Delapan belas : Kantor

2271 Kata
"Kau sangat menggemaskan!" Dari balik pintu Pram mendengar suara tawa Bara yang sangat menyenangkan. Ia buru-buru masuk sambil mengusap-usap telapak tangannya yang dingin. Di ambang pintu dapur ia berhenti sebentar menyaksikan Bara yang tertawa senang mengamati ekspresi Andaru yang justru terlibat cemberut. Bahkan sekarang tangan Bara berani menyentuh puncak kepala Andaru secara tiba-tiba. Saat itu juga Pram segera menghampiri keduanya dan menggebrak meja dengan sangat keras. Tentu saja hal itu membuat tawa Bara berhenti mendadak. Bahkan Bara sampai tersedak oleh roti yang belum sepenuhnya ia kunyah. Pria itu terbatuk-batuk menepuk dadanya sendiri sambil menatap Pram seperti singa yang siap menerjang mangsanya. Secara spontan pun, Andaru menuangkan air putih ke dalam gelas dan menyodorkannya kepada Bara. Akan tetapi, belum sempat tangan Bara meraih gelas tersebut, Pram telah lebih dulu merebutnya dan meneguk air itu hingga habis. Ia letakkan gelas kosong tersebut di atas meja dengan gemas. "Hei! Kau ini gila atau apa?!" teriak Bara dengan mulut penuh makanan. Beberapa serpihan roti menyembur keluar mengenai wajah Pram, membuat pria itu semakin merasa kesal. "Aish! Berengsek, kau ini jorok sekali! Telan dulu makananmu bodoh," teriaknya kesal. Tangannya bergerak mengusap wajahnya, tanpa sengaja ia melirik jas Bara yang tersampir di meja lalu menggunakannya untuk mengusap wajah. Dan hal itu digunakan Andaru sebagai kesempatan untuk memberikan minum pada Bara yang masih terbatuk-batuk. Pria itu segera menegak air putih sampai makanan dalam mulutnya turun ke perut. Dengan segera Bara merebut jasnya yang berada di tangan Pram. "Bodoh! Kau sangat bodoh! Jas ini baru kupakai semalam dan aku harus berangkat kerja sekarang, dasar b******n gila!" "Kau yang gila! Kenapa juga kau masih di sini, cepat pergi sana." Pram masih keras kepala membantah ucapan Bara. Tak ada hal lain yang bisa Andaru lakukan selain tertawa kecil menyaksikan perdebatan keduanya yang selalu saja menggelikan. Akan tetapi, perbuatan Pram barusan juga membuatnya diserang tanda tanya besar. Kenapa juga lelaki itu mendadak datang dengan menggebrak meja yang tak bersalah? "Sudah, hentikan. Kenapa kalian selaku bertengkar saat bertemu?" Kedua pria itu secara bersamaan menatap Andaru, lalu berkata, "Karena dia menyebalkan!" sentak keduanya bersamaan. Dahi Andaru berkerut secara alami menyaksikan tingkah keduanya yang masih seperti anak kecil. Ia menghela napas pendek lalu membuang pandangan ke sembarang arah. Membiarkan keduanya kembali saling lempar pandangan tajam seolah-olah akan melakukan peperangan besar. "Jelaskan padaku apa maksudmu barusan? Kau ingin membuatku menyusulmu ke dunia arwah? Ha!" bentak Bara kesal. "Kalau iya kenapa? Kau sama-sekali tidak berguna, tau! Pergi saja dari sini secepatnya." Pram ikut berkacak pinggang meladeni ucapan Bara. "Dasar gila. Kalau bukan aku, siapa lagi yang tahan berteman dengan orang sinting sepertimu?" kekeh Bara berbalik memutar tubuh hendak pergi. Pria itu membersihkan jas lantas mengenakannya dan segera berbalik meninggalkan Pram yang masih kesal. "Hei! Aku belum selesai bicara," ucap Pram menahan pundak Bara kesal. Sedangkan Andaru tak tahan lagi. Gadis itu menggelengkan kepala kesal dan memilih untuk keluar rumah terlebih dahulu. Ia akan menyirami tanaman di halaman rumahnya. Mengabaikan kedua orang pria yang masih asik beradu argumen tak penting. Toh, nanti keduanya juga akan berhenti saat sudah sama-sama lelah. ~A k s a m a~ Tiga buah mie instan ia masukkan ke dalam keranjang belanja, tiga buah roti yang serupa, dan tentunya kopi hitam. Gadis itu kini sedang berada di bagian rak s**u, ia mengamati berbagai varian s**u dan juga harga yang tertera di sana. Setelah Bara berangkat ke kantor pagi tadi, dan juga perdebatan yang entah bagaimana berakhir itu. Pram mengajak Andaru untuk keluar belanja. Pria itu tentu merasa bertanggung jawab atas segalanya, sebab Andaru telah banyak membantu dengan pikiran juga tenaga. Gadis itu memiliki andil yang besar dalam masalahnya ini. Jadi, sebisa mungkin ia tak akan membuat Andaru merasa dirugikan, setidaknya dalam segi finansial. Pram berjalan di belakang Andaru sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana jeans yang dikenakan. Seperti biasa ia mengenakan topi hitam juga sebuah masker untuk menutupi wajahnya. Memang, tak banyak orang yang mengenali Pram. Akan tetapi, Andaru tak ingin ambil resiko jika secara tiba-tiba mereka bertemu salah satu karyawan White horse yang mengenal Pram. Pria itu kini berdiri di sebelah Andaru, melirik gadis yang tingginya sebatas pundaknya itu dengan senyum yang tersembunyi di balik masker. "Aku tidak akan membuang uangku untuk manusia bodoh itu." Pram mengambil sebuah roti dan mie instan untuk dikembalikan ke tempatnya. Namun, tangan Andaru lebih dulu menahan lengan Pram. Gadis itu menggeleng, "Aku yang akan membayarnya." Sepasang mata Pram mendelik kesal. Pria itu mendekap roti dan mie, lalu menurunkan maskernya hingga ke dagu. "Kau bilang apa?" tanyanya, "tidak boleh! Biar aku saja." Tepat setelah menyelesaikan ucapan itu Pram memasukkan kembali makanan yang ia dekap ke dalam keranjang belanja. Ia bahkan merebut keranjang belanja di tangan Andaru dan berjalan mendahului gadis itu sambil mengambil sebuah s**u cokelat dengan sembarangan tanpa memperhatikan merek juga harganya. Hal itu tak ayal membuat Andaru mematung heran dengan sikap Pram yang sedikit menggemaskan. Gadis itu menahan senyumnya agar tidak merekah, menatap punggung Pram yang tiba-tiba berbalik. "Ayo cepat! Apa yang kau lakukan di sana?" seru Pram menatap Andaru. Seperti kerbau yang dicucuk hidungnya, Andaru mengangguk dan berjalan mengikuti Pram dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam sweater tosca yang hari ini ia kenakan. Keduanya berjalan beriringan melewati rak frozen food. Andaru berhenti sejenak memilih beberapa sosis juga ayam beku. "Aku suka bagian sayap," bisik Pram dengan posisi setengah menunduk untuk menyamai tinggi Andaru. Tepat di telinga gadis itu. Merasa terkejut dengan tindakan Pram, Andaru menoleh ke belakang sehingga keduanya saling pandang dengan jarak yang sangat minim. Gadis itu mengulum bibir dengan jantung yang berdegup dua kali lebih cepat seperti biasanya. Secara naluri Andaru mundur selangkah lalu bergegas memutar tubuh ke depan dan mengambil bagian sayap ayam seperti yang pria itu katakan. Satu pack ayam ia masukkan ke dalam keranjang tanpa menoleh, membuat Pram terkekeh kecil melihatnya. Pria itu segera menowel pundak Andaru, tapi gadis itu enggan menoleh meskipun menjawabnya dengan pandangan lurus ke depan. "Apa?" Jujur saja ia masih kesal. Pram seperti sengaja melakukannya, membuat wajah memerah seperti tomat. Pram tidak pernah tau bahwa hanya karena hal seperti itu ia bisa terkena serangan jantung mendadak. "Lihat orangnya saat kau sedang bicara," balas Pram pendek. Mati-matian ia menahan tawanya agar tak menyembur keluar. Padahal dalam hati ia sudah merasa geli sendiri setelah mendengar isi pikiran Andaru. Sekali lagi Pram menowel pundak Andaru, dan hal itu sukses membuat garis tersebut memutar tubuh diiringi hentakan kaki, pertanda ia sedang kesal. "Apa lagi yang kau inginkan?!" tanya Andaru gemas. Pram mengulum bibir, membuat hidungnya kembang kempis karena menahan tawa. Benar saja kata Bara pagi tadi, ekspresi Andaru memang sangat menggemaskan. "Kau mengambil potongan yang salah, An." Pram menunjuk potongan ayam bagian paha yang Andaru masukkan ke dalam keranjang. Mendadak Andaru merasa kikuk. Gadis itu menatap daging ayam tersebut lalu menelan salivanya kasar. Bukannya mengembalikan potongan ayam yang salah ia justru mengambil bagian sayap dan memasukkannya ke dalam keranjang. "Aku suka bagian paha! Lagi pula kau 'kan yang akan membayarnya," sergah gadis itu tanpa mempedulikan Pram yang menertawakan kekonyolannya barusan. Dalam hati ia merutuki kebodohannya sendiri. Andaru kembali berjalan menatap beberapa sayuran dan memilahnya. Memasukkan ke dalam keranjang di tangan Pram, dan memilah mana yang harus ia beli. "Ke mana kau pergi tadi pagi?" Pertanyaan itu akhirnya berani ia lontarkan pada Pram. Setelah tadi pagi ia sempat panik karena Pram yang mendadak menghilang dari rumahnya tanpa pamit. Andaru tak bisa menahan pikirannya untuk tidak berprasangka buruk. "Jalan-jalan, mencari angin." "Tidak bisa, ya, kau berpamitan dulu? Atau setidaknya meninggalkan pesan?" Ada perasaan hangat yang masuk ke dalam relung hati Pram mendengar pertanyaan Andaru yang diselipi nada kecewa. Sepanjang hidup setelah kematian kedua orang tuanya, tak ada orang yang sepenuhnya mengkhawatirkan dirinya seperti ini. "Kau khawatir dengaku?" Pram menelengkan kepalanya untuk menatap wajah Andaru yang sibuk mengamati sayuran. Gadis itu hanya melirik Pram sambil memegang sebuah kubis berukuran besar. Sedetik kemudian ia meletakkan kubis itu tepat di d**a Pram sambil mendorongnya pelan. "Tentu saja!" jawabnya jujur. "Aku tidak bisa membiarkanmu terluka lagi. Jadi, mulai saat ini kau harus mengatakan padaku ke mana pun kau akan pergi. Aku harap kau mengerti." Tak ada banyak hal yang bisa Pram lakukan selain tersenyum dan tersenyum lagi. Andaru benar-benar seperti bintang yang memerangi jalannya yang gelap. Pria itu menatap punggung Andaru. Dan tangannya tergerak untuk mengusap puncak kepala gadis itu dengan sayang. "Baiklah. Aku akan bilang padamu, ke mana pun aku pergi," tutur Pram. Ia tak segera melepaskan tangannya dari kepala Andaru. Sambil berjalan dengan posisi itu, Pram mengusap rambut hitam Andaru sehingga ia semakin dapat merasakan bahwa kekhawatiran gadis itu sangat tulus padanya. Sepenuh hati, semua ucapan yang keluar dari bibir Andaru adalah kejujuran. "Sejujurnya, aku bertemu dengan Presdir Wijaya tadi pagi," kata Pram. Mendadak gadis itu menoleh menatap Pram yang tak kunjung melepaskan tangannya dari kepalanya. Membuat Andaru menyentuh tangan Pram dan menepisnya dari sana. "Apa yang kau lakukan dengannya? Kau tidak—." "Tentu saja tidak. Aku hanya menatapnya dari kejauhan. Kau tau 'kan, dia orang yang memiliki peranan penting dalam hidupku?" jelas Pram. "Kalau begitu biarkan aku yang menggantikan posisinya!" sambar Andaru cepat. Gadis itu menatap Pram lurus pada sepasang matanya. Jelas pria itu sedang mengerutkan dahi heran sekaligus tak mengerti dengan ucapan Andaru barusan. "Biarkan aku menjadi orang yang berperan penting dalam hidupmu, Pramoedya." Andaru menghentikan aktivitasnya memilih sayur. Ia terdiam sejenak memikirkan apa yang baru saja ia ucapkan. Gadis itu mengerjapkan mata beberapa kali, menatap Pram yang balik melihatnya tanpa berkedip tanpa bergerak. Lalu dengan gerakan cepat, Andaru menarik keranjang belanja di tangan Pram dan segera bergegas menuju kasir. 'Dasar bodoh! Barusan itu kau bilang apa?' Gadis itu terus merutuki dirinya sendiri dalam hati. Bagaimana bisa ia mengatakan hal tabu tersebut secara gamblang di depan lelaku yang selama ini ia kagumi? Aih, spontanitas Andaru memang selalu mengejutkan jantungnya sendiri. ~A k s a m a~ Tak ada yang istimewa di kantor hari ini. Seperti biasa Bara sibuk dengan setumpuk berkas yang harus ia baca untuk diserahkan kepada Presdir Wijaya. Meski waktu masih menunjukkan pukul sembilan pagi, tetapi sudah tak terhitung lagi berapa kali Bara menguap sambil menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi yang nyaman. "Ah! Kenapa waktu berjalan sangat lambat hari ini? Aku lapar!" keluh Bara menatap jam yang berada dalam ruangannya kesal. Ia kembali menegakkan tubuh dan menumpuk beberapa buah berkas yang sudah tersusun dalam map untuk di antarkan ke ruangan Presdir Wijaya. Berkas-berkas itu adalah laporan daftar berita yang telah melalui proses seleksi dan editing, yang kelak akan di terbitan menjadi surat kabar cetak. Pria itu berjalan santai melewati koridor yang tidak begitu sepi. Beberapa office boy sibuk membersihkan jendela kaca, beberapa karyawan juga berkeliaran membawa minuman dan berkas di masing-masing tangan mereka. Yah, seperti ini lah white horse pada jam kerja. Selalu sibuk! Tok ... tok ... tok .... Bara mengetuk pintu sebanyak tiga kali dengan jarinya. Pria itu masih berdiri di depan pintu lalu bersuara, "Presdir Wijaya, saya Bara ingin mengantarkan berkas yang harus anda tandatangani." Namun, tak ada sahutan apa pun yang terdengar. Bara memutar knop pintu dan mendorongnya perlahan. Pria itu berinisiatif untuk meletakkan berkas di meja kerja bosnya lalu kembali ke ruamgannya untuk melanjutkan beberapa file yang masih tersisa. Pria itu menatap sekeliling ruangan yang kosong, Wayan Wijaya tak ada di sana. Dengan cepat Bara meletakkan tumpukan map ditangannya ke atas meja dan bergegas pergi. Namun, sesuatu yang sangat menarik membuat Bara berhenti sejenak. Ia menatap laci kerja yang sedikit terbuka, mengamati sesuatu yang hanya terlihat separuh. Dengan waspada Bara mengamati pintu yang masih tertutup rapat. Hati-hati ia menarik laci kerja Presdir Wijaya dan mengambil berkas yang menurutnya sangat menarik. Setelah di rasa cukup, Bara tak segera pergi. Rasa ingin taunya semakin meningkat saat melihat berkas tersebut. Ia mulai menggeledah apa pun yang ada di sana dengan sangat teliti dan hati-hati. Akan tetapi, suara derit pintu yang halus membuat jantung Bara hampir saja berhenti. Apa lagi saat Presdir Wijaya berdiri di ambang pintu menatapnya dengan heran. Sebelumnya pria itu sudah sempat menjatuhkan beberapa map ke lantai dengan sengaja. Membuatnya harus membungkuk dan berpura-pura merpikan kekacauan yang ia ciptakan sendiri. "Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Pria itu tenang. Bara menunduk menunjukkan rasa hormatnya kepada atasan, "Maaf Presdir, saya hanya ingin mengantarkan berkas yang harus anda tandatangani. Tapi, saya terlalu ceroboh jadi seperti ini." Pria itu melangkah mendekati Bara menuju meja kerjanya. Wayan Wijaya menyempatkan untuk menepuk pundak Bara saat melewati pria itu. Ia tersenyum setelah duduk di meja kerjanya dan membuka map yang baru saja diletakkan oleh Bara. "Kenapa kau sangat terkejut seperti itu? Letakkan saja berkas di sini jika aku sedang tidak ada, nanti akan kutandatangani setelah aku kembali," ujar Presdir Wijaya tanpa melenyapkan senyum dari bibirnya. Bara mengangguk senatural mungkin, pria itu menundukkan tubuhnya sedikit untuk memberi salam dan pamit dari sana. "Baik Presdir, saya permisi kembali ke ruangan saya." "Ah, oke. Kembalilah, selesaikan pekerjaanmu," tuturnya ramah. Tanpa banyak bicara lagi Bara mengundurkan diri dan segera keluar dari ruangan bosnya dengan perasaan berdebar. Pria itu mengelus d**a lega begitu usai menutup pintu ruangan sambil menghela napas pendek. "Wah, hampir saja!" gumamnya. ~A k s a m a~ Tepat di depan rumah yang jauh dari pemukiman warga itu seseorang berdiri di tepi jalan. Mengamati rumah kecil yang terlihat asri tersebut dengan tatapan tajam. Seorang pria buru-buru menaikkan tudung jaketnya hingga menutupi sebagian wajah. Gadis berparas ayu keluar dari saja menggendong seekor kucing hitam dan menurunkannya di salah satu kursi. Pria itu sempat menengok ke kanan dan kiri, khawatir jika ada orang lain yang melihatnya. Namun, jalanan ini benar-benar sangat sepi. Ia beralih menatap ke tiang-tiang lampu yang ada di sisi jalan, memastikan bahwa tak ada kemera CCTV atau apa pun itu. BERSAMBUNG!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN