru ikut menimpali. Pram menghela napas. Ia tau hari ini ia terlalu egois. Disuguhkan senyum tipis untuk kedua rekan yang rela kelelahan melakukan penyelidikan demi dirinya hari ini. "Baiklah, besok kita harus mencari tau tentang Presdir Wijaya." Malam itu mereka bertiga memilih untuk mengistirahatkan pikiran masing-masing. Setelah seharian penat berpikir juga berjalan mencari kebenaran untuk Pram. BERSAMBUNG!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN