Tepat di depan rumah yang jauh dari pemukiman warga itu seseorang berdiri di tepi jalan. Mengamati rumah kecil yang terlihat asri tersebut dengan tatapan tajam. Seorang pria buru-buru menaikkan tudung jaketnya hingga menutupi sebagian wajah. Gadis berparas ayu keluar dari saja menggendong seekor kucing hitam dan menurunkannya di salah satu kursi. Pria itu sempat menengok ke kanan dan kiri, khawatir jika ada orang lain yang melihatnya. Namun, jalanan ini benar-benar sangat sepi. Ia beralih menatap ke tiang-tiang lampu yang ada di sisi jalan, memastikan bahwa tak ada kemera CCTV atau apa pun itu. Yang sewaktu-waktu dapat merekam gerak-geriknya di area itu.
Sebuah seringaian muncul di sana, tepatnya di wajah keras dengan sepasang mata tajam membentuk kurva yang menakutkan. Sedetik kemudian pria itu membanting rokok yang masih setengah ke aspal. Ia bergegas pergi dari sana sebelum ada orang yang melihat keberadaannya.
~A k s a m a~
Dalam sepanjang perjalanan kembali ke rumah Andaru itu, tak ada sepatah dua patah kata yang terucap dari Pram atau pun Andaru. Gadis itu berjalan di depan Pram mendahuluinya, meski bibirnya diam. Akan tetapi, Pram mendengar banyak sekali hal-hal yang Andaru ucapkan dalam hati. Seperti bahwa gadis itu sedang merutuki dirinya sendiri, merasa canggung di dekat Pram, bahkan bingung untuk memulai percakapan agar suasana di antara keduanya mencair.
Diam-diam Pram mengulum senyum. Memerhatikan langkah kaki Andaru yang selalu dibalut sepatu sneaker berwarna putih. Sepatu itu sudah mulai usang, sebab Pram masih hapal bahwa sejak dulu sepatu itu juga yang menemani Andaru menapaki lantai dingin white horse. Pram menghela napas menatap punggung Andaru dari jarak setengah meter. Jalanan tidak begitu ramai, tetapi tidak begitu sepi. Keduanya menyusuri trotoar di temani bising suara mesin dan panas matahari yang menyengat lebih hebat kali ini.
Andaru menoleh ke belakang, sesekali melirik Pram yang juga bungkam. Gadis itu hanya menghela napasnya bosan. Kenapa juga ia harus mengucapkan hal bodoh seperti barusan di super market tadi? Aih, dia benci suasana seperti ini. Tanpa sadar langkah kakinya semakin rapat dan cepat, meninggalkan Pram yang jauh tertinggal. Namun, senyum justru tercetak indah pada wajah rupawannya.
"Hei, jangan terlalu cepat!" teriak Pram, "kau berniat meninggalkanku, ya?"
Tak ayal hal tersebut membuat Andaru menoleh. Ia tatap Pram yang juga melebarkan langkah kakinya untuk menyusul. Tiba-tiba saja langkah kaki seringan kapas itu menjadi sebuah gerakan lari yang begitu cepat. Kaki tinggi Pram menangsa jarak tanpa ampun melihat sebuah motor melaju dengan kecepatan tinggi ke arah Andaru. Dengan sigap, Pram menarik tubuh gadis itu ke tepian. Sehingga keduanya terantuk pada tembok halte. Namun, lengan kekar Pram sangat waspada melindungi tubuh mungil dalam dekapannya sehingga Andaru tak sepenuhnya membentur dinding dengan keras. Pria itu buru-buru menoleh menatap pengendara motor yang melesat dengan cepat tanpa berniat menghentikan kendaraannya dan meminta maaf. Napasnya tersengal, menahan kemarahan juga kaget yang bersamaan.
"Woy, dasar b******n gila! Kau pikir jalanan ini milik moyangmu?!" teriak Pram emosi.
Entah sadar atau tidak bahkan Pria itu masih mempertahankan Andaru dalam dekapannya. Gadis itu pucat pasi, mata bulat yang menawan dengan hidung ramping dan kedua pipinya yang tirus, dan jangan lupakan bibir tipis merah jambu yang mengilap karena polesan lip glouse itu terlihat sangat menarik perhatian Pram. Membuat hasrat ingin melindungi gadis itu timbul dalam diri Pram. Pria itu tersadar dan segera melepaskan pelukannya. Ia mendudukkan Andaru pada salah satu kursi halte. Namun, benar-benar tak ada satu pun yang peduli akan situasi ini. Pram melipat kakinya sehingga tingginya sepadan dengan gadis yang masih memegang dadanya tersebut.
"Kau baik-baik saja?" tanya Pram khawatir.
Andaru masih sesenggukan menetralkan detak jantungnya yang sedang marathon. Gadis itu menatap Pram dengan sorot menjelaskan bahwa ia baik-baik saja. Tangannya menggenggam lengan jaket jeans berwarna soft denim yang Pram kenakan, tepat saat pria itu sudah setengah berdiri dan bersiap untuk pergi ke mini market terdekat. Apa lagi jika bukan untuk membelikan air putih untuk Andaru?
"Apa? Mana yang sakit? Kita ke rumah sakit saja, ya?" tawar Pram benar-benar panik.
Namun, Andaru hanya menggelengkan kepalanya. Dadanya seperti ditusuk-tusuk dengan jarum, jantungnya berdebar kencang sedangkan kepalanya mendadak berat. Seluruh persendian Andaru mendadak lemas. Gadis itu selalu mengalami gangguan pernapasan saat berada dalam situasi sulit. Salah satunya saat sedang terkejut seperti saat ini.
"Tunggu sebentar, aku akan membeli air untukmu," ucap Pram hendak melepaskan genggaman tangan Andaru pada lengan jaketnya.
Dengan sisa tenaga yang ia miliki, ditarik lengan Pram sehingga pria itu kembali berlutut menyamai tingginya.
"Ss-sse-seben-tar, ss-saja!" gumam gadis itu nyaris tak terdengar.
Tak banyak yang bisa Pram lakukan selain kembali pada posisi semula dan memeluk Andaru sembari menepuk-nepuk pundaknya lembut. Sebisa mungkin ia saluran kehangatan juga ketenangan lewat pelukannya itu untuk gadis itu.
Pram sendiri masih tak habis pikir dengan pengendara motor yang ugal-ugalan barusan. Bahkan motor itu tak memiliki plat nomor. Namun, jika dipikir-pikir lebih lanjut gerakan pengendara motor tadi seperti di sengaja mengarah ke pada Andaru. Sebab jalur antara trotoar dan laju jalur utama itu cukup jauh. Sekitar satu meter. Dan lagi, keadaan jalanan saat itu sedang sangat lenggang. Tak ada alasan, mengapa motor tersebut harus berbelok arah sangat jauh dari jalur yang seharusnya. Sangat-sangat amoral.
Pram menggelengkan kepalanya untuk mengenyahkan pikiran buruk dalam sana. Bisa saja ia hanya salah sangka karena terlalu sibuk memikirkan kasus kematiannya. Sampai-sampai Pram merasa paranoid dalam segala hal. Tangannya masih tergerak untuk mengusap punggung Andaru. Kini sebelah tangannya ikut mengusap puncak kepala gadis itu dengan lembut.
"Kau baik-baik saja? Sungguh tidak perlu ke rumah sakit?" tanyanya mengulangi.
Andaru menggeleng lemah. Ini lebih baik dari sebelumnya, debaran menyakitkan itu telah mereda, "Ayo pulang."
Hanya permintaan itu yang Pram dapatkan dari Andaru. Pria itu mengangguk setelah mengamati wajah pucat itu sebentar.
"Ingin kugendong?" tawar pria itu tulus.
"Tidak, aku masih kuat berjalan," balasnya dengan suara bergetar.
Tas belanjaan yang tadi berada di tangan Andaru, kini beralih di tangan Pram. Dengan posisi tangan kiri pria itu menenteng tas, sedangkan tangan kanannya merangkul Andaru dengan hati-hati. Keduanya kembali berjalan dengan lebih hati-hati. Pram bahkan melepaskan topi hitam miliknya dan memasangkannya di kepala Andaru.
Ia menepisnya pelan, sambil berkata, "jangan membahayakan keselamatanmu."
Silabel dari bibir Andaru mengundang senyum yang membentuk kurva menawan pada raut wajah tegas dan sepasang mata tajam yang kadang terlihat sangat sayu itu.
"Tidak masalah, kita sudah hampir sampai di rumahmu."
Jika kondiisnya tidak sedang seperti ini, Andaru pasti sudah melepaskan topi itu dan kembali memasangkannya di kepala Pram. Akan tetapi, untuk berdiri saja sebenarnya terasa sangat berat baginya. Jadi mau tak mau gadis itu menuruti keinginan Pram. Ia memilih diam di sepanjang perjalanan menyusuri trotoar agar segera sampai ke rumahnya.
~A k s a m a~
Pram meletakkan barang belanjaannya di depan pintu. Ia menuntun Andaru agar gadis itu duduk terlebih dahulu di kursi anyaman yang berada di teras.
"Aku baik-baik saja," ucap gadis itu menatap Pram yang masih saja khawatir.
Air mukanya terlihat kacau sejak dalam perjalanan menuju ke rumah barusan. Pram hanya mengangguk sekilas, ia bergegas mendekati pintu dan membukanya. Sedangkan Andaru, tanpa banyak bicara lagi, gadis itu membuntuti Pram. Tak ada yang ingin ia lakukan saat ini selain segera masuk ke kamarnya dan menggulung diri di atas kasur. Dan benar saja, saat pintu terbuka Andaru bahkan mendahului Pram masuk ke rumah. Membiarkan Pram mengurusi barang belanjaan itu sendiri.
"Aku akan ke kamar dulu," ucap gadis itu menoleh sekilas.
"Hmm, baiklah."
Akan tetapi, baru saja ia hendak memasuki kamar. Gadis itu menghela napas panjang, ia berbalik dengan perasaan tak nyaman dan menyusul Pram ke dapur untuk setidaknya membantu pria itu merapikan belanjaan terlebih dahulu. Setelah itu, baru ia akan pergi ke kamar untuk beristirahat.
Begitu langkah kakinya memasuki area dapur, Pram menoleh padanya. Pria itu tengah membongkar isi tas belanjaan dan bersiap memasukkan semuanya ke dalam kulkas.
"Kenapa kau di sini? Bukannya tadi kau bilang akan ke kamar?"
"Aku akan membantumu sebentar." Tanpa persetujuan Andaru mulai membawa beberapa sayuran dalam dekapannya untuk dimasukkan ke dalam kulkas.
Namun, Pram buru-buru menahan pundaknya membuat langkah gadis itu terhenti. Pria itu merebut bawaan dalam dekapan Andaru lalu segera meletakkannya di atas meja secara asal.
"Tidak." Pria itu kukuh melarang Andaru untuk membantu. Selepas itu Pram memutar pundak Andaru dan mendorongnya agar segera pergi dari sana.
"Pergilah ke kamarmu. Biar aku yang membereskannya," ucap Pram yakin.
Andaru menurutinya kali ini, ia tersenyum tipis dan melangkah pergi. Akan tetapi, selangkah kemudian ia kembali berbalik dan menuju ke dapur. Hal itu tentu saja membuat Pram merasa gemas. Ia menatap Andaru dengan kernyitan di dahi. Serta ekspresi penuh tanda tanya.
"Aku hanya ingin segelas air," pinta gadis itu.
Dengan cekatan Pram membalik sebuah cangkir berwarna putih gading. Ia menuangkan air hangat dari dalam tumbler berwarna biru kepunyaan Andaru. Ia segera menyerahkan gelas itu pada si pemilik dan mengusirnya dari sana.
"Terima kasih."
Keduanya sama-sama melempar senyum sebelum sempat Andaru benar-benar pergi meninggalkan dapur dan Pram yang masih setia mengamatinya. Saat ia bergegas ke kamar dan melewati ruang tamu, mendadak pintu dibuka tanpa permisi. Menampakkan Bara yang datang dengan napas terengah-engah. Bukan main, tentu saja hal itu membuat Andaru hampir melepaskan gelas dalam genggaman tangan. Gadis itu kembali mengelus d**a karena terkejut.
"Tidak bisa ya, ketuk pintu dulu?" protes Andaru.
Pria itu tampak menyatukan kedua tangannya di depan d**a, dengan napas yang naik turun sembari melemparkan diri ke sofa. Sepertinya Bara baru saja berlari ke sini. Lihat saja keringat yang membasahi pelipis pira tersebut.
Tanpa banyak bicara lagi, Andaru pergi meninggalkan ruang tamu. Ia hanya ingin segera merebahkan diri di atas kasur yang nyaman bersama kucing hitam kesayangannya.
"Pram! Aku membawakan hal menarik untukmu," teriak Bara yang masih terdengar di telinga Andaru.
Selang sedetik gadis itu membuka pintu kamarnya. Hal yang pertama kali ia lihat di lantai, tepat di depan pintu membuat detak jantungnya berhenti sesaat. Tubuhnya kembali melemas, persendiannya lunglai tak mampu menahan beban tubuhnya sendiri. Dalam sedetik tubuh Andaru meluruh ke lantai setelah menjatuhkan mug di tangannya hingga jatuh berpencar di lantai menyisakan serpihan kecil yang amat tajam. Matanya nyalang, dadanya kembali sakit melihat apa yang terjadi di sana.
Sedangkan kedua orang pria yang juga berada dalam satu atap itu terkejut mendengar suara pecahan kaca barusan. Pram bergegas meninggalkan dapur dengan langkah lebarnya diusul Bara yang mengikuti di belakang.
"Hei, ada apa? Apa yang terjadi?" tanya Pram melipat kedua lututnya di sebelah Andaru.
Gadis itu diam tak bereaksi. Ia bahkan lupa caranya bernapas. Membuat Pram tergerak untuk mengguncang kedua bahu Andaru untuk menyadarkan gadis itu.
"Bernapaslah, An!" bentak Pram dan berhasil mengejutkan gadis itu.
Alhasil, dengan seperti itulah Andaru tersadar dengan napas yang putus-putus. Pram segera memeluk Andaru yang mendadak terisak sambil menyentuh dadanya sendiri. Ia menepuk pundak Andaru pelan sambil terus memerhatikan raut wajah yang semakin memucat itu.
"Apa? Mana yang sakit, katakan," cecar Pram.
Matanya sudah basah menatap lurus ke depan, Bara yang sejak tadi lebih fokus pada situasi sekitar ketimbang Andaru menepuk pelan pundak Pram. Begitu Pram menoleh, Bara menunjuk kamar Andaru dengan dagunya. Ketiga pasang mata itu masih sama-sama memaku bangkai kucing hitam milik Andaru yang tergeletak bersimbah darah.
Tanpa sadar rahang Pram mengeram. Dadanya berdegup kencang menahan kemarahan. Secara alami pria itu menarik kepala Andaru ke dalam dekapannya. Menyembunyikan wajah ayu itu dalam ceruk d**a bidangnya agar tak lagi melihat pemandangan yang mengerikan tersebut.
"b******k!" umpat Pram tertahan.
BERSAMBUNG!