Delapan : Secangkir Kecurigaan

2123 Kata
Pram terus gelisah setelah terbangun dari tidurnya. Padahal langit masih gelap, waktu masih menunjukkan pukul tiga dini hari. Pikirannya benar-benar terus berputar mencari tahu bagaimana mungkin Bara bisa membunuhnya. Padahal pria itu terlihat sangat polos di depan Pram, ia jadi merasa kesal karena merasa terkecoh selama ini. Bagaimanapun juga Pram akan membuktikan semua kebusukan patnernya tersebut untuk membuat Bara menebus perbuatannya. Meski terluka karena merasa dikhianati oleh rekan kerjanya sendiri, tetapi kenangan yang dulu pernah mereka lalui cukup membuat Pram tak bisa lagi terlelap dengan tenang. *** Pria yang mengenakan kemeja putih itu mengalihkan pandangannya dari layar laptop ke arloji berwarna hitam di pergelangan tangan. Jam makan siang sudah lewat sejak lima menit yang lalu, tapi seperti biasa Pram tak akan beranjak sebelum pekerjaannya selesai. Jemarinya sibuk menyetubuhi papan ketik dengan lincah, telinganya terus mengabaikan ponsel yang sudah berdering entah keberapa kali. Pram tak perlu melihat siapa yang meneleponnya seperti deep Colector yang akan menagih hutang. Sudah bisa dipastikan hanya Bara yang berani mengganggunya pada jam makan siang seperti ini. Ia tetap fokus pada tulisan yang akan ia unggah minggu ini. Namun, konsentrasinya benar-benar buyar saat seorang pria bertubuh mungil memasuki ruang kerjanya tanpa sopan santun. Pintu terbuka lebar secara tidak manusiawi, disusul teriakan Bara yang memanggil namanya. "Pramoedya Bagaskara!" Bara mendekat sambil menatap Pram kesal. "Mau sampai kapan kau mengabaikan panggilan dariku? Apa kau tidak bosan melakukannya padaku?" protes pria tersebut menjatuhkan diri di kursi yang berseberangan dengan Pram. Bara menyentuh beberapa berkas dan segala yang ada di atas meja kerja Pram. Ia tertawa hiperbolis menatap Pram yang masih sibuk dengan laptop. Manusia di depannya sangatlah tidak berperasaan. "Lihatlah, kau bahkan masih mengabaikanku saat aku berada di depanmu." "Diamlah, orang lain akan berpikir yang tidak-tidak jika mendengar omong kosongmu itu," sahut Pram tanpa mengalihkan pandangannya. "Baguslah kalau begitu. Semua orang memang harus tahu kalau kita mempunyai hubungan istimewa. Bukankah itu bagus?" Pram mendelik pada Bara, perutnya serasa digelitik sampai ingin muntah. Sedangkan lawan bicaranya hanya tertawa kecil, dengan gerakan tak terbaca Bara menutup laptop Pram dengan sengaja. Alhasil perbuatan Bara berhasil membuat Pram semakin ingin mengajar pria berlesung pipit yang sedang tertawa puas. "b******k!" umpat Pram beranjak dari kursinya. Tinjunya sudah melayang hampir mendarat di wajah Bara, tetapi pria itu mendorong kursi yang memiliki roda di setiap kakinya sehingga ia berhasil menghindari serangan dari Pram. Tak ingin menyia-nyiakan waktu, Bara berlari sampai ke ambang pintu. Ia berdiri di sana menatap Pram dengan tawa kemenangan. Kini pria itu menyadarkan tubuhnya pada kusen pintu dengan kedua tangan yang berada di dalam saku celana bahan berwarna hitam. "Kau tidak perlu bekerja sekeras itu, lagi pula kau 'kan, tidak punya pacar. Untuk apa terlalu serius mencari uang? Pikirkan saja perutmu sendiri," ejek Bara. "Ayo kita ke tempat biasa, hari ini kau yang harus membayar, oke?" Bara mengedipkan sebelah matanya pada Pram membuat pria yang masih berada di depan meja kerjanya itu semakin muak. "Diam berarti setuju!" teriak Bara, "ayo cepat! Waktu kita tidak banyak." "Dasar sinting! Sejak kapan dia jadi menyebalkan seperti ini?" gumamnya sambil meraih jas yang tersampir pada sandaran kursi. Mau tak mau akhirnya Pram beranjak meninggalkan ruang kerjanya untuk menyusul Bara yang sudah lebih dulu keluar. Pria berwajah manis itu sungguh membuatnya merasa kesal sekaligus geli dengan tingkahnya. *** Bara menatap kaca bagian kemudinya yang sudah ringsek parah. Pria itu berkacak pinggang sambil sesekali menggaruk kepala yang tak gatal. Cicilan mobil ini bahkan belum lunas, tapi b******n gila itu sudah membuatnya harus masuk ke bengkel. Selain itu berbagai macam pertanyaan terus muncul di benaknya memenuhi semua ruangan kosong yang ada. Siapa yang berani menghancurkan mobilnya? Bukankah kejadian ini seperti sebuah peringatan? Tetapi, untuk apa? Bara bahkan tak melakukan sesuatu yang aneh. Dan lagi, hal ini terjadi saat ia berada di teras rumah Pram. Pria itu mengepalkan tinjunya di depan bibir. "Sialan! Akan kutangkap kau hidup-hidup. Dasar pengecut!" Dering suara ponsel membuat pria itu mengalihkan pandangan dari mobil. Begitu melihat nama presdir Wijaya, Bara segera menekan tombol answer lalu menempelkan benda pipih itu ke telinga. Firasatnya sudah buruk, sebab pagi tadi ia sempat membatalkan rapat direksi. Dengan perasaan was-was ia menghela napas sebelum kemudian bersuara. "Ya, Presdir. Ada yang bisa saya bantu?" "Temui aku di kantor, sekarang." "Baik, Presdir. Saya akan segera—." Bara memejamkan matanya gemas. Belum sempat ia menjawab, pangilan sudah ditutup secara sepihak. Ia segera memasukkan ponsel dan berjalan mendekati trotoar untuk mencegat taksi. "Sial! Ini semua gara-gara penguntit gila itu," gumamnya masih merasa kesal. Malam makin mengelam, tetapi tak ada kata sunyi di pusat kota yang selalu ramai dengan kendaraan yang berlalu-lalang. Bar dan kafe masih setia membukakan pintu untuk orang-orang yang lembur dan merasa letih bergelut dengan banyak pekerjaan. Atau, segelintir orang yang justru pusing memikirkan biaya bulanan. Hanya berselang beberapa menit, taksi yang mengantarkan Bara sudah berhenti di depan gedung White Horse. Pria itu menyerahkan selembar uang berwarna biru tanpa meminta kembalian. Ia bergegas memasuki lobi dengan langkah cepat. Lagi pula jarak antara bengkel langganannya kebetulan tak jauh dari lokasi gedung White Horse. Jadi, perjalanannya barusan hanya memakan waktu sekitar lima menit. Pria itu bergegas menuju ke ruangan bosnya sambil merapikan tatanan kemeja yang sudah mulai kucal sambil sesekali mengecek arloji di pergelangan tangannya. Sesampainya di koridor lantai paling atas, tempat di mana ruangan presdir Wijaya berada, Bara menetralkan napasnya sambil berjalan cepat. Namun, tiba-tiba seorang pria berjaket hitam menubruknya dari depan hingga Bara terhuyung hampir membentur dinding. Bara tak sempat melihat sosok itu, ia pikir pelaku adalah salah seorang karyawan yang berada di atasnya sehingga pria itu segera menunduk dan meminta maaf. "Berengsek sialan! Gunakan matamu, b******n!" teriaknya memenuhi koridor sepi. Mendengar ucapan itu secara otomatis tubuh bara menegak, dan segera melihat siapa yang baru saja mengumpat padanya. Bara tak asing dengan wajah keras dan aroma lawan bicara yang sedang menatapnya tajam. Matanya memicing berusaha mengingat di mana ia pernah melihat pria tersebut. Tunggu dulu, Bara ingat! Pria itu .... "Lesmana Kumbara." "Ya?" jawab Bara spontan. Ia menoleh sebentar menatap presdir Wijaya yang berdiri di depan pintu ruangannya. Pria paruh baya itu seperti memberikan isyarat pada pria kurus di depannya untuk pergi, sementara Bara masih menatap punggungnya yang mulai menjauh. Ia yakin pria tak dikenal itu bukan seorang karyawan, bukan juga anak dari presdir Wijaya. Namun, siapa dia yang bisa seenaknya keluar masuk ruangan seorang Presiden White Horse? Benar, Bara sudah melihatnya dua kali keluar dari ruangan bosnya. "Apa kau akan berdiri di sana sepanjang malam?" Bara menoleh, lalu menggeleng kikuk menatap presdir Wijaya. "Ha?" Pria itu mendadak tergagap. "Ti ... tidak, Presdir." "Kemarilah!" Sekilas Bara mengangguk sebelum kemudian setengah berlari untuk menghampiri bosnya. Ia melirik lagi arloji yang melingkar di pergelangan tangan. Ini sudah pukul sebelas malam, semua karyawan sudah pulang. Lalu siapa pria misterius itu? Bara masih saja berdebat dengan isi kepalanya. ~aksama~ Dua cangkir kopi masih mengepulkan asap malam itu. Riuh suara kendaraan di luar sama-sekali tak terdengar di dalam gedung bertingkat tersebut. Sunyi dan remang-remang. Bara melonggarkan dasinya berharap mengurangi rasa canggung yang ada di antara dirinya dan presdir Wijaya. Sesekali ia berdehem untuk mengambil napas lega. "Sebelumnya maaf, Presdir. Tapi, ada apa anda memanggil saya kemari malam ini?" tanya Bara sopan. Ia masih berusaha tenang meskipun setengah mati takut jika bosnya itu mengungkit kejadian tadi pagi. Bagaimana jika Presdir Wijaya menurunkan jabatannya begitu saja? Aih, sial! "Apa ada sesuatu yang harus saya kerjakan?" Bara kembali bersuara. Namun, pria paruh baya itu tak menjawab. Ia hanya menghela napas panjang kemudian mengangkat cangkirnya yang berada di atas meja, cangkir yang sejak tadi mengepulkan asap. Wijaya tersenyum di depan Bara, sama seperti saat pria itu tersenyum di depan Pram. "Minumlah selagi masih hangat," pinta Wijaya. Bara mengangguk, "Baik Presdir." Ia mulai menyentuh cangkir kopi tersebut lalu menyesapnya perlahan. Di kecapan pertama Bara berhenti sejenak, rasa pahit dan manis yang sempurna itu melemparkannya pada sosok yang sudah pergi dari dunia ini. Benar, Bara teringat seseorang setelah merasakan kopi yang sedang ia nikmati. Aroma dan rasanya benar-benar serupa. Sekali lagi ia menyeruput minuman berwarna hitam tersebut sehingga kenangan itu seperti sengaja dibangunkan dan terasa lebih nyata. Benar saja, kopi ini .... "Pram yang memberikan racikan kopi ini untukku." Presdir Wijaya tersenyum mengenang bagaimana Pram dengan senang menghadiahinya kopi racikan pria itu sendiri. Memang selain berbakat dalam bidang pekerjaannya, Pramoedya adalah pria pecinta kopi sejati. Ia tak akan pernah memulai harinya tanpa secangkir kopi di pagi hari. Pram bahkan memiliki mesin pembuat kopi yang ia beli dengan gaji pertamanya dari perusahaan surat kabar tersebut. Bagi Pram, minum kopi adalah suatu keharusan. Seperti ibadah kepada sang kuasa, maka ngopi adalah bentuk ibadahnya untuk diri sendiri. Bara dapat melihat jelas senyum di wajah bosnya, senyum yang hanya diberikan untuk Pram itu terukir dengan jelas. Seolah-olah di dalam ruangan itu Pram yang sedang menemani Wijaya menikmati secangkir kopi, bukan Bara. "Kau menyukainya?" tanya Presdir Wijaya mendadak. Membuat lamunan Bara buyar, angan-angan yang sejak tadi melayang ke masa lalu terhenti sejenak. Ia letakkan cangkir kopi tersebut ke tempat semula lalu tersenyum samar. Kini ia merasa sedang berada dalam ruangan penuh rasa melankolis yang menghadirkan sosok Pram kembali. "Sangat. Saya sangat menyukainya," gumam Bara. "Pram selalu meracik kopi ini saat saya mampir sepulang kerja, juga saat jam makan siang." Kenangan itu semakin nyata dihidupkan kembali dalam secangkir kopi. Masa di mana ia duduk di dekat jendela kaca bersama Pram menunggu pesanan tiba, Pram selalu menuangkan kopi racikannya sendiri yang ia bawa dalam tumblr. Sebab pria itu akan menjadi sosok paling bawel saat menyesap kopi yang tak sesuai dengan seleranya. Sudah pasti Jam makan siang akan diisi dengan khotbah Pram sebagai juri yang sedang mengomentari kopi pesannya tersebut. Dan hal itu seringkali membuat Bara merasa muak. Juga rindu. "Aku tak tau kalau ternyata kau sedekat itu dengan Pram." Bara tersenyum, "Kami cukup dekat ... sebagai teman minum kopi." Presdir Wijaya kembali menghela napas panjang. Ia menyesap kopi sekali lagi sebelum kemudian meletakkan cangkir tersebut di atas meja seperti semula. Senyum itu perlahan memudar, pandangannya lurus ke depan, bukan memfokuskan Bara lagi. "Sayang sekali dia pergi begitu cepat, ini masih terasa seperti mimpi, bukan?" Bara mengangguk mengiyakan. Namun, di sisi lain ia mulai bertanya-tanya kenapa juga presdir Wijaya mengajaknya minum kopi dan membicarakan Pram tengah malam begini? "Dia sangat logis, cepat tanggap, dan cukup ambisius. Bukankah, kau juga berpikir bahwa Pram sangat hebat?" kenang Presdir Wijaya. Bara hanya mengangguk sekilas dengan senyum tipis yang terlalu ambigu untuk diartikan. Ia menatap sekeliling ruangan yang rapi seperti biasa. Mungkin jika Pram masih ada, ia tak akan pernah bisa duduk di sini dan bercengkrama dengan bosnya sendiri. Dengan kata lain, jika Pram tidak mati sudah pasti Bara tidak akan berada di titik ini. "Kematiannya terlalu mendadak bukan?" "Semua kepergian memang selalu mengejutkan, Presdir." Bara tertawa kecil sembil memberikan jawabannya. "Kudengar kau mendatangi Detektif yang menangani kasus Pramoedya." Deg! Bara membeku mendengar pertanyaan Wijaya. Senyumnya mendadak hilang. "Apa yang kau lakukan dengannya? Kulihat kau juga memiliki kartu identitas milik, Pram." Sepasang mata Bara membola. Bagaimana mungkin atasannya bisa tau bahwa selama ini ia berusaha mendekati detektif yang menangani kasus Pram. Padahal ia sudah melakukannya secara diam-diam, dan sudah bisa dipastikan bahwa tidak ada satu pegawai kantor yang tau akan hal itu. "Kau ... tidak melakukan hal yang gila, 'kan?" tanya Presdir Wijaya. Jelas, Bara mendengar pertanyaan itu dengan jelas. Pelan, tetapi ucapan itu dibarengi dengan nada yang menusuk. Seolah menyudutkan Bara dan memaksanya untuk mengakui suatu kebohongan. "Ma-ma ... mak-sud, Presdir?" Bara tergagap, jantungnya seperti digedor dengan keras. Matanya bahkan tak berani menatap bosnya itu secara langsung. "Membunuhnya." Jawaban itu membekukan seluruh tubuh Bara. Pria itu mendadak kehilangan kemampuannya untuk bernapas dalam sejenak. Kedua pasang mata itu saling menatap satu sama lain dalam remang ruangan yang dingin menggigilkan. "Kau yang membunuh, Pramoedya?" Deg! ~aksama~ Sebuah bola karet berwarna merah jambu menggelinding di antara kakinyanya. Sepatu kets usang itu lantas memainkannya sebentar, sambil terus menikmati sebatang rokok. Ia mengamati seorang gadis kecil yang datang untuk mengambil bolanya. Gadis itu melemparkan senyum polos dengan langkah malu-malu mencoba mendekat. Pria itu tertawa kecil menyesap rokok yang terapit di antara kedua jari lalu mengembuskan napasnya kasar diikuti asap rokok. Sedetik kemudian ia menginjak bola yang sedari tadi berada di antara kakinya hingga kempis, hal itu tak ayal membuat gadis kecil tersebut menangis. "Oh, ini milikmu? Maafkan aku," ujarnya dingin, "Lain kali jangan pernah tersenyum di depanku lagi, ya!" Setelah mengucapkan kalimat itu, pria bertubuh kurus itu bangkit dari kursi besi yang berada di taman kota. Ia membanting putung rokok di atas rumput hijau sambil mengumpati seseorang yang ia tunggu tak kunjung datang. "Dasar b******n! Kau kira bisa bermain-main denganku?! Akan kubunuh kau hari ini juga!" gumamnya penuh penekanan. Tatapan mata setajam elang yang siap mengintai mangsanya itu jelas tergambar pada sepasang mata pria itu. Tidak, ia tidak bisa diremehkan seperti ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN