Tanpa sepatah kata kau pergi dari ingatan
Membawa serta hati yang pernah kau janjikan pergi
Meninggalkan kenangan mati lengkap dengan rasa sakitnya kehilangan
Untukku, kau adalah selembar kertas putih
Yang menelan seluruh aksara cintaku
Yang menjadi tempat di mana tinta merah kutorehkan waktu itu
Untukku, kau adalah lorong hitam yang panjang
Tanpa puisi, tak akan ada yang berani mengantarkanku masuk lebih dalam
Menyuguhkan hati yang telah terpatri
Lalu kau tinggali kesedihan tanpa henti
Mencintaimu hanya sebatas menguji diri
Seagungnya aku jatuh pada mata setajam pedang itu
Sebesar itu juga ketakutanku kehilangan sosok dirimu.
Bumi, 19 Oktober 2025.
Andaru melipat secarik kertas yang sudah penuh dengan coretan tinta merah itu membentuk sebuah pesawat. Bibirnya mengulum senyum yang ia sendiri tak bisa menyimpulkan, untuk apa dan kepada siapa senyum itu diciptakan. Andaru tau perasaan yang ia simpan akan berakhir sia-sia, tetapi ia bahkan tak memiliki kendali atas hatinya sendiri. Semakin banyak Andaru menekankan kepada dirinya sendiri, bahwa mencintai adalah ketidak mungkinan untuknya. Perasaan itu justru semakin mendarah daging setiap melihat Pram dengan segala ekspresinya. Pria itu adalah luka sekaligus penawar baginya. Lantas, bagaimana nanti jika Pram benar-benar pergi?
Helaan napas Andaru terdengar kasar, ia memasukkan pesawat kertas ke dalam saku sweaternya. Matanya beralih memerhatikan Bara dan Pram bergantian. Mereka berdua masih saling melontarkan berbagai kemungkinan yang bisa saja terjadi kepada Detektif yang ditemukan tak bernyawa tersebut.
"Ini bukan bunuh diri," gumam Bara mengepalkan kesepuluh jarinya di depan bibir.
Pria itu menghela napas kasar sambil mengacak rambutnya yang kusut. Ia membanting tubuh pada sandaran kursi dengan pikiran yang beranak-pinak. Kenapa juga detektif itu harus bunuh diri? Padahal semuanya baik-baik saja saat terakhir kali ia bertemu dengan pria paruh baya tersebut. Sedetik kemudian Bara beranjak dari kursi membuat pandangan Pram dan Andaru tertuju pada pria itu.
"Mau ke mana kau?" tanya Pram masih dengan posisi duduk melipat kaki.
Sejujurnya ia agak frustrasi, memecahkan teka-teki kematiannya sendiri tanpa satu petunjuk pun. Bara menggeleng ambigu, ia meletakkan kedua tangan di pinggang menatap Andaru dan Pram secara bergantian.
"Kita tidak bisa diam saja. Aku akan pergi ke lokasi untuk memeriksa tempat kejadian perkara sebelum kasus ini ditutup begitu saja," ujarnya.
Mendengar ucapan Bara, Pram bergegas berdiri dari posisi rebahan, "Kalau begitu, aku ikut!"
Pram bergegas mengikuti langkah Bara yang hampir sampai di depan pintu utama. Namun, tangan Andaru menahan lengan Pram, sampai gadis itu turut berdiri dari posisinya. Sedangkan Bara yang menyaksikan hal itu menghela napas, ia tau betul apa yang sekarang ada dalam pikiran Andaru. Pria itu menganggukkan kepalanya mendukung kekhawatiran Andaru. Seolah-olah paham apa yang gadis itu maksud.
"Ini terlalu berbahaya untukmu," kata Bara.
"Tapi, aku harus melihatnya. Aku tidak bisa diam saja," kejar Pram keras kepala.
"Bisa gawat kalau ada orang-orang yang mengenalimu, melihatmu di sana dengan keadaan baik-baik saja seperti ini, bodoh." Bara kembali meletakkan kedua tangannya di pinggang. Ia masih tak habis pikir dengan Pram yang masih saja bersikap keras kepala dalam situasi seperti ini.
"Dia benar, terlalu beresiko kalau kau memaksa ikut." Andaru menimpali, "Aku akan ikut menggantikanmu. Kau bisa mempercayaiku." ucapan Andaru seperti menyihir Pram untuk menatap gadis itu. Ia disuguhi sepasang mata Andaru yang menatapnya penuh permohonan.
Ia benar-benar khawatir jika yang dikatakan Bara adalah kebenaran. Bisa jadi semua ini adalah kasus pembunuhan yang serupa, dan lagi hal ini tidak bisa diremehkan. Sebab bisa saja pelaku pelakunya adalah orang yang sama.
"Jangan keras kepala! Dia benar, kau hanya akan mengganggu di sana. Aku akan mengabarimu setiap kali mendapatkan info kecil sekalipun," sergah Bara masih berusaha menahan Pram.
Akan tetapi, Pram tak menggubris kedua orang yang melarangnya pergi. Pria itu berlari menuju kamarnya dan kembali dengan cepat dengan membawa sebuah jaket dan topi.
"Ayo berangkat!" ucapnya.
Entah sadar atau tidak, Pram menarik lengan Andaru sampai melewati Bara yang justru melongo di tempatnya. Kenapa pria dengan kaki jerapah itu menyebalkan sekali. Ia tak pernah mendengarkan ucapan Bara sekali saja.
Dalam situasi lain, gadis yang mendapat perlakuan seperti itu, Andaru terkesiap dalam sekejap, tetapi langkah kaki Pram tidak memberikan gadis itu kesempatan untuk terdiam menikmati keterkejutannya. Secara alamiah ia bergerak mengikuti Pram yang berjalan mendahuluinya. Menatap genggaman tangan yang terasa hangat di lengannya.
"Benar-benar tidak berperasaan," gumam Bara mengikuti keduanya dari belakang.
~a k s a m a~
Tepat di sebuah pesisir pantai ketiganya turun dari taksi. Bara menyurai rambut hitamnya ke belakang saat angin pantai bertiup kencang menyejukkan. Rasa lelahnya semalam cukup mereda melihat pemandangan lepas seluas di depan sana. Sedangkan Pram mulai mengamati keadaan sekitar, matanya mengabsen setiap sudut pantai yang dapat ia lihat di sekeliling. Pram membenarkan letak topi di kepala, matanya memicing menatap tebing-tebing bebatuan putih yang tersebar di beberapa sudut pantai membuat keindahan secara alami terlihat jelas di sana. Tak bisa dipungkiri menyaksikan pemandangan dingin dan sejuk seperti ini membuat mood Pram membaik dari pada sebelumnya.
"Pasti di sana," suara Andaru memecah lamuman pria bertubuh tinggi tersebut. Andaru tengah menunjuk bagian utara pantai, di mana sebuah tebing paling tinggi berada. Samar mereka melihat sebuah tanda peringatan di atas tebing. Tentu saja itu adalah pacang kayu yang dipasang oleh pihak kepolisian untuk melindungi TKP.
Tebing setinggi kira-kira sepuluh meter itu masih ditancapi pacang kayu sebagai tanda tempat itu masih dalam proses penyelidikan. Sedangkan di bawahnya ada beberapa polisi yang berjaga di sekitar garis kuning. Andaru menatap Pram sebentar, kedua tangannya menahan lengan Pram sebelum Pria itu berbuat gegabah lagi.
"Kau tidak boleh mendekat!" pinta gadis itu lantas diangguki dengan cepat oleh Bara.
Pria itu turut meletakkan tangannya di pundak Andaru, seperti tengah memeluk gadis itu dari samping. Bara ikut serta menghalangi Pram yang menatap keduanya dengan pandangan protes.
"Tidak ada protes kali ini. Kalau kau memaksa ikut, kau hanya boleh melihat dari atas tebing. Dan, aku akan memeriksa tempat di mana mayat itu ditemukan bersama dia." Bara mengendikkan dagunya untuk menunjuk Andaru yang juga menyetujui usul darinya.
Tangan Bara masih berada di pundak Andaru, membuat Pram fokus menatap titik tersebut. Ia memutar sepasang manik matanya jengah, lalu menerobos batas yang di buat Bara sehingga Andaru terlepas dari pelukan Bara. Baru beberapa langkah melewati Bara dan Andaru, Pram kembali berbalik menatap kedua insan yang masih saling pandang. Dengan jelas pria itu menunjukkan gelagat bahwa ia sangat khawatir pada gadis bermata hitam pekat tersebut.
"Kau ...," ucap Pram menggantung. Ia mengusap bagian luar topi hitam yang dikenakan lalu kembali menegakkan tubuh dengan perasaan khawatir. Matanya menatap Andaru yang sedari tadi terus mengkhawatirkan dirinya, tetapi kini ia justru mengkhawatirkan gadis itu.
"Sebaiknya kalian berhati-hati." Sedetik kemudian Pram berbalik, langkah kaki jerapah itu cepat meninggalkan kedua temannya yang bertugas mengamati lokasi kejadian di bawah. Ia tidak boleh membuang banyak waktu lagi.
Sedangkan kedua insan itu juga masih menatap punggung Pram yang semakin menjauh. Seolah sedang mengantarkan pria itu agar sampai di tempat tujuan dengan selamat, secara tidak langsung lewat sepasang netra. Pria itu menuruti perintah Bara kali ini, lihat saja Pram sudah berlari kecil untuk segera menuju ke atas tebing tersebut. Hal itu membuat Bara merasa lebih baik, bagaimanapun juga memerintah Pram yang terkadang bersikap Bossy adalah hal yang menyenangkan.
Bara tertawa kecil sebelum ia menoleh ke arah Andaru, gadis itu masih mengulum senyum tanpa menyadari pandangan Bara. Kini Bara semakin mengerti arti pesan terselubung dalam kalimat terakhir yang Pram ucapkan barusan. Itu berarti bahwa ia harus menjaga Andaru sebaik mungkin. Aih, si kunyuk itu ternyata sedang jatuh cinta?
"Kau menyukainya."
Mendengar ucapan itu wajahnya mendadak memerah. Ia menggeleng sambil membenarkan tatanan rambut yang beterbangan karena desiran angin pantai. Andaru mendadak gagap, enggan menatap Bara. Gadis itu bahkan berjalan mendahuluinya.
"Tt-ti-tidak."
Namun, hal tersebut justru mengundang gelak tawa Bara. Ia tertawa kencang mendengar balasan Andaru. Dan dengan terburu-buru ia menyamai langkah Andaru dan menatapnya dari samping.
"Aku sedang membuat pernyataan. Kau tidak perlu menjawabnya," kekeh Bara.
"Lagi pula, wajahmu itu sudah menunjukkan jawaban yang sangat jelas," kata Bara, "kau tidak bisa menyembunyikannya dariku." Pria itu berisik tepat di telinga Andaru, membuatnya semakin merasa canggung untuk sekedar menatap Bara.
Tepat setelah menyelesaikan satu kalimat itu, Bara kembali menegakkan tubuhnya. Senyum masih menghiasi wajah naif tersebut, membuat Andaru bingung harus melakukan apa selain kembali melangkah.
"Hei, tunggu aku! Kalau kau sampai terluka, bisa-bisa Pram membunuhku nanti," teriak Bara membuat langkah Andaru semakin cepat.
Memang menjahili orang adalah kegiatan paling menyenangkan, bukan? Bara sekarang mengerti, kenapa dulu Pram kerap kali membuatnya merasa kesal. Karena hal-hal seperti itu, terlalu menyenangkan.
~a k s a m a~
"Pak, apa kau menemukan sesuatu yang mencurigakan pada mayat korban? Luka-luka lain mungkin, atau bekas tindak kekerasan, penganiayaan dan semacamnya?" cecar Bara pada seorang polisi yang bertugas menjaga tempat kejadian.
Polisi itu hanya diam menatap Bara dari atas sampai ke bawah. Sesekali pria paruh baya itu berdehem kemudian mengalihkan pandangannya dari Bara. Bukannya kesal, pria itu justru semakin bersemangat. Ia mengangkat tinjunya ke atas sambil menggenggam pulpen di tangan.
"Yeah! Tidak Salah lagi. Kali ini dugaanku pasti benar." Dengan bangga Bara mengangguk lagi sambil menuliskan sesuatu pada notesnya.
Setelah bersikeras meyakinkan detektif yang menelusuri tempat kejadian perkara, bahwa ia adalah seorang wartawan di sebuah perusahaan surat kabar. Akhirnya Andaru dan Bara diizinkan untuk masuk melewati garis polisi yang mengelilingi alas batuan tersebut. Bara mendongak ke atas, ia menggaruk dagu dengan pikiran yang sedang bekerja keras. Tebing ini kira-kira setinggi sepuluh meter, lokasinya cukup jauh dari kantor polisi pusat tempatnya bekerja, kenapa juga ia harus mencari tempat yang jauh untuk bunuh diri? Dan lagi, kenapa pula harus di pesisir pantai?
Sementara Andaru menyaksikan sekeliling tempat tersebut, barang kali ia menemukan sesuatu yang dapat membantu. Sekali pun hal yang sangat kecil. Seperti cincin yang pernah ia temukan dulu.
'Ah! Iya, benar. Cincin!'
Kenapa ia sama-sekali tak mengingat tentang cincin tersebut? Andaru semakin menajamkan pandangan ke sekitar, sepulang dari sini ia harus segera membahasnya dengan Pram juga Bara. Keduanya tampak berpencar, Bara membawa notes kecil dan sebuah pena memulai membuat catatan agar ia tak melupakan detail detail yang saat ini menari di kepala.
Kenapa juga detektif itu harus bunuh diri? Padahal sebelumnya ia baik-baik saja, bahkan detektif itu mentraktir Bara makan di sebuah kedai mie sehari sebelum ia bertemu dengan presdir Wijaya, juga mobilnya yang dihancurkan secara tiba-tiba. Padahal Bara hampir saja mendapatkan informasi yang sangat penting, tapi kenapa tiba-tiba detektif ini ...? Ah, sudahlah. Bara masih berpikir bahwa semua ini sangat tidak masuk akal.
Pria itu menghela napas panjang. Sebelah tangannya berada di pinggang sedangkan yang lain menggaruk kepala yang gatal. Saat ia mengedarkan pandangan, tanpa sengaja matanya memaku seseorang yang ia kenali berdiri tak jauh dari posisinya. Bara kikuk seketika, melihat Presdir Wijaya berdiri menatapnya dengan kedua tangan yang berada di saku celana. Sepasang mata itu menatapnya dengan tak biasa.
"Kau menemukan sesuatu?" tanya Andaru yang tak diindahkan oleh Bara.
Pria itu masih saling melempar pandangan dengan bosnya, sampai ia menundukkan kepala seolah memberikan hormat. Barulah saat itu Presdir Wijaya memutar tubuh dan beranjak pergi dari sana. Bara menghela napas berat, wajahnya kembali muram.
"Kenapa? Ada sesuatu yang kau temukan?" kejar Andaru.
Pria itu menggeleng lesu, "tidak ada apa-apa di sini, ayo pergi."
Tanpa banyak bicara lagu Andaru hanya mengikuti langkah kaki Bara yang mendahuluinya. Pria itu benar-benar menjaga Andaru dengan baik. Ia bahkan berjalan dengan pelan memegang tangan Andaru agar gadis itu tak terpeleset di atas batuan besar yang licin. Pram tahu jelas, sebab ia mengamati semuanya dari atas.
"Bagaimana kau bisa bertemu Pram setelah dia mati?" tanya Bara murni karena penasaran.
"Kau pasti pingsan di tempat seperti aku, 'kan? Wuah ... lagi pula siapa yang tidak terkejut melihat orang yang sudah mati hidup lagi dengan kondisi utuh? Reaksiku saat itu sangat manusiawi," celotehnya panjang. Tangannya tak pernah melepaskan Andaru yang kesulitan melompati bebatuan licin yang tersebar di sepanjang bawah tebing.
Gadis utu berhenti sejenak mengambil napas, lalu menatap Bara dari samping dengan senyum.
"Aku juga terkejut setengah mati, tapi aku tidak pingsan sepertimu," balasnya diiringi kekehan kecil.
Jawaban itu sontak saja membuat wajah Bara memerah. Pria itu enggan menatap Andaru ia lebih memilih mengelilingi pemandangan pantai yang luas dengan matanya.
"Tapi, tidakkah kau berpikir bahwa ini sangat ... agak ... eumm—."
"Mustahil?" potong Andaru.
Bara ikut menghentikan langkahnya. Ia menatap Andaru kemudian mengangguk sebagai jawaban atas pernyataan gadis tersebut.
"Ada banyak hal-hal yang tidak mungkin bagi kita, tapi sesuatu yang biasa untuk Tuhan. Salah satunya kasus kematian Pram. Hanya karena tidak terlihat, bukan berarti keajaiban itu tidak ada, 'kan?" ucapnya panjang, "kita hanya pion yang harus mengikuti jalan di depan sana."
Tak pernah Bara berpikir sejauh itu sepanjang hidupnya. Sebab ia hanya mempercayai apa yang ia lihat dan apa yang bisa ia rasakan. Pria itu sangat realistis. Namun, karena kasus ini, Bara mengerti satu hal yang di luar kendalinya. Terlebih setelah mendengar penjelasan dari Andaru.
Ada sedikit perasaan kagum akan pola pikir gadis tersebut.
~A k s a m a~
Sedangkan di atas sana tak ada banyak hal yang ia temukan selain jejak kaki yang terseret dengan jelas. Pria itu memejamkan mata membuat berusaha membuat reka adegan dalam kepalanya sendiri. Kalau dugaan Bara benar, bahwa ini bukan kasus bunuh diri, maka ia juga benar bahwa ini adalah pembunuhan. Dan entah mengapa, Pram sangat yakin bahwa pelakunya adalah orang yang sama dengan pembunuhnya.
"Baiklah, aku mulai menemukan titik terang," gumamnya saling meremas jari tangan dengan gemas.
"Lihat saja kau b******n! Akan kutangkap kau dengan tanganku sendiri!"
Pram kembali melongokkan kepalanya ke bawah, ia mengamati Andaru dan Bara yang sudah menjauh dari tempat kejadian. Setelah di rasa cukup yakin, ia bergegas turun menyusul kedua orang yang membantunya di bawah sana. Tentunya setelah ia mengantongi bukti berupa foto jejak seretan kaki di tanah tersebut.
~a k s a m a~
Selepas melakukan pengamatan di tempat kejadian perkara, mereka bertiga masih berada di tepi pantai. Seharian ini ketiganya saling bertukar pikiran tentang apa yang mereka lihat dan cerna, mengatakan segala kemungkinan yang bisa saja adalah kebenaran. Bara yang paling aktif mencatat setiap praduga mereka pada notesnya. Pria itu melahap gigitan terakhir sandwich yang dibeli oleh Andaru di sekitar area pantai. Tak ada waktu bersantai untuk makan, mereka bahkan masih berdiskusi di bibir pantai sambil menanti matahari tenggelam.
"Lihat ini." Tangan Pram menyodorkan ponsel berwarna hitam kepada Bara.
Menampakkan sebuah foto yang sempat ia ambil saat berada di atas tebing barusan. Bara memperhatikan detailnya dengan seksama, kemudian ia kembali mengangguk seperti memahami sesuatu. Ia serahkan ponsel Pram ke tangan Andaru, kini Bara beralih menuliskan sesuatu pada notesnya.
"Sudah tidak perlu diragukan lagi. Kasus ini jelas pembunuhan!" ucapnya sangat yakin.
Setelah mengucapkan kalimatnya itu, Bara tersenyum skeptis. Ia meraih minuman milik Andaru yang masih setengah lalu menyedotnya, gadis itu sudah hampir protes tapi gerakan Bara lebih cepat daripada dugaannya.
"Hey!" gumamnya kesal.
Dengan ekspresi jenaka seperti biasa, Bara menatap Andaru yang memasang wajah cemberut. Pria itu menaik-turunkan alisnya dengan wajah tanpa dosa. Sedangkan Andaru masih kesal dibuatnya, karena secara tidak langsung mereka sudah berciuman lewat dari sedotan yang sama. Pram yang mendengar suara hati Andaru langsung merebut sedotan dalam gelas plastik milik Andaru yang masih berada dalam genggam tangan Bara kemudian membuangnya. Hal itu membuat kedua rekannya membeo, baik Andaru maupun Bara melongo dibuatnya.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Bara heran dengan kelakuan Pram.
Pria itu berdecak sebal, "sudah minum saja tanpa sedotan!"
Tangannya menampar pipi Bara pelan, dibalas dengan decihan oleh Bara. Ada perasaan aneh yang menyusup di hati Pram saat melihat Andaru dekat dengan lelaki selain dirinya. Entah, rasanya benar-benar tidak nyaman. Akan tetapi, sebisa mungkin Pram tidak akan memperlihatkannya kepada Andaru bahwa ia tidak menyukai hal itu.
"Kau tau jawaban polisi yang menunggu tempat kejadian tadi seperti apa?" tanya Bara memecah lamunan Pram yang sejak tadi mengamati Andaru dalam diam. Pria itu menggeleng untuk menjawab Bara.
"Dia tidak menjawabnya. Persis seperti kejadian saat aku menanyai mereka tentang kematianmu," sambungnya tanpa menunggu jawaban.
"Sejak awal aku juga yakin kalau ini adalah kasus pembunuhan. Tapi, kenapa Detektif itu jadi targetnya? Kenapa bukan kau saja?" sambung Pram menganggukkam kepala.
Kedua tangannya sibuk memainkan pasir pantai, menggenggamnya kemudian dilepaskan kembali.
"Tentu saja terlalu beresiko menargetkan Bara. Dia juga bekerja di perusahaan yang sama denganmu, apa jadinya kalau kasus yang sama terjadi bahkan saat kematianmu belum genap seratus hari?" Andaru ikut memberikan tanggapannya.
"Jadi, membunuh Detektif itu adalah solusi paling aman menurut pelaku?" Bara menimpali.
"Sekaligus mengalihkan perhatian publik, " imbuh Pram.
Kemudian Pram memejamkan mata lagi. Ia mulai mengerti polanya akan seperti apa. Pria itu mengangguk paham mendengar penjelasan Andaru juga Bara.
"Tunggu dulu!" Bara menghentikan aktifitas menulis pada notesnya. Ia menatap Pram dan Andaru secara bergantian, "bukankah itu berarti ... pelakunya ada di sekitarku selama ini?" celetuk Bara kemudian.
Mendengar hal itu baik Andaru dan Pram mengangguki pernyataan itu dengan cepat. Secara spontan dan naluriah, ketiganya menoleh ke sembarang arah memperhatikan setiap orang yang berada di pantai. Mengamati siapa pun yang sekiranya memiliki gerak-gerik yang mencurigakan.
"Eung ... apa aku boleh mencurigai seseorang?" tanya Andaru secara tiba-tiba.
Gadis itu menggigit bibir bagian bawahnya bimbang. Ia takut jika Bara atau pun Pram justru tersinggung dengan ucapannya nanti.
"Tentu saja! Katakan siapa?" tanya Bara cepat.
Andaru menatap Bara dan Pram secara bergantian. Setelah cukup lama berpikir ia bertekad untuk memberi tahu keduanya, lagi pula ini kan hanya dugaan. Belum sepenuhnya benar. Ada baiknya ia berjaga-jaga untuk lebih waspada, 'kan?
"Sebenarnya aku melihatnya di tempat ini tadi," cicit gadis itu.
"Wayan Wijaya?"
BERSAMBUNG!