"Kau sudah bekerja keras selama ini. Sekarang, kau pantas mendapatkan posisi yang sudah seharusnya kau duduki, Pram."
"Hei, kau melakukannya dengan baik! Berita yang kau tulis, kenapa selalu menjadi trending, huh?"
"Kau sudah bekerja keras."
"Pergilah berlibur. Kau masih muda dan tampan, tidak ada yang lebih penting selain mencari kebahagiaanmu, Pram."
Kalimat itu nyata, dan benar-benar masih tertata apik dalam benak Pram. Memiliki tempat tersendiri dalam ruang hati juga pikiran Pram, sebab kalimat itu selalu datang saat ia tengah terpuruk dalam kesedihan. Memang, sosoknya terlihat tengil dan kurang ajar. Akan tetapi, siapa pun tak akan menyangka bahwa di balik sosok ceria itu mempunyai sejuta pedih yang tak pernah diutarakan. Karena meskipun demikian Pram cukup sukses dengan kehidupan pekerjaannya. Namun, pria itu selalu merasa kesepian.
Sedangkan Wayan Wijaya, selalu bos yang senantiasa menjadi wali juga temannya. Tak pernah mengucapkan kata tidak untuk Pram. Karena hal itu pula keduanya cukup dekat sampai pada hari kematian Pram. Bahkan Pram menerima pria itu apa adanya. Tak mempedulikan rahasia hitam yang selama ini ia simpan sendiri, tentang Wayan Wijaya.
Jam menunjukkan pukul dua belas malam, tetapi Pram masih setia duduk di ruang kerjanya. Lampu utama sengaja dimatikan, menyisakan cahaya lampu kerja yang menyala di meja kerja pria itu. Matanya fokus pada layar laptop yang menyala terang, sedangkan kesepuluh jarinya aktif menyetubuhi keyboard dengan gerakan terlatih. Ia menguap, tepat saat tulisannya selesai, ponsel hitam milik Pram berdering. Alarmnya telah berbunyi, menandakan ia harus segera bergegas pulang.
"Ah! Good, kerja bagus hari ini sobat," bisiknya bangga pada diri sendiri.
Segera ia matikan ponselnya dan memasukkan benda itu ke dalam saku celana. Pram memberesi meja kerjanya, menumpuk beberapa kertas yang berserakan berada pada satu sisi. Ia memasukkan laptop juga beberapa file penting yang harus ia bawa pulang. Setelah semuanya selesai. Pram melangkah keluar ruangan sambil membawa tas dan memakai jasnya. Begitu jas melekat pada tubuh proposionalnya yang tegap, Pram tersenyum sumringah. Ia menarik sebuah dokumen cetak yang sudah ditata dalam map dan menciumnya.
"Kau pasti menyukainya!"
Ia harus membawakan berita segar itu pada pimpinannya. Dan, Pram sangat yakin bahwa nanti berita ini pasti akan menjadi trending dengan waktu yang lama. Sudah bisa ia pastikan. Dengan semangat ia melangkah menuju ruangan Presdir Wijaya. Sesekali ia membuka map tersebut dan kembali tersenyum saat membaca judul berita yang ia buat.
Prostitusi Terbesar Pasar Gelap Dalam Negeri
Sebaris judul bercetak tebal itu telah penuh dengan coretan tinta merah. Sebuah berita besar yang tentunya diselidiki dengan kesungguhan. Berita yang sejak beberapa bulan terakhir ia garap mati-matian sembari menyelesaikan pekerjaan harian untuk membuat artikel terpanas. Pria itu memasang wajah pias, seperti tak ada gairah untuk sekedar bernapas. Matanya menatap nanar pada helaian foto miliknya yang telah dirobek menjadi serpihan kecil. Bagi Pram, selembar kertas berisikan gambarnya itu bukan sekedar foto. Mungkin ada hati yang sengaja dihancurkan bersamaan dengan foto itu. Perasaannya seperti dirobek habis tak bersisa tanpa ampun.
Pram menyugar surai hitam lebatnya ke belakang. Tangannya kembali berada di antara dagu dan bibir menatap lembaran kertas yang dibawa oleh Bara. Namanya tercetak di sana, pada ujung kiri bawah dengan cetakan huruf yang sangat kecil sebagai sumber dari berita yang tertulis.
Bagas.kr
Nama belakang Pram yang sengaja ia gunakan sebagai nama pena. Nama yang ia banggakan, juga banyak diagung-agungkan oleh beberapa karyawan yang menyukai berita yang ditulis olehnya. Termasuk Wayan Wijaya.
Namun, Pram mengurungkan niatnya, mendengar suara aneh dari dalam ruangan bos. Ia membuka pintu perlahan sambil mengamati kedua orang berbeda gender yang sibuk melakukan aktifitas olahraga malam di sofa.
'Sialan!' batin Pram merasa telah m*****i matanya yang masih suci.
Buru-buru ia bergegas pergi dari tempat itu. Mengurungkan tujuan awalnya dan memilih untuk segera pulang, toh besok ia masih bisa bertemu dengan Presdir Wijaya. Langkahnya ringan membawa cengiran yang menghiasi bibir s*****l Pram. Lelaki flamboyan itu berjalan riang menyusuri lorong kantor yang memang sudah sepi karena jam kerja telah usai. Hingga pria itu sampai di depan lift, sebuah tulisan bercetak tebal membuatnya berhenti dan mendengus kesal.
'Lift Rusak Gunakan Tangga Darurat!'
"Ah, sialan!" umpatnya.
Dengan perasaan dongkol Pram berbalik memutar arah menuju tangga darurat. Sial memang, ia sudah lelah bekerja sampai malam, kini harus menuruni tangga dari lantai tiga.
"Sejak kapan lift di sini rusak? Menyusahkan saja." Ia masih saja mendumel dalam setiap langkah. Sesekali mengumpati kesal karena merasa lelah.
Oh, ayolah! Ini 'kan sudah malam. Pram hanya ingin segera pulang dan tidur. Hanya itu! Kalian tau perasaan seperti ini, 'kan?
"Sial, mimpi apa aku semalam sampai harus lewat tangga darurat begini?" Kaki panjangnya ia luruskan di antara anak tangga.
Pria itu memilih untuk beristirahat sebentar. Menghela napasnya yang mirip seperti seseorang yang habis dikejar setan.
Brak!
"Eh, ada yang belum pulang juga ternyata?"
Pria itu terhenyak mendengar suara berisik dari bawah. Ia melongokkan kepalanya sebentar, tetapi tak bisa melihat apa pun. Ia kembali menyandarkan kepalanya pada dinding. Sedetik kemudian Pram bangkit dan mulai melangkah turun dengan hati-hati. Dan di sana, tepatnya di tangga darurat lantai dua ia menemui segerombol pria berpakaian serba hitam dengan kaca mata hitam sibuk memindahkan sesuatu.
Pram tak langsung melihat siapa mereka, hanya saja pria itu masih mengintip dengan kewaspadaan ekstra. Sehingga sepasang matanya hampir saja keluar saat melihat apa yang sedang dibongkar dalam sebuah koper berukuran besar tersebut.
Pram diam-diam menghela napas tertahan. Bagaimana bisa mereka membawa benda itu ke kantor ini? Siapa b******n-b******n itu? Bagaimana mereka bisa masuk melewati penjagaan yang ketat di depan sana?
"I-it-itu ... g***a?!" pekik Pram tertahan.
Pram kembali fokus mengintip aktifitas orang-orang asing di sana. Sibuk gaduh menata barang haram dalam koper dengan senyum sumringah. Matanya menajam mengamati satu persatu orang yang berada di sana. Ada sekitar; satu, dua, tiga, empat, sampai tujuh orang. Akan tetapi, salah satu dari mereka Pram sepertinya kenal.
"Orang itu kenapa sepertinya tidak asing?" bisik Pram, "sepertinya aku kenal."
Postur tubuhnya juga caranya berdiri. Ia makin mencari posisi yang pas untuk mengintip, dan ...
Jantung Pram serasa diremas melihat siapa yang berdiri di sana.
Presdir Wayan Wijaya?
"Ap-apa yang di-dia lakukan?" gegap Pria itu mulai gemetar.
Memikirkan hal yang sebenarnya terlalu takut untuk ia terima kenyataannya.
~A k s a m a~
Perasaan kelam menyelimuti ruang tamu dan yang sunyi sepeninggalan Bara yang setengah jam lalu pergi ke kantor. Juga Andaru yang memilih untuk berbaring sejenak menenangkan diri.
Masih berada di ambang kebingungan. Ia tak tahu bagaimana caranya untuk sepenuhnya mempercayai apa yang ia lihat. Namun, fakta-fakta yang sangat ingin ia tepis itu nyatanya semakin muncul ke permukaan memaksa untuk diyakini.
Entah apa, pagi itu emosi Pram sepenuhnya memuncak. Ada sesuatu dalam dirinya yang minta dilepaskan sejak melihat kejadian janggal di rumah Andaru. Melihat gadis itu terluka apa lagi. Pram meletakkan kertas dalam genggaman yang telah ia remat hingga tak berbentuk lagi. Kedua telapak tangannya menangkup wajah yang mulai keruh, ia mendesis kesal.
"Aish! Sialan," umpatnya.
Sepasang mata yang sengaja ditekan dengan tangan itu tak mampu lagi membendung air matanya. Pram sesenggukan, masih berusaha menahan air matanya karena emosi yang tak bisa ia lampiasian. Tak ada hal-hal lain yang bisa ia pikirkan selain pertanyaan yang selalu mendesak isi kepalanya hingga pening.
"Kenapa?"
Hanya sepotong kata itu, yang terus bejejer menari dalam kepala Pram.
Sedetik
Dua detik
Sentuhan hangat pada pundaknya membuat bahu Pram menegang. Pria itu menahan suaranya agar tak keluar, tangannya masih menutupi wajahnya sendiri. Namun, Andaru menepisnya. Gadis itu tersenyum, lengan rantingnya terulur mengusap jejak air mata di wajah tegas pria itu.
"Seperti katamu ... lepaskan, Pram."
Luluh lantak tangis Pram pagi itu pada pelukan lintang yang juga tengah meredup. Keduanya sama-sama saling menguatkan, saling memahami dan mencoba mengerti apa yang sedang terjadi. Mereka percaya semuanya pasti membaik dan akan baik baik saja.
"Lepaskan semuanya."
BERSAMBUNG!