Duapuluh lima : Menetapkan Tersangka

1518 Kata
"Kau benar-benar tak bisa mengingatnya?" Pram menggeleng diiringi helaan napas berat yang keluar dari bibirnya. Pria itu menopang dagu dengan lengannya sambil terus memikirkan bagaimana ia bisa mati. Karena selama ini ingatan tentang kematiannya benar-benar tak sepenuhnya datang dengan sendirinya. Semua itu muncul dalam bentuk potongan mozaik yang harus ia susun dan selesaikan sendiri. Ah, mimpi ... sesekali Pram juga bermimpi tentang kematiannya. Namun, hal itu malah membuat pikirannya semakin bingung. Bara masih melanjutkan aktivitas mengupas jeruk yang ia beli sepulang kerja tadi. "Masa? Di film-film, hantu selalu ingat apa yang terjadi dengan mereka sebelum mati, apa karena kau sudah tua?" Bara mencoba melemparkan candaan konyol. Hal itu menciptakan kekehan ringan di bibir Andaru. Namun, tidak dengan Pram. Tidak lama lagi, kedua pria itu sudah pasti akan berdebat konyol. Pria itu justru melemparkan kulit jeruk di atas meja kepada Bara. Hal yang sudah diprediksikan oleh Andaru kini menjadi kenyataan. "Dasar bodoh. Aku bukan hantu yang hidup di film." Pria kurus di depannya tertawa puas karena berhasil menjahili Pram. Sedangkan Pram hanya mengercutkan bibir kesal menanggapi guyonan dari Bara. "Baiklah, dengan ini aku menyatakan bahawa Wayan Wijaya yang telah membunuh Pramoedya Bagaskara. Detik ini, aku yakin seribu persen untuk menjadikan Wayan Wijaya adalah tersangka utama." Brak! Bara menggebrak meja kaca berwarna hitam tersebut dengan kuat. Sedetik kemudian ia mengangkat tangannya ke atas seperti sedang menawarkan diri untuk menjawab soal yang ditulis oleh guru. "Angkat tanganmu jika setuju denganku," ucap Bara memejamkan mata. Khawatir jika tak ada seorang pun yang memihaknya. Namun demikian, tekad Bara sendiri sudah cukup kuat. Meskipun Pram tak suka, ia tetap akan pergi ke lokasi pembunuhan Pram untuk mencari tahu lebih banyak lagi. Ah, satu kabar buruk ia dapatkan hari ini. Akan tetapi, sebelum itu ada baiknya kalian membaca kelanjutan cerita ini terlebih dahulu. Apa yang diputuskan oleh Andaru dan Pram. Gadis itu tampak menatap Pram yang masih sibuk dengan jeruk agu-ragu, kemudian beralih melirik Bara yang masih memejamkan matanya lucu. "Aku setuju," ucapnya gamblang. Namun, bukan Andaru yang mengatakan hal itu, sehingga membuat Bara bahkan membuka matanya dengan keterkejutan. Pria itu menatap Pram dengan pandangan tak percaya, sama halnya dengan Andaru. "K-ka-kau, yakin?" tanya Bara masih setengah tak percaya. Yah, bagaimana tidak? Sejak penyelidikan mandiri kemarin Pram sudah memperlihatkan ketidak sukaannya saat Bara dan Andaru mencurigai Wayan Wijaya. Namun, hari ini Pram justru mengatakannya dengan gamblang. "Kau tidak mengucapkan itu hanya untuk menyenangkanku, 'kan?" Kini giliran Andaru yang bertanya. Mendengar hal itu, Pram hanya tertawa kecil ia memasukkan setengah buah jeruk berukuran kecil ke dalam mulutnya hingga penuh. Mengunyahnya hingga dapat dicerna dalam perut. Pram kemudian mengangguk mantap menatap kedua orang yang menemaninya sampai detik ini. "Mau bagaimana lagi? Semua bukti ini sudah terlalu kuat untuk kusanggah bukan? Aku tidak bisa begini terus," katanya, "Suka tidak suka, mau tidak mau, kenyataan memang hal yang paling mengerikan. Jadi, apa pun itu aku harus menerimanya mulai sekarang. Bukankah begitu?" Bagai mendengar orasi yang menggerakan hati, Bara dan Andaru mengangguk setuju. Pria yang sudah berganti dengan baju santai berupa kaos oblong berwarna hitam dan celana pendek selutut itu melompati meja dengan susah payah dan segera mebdekap Pram. Tentu saja membuat Pram meneriakkan protes pada Bara. "Kau ini gila, ya? Lepaskan cepat!" Tak ada balasan dari Bara selain tawa yang menyembur keluar. Pria itu membanting tubuh di samping Pram, masih di lingkup sofa yang sama. Hanya saja berpindah tempat. "Apa yang membuatmu meyakini ini semua?" Andaru melempar pertanyaan itu pada Pram. Murni karena rasa ingin taunya. Sebab pagi tadi, Pram masih sesenggukan menangis dalam dekapannya. Pria tampan itu, lama-lama jadi sangat misterius sekali. Apa lagi dalam mode serius seperti ini, wajahnya tegas dengan sepasang mata yang badas. Menggemaskan, dan juga masih tampan di waktu yang bersamaan. Author jadi suka. Apa lagi pembacanya. Sayangnya, sudah jadi setengah setan. Tapi, Andaru masih sayang. Yah, seperti itulah pesona Pram bahkan saat pria itu masih hidup. Memiliki status singel di usia yang sudah cukup matang untung menikah, itulah Bara. Ia sebenarnya bukan tipe yang pilih-pilih soal pasangan—menuntut seseorang untuk menjadi sempurna. Yang penting, Pram butuh seseorang yang mau menerima segala keburukan yang ada pada dirinya. Itu saja. Akan tetapi, kenyataannya Pram justru terlalu sibuk dengan pekerjaan. Dan sebelum ia sempat mengakhiri masa singel-nya, ia justru mendadak mati begitu saja. Menyedihkan. "Pertama ... cincin ini sangat kuat sebagai bukti karena ditemukan di tempat aku mati yang sebenarnya. Secara logika, untuk apa seorang Wayan Wijaya datang ke tempat pembuangan sampah malam-malam? Apa lagi, kejadian ini bersamaan dengan pesta perayaan malam itu. Padahal, aku masih ingat kalau dia sudah dalam keadaan setengah mabuk, ini cukup janggal." Andaru mengangguk, mengiyakan penjelasan Pram. Baginya pun tak ada yang janggal dari ucapan Pram. Bara juga menyimak sambil membuka kulit jeruk yang lain kemudian memakannya dengan rakus. "Yang kedua, berkas-berkas yang kau bawakan kemarin. Ini sudah sangat membuktikan bahwa ia ingin menyingkirkan aku, setelah apa yang kulakukan untuk white horse. Dia memperlakukanku seperti sampah?" Pram terkekeh. "Tidak akan kubiarkan begitu saja." "Memangnya apa yang akan kau lakukan? Kau mau membuat white horse bangkrut?" celetuk Bara. "Setidaknya aku harus membuatnya menyesali semua perbuatannya," balas Pram santai. "Benar juga, sih. Tapi, aku masih tidak habis pikir kalau ternyata, Wayan Wijaya seperti itu." Bara mengimbuhi. Masih sambil ngemil jeruk yang ia beli. Tak ada raut kecewa seperti kemarin yang menghiasi guratan wajah tampan Pram. Namun, Andaru juga tak sepenuhnya segera mempercayai perasaan Pram. Pria itu, pasti juga masih menyimpan perasaan kecewa terhadap bosnya. Terlebih karena kedekatan mereka berdua t*i bisa dianggap biasa saja. "Jadi, hanya karena dua alasan itu?" tanya Andaru. "Hanya? Dua alasan itu sangat kuat, An. Seperti yang dikatakan Pram, untuk apa Presdir Wijaya berada di tempat pembuangan sampah malam-malam?" Bara menyambar dengan cepat. Andaru masih diam. Bukan tak sepenuhnya mengerti arah pembicaraan mereka, hanya saja ia belum benar-benar yakin dengan ucapan Pram. Dua alasan itu, apakah cukup menggoyahkan keyakinan seorang Pram yang amat sangat ambisius? Pram yang mendengar suara hati Andaru tersenyum kecut. Ia menyatukan kesepuluh jari tangannya saling bertaut sambil menatap Andaru ke dalam manik kelam tersebut. "Artikel tentang prostitusi, dan pasar gelap, serta penyelundupan n*****a itu ... aku yang menulisnya." Pram mengenang. Andaru masih diam, pun dengan Bara menunggu kelanjutan ucapan pria itu. "Aku melakukan banyak riset selama berminggu-minggu. Dan ternyata, Wayan Wijaya adalah salah-satu tersangka yang memimpin organisasi gelap penjualan barang haram tersebut. Aku melihatnya sendiri dengan mata kepalaku." Uhuk ... uhuk ... uhuk! Bara terbatuk-batuk mendengar perkataan Pram. Pria itu menegakkan tubuh yang semula ia berada dalam posisi setengah merebah. Bara bahkan menepuk-nepuk dadanya sendiri. Akan tetapi, Pram dan Andaru tak mempedulikan hal itu. Pram yakin Bara pasti terkejut, terlebih mereka berdua lebih banyak tau tentang sebaik apa sosok Wayan Wijaya dikenal di white horse. Pria paruh baya itu telah memiliki citra baik, jadi siapa sangka dia memiliki kebusukan yang tersembunyi seperti ini? "Kau, tidak sedang bercanda, 'kan?" tanya Bara masih setengah tak percaya. Pram hanya menatap Bara sekilas, "Apa aku terlihat sedang bercanda?" "Wah! Gila, ini benar-benar gila!" teriaknya. Memang benar hal ini sangat mengejutkan. Namun, ekspresi dan tingkah Bara terlalu hiperbola. Pram hanya mendengus pendek. Membiarkan Bara menikmati keterkejutannya. Berbeda dengan Andaru yang masih menelisik manik mata Pram, meski pria itu enggan menatapnya sedari tadi. "Aku baik-baik, saja. Percayalah." Pram mengucapkannya tanpa menatap Andaru. Gadis itu tak ambil pusing untuk sementara, setidaknya Pram memang terlihat baik hari itu. Pikirnya. "Jadi, apa asumsimu selanjutnya?" Kini Pram melirik Andaru, hanya sekilas dua pasang mata itu saling bersirobok. Sedetik kemudian Pram meraih pisang di atas meja dan memakannya. "Tentu saja dia memilih melindungi citra baiknya dengan cara membungkamku untuk selama-lamanya. Dengan begitu kebusukannya tak akan pernah terbongkar," jelas Pram. "Mungkin saja dia juga sudah tau kalau diam-diam, aku juga tau soal perselingkuhannya." Bara masih manggut-manggut sesekali, pria itu masih tak percaya. Akan tetapi, ia buru-buru menyentuh pundak Pram setelah mencerna ucapan pria itu barusan. "Apa katamu?" Pram menghela napas, ia menyingkirkan tangan Bara dari pundaknya. "Berhentilah bersikap berlebihan, aku sedang serius sekarang." Melihat sebegaiamana keduanya dekat dengan hubungan yang amat sangat baik, Bara makin tak mengerti lagi dengan situasi ini. Ia memang mencurigai Wayan Wijaya, tetapi ia bahkan tak memiliki asumsi sejauh ini tentang bosnya sendiri. "Wuah! Gila, ini benar-benar tidak masuk akal, apa Wayan Wijaya mempunyai kepribadian ganda?" tanya Bara heboh seperti biasanya. "Jaga bicaramu, bagaimana kalau sewaktu-waktu kau keceplosan di depannya, i***t!" ujar Pram memperingati. Andaru menyimak, lantas suatu pertanyaan melintas lagi pada benaknya. "Kau mengetahuinya, dan sengaja membuat berita itu? Apa memang kau berencana memancing Wayan Wijaya untuk menyerahkan diri, atau—," "Aku tidak berniat mencampuri urusannya. Apa yang kutulis di sana adalah sebagian garis besar, tapi sama sekali tidak kusebut namanya di sana. Lagi pula dia teman baikku." Pram tediam sejenak. "Yah, setidaknya ... setidaknya dia pernah sangat baik padaku, bukan?" kekehnya. Ketiganya sama-sama diam dalam ketercengangan. Terutama Bara yang masih tak habis pikir dengan kelakuan lelaki paruh baya itu. Ternyata Wayan Wijaya lebih menjijikkan ketimbang buaya darat yang doyan mengirim pesan pada wanita dengan dalil. Jangan lupa sholat, ya, Ukhtea. Iya, kira-kira seperti demikian. Kalian pernah dapet? Jangan termakan ya. BERSAMBUNG!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN