"Apa yang kalian lakukan di sini malam-malam begini?"
Sorot mata tua itu terlihat tajam menusuk. Janggutnya ditumbuhi jambang berwarna putih yang tak begitu lebat. Rambutnya tak begitu lebat, dibiarkan tergerai gondrong ditutup sebagian oleh kupluk berwarna hitam. Celana pendek berwarna cokelat dan kaus putih lusuh, serta sebuah sarung yang tersampir di pundaknya. Sebuah lampu gantung tradisional tergenggam di tangannya, kini terangkat lebih dekat pada Pram juga Andaru.
"Siapa kalian? Kenapa malam-malam begini di sini?" tanyanya kemudian.
Masih dengan suara serak dan besar, tetapi keduanya tahu bahwa kakek tersebut sepenuhnya manusia. Andaru masih melihat kakinya yang menapaki tanah. Gadis itu melempar senyum tipis, lalu melangkah lebih dekat.
"Kami sedang mencari sesuatu, Kek."
"Apa yang kalian cari malam-malam begini? Pergi saja dari sini, tempat ini terlalu berbahaya," usirnya.
Bara dan Pram saling pandang mendengar penuturan lelaki tua tersebut. Dilihat dari gestur tubuhnya, ia seperti tengah terburu-buru mengusir mereka dari sana.
"Pergi dari sini, cepat!" pintanya pelan tetapi sarat akan perintah.
Andaru mengerikan dagunya heran, apa maksud dari kalimat bahwa tempat ini berbahaya?
"Makasud Kakek tempat ini berbahaya? Ini 'kan hanya tempat pembuangan sampah," susul Pram menginterupsi.
Mendadak gerakan tangan kakek itu berhenti mendengar suara Pram. Pria tua itu menoleh ke arahnya sambil mendekatkan lampu pada Pram. Reaksi tak terduga ditunjukkan kakek tersebut. Lampu yang ia pegang terjatuh hingga pecah. Menciptakan percikan api yang membakar tanah di sekiranya. Dan tak ayal membuat ketiga orang yang berada di sana menjerit kaget termasuk Andaru.
"K-kk-kau?" suara tertahan kakek itu seraya menunjuk Pram dengan jari telunjuknya.
Wajahnya mendadak pias, seperti kehabisan darah menatap Pram lekat-lekat dalam cahaya temaram malam itu.
~A k s a m a~
Teh hangat tersaji di depan ketiga orang itu. Tepat di atas meja persegi panjang yang sebagian sudah terlihat keropos dimakan rayap. Mereka diam saling pandang satu sama lain. Bersirobok dengan sunyi malam itu. Tak ada suara selain nyanyian jangkrik dan burung hantu yang saling bersahutan.
Bara masih menempel pada Pram yang duduk di tengah-tengah. Di sebelahnya Andaru menatap seantero rumah usang tersebut secara teliti. Tak ada yang istimewa, bahkan temboknya sudah retak di banyak sisi. Beberapa penerangan ruangan masih menggunakan lampu tradisional, hanya ruangan kecil yang disebut sebagai ruang tamu itu yang memiliki lampu kecil berwarna oranye. Pandangan Andaru berhenti sebentar memaku sebuah foto usang yang ditempelkan pada dinding dengan solatip. Seorang lelaki tua dan gadis yang mungkin sepantaran dengan Andaru.
"Kenalkan, nama saya Rahman." Pria tua itu mengulurkan tangannya.
Tak ada sambutan dari kedua pria yang duduk di sana, tetapi Andaru buru-buru menyalami pria tersebut sambil mengukir segaris senyum.
"Saya Andaru, Kek. Ini Pram, dan Bara." Gadis itu berucap ramah memperkenalkan diri.
"Ah, ini Nak Bara."
Andaru mengangguk seraya melirik Bara yang sejak tadi masih dengan jelas memperlihatkan ketakutannya. Berbeda dengan Pram yang sejak datang tadi bungkam, pria itu terus memasang wajah dinginnya di sana. Bahkan, Andaru tak berani bertanya apa yang sebenarnya Pram rasakan.
Kek Rahman, begitu beliau di sapa. Sudah lebih dari sepuluh tahun bekerja sebagai pengurus tempat pembuangan sampah. Yang merawat tanaman semak belukar di sisi tembok pembatas, membakar sampah yang beterbangan di luar gerbang, bahkan membuka dan mengunci pintu gerbang setelah truk sampah berjejer pergi. Tak banyak upah yang beliau dapat, tapi cukup untuk menghidupi kebutuhan sehari-hari.
Pria tua itu tersenyum pada ketiganya. Menampakkan jejeran gigi yang tak lagi utuh, matanya tajamnya ikut menyipit menatap Bara yang masih ketakutan.
"Saya manusia, kok, Mas. Jadi, tidak perlu takut," ucapnya tak sepenuhnya bergurau.
"Sebelumnya saya mohon maaf, Kek. Mungkin ini terkesan tidak sopan. Tapi, ada keperluan apa, Kakek membawa kami kemari?" Andaru mengeluarkan semua pertanyaan yang mendesak dalam benak.
Lelaki tua itu tersenyum misterius. Ia menyeruput teh miliknya. Cukup lama terdiam sebelum kemudian kembali mengulas senyum tak terbaca. Ia diam kembali menghela napas panjang sebelum kemudian menatap Pram dalam diam. Senyum di bibirnya lenyap, digantikan wajah dingin nan tatapan tajam seperti sebelumnya di depan gerbang pembuangan sampah. Keduanya seperti Tengah saling lempar argumen dalam diam, saling menusuk dalam diam tatap mata mereka.
"Kau ...," ucapannya menggantung, lagi-lagi kek Rahman menghela napas berat.
Menimbulkan tanya yang semakin membengkak di kepala Andaru. Bara? Jangan ditanya, pria itu masih menatap ciut lelaki tua di depannya sambil memegang lengan Pram.
"Kau bukan manusia," kata kek Rahman diiringi helaan napas panjang yang terdengar berat.
Andaru dan Bara sama-sama terhenyak mendengar hal itu. Bagaimana mungkin kek Rahman tau bahwa Pram ....
Mereka menatap Pram yang berada di tengah. Pria itu bergeming, pandangannya masih sama dingin dan kaku.
"Apa yang dilakukan arwah sepertimu di tempat ini? Bukankah kau harusnya sudah pergi ke alammu?" tanyanya.
"Ba-bb-bagaimana Kakek tau kalau dia sudah ma ... ti?" gumam Bara tergagap.
"Kebetulan aku bisa melihat apa yang tidak bisa kalian lihat. Aura manusia dan orang yang sudah mati itu berbeda. Tapi, dia ... memang sedikit membingungkan. Ada rasa hangat dan dingin yang bersimpangan saat melihatnya. Hanya saja, matanya tak pernah menipu. Aku yakin kau sudah mati, 'kan?"
"Bagaimana kau bisa tau aku sudah mati?" tanya Pram menginterupsi balik.
Kek Rahman diam. Pun dengan Bara dan Andaru yang tak berani buka mulut. Atmosfer di sana benar-benar terasa dingin dan menusuk tulang.
"Karena aku bisa meliha—."
"Melihatku mati malam itu?" potong Pram membuat kedua rekannya membelalakkan sepasang mata mereka.
Terlebih Andaru. Gadis itu benar-benar terkejut mendengar penuturan Pram.
Ketiganya masih menunggu jawaban dari kek Rahman yang masih bersikap misterius.
"Apa yang kau katakan? Apa maksudnya, Kek Rahman melihat ...," ucapan Bara terpenggal.
Tertahan dalam kerongkongan begitu saja. Sedetik itu, kakek Rahman kembali menatap Pram dengan senyumnya.
"Ya, aku melihatmu mati malam itu," tuturnya, "aku juga yang membuka pintu kematianmu malam itu, Pramoedya Bagaskara."
Hening.
Tak ada sepatah kata yang bisa mereka keluarkan saat ini. Selain terkejut, Andaru juga tengah memikirkan banyak hal yang berdesakan dalam kepalanya. Jadi artinya, selama ini ia salah paham menganggap dirinya satu-satunya saksi mata akan kematian Pram?
~A k s a m a~
"Kau yakin?"
Senyum sinis itu tercetak jelas di bibirnya. Menyeringai sambil mengepulkan asap tembakau yang baunya menyengat hidung. Matanya masih sama menyorot tajam sosok lawan bicara di depannya.
"Kau boleh percaya, boleh tidak. Aku hanya mengatakan yang sebenarnya."
Pria yang tak lain dan tak bukan adalah Wayan Wijaya itu menghela napas berat. Merasa setengah tak percaya, tetapi tatapan lelaki sialan itu seperti tak sedang bercanda.
"Lagi pula, kalau pun dia masih hidup ... kurasa kau yang akan berada dalam bahaya," imbuhnya.
"Kau sungguh membunuhnya malam itu? Bagaimana mungkin orang yang sudah mati hidup kembali?"
"Di mana kau melihatnya? Atau jangan-jangan kau tak benar-benar menghabisinya malam itu? Kau pasti ingin menipuku, 'kan?" Wayan Wijaya tampak gusar. Ia tak tau harus melakukan apa setelah mendengar kabar uang sangat mengejutkan baginya.
Abas tersenyum lebar. Kemudian digantikan dengan tawa yang memenuhi seluruh penjuru ruangan mewah tersebut. Pria itu meneguk sebotol anggur mahal di atas meja dengan pongah. Sedetik berikutnya ia menatap lawan bicaranya dengan tajam.
Prang ....
Dibanting secara kasar botol anggur yang masih berisi setengah tersebut hingga berserakan di lantai.
"Apa kau tidak melihatnya mayatnya malam itu? Bukankah, kau sendiri yang menghantam kepalanya hingga ia mati? Bukankah kau juga yang mengganti pakaiannya dengan yang baru?" desisnya.
Wayan Wijaya diam. Abas benar, ia ikut melakukan eksekusi malam itu. Namun, berita apa yang sedang dibawah Abas? Pram hidup kembali?
Apa mungkin seseorang yang sudah mati hidup lagi?
Ini sedikit ... mustahil.
Rasanya sangatlah tidak mungkin.
Seperti hubungan kalian dengan doi yang tak mungkin terjadi.
"Pertama, aku harus melihatnya dengan mata kepalaku sendiri," ucap Wayan Wijaya.
"Lalu?"
"Tentu saja kau harus menyingkirkan dia secepatnya."
Tak ada yang terdengar selain embusan napas Abas yang kasar diikuti kepulan asap tembakau yang melayang ke langit-langit ruangan.
"Tentu, asal kau tidak melarikan diri lagi dari janji-janjimu."
Sunyi.
Wayan diam, mencoba mengawang apa yang sebenarnya sedang terjadi. Pria paruh baya itu mengeluarkan ponselnya lantas segera menghubungi supir baru yang akan mengantarkan dirinya kemana pun.
Sebab, malam itu Abas telah menghabiskan nyawa supir pribadi sekaligus pesuruh Wayan Wijaya.
Karena itu, selangkah ini ia berhati-hati. Sebab Abas, bukan seseorang yang bisa ia abaikan sembarangan. Lelaki kurus yang menggilai lintingan tembakau itu, sangat membahayakan.
"Sekali lagi kau bermain-main denganku, bukan hanya pesuruhmu yang akan mati. Tapi ... kau juga harus menyusul mereka ke neraka. Mengerti?"
BERSAMBUNG!