"Ya, aku melihatmu mati malam itu," tuturnya, "aku juga yang membuka pintu kematianmu malam itu, Pramoedya Bagaskara."
~A k s a m a~
Tanah basah menjadi satu-satunya pemandangan yang saat ini merebut fokus Andaru. Titik-titik air yang turun dari langit seolah tak pernah bosan menjatuhkan diri di atas bumi gersang. Suasana sunyi, hanya gemercik gerimis yang masih terdengar sendu bagai simfoni pengantar tidur. Angin bertiup pelan, tetapi dinginnya tak main-main. Menerpa beberapa helaian daun pohon mangga yang jatuh ke tanah basah, dan membawanya entah ke mana. Malam masih gelap, waktu menunjukkan pukul satu dini hari. Sedangkan Andaru juga masih bergelut dengan pikirannya sendiri. Ia cukup terkejut dengan pengakuan kek Rahman tentang kematian Pram. Hal yang berarti bukan dirinyalah satu-satunya saksi mata atas kejadian nahas malam itu.
Angannya melayang seiringan dibawa angin yang berembus pelan. Andai bisa pun, Andaru ingin melepaskannya. Semua pikiran yang menghunjum dan melukai perasaannya tentang lelaki yang ia kasihi.
Gadis itu menoleh ke belakang, jendela kayu usang tersebut terlihat tengah mengejeknya dengan tawa bahagia. Ia tak bisa mendengar dan melihat apa pun yang sedang Pram lakukan dengan pria tua misterius tersebut. Sedetik kemudian ia kembali menghela napas berat. Gadis itu penasaran apa yang tengah kek Rahman bicarakan dengan Pram empat mata, sehingga meminta ia dan Bara untuk keluar menunggu di teras saat hujan seperti ini. Sangat tidak berperasaan.
Lain halnya dengan Andaru yang masih bertanya-tanya tentang seperti apa jawaban di balik teka-teki ini. Bara, lelaki itu justru menikmati momen kantuk yang tengah menyerangnya tanpa ampun. Ia menunggui Pram di luar, duduk di atas dipan kecil yang terbuat dari bambu. Kepalanya bersandar pada pundak sempit Andaru. Untungnya tak ada protes dari gadis itu, sebab ia benar-benar sangat mengantuk malam itu. Dan lagi, besok ia harus kembali bekerja. Sungguh hari-hari yang melelahkan.
Mendadak pintu terbuka, menampakkan sosok Pram dengan senyum hangatnya keluar dari sana. Pria berkemeja putih dan celana jins berwarna hitam itu mengusap puncak kepala Andaru dengan lembut saat sepasang mata mereka saling pandang.
"Maaf membuatmu menunggu lama," ucapnya.
Andaru hanya menggeleng pelan, seraya mengulas senyum untuk Pram. Sedangkan pandangan mata Pram beralih pada Bara yang memejamkan mata di pundak gadisnya.
Ah, bukan ... mereka tak memiliki hubungan sedekat itu bukan?
Tangan Pram bergerak cepat menyingkirkan kepala Bara dari pundak Andaru.
"Bangun bodoh! Apa kau akan bermalam di sini?" Pram menarik lengan Andaru saat Bara sudah sempoyongan berusaha menjaga keseimbangan agar tak tersungkur ke tanah.
"Sialan kau. Aku masih di sini juga karena menunggumu tau. Kalau bukan karena An, aku sudah pulang dari tadi," balas Bara masih dengan mata terpejam.
Jawaban itu membuat Pram menatap Bara yang masih setengah sadar.
"Ayo kita pulang, lagi pula ini sudah malam."
Andaru melangkah lebih dulu meninggalkan kedua pria yang masih berdiri di sana. Gadis itu menyempatkan diri untuk pamit pada kek Rahman yang berdiri mengamati mereka bertiga di ambang pintu, sebelum kemudian berjalan mendahului Bara dan Pram yang tertinggal di belakang.
Pikirannya bercabang mirip ranting pohon kering yang rapuh dengan mudah dipatahkan. Andaru gamang dengan perasaannya sendiri. Ia tak tahu, bagaimana harus menyikapi dirinya juga perasaannya terhadap Pram.
'Itu berarti ... Pram tau bahwa bukan dia satu-satunya saksi mata bukan?'
'Tapi ... kenapa Pram tidak pernah mengatakannya pada Andaru bahwa ia melihat orang lain di sana?'
'Kenapa juga Pram malah mendatanginya? Bukan kek Rahman yang ia yakini sebagai saksi mata lain?'
'Apa mungkin lelaki itu sengaja ingin mengurungnya dalam rasa bersalah? Atau mungkin karena Pram tau bahwa ia menyukai pria itu, sehingga Pram sengaja membuatnya terlihat bodoh dan merasa bersalah setiap saat?'
'Tapi, apa mungkin seperti itu? Atas semua perlakuan Pram selama ini?'
Andaru menggelengkan kepalanya pelan. Sesekali matanya terpejam mencoba mengenyahkan segala pertanyaan yang mendesaknya untuk segera diucapkan. Membuat setitik air mata itu jatuh juga mengalir menciptakan sungai kecil di pipi putihnya. Sekali lagi, gadis itu ingin sekali melemparkan banyak tanya pada Pramoedya. Akan tetapi, Andaru tak bisa. Atau lebih tepatnya ... gadis itu tak siap menerima jawaban dari Pram. Ia usap air matanya dengan ujung sweater yang dikenakan.
Lelaki yang sampai detik ini masih ia puja dalam keheningan.
Lelaki yang sampai detik ini pula menjadi segala penawar luka, juga pusat atas segala rasa sakit yang ada.
'Kenapa mencintaimu serumit ini?'
Jarak sekitar satu meter sengaja dibuat Andaru dengan berjalan mendahului gadis itu. Di belakang dengan langkah lebarnya, Pram menatap punggung ramping yang berjalan di depannya. Rambut hitam sepinggang itu sesekali beterbangan di terpa angin malam. Ia menghela napas berat, menundukkan pandangan ke bawah jalanan yang becek.
"Apa yang kau bicarakan dengan lelaki tua itu? Sampai dia harus mengusirku dan Andaru keluar. Sungguh tidak berperasaan."
Suara Bara memecah fokus Pram. Pria itu tak segera menjawab. Ia tegakkan kepalanya dan kembali memaku punggung Andaru di depannya.
"Ini dan itu ... sesuatu yang agak tidak aku mengerti," balasnya.
Dahi Bara mengkerut mendengar jawaban ambigu barusan. Ia menyikut lengan Pram dengan gemas.
"Aku serius bodoh!"
"Lalu, apa aku terlihat sedang bercanda Kumbara?" tegas Pram masih enggan menatap Bara.
Langkah mereka masih menapaki jalanan yang minim penerangan. Menuju ujung jalan untuk menemukan taksi, sebab mobil Bara belum selesai diperbaiki.
"Dia dibayar oleh Wayan Wijaya untuk menyiapkan tempat kematianku, membuka gerbang tempat pembuangan itu sebagai satu-satunya akses kendaraan roda empat yang bisa dilalui. Tentu saja uang bisa membuat semua orang menuruti perintah, 'kan? Sekalipun perintah itu mengantarkan mereka ke jurang penuh api," kekeh Pram.
"Dia mengakui semuanya padamu?"
Pram mengangguk, ia memasukkan kedua tangannya dalam saku celana panjang yang dikenakan. Sedari tadi berbincang dengan Bara, matanya tak juga teralihkan dari Andaru.
"Kau yakin dengan semua ucapannya? Eum ... maksudku, kenapa kau mempercayainya?"
Langkah kaki Pram terhenti membuatnya tertinggal selangkah di belakang Bara. Pria itu kini mengarahkan pandangannya pada Bara. Memaku rekannya yang ikut berhenti dengan jarak selangkah di depannya itu dengan wajah bingung.
"Di situasi seperti ini? Kau ingin aku melakukan apa selain berusaha mempercayai orang lain?"
Benar juga. Tak ada pilihan lain bagi Pram selain mempercayai apa yang ia dengan dan lihat untuk saat ini. Bara menghela napas pendek, merasa buruk di depan Pram.
"Aku sudah memaafkan semua dosamu padaku, tenang saja," lanjut Pram melanjutkan langkah kakinya mendahului Bara.
Hal itu sontak membuat Bara menoleh, menatap tak percaya pada Pram yang kini berjalan mendahuluinya. Pria itu terkekeh geli seraya mengumpat dengan mantap.
"Memang berengsek!" segera ia menyusul Pram dan kembali menyamai langkah pria itu.
"Apa dia akan membantu kita memecahkan semua misteri kematianmu, Pram?" Bara kembali mendominasi percakapan.
Rasa ingin tau pria berwajah manis itu benar-benar tak pernah berubah. Pram hamya mengendikkan bahu tak yakin.
"Omong-omong, kau bisa membaca pikianku, ya?"
Pram menoleh sebantar menatap Bara, kemudian mengendikkan bahunya.
"Aku juga tidak sepenuhnya yakin. Awalnya hanya suara hati Andaru yang bisa kudengar, tapi sekarang semakin banyak yang bisa kudengar," jelas Pram.
Ia sendiri tak tahu kapan pastinya ia bisa mendengar suara hati orang-orang yang ada di sekitarnya. Namun, saat berada dalam rumah kek Rahman barusan, ia juga dapat merasakan sesuatu yang tak biasa. Sesuatu yang mungkin di luar nalar manusia.
"Ah, begitu." Bara mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti.
"Karena itu kau langsung memotong ucapan kek Rahman? Karena kau mendengar suara hatinya?" tanya Bara cepat.
Pram lagi-lagi hanya mengangguk mengiyakan. Membuat Bara ikut mengangguk saat itu juga.
"Dia bilang bisa melihat apa yang tidak bisa kita lihat, bukan? Apa yang dia maksud itu ... han-tu?"
Pram hanya mengangguk menanggapi ucapan Bara. Ia sempat melirik ekspresi ngeri yang tercetak jelas di wajah sohibnya tersebut. Pram mengulas segaris senyum miring.
"Dia bilang ada sosok hitam yang selalu mengikuti ke mana pun kau pergi."
"Hey! Jangan main-main berengsek, bercandamu itu tidak lucu tau!" sergah Bara kesal.
Pria itu melayangkan tinju di lengan Pram cukup kencang, tetapi Pram sama-sekali tak tertawa.
"Aku serius," ucap Pram terdiam cukup lama. Ia mengamati Bara dari ujung kaki hingga kepala sebelum kemudian menghela napas panjang.
Wajahnya terlihat frustasi, pria itu menunduk lagi enggan menatap Bara yang sudah menempel padanya.
"Lihatlah, dia sedang melotot padaku saat ini," gumam Pram kesal.
Pria itu buru-buru melangkah meninggalkan Bara yang juga mempercepat langkah mengejarnya sambil meneriakkan nama Pram dengan lantang. Cukup puas mengerjai Bara, Pram terkekeh menyusul Andaru yang sejak tadi tak menoleh sedikitpun.
~A k s a m a~
Tepat di ujung jalanan menikung tempat di mana lampu yang sesekali berkedip, di persimpangan jalan itu lampu sesekali berkedipmati seorang pria berdiri di sana sambil mengisap lintingan tembakau. Kepulan asap dihembuskan dari bibir hitam, diterpa angin dan entah membawanya berlabuh ke mana. Sebatang rokok di malam yang menyisakan gerimis tipis itu menjadi satu-satunya sumber kehangatan yang nikmat tiada tara bagi Bara. Ia sengaja berdiri di bawah lampu, menciptakan siluet yang tak sepenuhnya terbaca jika tak dilihat dari dekat. Pandangannya tajam, lurus menembus gelapnya malam.
Sedangkan di ujung jalanan berlumpur itu berakhir, Andaru menghentakkan kakinya ke aspal yang tak sempurna guna mengurangi lumpur yang menempel di sepatunya. Gadis itu sekalipun tak menoleh ke belakang guna menatap Pram maupun Bara. Tujuannya saat ini hanya satu, ingin segera pulang dan memejamkan mata untuk melupakan sejenak menghentikan pikirannya yang terus mendesak untuk dikeluarkan.
"Hei, hati-hati. Kenapa kau terburu-buru begitu?" suara Pram tak membuat Andaru menoleh.
Malam ini saja, gadis itu tak ingin melihat Pram lebih dekat. Sebab ia terlalu takut dengan perasaannya sendiri. Ia tak ingin sesuatu yang sejak lama ia pendam menjadi semakin bertumbuh besar seiring berjalannya waktu. Andaru harus menjaga hatinya sendiri mulai detik ini.
"An, kau kenapa seperti ini? Apa ada yang salah?" sentuhan lembut yang masih sama hangatnya itu di abaikan. Langkahnya semakin cepat sehingga jemari Pram yang berada di pundaknya terlepas begitu saja.
Membuat Pram kembali tertinggal di belakang dengan jarak yang cukup jauh.
Iya, harus begini.
Andaru harus menjaga hatinya terlebih dulu, ia tak siap jika harus melukai dirinya sendiri lebih banyak lagi. Namun, langkah kakinya terhenti saat pundaknya bertuburukan dengan orang lain. Gadis itu oleng tak dapat menjaga keseimbangan tubuhnya sendiri dan hampir saja tersungkur menyentuh aspal jika seseorang yang sengaja menubruknya tak memegang lengan Andaru dengan erat.
Ia menoleh dengan cepat, aroma tembakau ini ... Andaru sangat hapal. Merasakan genggaman tangan yang semakin erat di lengannya, gadis itu berusaha menelan segala kecurigaan dan ketakutannya. Ia menatap seorang pria yang tersenyum padanya. Pria kurus berjaket hitam yang mengenakan topi hitam pula, pada segaris bibirnya terapi sebuah rokok yang tinggal setengah. Saat melihat wajah terkejut Andaru, pria itu buru-buru membanting rokoknya ke aspal dan melumatnya dengan sepatu.
"Maaf, ya. Aku tidak sengaja, Nona."
Suara serak itu ....
Andaru gemetar, tetapi ia masih berusaha menahan dirinya agar tak lari. Ia tau siapa pria di depannya, Andaru masih sangat hapal dengan pawakan serta aroma tubuh lelaki itu.
"Kk-kau?" tergagap gadis itu berusaha melepaskan tangannya.
Namun, Abas tak segera melepaskannya. Ia justru semakin mempertahankan Andaru dalam genggaman. Sebuah senyum terukir di bibir Abas, ia tatap Andaru dalam-dalam menusuk manik kelam itu dengan sepasang matanya yang tajam.
"Cantik." Abas bergumam pelan sambil memangkas jarak antara dirinya dengan Andaru.
"Le-lle-lepaskan aku!"
"Hey, jangan takut. Aku ... tidak akan menyakitimu lagi," bisiknya sambil menyelipkan rambut Andaru ke belakang telinga.
Abas memiringkan kepala demi menatap Andaru sedekat mungkin, tetapi gadis itu juga semakin memberontak. Memukul apa pun sekenanya. Akan tetapi, sial! Kini justru kedua lengan gadis itu dikuasai Abas dalam genggaman tangan yang terasa dingin.
"Kenapa kau begitu takut padaku? Hmm ...," kata Abas, "apa mungkin kau sudah mengenaliku? Manis sekali kau ini, aku belum memperkenalkan diri."
Jantung Andaru berdetak dua kali lebih cepat. Kakinya gemetar, sebisa mungkin ia berusaha melepaskan diri juga menghindari tatapan yang sangat ia benci. Namun sayang, genggaman itu semakin kuat mengukung kedua pergelangan tangannya hingga memerah sempurna.
Bugh ....
Andaru menjerit ketakutan tepat saat Abas tersungkur ke aspal. Gadis itu menutup kedua telinganya dengan telapak tangan sambil memejamkan mata. Namun, ia bisa mendengar suara Pram dengan jelas di sana.
Bara menoleh, merasakan nyeri pada punggungnya yang ditentang tanpa ampun. Ia tatap lelaki berkaki panjang yang baru saja menyerangnya tanpa aba-aba. Sedetik kemudian Abas menunduk menarik topinya ke bawah sampai menutup sebagian wajahnya.
"Aku akan mengatur waktu untuk pertemuan kita yang selanjutnya, Lintang."
Tepat setelah mengucapkan kalimat itu Abas berlari meninggalkan tempat itu. Pram ingin sekali mengejar dan menghadiahi banyak tinjuan untuk pria berengsek yang sudah menyentuh Andaru. Akan tetapi, gadis yang menggigil di bawah lampu itu lebih penting dari segalanya.
"Sudah, sudah. Tidak apa-apa, kau sudah bersamaku sekarang. Kau aman, An." Pram membawa tubuh Andaru ke dalam pelukan hangatnya.
Mengusap punggung gadis itu dengan lembut untuk menyalurkan kehangatan dan ketenangan. Rasa takut itu mereda dalam pelukan Pram. Lelaki itu, lagi-lagi melindunginya. Lagi-lagi memeluknya dalam kegelapan.
Lantas jika seperti ini, bagaimana Andaru akan melindungi hatinya sendiri?
"Aku yang akan melindungimu. Kau sepenuhnya tanggung jawabku mulai detik ini. Jadi tolong ... jangan menjauh dariku, An," bisik Pram meninggalkan kecupan di puncak kepala gadis tersebut.
Andaru terdiam, menelan segala rasa kecewa juga perasaan yang mendesak untuk dilepaskan. Pada akhirnya, kedua lengan gadis itu membalas pelukan Pram. Ia menumpahkan segalanya di sana. Dalam dekapan d**a bidang Pram. Lelaki yang menyelamatkannya dari kegelapan.
BERSAMBUNG!