"Bara?" panggil Andaru. "Ya?" "Boleh aku menganggapmu sebagai teman?" tanya Andaru tanpa menoleh. Gadis itu sibuk mengamati gelasnya yang masih terlihat penuh. Mengabaikan Bara yang menatapnya dari samping tanpa mata berkedip. "Tidak boleh," balas Bara yang secara natural membuat gadis di sebelahnya menoleh dengan cepat. Meski tak begitu ketara, gurat wajah yang sarat akan kekecewaan itu bisa di tangkap dengan jelas oleh sepasang netra Bara. Gadis itu memaksakan diri untuk tersenyum di depan Bara, meskipun terasa amat sangat canggung, dan hal itu membuat Bara susah payah mengulum senyumnya di depan Andaru. "Ah, iya ... kau benar juga. Kenapa kau harus berteman denganku?" kekeh gadis itu. Nada terpaksa dan terkesan di buat-buat terdengar sangat jelas di telinga Bara. Tanpa aba-aba

