Tujuh : Petunjuk kedua

1655 Kata
Brak! Kaca mobil di bagian sisi kemudi itu hancur karena batu yang dihantamkan oleh Pram. Namun, hal itu belum membuat pria bertubuh tinggi tersebut merasa puas. Ia sudah mengangkat batu besar yang masih berada di kedua tangannya untuk menghancurkan mobil Bara. Akan tetapi, belum sempat batu itu menghantam badan mobil mewah milik Bara, tubuhnya sudah terhuyung hingga batu di tangannya jatuh. Tubuh Pram yang masih oleng sudah ditarik secara paksa oleh Andaru yang entah muncul dari mana. Keduanya berlari dengan gesit sebelum Bara memergoki perbuatan Pram. Di sebuah tikungan gelap, pagarnya dihiasi dengan tanaman merambat yang lebat, Pram dan Andaru bersembunyi di sana. Andaru masih menggenggam tangan kanan Pram sejak tadi. Sebelah tangannya berada di bibir memberikan isyarat agar pria itu diam. "Hei, berhenti di sana!" Teriakan itu jelas terdengar oleh Pram juga Andaru. Dalam kegelapan keduanya melihat Bara yang celingukan menatap sekitar untuk menemukan mereka, tapi tumbuhan hias tersebut nyatanya sangat membantu persembunyian mereka. Hingga Bara kembali sambil mengumpat, Andaru menarik Pram untuk keluar dari tempat persembunyian. Pria itu masih bungkam, bukan karena menemui Bara yang ternyata masih mengintai rumahnya. Namun, kenyataan bahwa saat ini Andaru masih berada di sebelahnya. Bahkan gadis yang tadi pagi sangat keras kepala tak ingin membantunya, saat ini baru saja menyelamatkannya lagi. "Apa kau sudah gila?! Bagaimana jika pria itu melihat apa yang kau lakukan?" tanya Andaru. Pram masih diam, ia menatap tangan Andaru yang masih menggandengnya erat. Secara alami, Andaru yang mendapati Pram sejak tadi bungkam. Gadis itu mengikuti arah pandangan Pram, lalu buru-buru melepaskan genggaman tangannya. "Ah, maaf! Aku terlalu spontan saat melihatmu menghancurkan mobil tadi." Andaru menunduk malu, wajahnya terasa panas saat ini. Gadis itu berbalik memunggungi Pram. "Terima kasih." Suara Pram membuat Andaru menoleh. Gadis itu kembali memutar tubuh menghadap Pram yang tertunduk menatap tangannya yang berdarah. Mungkin saja terkena pecahan kaca saat ia menghancurkan mobil Bara barusan. Perlahan dengan ragu, Andaru menarik lengan kemeja Pram yang digulung sebatas siku. Ia berjalan menyusuri trotoar, sedangkan Pram hanya menurut tanpa banyak bicara. Ada banyak tanya yang menggantung di benak Pram. Tentang Bara, juga gadis yang saat ini berjalan di depannya. Andaru benar-benar tidak bisa dibaca dengan mudah. Setelah penolakan mentah tadi pagi, siapa yang menyangka bahwa malam ini Andaru malah menyelamatkannya dari Bara. Mungkin saja, jika Andaru tak datang. Pram sudah benar-benar menghancurkan mobil Bara tanpa ampun. Setelah itu, ia akan mati dua kali karena Bara yang akan membunuhnya lagi. *** Di depan sebuah mini market, keduanya duduk di kursi plastik yang di sediakan. Pram masih menatap dua kotak s**u vanila dan sebungkus roti berukuran besar. Matanya beralih pada Andaru yang masih sibuk mengobati luka di tangannya akibat goresan kaca mobil. "Ini akan sedikit sakit," ucap Andaru memberi peringatan. Gadis itu menyiram luka di tangan Pram dengan alkohol, lalu dengan cepat mengelapnya dengan kapas sambil meniupnya perlahan. Andaru tak menyadari bahwa sejak tadi Pram terus tersenyum menatapnya yang sibuk mengobati luka. Tangannya dengan cekatan mengoleskan salep luka, lalu menutupnya dengan kapas. Terakhir, Andaru membalut luka di tangan Pram dengan perban. "Selesai," bisik Andaru bangga pada dirinya sendiri. Ia meletakkan tangan Pram di atas meja. Kemudian beralih menatap pria yang duduk di seberangnya. Gadis itu tersenyum tipis meraih sekotak s**u dan menusuknya dengan sedotan. "Apa kau pikir aku seorang dukun, yang bisa membaca isi kepalamu?" Andaru melirik Pram sekilas. Ia seperti sedang berhadapan dengan orang yang berbeda dengan tadi pagi. "Kalau penasaran, kenapa kau tidak bertanya?" tanya Andaru menyedot s**u vanila. "Aku tidak akan kabur kali ini," katanya, "aku akan membantumu, Pram." Keduanya saling menatap. Mengabaikan orang-orang yang sibuk berkeliaran sebagai figuran dalam sebuah cerita. Karena malam ini, Pram dan Andaru adalah tokoh utama yang akan mengakhiri kisah rumit ini. "Kau ...," ucap Pram menggantung. "Hmm?" Pria itu menggeleng saat Andaru mendekatkan kepalanya dengan sepasang mata sehitam jelaga yang terlihat membesar. Kenapa gadis itu mendadak terlihat sangat menggemaskan? "Tidak, hanya saja ... aku benar-benar tidak bisa membacamu, An. Apa kau adalah orang yang sama dengan pagi tadi?" Andaru tersenyum di depan Pram untuk pertama kalinya. Sengaja tepat di depan pria itu, supaya Pram mengerti bahwa ia bersungguh-sungguh tidak akan lari. "Kalau begitu, kau tidak perlu membaca. Aku akan menceritakannya untukmu," balas Andaru tulus. Gadis bermata hitam dengan senyum lebar itu, sangat penuh dengan kejutan. Pram turut tersenyum tipis, ia meraih sekotak s**u dan ikut menyedotnya seperti Andaru. "Tapi, kenapa kau membelikanku s**u dan roti? Apa aku terlihat seperti anak kecil?" protes Pram. Sejujurnya, ia tidak begitu menyukai s**u. Hal itu membuat Andaru menoleh dan menatap roti yang masih menganggur di atas meja. "Ah, ini?" tanyanya mengangkat roti berukuran besar. "Sebenarnya aku tidak berniat membelikannya untukmu, aku hanya lapar karena sejak tadi belum makan," jawabnya polos. "Lagi pula, apa orang dewasa tidak boleh minum s**u?" Andaru kembali menatap Pram yang juga sedang menyedot s**u. Pria itu spontan menggeleng, keduanya tertawa kecil di depan mini market malam itu. "An?" panggil Pram membuat gadis itu menoleh padanya. "Ya?" "Di dalam mobil itu ... apa kau melihat hal yang mencurigakan?" Andaru menggeleng. Ia tidak sempat melihat isi mobil saat itu, karena ia terburu-buru untuk menarik Pram dari sana. "Seperti apa?" tanya Andaru. "Kartu identitasku," balas Pram meremas kotak s**u di tangannya. *** Setelah kepergian Pram siang itu. Andaru memikirkan banyak hal tentang semua perkataan Pram. Meskipun ia sengaja mengunci pintu rumahnya, tetapi Pram tidak juga beranjak pergi. Pria itu masih duduk di teras, tepat di kursi anyaman tempat kucingnya duduk di sana. Andaru pun sama, ia tidak benar-benar pergi menjauh dari Pram. Gadis itu tetap duduk dengan tangis tertahan di balik pintu. "Kau boleh melarikan diri lagi, tapi aku tidak akan pernah menyerah untuk datang ke sini," kata Pram menatap pintu yang tertutup. Pria itu menghela napas. Pikirannya benar-benar kacau, perasaannya pun sedang rumit. Pram tahu, ia hanyalah seorang pendosa. Namun, apa harus ia menjalani semua kehidupan yang pelik seperti ini? "Kau mungkin berpikir, menjadi aku sangat menyenangkan. Hidupku dikelilingi hal-hal baik setelah aku masuk ke White Horse. Atasan yang sangat peduli padaku, dan hampir tidak ada satu pun karyawan kantor yang tidak mengenalku." Mendadak perasaan melankolis menguasai hati Pram. Semua rentet kejadian yang pernah ia lalui terlintas dalam benak seperti proyektor film usang. Pram tersenyum sendu mengingat semuanya. Jika dipikirkan lagi, ia belum sempat menikmati hidup selama ini. Setiap hari yang ia lakukan hanya berjuang dan terus berusaha untuk naik satu tangga lebih tinggi. Itu pun bukan perihal yang mudah untuk Pram. Entah jalanan yang terlalu licin dan berliku, atau Pram yang terlalu lemah hingga berkali-kali jatuh dan gagal. "Selama hidup, aku sudah banyak melalui hal-hal yang menyulitkan. Orang tuaku meninggal saat aku belum sempat memberikan apa pun untuk mereka. Bahkan sekarang, saat seharusnya aku bisa membayar semuanya ...." kalimat Pram tertahan di kerongkongan. Ia menunduk menatap kedua tangannya. Pram seperti dipaksa untuk kembali melewati jalanan terjal berbatu yang membuatnya jatuh berulang kali. Akan tetapi, di sisi lain ia sangat ingin membagi kisah perjalanannya pada Andaru. Karena mungkin, hanya itu satu-satunya cara agar gadis itu mau menolongnya. Dengan cara mengasihi dirinya. "Aku malah mati seperti ini?" ucap Pram membanting punggungnya pada sandaran kursi. "Mungkin bagimu, apa yang sedang aku usahakan adalah perihal balas dendam. Mungkin juga memang begitu kenyataannya, tapi jika memang dengan hal itu aku bisa kembali ke duniaku yang seharusnya. Aku akan melakukannya, An." Pram berdiri dari kursi dan melangkah meninggalkan teras rumah Andaru. Sebelum pria itu pergi, ia sempat berhenti di depan gerbang dan menatap pintu rumah yang masih tertutup rapat. Pram menghela napas dengan tawa kecil tak ketara. Sedangkan di balik pintu, Andaru mulai memikirkan semua perkataan Pram. Sejak awal melihat pria itu di kantor, pikiran Andaru tak pernah beralih pada pria lain. Karena saat semua orang mengabaikan dirinya yang hanya seorang petugas kebersihan di perusahaan besar tersebut. Hanya Pram yang senantiasa menyapa Andaru setiap pagi. Bahkan, Andaru sudah tak ingat berapa kali Pram membelikannya minuman dingin setelah pria itu kembali dari istirahat makan siang. Memang sejak dulu ia terbiasa hidup dalam kesepian. Bahkan bisa dibilang, kesepian adalah teman baginya. Semua itu bermula sejak kedua orang tuanya menghilang tanpa jejak. Sejak saat itu, Andaru selalu menyalahkan dirinya atas apa yang terjadi. Ia menjadi seseorang yang pendiam dan hidup tanpa teman. Andaru ada, tetapi tak pernah dianggap keberadaannya bahkan di mata dunia sekalipun. Bumi yang ia pijak adalah tanah busuk yang sewaktu-waktu akan menguburnya bersama eksistensi yang tak pernah diakui. Andaru telah sejak lama menjalani hidup seperti orang mati. Akan tetapi, semuanya mulai terasa berbeda setelah ia bertemu sosok Pram. Hanya dengan senyum dan sapaan sederhana itu, Andaru merasakan hal lain dalam hidupnya. Karena pria itu setiap hari ia memiliki tujuan selain untuk bertahan hidup. Andaru harus bertemu Pram setelah pagi menyapa. Hal itu juga yang menjadi alasan Andaru untuk berangkat ke kantor lebih awal. Agar gadis itu bisa melihat Pram masuk saat membersihkan lobi kantor. 'Tapi, kau yang telah membunuhnya, Andaru!' Suara itu kembali memenuhi kepalanya. Andaru menggeleng sambil menutup kedua telinganya dengan telapak tangan. Ingatan di mana Pram sekarat malam itu mendadak menghampirinya. Perasaan bersalah itu terus datang tanpa diminta. "Semua perasaan itu ada karena kau masih mempertahankannya, bukan karena aku. Kau memilih hidup seperti ini, juga karena pilihanmu, 'kan?" "Kau bisa dan harus melepaskannya mulai sekarang. Sesulit apa pun, kau harus melakukannya untukku." Saat perasaan bersalah itu kembali untuk menelannya, suara Pram terdengar jelas di telinga Andaru. Gadis itu berusaha menetralkan napas yang tak beraturan. "Tidak, bukan aku pembunuhnya!" ucap Andaru. Gadis itu bergegas keluar dari rumah dan berlari untuk mengejar Pram. Mulai hari ini Andaru harus melepaskan perasaan bersalah itu, karena memang bukan dia pembunuhnya. Andaru terus berlari di sepanjang trotoar, matanya menyapu seluruh jalanan yang ramai. Sampai di depan sebuah toserba, ia melihat Pram duduk di bibir trotoar. Pram terlihat putus asa sambil meneguk minuman kaleng di tangan. Sampai pria itu kembali berdiri dan melanjutkan langkahnya, Andaru masih membuntuti secara diam-diam. Namun, tidak lagi setelah melihat Pram berhasil menghancurkan sebuah kaca mobil mewah. Gadis itu berlari meraih tangan Pram untuk menghentikan aksi gilanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN