Tak ada kamera pengawas atau apa pun yang bisa membantu membuktikan kejahatan Wayan Wijaya. Tempat itu gelap, satu-satunya penerangan yang ada di sana hanya sebuah lampu di ujung yang yang berada tepat di tikungan. Itu pun sesekali meredup dengan tiba-tiba. Membuat suasana seram semakin terasa menguar dari daerah yang sangat minim dihuni manusia itu. Truk sampah memang setiap pagi datang, tetapi tak banyak yang melintas di sini saat sore menjelang. Para pemulung pun sudah bergegas bahkan sebelum si penjaga gerbang itu datang.
Tempat yang berada dalam gang sempit. Tak ada jalan lain selain jalur dimana truk sampah masuk melewati gerbang lain menuju pembuangan. Dan tempat itu pasti ada yang menunggu, jadi mungkin mereka harus mencari tahu untuk menemukan titik terang.
Pram berdiri di depan gerbang yang menjulang tinggi. Tingginya mungkin sekitar tiga meter, kedua tangannya berada dalam saku celana sambil melemparkan pandangan ke seluruh penjuru. Tumbuhan semak-semak lebat merambat pada dinding bagian bawah tembok pembatas, antara jalan dan juga tempat pembuangan. Aroma sampah sudah menusuk tajam bahkan jarak dari pintu gerbang masih cukup jauh.
"Ah, jadi begini caranya kau menyamakan anyir darahku, b******n?" dengus Pram tertawa skeptis.
Sedangkan Andaru sudah maju lebih dekat dengan pintu gerbang diikuti Bara di belakangnya. Pria itu sedari tadi terus memegangi tudung jaket milik Andaru dari belakang. Matanya menatap ke seluruh tempat yang gelap dengan perasaan berdebar dan was-was. Ia bahkan berulang kali menanyakan pada Andaru, apakah gadis itu benar-benar yakin di sini tempat kejadian yang sebenarnya?
"K-kau, yakin? Kita pasti salah tempat, 'kan?" tanya Bara lagi.
Seekor kucing berbulu oren mendadak melintas tepat di depan Bara sambil mengeong tajam. Hal itu sontak membuat Bara tersentak kaget, spontan pria itu mendekap Andaru yang berada di depannya.
"Wois! Berengsek sialan!" geramnya masih memeluk Andaru.
Gadis itu menghempaskan tangan Bara, lalu menatap kesal ke arah pria itu. Ia jadi tidak fokus karena sejak tadi Bara terlalu berisik, tetapi mau bagaimana lagi. Lelaki itu memang seperti ini, 'kan?
Dengan helaan napas, Andaru menepuki pundak Bara dan menatap pria itu sedikit menunduk karena Bara membungkukkan badannya.
"Kau baik-baik saja? Kalau kau tidak kuat, kembali saja ke mobil," ucap gadis itu.
Namun, secepat kilat Bara menggeleng. Ia kembali menegakkan tubuh sambil meraih salah satu tangan Andaru dan menggemggamnya, "Tidak boleh begitu. Aku akan tetap di sini membantu kalian."
Bara keukeh. Ia menarik lengan Andaru dan kini berjalan lebuh dulu. Hanya berselang sedetik suara burung hantu menginterupsi langkah Bara. Sontak ia berhenti dan menoleh ke belakang. Tanpa aba-aba ia kembali bersembunyi di balik tubuh Andaru.
"Kau duluan. Lagi pula ... kau yang tau di mana tepatnya kejadian itu berlangsung, ehe."
Andaru tersenyum tipis tak ketara. Bara memang selalu seperti ini, menjadi sosok yang mencairkan suasana saat semuanya tengah serius dikurung ketegangan. Sedari tadi, sejak Andaru menginjakkan kaki di daerah ini bayangan itu datang bersamaan menyerbunya tanpa ampun. Semuanya seperti diputar kembali, sedangkan Andaru dipaksa kembali ke masa itu. Di mana ia menjadi satu-satunya saksi mata kematian Pram. Sebab itu juga, ia memilih untuk berjalan berjauham dari Pram. Ia tahu, akhir-akhir ini Pram mudah sekali membaca dirinya. Entah, Andaru yang terlalu mudah di tebak, atau Pram yang memang bisa mengetahui isi pikirannya.
"Ayo jalan, aku akan melindungimu, jangan takut," bisik Bara tepat pada telinga Andaru.
Gadis itu memutar bola mata malas. Bara pasti sedang bercanda. Ia bahkan tak berani berjalan di depan, bagaimana mungkin ia akan melindunginya nanti?
Kalau seperti ini jadi, siapa yang melindungi siapa?
~A k s a m a~
Kelamnya malam membawa angin busuk yang berembus kencang. Menumbuk indera penciuman dan membuat isi perut memaksa untuk dikeluarkan. Mereka bertiga masih berada di sana menahan rasa mual demi mengobati rasa penasaran. Andaru, Pram dan Bara, mereka berdiri melingkari pada satu titik. Tepat di mana Pram tergeletak bersimbah darah. Hanya berjarak sekitar satu meter dari pintu gerbang.
"Jadi di sini?" Bara menceletuk.
Gadis itu menjawabnya dengan anggukan. Kemudian ia mengedarkan pandangannya ke arah lain.
"Sebelum mendekat, aku melihat kejadian itu dari balik tembok di sana," ucap Andaru menunjuk tembok yang berjarak sekitar tiga meter dari sana. Tempat di mana tiang lampu yang erorr itu berdiri sendirian. Baik Pram dan Bara cuma mengangguk.
"Tepat setelah lelaki itu memukul kepala bagian belakangmu. Dia pergi, agak lama. Saat itu ... aku datang menghampirimu," ucap Andaru, "tanpa membantu."
Cicitan itu terdengar sampai ke telinga dua lelaki yang berada di sana. Secara bersamaan, Pram dan Bara menepuk pundak Andaru di sisi kanan dan kiri membuat gadis itu mendongak kaget.
"Hei, kau sudah banyak membantu. Buktinya kau mau berdiri di sini malam-malam menyelami masa lalu yang kelam itu," balas Bara.
Pram ingin menampar bibir Bara detik itu juga, bukan karena kalimat yang diucapkan salah. Hanya saja, harusnya ia yang mengucapkan kalimat itu untuk a Andaru. Berengsek memang temannya yang satu itu.
Akhirnya ia hanya menghela napas, mengeratkan tangannya yang berada di pundak Andaru sambil tersenyum lebar. Tentu saja untuk menunjukkan pada gadis tersebut bahwa ia tak pernah merasa bahwa Andaru keliru.
"Apa kau melihat botol berisi bensin atau mencium aroma bensin waktu itu?" tanya a Pram.
"Ya, benar. Kau sudah ingat semuanya?" gadis itu tampak antusias sekaligus merasa bersalah sejujurnya.
Namun, pupus harapannya saat melihat Pram menggeleng pelan. "Tidak. Aku hanya pernah bermimpi tentang kematianku, sama seperti apa yang kau ceritakan. Bukankah itu berarti mimpi dan kenyataan yang kau lihat sama?"
Bara mengangguk dan memulai menganalisa di dalam kepalanya. "Aku baru ingat, waktu mayatmu ditemukan di TKP yang palsu, kau tak memakai pakaian yang sama seperti saat menghadiri pesta. Itu berarti si pembunuh yang mengganti pakaianmu dengan yang baru?" sambung Bara.
"Lalu dia melenyapkan pakaianmu yang berlumuran darah, agar tidak meninggalkan jejak kecurigaan, benar begitu, 'kan? Itu sebabnya dia menyiramkan bensin, selain untuk membasahi pakaianmu, itu juga berguna untuk membiarkan aroma anyir darah." Andaru tampak bersemangat kali ini.
Ia memuar tubuh, lantas berjalan mendahului kedua pria itu mendekati gerbang utama. Di sebelahnya ada sebuah tempat sampah berukuran kecil yang terbuat dari semen cor berbentuk segi empat. Gadis itu menunjuk tempat itu, "Di sini ... dia pasti menghancurkan buktinya di sini. Baru setelah itu membawamu pergi untuk memalsukan kematianmu, Pram."
"Busuk sekali pikiran mereka." pria itu melangkah cepat menghampiri Andaru untuk melihat lebuh dekat.
Sedetik kemudian Bara juga membuntuti, ia hampir saja ditinggal jauh oleh Pram jika tidak buru-buru berlari. Saat ketiganya sudah berada di sana mereka diam cukup lama.
"Tapi ... ada yang sedikit terasa janggal." Andaru kembali buka suara.
"Apa?" sahut Pram dan Bara secara bersamaan.
"Memang aku yang menemukan cincin itu di sini, tapi lelaki yang membunuhmu, tubuhnya bisa dibilang lebih kecil dari Wayan Wijaya. Siluetnya lebih mirip dengan Bara."
Mendengar itu Bara langsung mendelik tak suka.
"Apa maksudmu? Kau menuduhku lagi?"
Belum sempat Andaru menjawab, sesosok lelaki tua berjenggot putih datang menepuk pundak Bara cukup kencang. Secara alami pria itu menoleh sebelum kemudian berteriak kencang melemparkan diri dalam pelukan Andaru.
"Hei! Lepaskan aku," omel gadis itu kesal.
Tanpa basa-basi, Pram pun ikut menarik Bara dengan geram dari pelukan Andaru.
"Kau, ini sengaja ya?!" makinya gemas.
Akak tetapi, Bara tak menjawab. Ia masih menggigil berpindah di belakang tubuh Pram memegangi kemeja pria itu.
"it-itu, pasti setan, 'kan?"
Sesjujurnya Andaru dan Pram juga terkejut. Namun, keduanya masih melihat sepasang kaki itu menapak di atas tanah. Membuat keduanya bernapas lega.
"Apa yang kalian lakukan begini malam-malam di sini?"
BERSAMBUNG!