Duabelas : Menyelami Masa Lalu

2165 Kata
Sebagian orang berpikir bahwa kehidupan adalah hal yang membosankan. Perjalanan panjang yang tak pernah menemui titik untuk menjeda luka. Memberikan waktu untuk hati agar dapat bernapas lega. Sebagian itu, adalah mereka yang memiliki jalan penuh kerikil tajam. Yang dibentuk dengan peliknya keadaan, dan tetap dipaksa untuk tetap tegar berjalan. Sekali saja langkahnya berhenti untuk mengatur napas tersengal, saat itu juga ia telah kalah oleh semua masalah. Pram menatap dirinya sendiri dalam sebuah foto yang terpajang di dinding. Dengan bingkai paling mencolok di antara yang lain, Pram mengenakan setelan jas hitam lengkap dengan dasinya. Senyum manis tanpa kepura-puraan, benar-benar tanpa beban ia berada di antara kedua makam orang tuanya. Meskipun tak ada yang bisa Pram sampaikan selain doa terbaik untuk mereka, tapi Pram yakin dengan apa yang telah ia capai saat itu cukup membanggakan kedua orang tuanya yang sudah pergi ke surga. Saat itu dalam hatinya muncul perasaan memuncak yang ingin dilepaskan. Seperti luka yang selama ini ia kekang sendiri, seperti hari-hari yang kelam. Pram masih ingat, waktunya untuk menikmati hasil jerih payah sangatlah singkat. Dan lagi, ia tak mencapai semua itu dengan mudah. Pram telah berdarah-darah setengah mati untuk mencapai titik tertinggi dalam hidupnya. Pria itu sedikit pun tak mengeluh pada Tuhan, sebelum ia mendadak menjadi arwah yang terombang-ambing dengan situasi rumit macam ini. Matanya beralih menatap pemandangan di luar jendela. Langit masih gelap, mendung tebal menggulung angkasa, tetapi langit belum juga menjatuhkan air matanya. Hanya suara gemuruh yang sesekali terdengar seperti simponi pengantar tidur. Pram menghela napas panjang, terasa berat dan menyesakkan dadanya seolah tiada habis. Apa lagi saat ia memutar tubuh, menatap seorang teman dekat yang dengan ironis telah menghabisi nyawanya. Ia pikir, Bara adalah satu di jutaan ribu manusia yang tulus padanya. Sebab pada secangkir kopi yang selalu Pram persembahkan untuk Bara adalah ketulusan yang sekian lama tak pernah ia rasakan. Dalam secangkir kopi itu pula, ada banyak ungkapan rasa terima kasih atas banyaknya perhatian yang Bara berikan kepadanya. Pria itu memejamkan mata seraya menyurai rambut hitamnya ke belakang dengan pikiran berkemelut. Sejujurnya berharapan dengan Bara membuatnya takut untuk menerima kenyataan. Ia takut mendengar jawaban dari Bara, sebab apa yang membuat ia harus mati di tangannya dengan kebohongan pahit semacam ini? Di sofa panjang yang tak jauh dari posisi Pram berdiri, Andaru masih setia mengamati pria itu dalam keheningan. Matanya terus menyoroti Pram tanpa berpaling ke arah lain. Ada sesak yang menyeruak masuk, dan memilih untuk tinggal di balik rusuknya melihat ekspresi Pram saat ini. Di ruangan yang telah rapi diselimuti kegelapan itu, Andaru menegakkan tubuhnya tanpa Pram sadari. Langkahnya pelan mendekati pria itu hingga berada di sebelahnya. Gadis itu menyoroti Pram dengan sayu dalam gelap. Padahal selama ini pria itu yang telah menariknya dari kurung kegelapan, tetapi Andaru justru membuat Pram terjebak dalam gulita. Sangat kejam bukan? Masih ia amati Pram dari samping, dengan mata terpejam pria itu menghela napas kasar. "Sudah kubilang, ini bukan salahmu." Seraya menoleh pada Andaru, ia turut memutar tubuhnya pada gadis itu. Andaru bungkam, menelisik setiap inci wajah tampan di depannya yang terpahat dengan sempurna. Akan tetapi, dalam gelap itu dengan jelas ia dapat melihat sepasang mata yang telah menyuguhkan swargaloka beserta isinya tengah diselimuti kabut tebal. Perlahan bibirnya tertarik ke atas menciptakan seulas senyum simpul. Gadis itu menelengkan kepalanya, di depan Pram. "Kau secangkir kopi?" tawar Andaru. Setelah cukup lama mengamati wajah sayu yang akhir-akhir ini kerap menemani harinya, Pram tertawa kecil. Ia mengusap puncak kepala Andaru kemudian mengangguk sebagai jawaban atas penawaran gadis itu. Sedangkan Andaru langsung bergegas ke dapur Pram tanpa banyak bicara. Ia menyalakan lampu kecil yang menggantung di atas pantry, meracik kopi dengan takaran yang pas untuk menemani malamnya bersama Pram. Sejujurnya Andaru ingin kembali pulang, tetapi Pram menahannya untuk menginap malam ini. Dengan alasan bahwa Pram tidak tau apa yang akan ia lakukan pada Bara jika Andaru tidak di sana. "Ini untukmu." Secangkir kopi dari tangan Andaru sudah berpindah di hadapan Pram. Keduanya duduk di depan jendela kaca setinggi atap. Menatap pekarangan rumah sederhana milik Pram yang disinari remang cahaya bulan, hanya sorotan kecil sebab mendung lebih mendominasi langit malam ini. Andaru meletakkan cangkir berwarna putih gading miliknya di lantai. Gadis itu duduk memeluk kedua lutut lalu meletakkan dagunya di sana. Ada banyak hal yang berdatangan saat ia terjaga setiap malam. Terlebih dulu, saat ia menyaksikan Pram sekarat tengah malam. Bayang-bayang luka itu selalu menghantui Andaru dalam setiap kesempatan, tanpa memberikan gadis itu jeda untuk mengatakan bahwa ia tak bersalah atas hal itu. Pram yang tadinya berdiri memegang cangkirnya, kini menyusul Andaru untuk duduk di lantai melipat kedua kaki panjangnya. "Kau sudah menderita selama ini, kenapa kau menyiksa diri dan membiarkan pikiran itu menang?" suara Pram memecah keheningan. Andaru tak tahu lagi harus menjawab apa. Bibirnya selalu mendadak kelu saat Pria itu mengucapkan apa yang selama ini ia keluhkan. Pram tersenyum tipis, lalu menatap Andaru yang masih bungkam. Namun kini, gadis itu balik membalas pandangan Pram. "Bagaimana denganmu?" tanyanya, "apa kau bisa melupakannya begitu saja?" Nyalang, gadis itu terus menatap mendung yang kini berpindah di wajah Pram. Pria itu melirik sekitar dengan helaan napas berat. "Tidak semudah itu." Andaru kembali pada posisinya semula. "Kau tau, jauh sebelum kau masuk ke duniaku. Semuanya gelap, tapi aku senang kau selalu datang membawakan kopi hangat untukku. Karena bagiku, saat itu kau sudah menyelamatkanku dari kegelapan yang selama ini selalu menang." Pram bergeming menatap lurus pada jendela kaca. Angan-angan di kepala itu kembali membawanya terbang ke masa silam, memaksa Pram menyelami kenangan yang berubah menjadi luka terdalam hanya dalam sekejap mata. "Orang tuaku menghilang sejak aku berusia sepuluh tahun. Sejak saat itu, aku selalu berpikir bahwa semua itu kesalahanku. Bahkan, kehadiranku di dunia ini adalah sebuah kesalahan. Aku hanya beban, seseorang yang tak pantas untuk tertawa atau sekedar tersenyum pada kerasnya dunia. Semuanya benar-benar gelap, seperti tidak ada celah untuk keluar dari ruangan pengap itu. Tapi ... kau tiba-tiba datang di depanku." Andaru tersenyum mengenang semuanya. Segala peristiwa yang sudah lewat itu memang hanya sesaat, tetapi tetap tersimpan rapi dalam benak seperti tumpukan berkas bernama kenangan. Pram yang sedari tadi menatap keluar jendela dengan hampa menoleh, ia melirik Andaru yang merubah posisi duduknya menjadi bersila. Andaru menyentuh cangkir kopi miliknya, membawa cangkir tersebut di hadapannya untuk menikmati aroma kopi. "Kau telah menyelamatkanku dari dunia yang pahit dan hitam pekat seperti kopi, kau merubah segala hal pahit itu menjadi sesuatu yang bisa dinikmati," ucapnya. Pram masih menyimak, menunggu gadis itu melanjutkan ucapannya. Sedangkan Andaru tampak menyeruput sedikit kopi tersebut hingga meluncur ke perutnya dengan hangat. "Tapi, mendadak ... justru aku sendiri yang mengirimmu dalam kegelapan." Mata sendu itu kembali sayu. Ada kabut tipis yang besarang di sana, tetapi masih di tahan oleh pemiliknya. "Kau adalah dunia baru yang sudah kuhancurkan sendiri," bisik Andaru menunduk. Gadis itu meletakkan cangkir kopi di hadapannya, tanpa mengalihkan pandangan. Lurus netra itu menatap cairan gelap yang beralih fungsi menjadi penawar luka. Namun, malam ini semua itu seperti tak ada artinya. Sesak benar-benar memilih tinggal di balik rusuknya tanpa persetujuan. Pram menjauhkan cangkir kopi miliknya, ia memutar posisi hingga sepenuhnya menghadap ke arah Andaru. Gadis yang selalu ia temui sendirian di setiap situasi. Menunggu bus datang sendiri, makan siang sendiri, membersihkan lobi sendiri. Benar juga, bahwa selama ini Andaru tak pernah memiliki teman untuk bicara. Dalam percakapan itu juga pendengaran suara batinya, Pram mengerti ranah percakapan itu menuju ke mana. Gadis itu memiliki perasaan yang berbeda untuknya, tetapi ia bukan lagi seseorang yang mampu menerima atau pun menolak ketulusan yang sudah diberikan oleh Andaru. "Baiklah, sekarang giliranmu." Mendadak ia menatap Pram dengan senyum kepalsuan. "Apa?" tanya Pram bingung. "Aku sudah menceritakan semuanya, sekarang giliranmu." Pria itu meraih kopi dan meneguknya. Kedua bahu Pram mengendik bingung. Ia bahkan tak tau harus memulai semuanya dari mana. "Sama saja, tidak sepenuhnya gelap, tapi tidak juga menyilaukan. Bukankah setiap orang pasti memiliki masalah?" kekeh pria itu. Andaru mengulum senyum kecewa, dan bagusnya Pram langsung menangkap hal itu. Ia berdehem sebelum kemudian menghirup oksigen sebanyak mungkin. "Bagiku hidup ini abu-abu," ujar Pram mengawali kisahnya. "Sama seperti kebanyakan kisah, aku tertawa sebentar, bahagia sebentar, juga ... menangis, sebentar." Mendadak tenggorokannya seperti tercekat. Pram hanya bisa tersenyum, matanya mulai panas mengingat semua kenangan semu yang menenggelamkan dirinya dalam luka. "Aku yatim piatu sejak berusia tujuh tahun, hidup di panti dan, yah ... aku terus belajar untuk bisa berada di titik paling singkat ini," katanya, "aku pikir semuanya akan membaik setelah aku berhasil sekali, tapi ternyata ... keberhasilan itu memang hanya sesat." Air wajahnya mendadak berubah muram. Saat sepasang mata itu fokus pada gelang mutiara yang sudah banyak menghitam. Andaru paham, ia masih ingat bahwa waktu yang dimiliki Pram tidak lagi lama. Gadis itu tanpa sadar menyentuh pundak Pram dengan hangat. Mengusapnya pelan dengan harapan agar Pram mengerti bahwa ia tak akan sendirian. "Baiklah, aku mengerti. Maafkan aku." Pram menggeleng. Ia masih tersenyum, tapi kabut itu telah berubah menjadi lelehan air mata pilu. "Dunia bukan tempatku, An." Tergagap pria itu menunduk menelan tangisnya bulat-bulat. "Waktuku tidak lama lagi, aku akan mati untuk yang kedua kalinya," ujar Pram kelu. Tanpa aba-aba Andaru bersimpuh, memeluk Pram dan mengusap pundak rapuh itu dengan lembut. Ia meletakkan dagunya di puncak kepala Pram, menenggelamkan wajah penuh luka itu pada pelukannya agar terbias di sana. "Lepaskan ... lepaskan saja semuanya. Kau tak akan sendirian." Andaru terus mengusap pundak Pram dengan hangat. Malam itu hujan turun dengan derasnya. Seolah mengerti perasaan kemelut yang tengah menyelimuti dua insan tersebut. Seolah ingin membasuh luka-luka keduanya dan menggantikan air mata itu dengan tawa. Seolah ingin menunjukkan bahwa dunia masih sama, akan tetap menjadi baik untuk orang-orang baik. Akan tetap menjadi adil untuk mereka yang selalu memberikan keadilan kepada sesama. ~A k s a m a~ "Seorang Detektif di temukan tewas di sebuah jurang dengan dugaan bunuh diri. Polisi setempat telah memasang garis polisi di TKP dan segera melakukan penyelidikan lebih lanjut." Pip! Layar televisi itu sudah padam, sedangkan pria paruh baya itu mengeram lantas membanting remot di tangannya hingga hancur di lantai. Di rumah kecil berukuran sepetak yang gelap itu ia menjatuhkan tubuhnya di atas kursi kayu berseberangan dengan seorang pria kurus yang baru saja menikmati tayangan berita barusan. Ia sangat puas setelah melenyapkan nyawa detektif tersebut semalam. "Sudah kubilang, jangan bermain-main denganku." Sepasang mata lawan bicaranya menajam, seolah menghunuskan pedang pada pandangan mata tersebut. Wajah itu turut mengeras menahan amarah. "Sudah kubilang tunggu! Kenapa kau tidak sabaran sekali?" ucapnya dingin. Pria kurus itu tertawa kencang. Aroma tembakau menguar dengan kuat dari bibirnya yang hitam. "Jangan memerintahku!" sentaknya, "sekarang kau yang harus mengikuti permainannya, jika tidak ... aku akan menyanyi di depan publik. Kau mengerti?" Keduanya diam, di bawah sinar lampu berwarna oranye yang meredup itu amarah sama-sama meletup satu sama lain. Matanya menajam, menggambarkan kekecewaan dan kemarahan mutlak yang sangat ingin dilepaskan saat itu juga. Akan tetapi, pria paruh baya itu hanya diam. Ia lebih baik memikirkan cara lain untuk membereskan semua kekacauan ini. Jauh dari tempat kecil itu berada, Pram mematikan televisi, lalu saling melempar tatapan dengan Andaru. Kenapa jadi seperti ini? Sejak tadi Andaru terus berkata bahwa kasus ini sangat janggal. "Aku seperti tidak asing dengan detektif itu," gumamnya. "Coba ingat-ingat, di mana kau pernah melihatnya." Pram menimpali. Sedetik kemudian ia menoleh menatap Bara yang masih terlelap di sofa dengan keadaan terikat. Pria itu berkacak pinggang menghampiri Bara yang tak kunjung terjaga. "Hey, cepat bangun! Kau ini mati atau pingsan, sih?" Di atas sofa pria itu mengeliat, membuat Pram mengangguk senang. Namun, Andaru segera meminta Pram untuk bersembunyi. Gadis itu mengambil semprotan bunga dan menyemprotkannya tepat di wajah Bara. Sesuai keinginan mereka, Bara mengeliat lagi lalu mulai membuka matanya. Pram yang duduk di balik sofa untuk bersembunyi itu kembali menunduk agar tak terlihat. "Eugh! Ada apa ini? Kenapa tubuhku sakit semua?" gumamnya masih setengah sadar. Bara bangkit dari posisi rebahan, pria itu duduk dan menatap sekeliling, lantas mendapati wajah Andaru yang tersenyum kepadanya. "Kau sudah sadar?" tanya Andaru dengan manis. "Kk-ka-kau?!" Andaru mengangguk, lalu berdiri mendekati Bara. "Ya, ini aku. Andaru, yang kemarin makan siang bersamamu." Bara tampak mengingat sebentar lalu matanya membola seketika. Ia jadi ngeri menatap gadis yang tengah melempar senyum manis padanya. Secara naluri Bara menatap dirinya sendiri, hanya sesaat pria itu bernapas lega mendapati pakaiannya masih utuh. Hanya saja kepalanya sedikit terasa pening. "Dasar bodoh! Apa yang sedang kau pikirkan?!" sebuah suara muncul dari belakang Bara. Bersamaan dengan kepalanya yang ditonyor hingga pria itu kembali terjungkal di sofa. Pram muncul dari belakangnya sambil berkacak pinggang. "Kk-kka—," "Iya ini aku bodoh! Kau ini seperti sedang melihat setan saja!" Matanya masih mengerjap heran, pria itu mengekori Pram yang melompati sofa dan duduk di sebelahnya. "I-ii-ini mustahil," ucapnya gagap. Sebab Bara menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Pram di makamkan. Bersama presdir Wijaya, Bara ada di sana. Mengantarkan Pram ke tempat peristirahatan terakhirnya. "Tidak ada yang mustahil, sekarang jawab saja pertanyaanku Lesmana Kumbara." Pria tinggi itu mengubah air wajahnya menjadi dingin. Ia menatap Bara dengan tajam penuh intimidasi. "Kenapa kau membunuhku?" ~A k s a m a~ BERSAMBUNG!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN