"Kenapa kau membunuhku?"
Tiga kata dari Pram itu menohok kerongkongan Bara. Belum sempat ia tersadar dari keterkejutannya melihat Pram yang kini berada tepat di depannya, pertanyaan dari pria itu semakin membuat kerutan di dahinya bertambah jelas. Bara masih terkesiap menatap Pram dalam jarak sedekat ini, tetapi dengan gerakan mendadak Pram mendorong Bara hingga kembali tergeletak di atas sofa. Pria itu menindih Bara sambil mencengkeram kerah kemeja Bara yang sudah kusut sejak semalam. Sepasang mata Pram menajam, dan Bara bisa merasakan kemarahan Pram yang memuncak.
"Ap-apa maksudmu? Siapa yang membunuh siapa?" balas Bara masih kebingungan.
Emosi Pram semakin memuncak kala pertanyaannya justru dibalas dengan pertanyaan balik oleh Bara. Namun, pria itu justru tertawa sinis sebelum kemudian menghujani Bara dengan tatapan tajam.
"Tidak usah banyak tanya!" sergah Pram.
"Jawab saja pertanyaanku! Kenapa kau membunuhku b*****t?! Ha? Karena kau menginginkan posisiku? Lalu kau menyingkirkan aku dengan cara yang keji seperti ini? Dasar pengecut!" teriak Pram mencecar Bara dengan rentet pertanyaan.
"Jawab!" susulnya masih dengan intonasi tinggi.
Andaru menarik pundak Pram perlahan, gadis itu menggelengkan kepalanya memberikan isyarat pada Pram agar lebih tenang. Tentu saja menjaga Bara agar selalu baik-baik saja adalah hal yang utama. Sebab dialah satu-satunya informan yang saat ini mereka miliki. Helaan napas kasar dari Pram terdengar jelas, tetapi pria itu menuruti permintaan Andaru. Ia lepaskan kerah kemeja Bara dari cengkeramannya dengan asal. Sehingga Bara kembali terhempas di atas sofa dengan hentakan keras. Pram tak mau semua yang ia perjuangkan selama ini menjadi sia-sia karena sifat emosionalnya yang tidak bisa terkontrol.
"Jangan bilang, kau berpikir bahwa aku yang sudah membunuhmu?" ujar Bara.
Pria itu susah payah berusaha kembali duduk dengan posisi terikat. Napasnya juga terengah, ia cukup terkejut menyaksikan emosi Pram seperti barusan. Sebab selama ia mengenal Pram, pria itu tak pernah menunjukkan kemarahan memuncak seperti sekarang. Hari ini, Bara melihat sisi lain dalam diri Pram. Teman lamanya yang masih belum sepenuhnya ia terima kehadirannya setelah kematian yang mendadak.
Semua ini terlalu tiba-tiba.
"Memang siapa lagi? Kau bahkan menggantikan posisiku yang baru satu minggu kosong. Kau bahkan lebih sering bertemu dengan Presdir Wijaya setelah kematianku, bukan?! Tidak usah berpura-pura bodoh." Meskipun kini Pram enggan menatap Bara, tetapi nada penuh penekanan itu masih jelas mengiringi setiap kata yang keluar dari bibirnya.
Kini giliran Bara yang tertawa, cukup keras. Pria yang penampilannya sudah kacau itu menunjukkan sikap hiperbolis dengan menghentakkan sepatu ke lantai keramik. Sedetik kemudian ia terdiam, kemudian menatap Andaru yang duduk di antara keduanya. Bara menunjuk tali yang melilit dirinya dengan lirikan mata, "Pertama-tama, lepaskan aku."
Gadis itu mengulum bibir ragu, ia menatap Bara dalam-dalam seperti hari kemarin. Namun, ia bisa pastikan bahwa pandangan mata itu terlalu naif bahkan untuk sekedar melenyapkan nyawa seseorang. Terlebih Pram adalah teman dekat Bara semasa ia masih hidup.
"Ayolah! Aku tidak akan pergi ke mana pun," keluhnya, "lagi pula si berengsek ini harus diberi pelajaran!"
Pandangan mata Bara tajam menusuk punggung Pram yang membelakanginya. Seolah-olah ia tengah menghunuskan pisau pada pria tak berperasaan yang sudah berulang kali menghempaskannya dengan kasar di atas sofa. Melihat Pram yang sama-sekali tak menunjukkan gelagat melarang, Andaru bergerak cepat melepaskan Bara dari ikatan. Pria itu, melepaskan lilitan tali yang menyakiti kedua lengan juga punggungnya, kemudian membanting tali tersebut ke lantai.
"Bisa tolong ambilkan aku segelas air?" ucap Bara tetap sopan kepada Andaru.
Gadis itu secara alami mengangguk dan bergegas menuju dapur untuk membawakan permintaan Bara dan kembali dengan cepat. Pria yang tubuhnya lebih pendek dari Pram itu berkacak pinggang, setelah menandaskan air yang diberikan oleh Andaru. Bara mengembalikan gelas tersebut pada gadis itu, bahkan tak melupakan ucapan terima kasih. Hal itu kembali membuat Andaru semakin yakin, bahwa mungkin saja praduganya selama ini keliru.
"Sekarang, kau harus minta maaf padaku."
Mendengar ucapan itu Pram spontan menoleh, masih dengan tatapan sinis menghunjum Bara yang kini berdiri tegak di sebelahnya. Bara mengangkat sebelah alisnya melihat reaksi Pram.
"Kau tuli? Minta maaf padaku, bodoh!" teriaknya.
Mau tak mau, pada akhirnya Pram terpancing juga. Ia berdiri dari posisi duduk kemudian mencengkeram kerah kemeja Bara. Sementara Bara juga melakukan hal yang serupa, Andaru hanya mematung di dapur menyaksikan keduanya dengan perasaan yang sulit digambarkan. Ia tak bisa melihat adegan kekerasan, tetapi mungkin memang harus seperti ini cara untuk mencari titik terang di antara kedua pria tersebut.
"Jangan menguji kesabaranku. Kau tidak lebih dari sampah yang menjijikan!" tajam ucapan itu Pram lontarkan kepada Bara. "Untuk apa aku minta maaf pada sampah sepertimu! Harusnya kau berterima kasih karena sampai saat ini, aku masih membiarkanmu untuk hidup."
Wajah imut itu mengeras, Bara semakin mengeratkan cengkeraman tangannya pada kemeja Pram. Ia yakin, ini bukan mimpi. Pria di depannya nyata, masih berdiri dengan utuh dan baik-baik saja.
"Lepaskan tangan kotormu itu dariku, sekarang!" ujar Pram dingin.
"Kau ...," ucap Bara tergagu.
Mata yang sudah dihiasi kabut itu menatap Pram lurus pada sepasang mata yang kini melemparkannya penuh dengan kebencian.
"Kau, sungguh berpikir aku yang membunuhmu?" tanya Bara penuh nada kekecewaan.
"Tidak usah bersandiwara di depanku, sampah! Kau hanya sam—."
Satu tinjuan keras jatuh tepat di wajah Pram, sudut bibir pria itu berdarah karena pukulan Bara. Sedangkan Bara masih mengatur napas sambil mengibas-ibaskan tangannya yang terasa nyeri. Ini adalah kali pertama ia meninju seseorang. Dan orang itu adalah Pramoedya. Bara mengatur napas yang naik turun, Andaru bisa melihat dengan jelas bahwa pria itu mengusap matanya dengan gerakan tak ketara.
"Kau menuduhku hanya karena sekarang aku menggantikan posisimu? Kau benar-benar sinting, kau gila, akalmu pasti sudah benar-benar mati, 'kan?!" teriak Bara.
"Kau tau' kan bodoh, kalau kasus pembunuhanmu mendadak ditutup tanpa penyelidikan yang jelas? Kau pasti tau 'kan, kalau sampai sekarang kabar tentang kematianmu terlalu banyak kejanggalan?" tanya Bara dengan suara yang bergetar.
Sesekali pria itu menunjuk Pram yang terdiam meringis memegangi pipinya yang terasa nyeri.
"Kau pikir, siapa yang sampai saat ini masih menemui Detektif keras kepala yang menangani kasusmu untuk buka mulut? Kau pikir siapa juga yang selalu datang ke makammu untuk menaburkan air dan bunga-bunga sialan itu, b*****t?!" teriak Bara, "AKU!"
Pram terdiam mendengarnya. Ia menatap Bara, kini pandangannya melemah. Tak lagi setajam tadi, pun kakinya serasa lemas. Ia merasa tengah dipermainkan oleh takdir yang begitu runyam. Hatinya mencelos ke ruang paling dalam, seperti dihantam dengan ribuan gada tanpa ampun.
"AKU, PRAM! AKU YANG MASIH BERUSAHA MEMBUKTIKAN BAHWA KEMATIANMU BUKAN KARENA KECELAKAAN! AKU b******n!" teriak Bara semakin menjadi.
Ia bahkan mendorong tubuh Pram sehingga pria itu terduduk di lengan sofa. Pandangan Pram sendiri sudah semakin kabur, seperti tak ada celah yang memberikannya untuk melihat ke mana ia harus melangkah. Tak ada yang benar-benar bisa ia percaya saat ini. Pram bingung dengan keadaan karena keterbatasan waktu yang ia miliki.
"Kau ... kau itu satu-satunya temanku. Hanya kau yang mau berbagi kopi denganku. Aku memang memiliki semuanya, tapi hanya kau temanku berengsek!" ucap Bara panjang.
Air mukanya sudah memerah. Penuh kesenduan yang tercipta di sana. Bara meninju pundak Pram dengan ringan, membuat tubuh pria itu terguncang.
"Bagaimana bisa kau berpikir aku pembunuhnya, sedangkan selama ini hatiku saja masih sakit menerima kenyataan bahwa kau sudah mati, sialan!"
Atmosfer di ruangan itu mendadak terasa melankolis. Bara sudah terisak, berkali juga pria itu mengusap wajah yang basah dengan telapak tangan. Sesekali ia menyurai rambut hitamnya ke belakang. Andaru yang sedari tadi menyaksikan hal itu juga tak kuasa untuk menahan air mata. Ia sudah menangis tanpa suara di dapur. Ujung sweaternya bahkan sudah basah karena air mata.
Dan, Pramoedya ....
Jangan ditanya, pria itu seratus persen sudah kacau. Perasaan bersalah dan kebingungan, juga takut semakin membuatnya tertekan. Ia kembali merasa bahwa dunia ini tidak adil untuknya. Kehidupannya sudah sulit bahkan sebelum ia menjadi arwah yang tak tentu arah seperti ini. Lantas, sekarang?
Pram bahkan tak tau harus berbuat apa. Pria itu gamang saat menatap gelang mutiara yang melingkar di tangannya. Satu lagi untuk hari ini akan berakhir. Namun, ia belum menemukan apa pun.
"Lalu, siapa pembunuhnya?" tanya Pram parau.
Kini sepasang matanya nyalang menatap Bara seolah meminta pertolongan. Bara berbalik menatap Pram juga dengan perasaan kacau. Ia belum sepenuhnya meyakini bahwa sosok di depannya adalah nyata. Bara masih berdiri di tempatnya menatap Pram dan Andaru bergantian.
"Aku juga tidak tau," balasnya.
Ia mengeluarkan sesuatu dari saku celana, lalu menyodorkan kartu identitas kerja milik Pram yang selama ini ia pegang. Mata Pram kembali membola menyelidiki Bara.
"Kau meninggalkannya di mobilku malam itu, bodoh!" potong Bara menjawab praduga yang menggantung di benak Pram.
Suaranya masih serak, bahkan wajahnya masih sembab setelah menangis barusan. Pram membatu menatap foto yang berada dalam kartu identitas miliknya. Pria itu mengusapnya penuh perasaan, sangat amat lembut, seolah-olah benda itu akan hancur jika disentuh terlalu kuat. Kartu itu punya banyak makna untuk Pram, adalah salah satu bukti bahwa ia pernah mencapai titik sukses dalam pencapaian pria itu.
"Maaf," cicit Pram yang sampai pada telinga Bara.
Pria itu tak menanggapi, ia lebih memilih untuk melirik Andaru yang masih mencoba menghentikan tangisnya.
"Aku tidak memiliki pilihan lain selain menuduhmu, waktuku tidak banyak, Bar."
Ruangan itu sunyi, ketiganya seperti di paksa bungkam. Masing-masing dari mereka tengah berkelana pada angannya. Memikirkan segala praduga yang selalu muncul untuk digantungkan dalam benak. Namun, suara keroncongan dari perut Bara memecah keheningan.
Kruuuk!
Pram mengangkat kepalanya menatap Bara yang terlihat kikuk. Pria itu menggaruk tengkuk sambil mengusap perutnya seperti bocah yang kelaparan.
"Eung ... itu," ucapnya menggantung di kerongkongan.
Sebelah alis Pram naik ke atas menatap Bara yang mendadak canggung. Kemudian tawa kecil lolos begitu saja dari bibirnya.
"Aku akan keluar mencari makan," kata Pram bangkit dari posisinya.
Akan tetapi, Andaru sudah mendahului pria itu. Ia bergegas mendekati pintu keluar agar Pram tak menahannya pergi.
"Biar aku saja. Lagi pula aku harus melihat kucingku di rumah," ucap Andaru.
Bara memutar tubuh hendak melakukan protes pada gadis itu, "kau tidak akan membuatku mati kelaparan, 'kan?"
Keluhan dari Bara mendapat anggukan kecil dari Andaru. Ia tersenyum manis pada kedua pria yang ada di saja sambil mengenakan sepatunya.
"Aku tidak akan lama," tuturnya.
~a k s a m a~
Andaru benar-benar kembali lebih cepat dari dugaan Bara. Gadis manis itu kembali dalam waktu lima belas menit dan membawa banyak bahan makanan yang layak untuk dikonsumsi. Sebelum kedua pria yang duduk saling berhadapan di ruang tamu itu menjerit kelaparan lagi, Andaru menyajikan biskuit yang sempat ia beli di mini market dan juga segelas s**u untuk mereka masing-masing.
"Sementara kalian makan ini saja, aku akan memasak sebentar," tutur gadis itu meletakkan nampan berisi biskuit dan s**u. Juga beberapa makanan ringan lainnya. Buru-buru Andaru bergegas ke dapur untuk menyiapkan makanan. Ia akan membuat sup ayam makaroni untuk memulihkan tenaga keduanya setelah perdebatan batin barusan.
Sepasang mata Bara berbinar menatap makanan di atas meja. Pria itu sudah mengganti kemeja kucalnya dengan pakaian milik Pram yang agak kebesaran. Maklum saja, sebab perbedaan tinggi badan mereka cukup mencolok. Bara tidak bisa dikatakan sebagai pria pendek, tetapi tinggi badan Pram memang agak tidak lazim. Bara bergegas mencomot satu biskuit cokelat di atas dan memasukkannya ke dalam mulut hingga penuh. Pram yang baru saja menyentuh biskuit itu kembali meletakkannya ke tempat semula, dan memilih untuk meneguk susunya.
'Benar juga, ini hanya Bara.'
Batin Pram masih merasa bersalah menatap pria di depannya. Inilah Bara, pria yang sangat kekanak-kanakan, tidak terlalu mempedulikan sekitar, tidak berani mengambil resiko, dan selalu bergantung padanya. Bahkan mungkin, Bara adalah salah satu dari beberapa spesies langka pria yang memiliki kepribadian lembut seperti itu.
"Kenapa kau melihatku seperti itu?" tanya Bara dengan mulut penuh makanan.
Netra cokelat tua itu menyipit menentang Pram, "jangan bilang kau masih tidak percaya padaku?"
Pram menggeleng menjawab ucapan Bara.
"Aku sedang memikirkan keadaan yang runyam ini. Bagaimana bisa ada situasi seperti ini?"
"Maksudmu seperti ini?" Tanpa melepaskan pandangannya dari Pram, ia meneguk s**u yang disuguhkan oleh Andaru. Menyisakannya setengah kosong.
"Bagaimana bisa orang yang sudah mati dihidupkan kembali untuk mencari penyebab kematiannya sendiri? Ini sedikit ... eung ...," bisik Pram menggantungkan kalimatnya.
Ia menoleh ke beberapa sudut ruangan, was-was jika ada—malaikat maut—yang mendengarnya kemudian bisa saja menambah hukumannya di Bumi yang fana.
"Apa?" kejar Bara tak sabaran.
"Tentu saja tidak wajar, bodoh!" sambung Pram gemas.
"Memang sejak kapan orang yang sudah mati bisa hidup lagi?"
Pria itu menggeleng prihatin menatap Bara. Bagaimana bisa seseorang dengan otak sekecil Bara menjabat sebagai menejer umum? Bisa-bisa tatanan kantor runyam karena kelalaian Bara.
"Lalu ... apa yang kau lakukan di depan rumahku selama ini?" seloroh Pram melemparkan pertanyaan pada Bara.
Pria itu masih menikmati biskuit dalam toples, bahkan membawanya dalam dekapan. Ia bersandar pada punggung sofa yang empuk dan menyilangkan kaki.
"Aku hanya penasaran, karena beberapa kali melihat lampu rumahmu menyala. Kupikir rumah ini sudah dihuni oleh penggantimu," tutur Bara menjawabnya tanpa berpikir lama.
Karena memang itulah yang sedang Bara lakukan. Hal itu hanya diangguki oleh Pram, ia tak mau membuang banyak waktu lagi. Hari ini setidaknya ia harus mendapatkan tersangka baru.
"Jadi, apa yang kau dapatkan selama ini?" Dengan antusias Pram kembali melontarkan tanya.
Seolah tak membiarkan Bara menikmati kunyahan biskuit untuk mengganjal perutnya yang kelaparan sejak semalam. Ah, tidak ... sejak jam makan siang.
"Kau pasti sudah tau 'kan, kalau kasusmu ditutup begitu saja dengan kasus tabrak lari? Dan sudah pasti, kau juga tau semua itu hanya untuk meredam rasa penasaran publik." Pram mengangguk cepat.
"Itulah kenapa aku membuat artikel seperti itu, kau pasti sudah berpikir aku ini sangat bodoh. Padahal, aku membuatnya untuk mengecoh pelaku aslinya," sambung Bara.
"Apa maksudmu?"
"Maksudku, dengan mengikuti alur yang mereka buat, sudah pasti pelaku pembunuhan itu akan merasa tenang, dia pasti merasa tidak perlu khawatir karena publik telah mempercayai kematianmu sebagai tabrak lari, dengan begitu dia pasti akan lengah dan membuat kesalahan lagi, " jelasnya panjang.
"Kenapa kau begitu yakin, ini kasus pembunuhan?"
Bara menghela napas, "dasar bodoh! Bagaimana mungkin aku tidak tau, kalau yang menemanimu di ruang visum saja aku?! Ada tujuh luka tuskan di perut dan dadamu, b******k!"
"Tujuh luka tusukan?" tanya Pram mengulangi.
Bara mengangguk cepat, masih dengan mengemil biskuit dalam dekapan.
"Dan, bagian belakang kepalamu pecah. Itu yang membuat pendarahan hebat sampai kau harus mati," ucap Bara lagi.
Pram hanya mengangguk-angguk mengerti. Ia masih mengingat mimpi di mana seseorang menghantam kepalanya, tetapi perihal luka tusuk itu, Pram sama sekali tidak ingat.
"Bagaimana dengan Presdir Wijaya?"
"Apanya yang bagaimana?" ketus Bara.
Ia cukup kesal karena Pram malah memikirkan orang lain saat dirinya sedang berjuang demi meluruskan kesalahan ini. Dan lagi, dengan teganya Pram menuduh Bara pelakunya.
"Apa yang dia lakukan setelah kematianku?"
Kedua bahu Bara terangkat ke atas. Ia meletakkan toples yang isinya tinggal lima keping biskuit, dan meneguk s**u hingga tandas.
"Tidak banyak, dia memang mengantarkanmu sampai ke kuburan, tapi setelah itu dia baik-baik saja. Jadi, kau jangan berpikir sudah menjadi orang yang penting bagi Presdir," cibirnya.
"Meskipun sebenarnya, malam itu aku melihat Presdir Wijaya sangat mencurigakan di rumahmu."
Sepasang alis Pram menyatu, keningnya mengkerut bingung.
"Kapan?"
"Malam setelah pesta perayaan pengangkatanmu, kau ingat saat kuantarkan pulang?" Pram mengangguk dengan cepat.
"Aku kembali lagi ke rumahmu, karena kartu identitasmu tertinggal. Awalnya lampu utama masih menyala, tapi mendadak lampu dipadamkan saat aku mengetuk pintu, dan kau tau apa yang kulihat?"
"Apa?"
"Presdir Wijaya di sini, dia yang mematikan lampu rumahmu."
Pram menghela napas pendek, lalu melemparkan bantal sofa tepat di wajah Bara. Ia pikir ini adalah sesuatu yang penting.
"Sinting kau! Itu memang kebiasaannya saat berada di sini. Dia sering menginap, dan aku selalu tidur lebih dulu. Jadi, dia lah yang bertugas mematikan lampu, bodoh!"
Kini giliran kening Bara yang mengkerut bingung. "Ah, benarkah?"
"Jadi, selama ini?" Bara menelengkan kepalanya heran.
"Aish! Kenapa aku serius sekali mendengar cerita idiotmu itu!" Dengan kesal Pram menghempaskan tubuhnya ke sofa panjang.
Ia benar-benar lelah, tetapi tidak ada waktu baginya untuk bersantai. Waktunya benar-benar tinggal sebentar lagi.
"Jadi, sejak kapan kau hidup lagi? Kenapa juga kau tidak buru-buru menemuiku? Setidaknya kita bisa membicarakan kejanggalan kematianmu secepatnya. Kau pikir, selama ini aku baik-baik saja ya, setelah kau mati? Sejak dulu kau memang tidak pernah peduli padaku, 'kan?" ucap Bara panjang lebar.
Pram menghela napas kasar, pria itu mulai lagi menyebalkan. Ia memejamkan mata dan memilih untuk diam.
"Lihat! Kau bahkan tidak mempedulikan ucapanku. Dasar kejam!"
"Ck! Diamlah, dia akan berpikir yang ti—"
"Aku mengerti, kalian memang mempunyai hubungan spesial, 'kan?" potong Andaru datang membawa masakannya di atas meja.
"Setidaknya kalian harus makan sebelum kembali memikirkan semuanya. Setelah ini, kita harus bekerja lebih keras untuk mendapatkan informasi."
Andaru tersenyum, menata sup, nasi berserah lauk pauk di atas meja. Bara sudah lebih dulu mencomot ayam goreng dan mengunyahnya.
"Tenang saja, hari ini kita pasti mendapatkannya. Aku sudah membuat janji dengan Detektif yang menangani kasusmu, dia bilang akan menceritakan semuanya padaku hari ini," ucap Bara, "setelah ini kau harus berterima kasih padaku, Pram."
Pram mendadak bangkit dari posisinya. Ia menatap Bara sebentar sebelum kemudian memandang Andaru cukup lama. Keduanya mengingat berita kematian Detektif yang disiarkan dalam berita tadi pagi. Pram segera membuka ponsel dan menunjukkan sebuah berita yang paling banyak dicari hari itu.
'Diduga bunuh diri, seorang Detektif di temukan tewas di sebuah jurang.'
Sepasang mata Bara membola, ayam goreng yang berada di tangannya terjatuh di atas meja. Ia menatap Pram nanar.
"Ini pasti bohong, 'kan?"
BERSAMBUNG!