Duapuluh sembilan : Sebuah Praduga

2211 Kata
Masih ditata punggung rapuh di depan yang sedari tadi menghindarinya. Pram menghela napas pendek, ada segenggam kekecewaan yang menyelimuti hatinya tentang apa yang tengah Andaru pikirkan. Ia tak mengerti harus menjelaskan dari mana, sebab itu ia hanya mengikuti langkah kaki Andaru dari belakang. 'Itu berarti ... Pram tau bahwa bukan dia satu-satunya saksi mata bukan?' "Tidak bukan seperti itu." Pram mendesah lelah. 'Tapi ... kenapa Pram tidak pernah mengatakannya pada Andaru bahwa ia melihat orang lain di sana?' 'Kenapa juga Pram malah mendatanginya? Bukan kek Rahman yang ia yakini sebagai saksi mata lain?' 'Apa mungkin lelaki itu sengaja ingin mengurungnya dalam rasa bersalah? Atau mungkin karena Pram tau bahwa ia menyukai pria itu, sehingga Pram sengaja membuatnya terlihat bodoh dan merasa bersalah setiap saat?' 'Tapi, apa mungkin seperti itu? Atas semua perlakuan Pram selama ini?' Pram tak ingin memungkiri bahwa menjadi Andaru memang sulit. Posisi gadis itu sebagai satu-satunya saksi mata, sebagai seseorang yang merasa paling berdosa sebab tak bisa melakukan apa pun untuk menyelamatkan dirinya. Pram tau hal itu. Dan lagi, satu hal yang selama ini ia jaga dengan sangat hati-hati. Pria itu tak ingin melukai, meski saat ini mati-matian ia berusaha menahan diri agar tak jatuh pada gadis bermata sendu tersebut. Jika pun ia dan Andaru saling mencintai, memiliki perasaan yang serupa, apa semuanya akan baik-baik saja? "Apa sih yang kau harapkan? Toh, kau sudah mati, Pram." Pria itu tertawa kecil menelan senyum juga realita yang semakin memukul telak tanpa ampun. Dalam diam keduanya berjalan pada jalur yang sama, hanya saja malam itu pikirannya saling berkelana mengikuti angan-angan yang kerap kali membingungkan satu sama lain. Pram tak pernah lelah menatap Andaru dari belakang, gadis itu selalu menjadi daya tarik baginya. Dengan langkah cepat ia mengikuti Andaru sampai berhasil menyentuh pundaknya pelan. Entah, Pram sendiri tak tau harus berkata apa selain diam. Begitu ia melihat Andaru sengaja menjauh dan menjaga jarak dengannya. Ada perasaan kecewa. "Dia pasti marah padaku," bisiknya. Sedetik yang berlalu Pram sempat lengah, membiarkan Andaru terlepas dari pengamatannya. Seperti dihantam dengan gada, jantung Pram berdetak cepat melihat gadis itu bersama seorang pria asing di bawah lampu. Tanpa bertanya pun, Pram sudah tau bahwa pria itu bukanlah seorang teman atau kenalan. Pram memanfaatkan langkah kaki panjangnya untuk memangsa jarak, kemudian melepaskan satu tendangan telak pada punggung lelaki sialan itu hingga tersingkur ke aspal. 'Berengsek, berani sekali kau menyentuhnya!' u*****n itu tertahan dalam batin Pram. Bugh .... Andaru menjerit ketakutan tepat saat Abas tersungkur ke aspal. Gadis itu menutup kedua telinganya dengan telapak tangan sambil memejamkan mata. Namun, ia bisa mendengar suara Pram dengan jelas di sana. Abas menoleh, merasakan nyeri pada punggungnya yang ditentang tanpa ampun. Ia tatap lelaki berkaki panjang yang baru saja menyerangnya tanpa aba-aba. Sedetik kemudian Abas menunduk menarik topinya ke bawah sampai menutup sebagian wajahnya. "Aku akan mengatur waktu untuk pertemuan kita yang selanjutnya, Lintang." 'Tidak semudah itu b******n!' Tepat setelah mengucapkan kalimatnya, Abas berlari meninggalkan tempat itu. Pram ingin sekali mengejar dan menghadiahi banyak tinjuan untuk pria berengsek yang sudah menyentuh Andaru. Akan tetapi, gadis yang menggigil di bawah lampu itu lebih penting dari segalanya. Ia hampir Andaru dengan Sorot penuh kasih lalu menariknya dalam dekapan. "Sudah, sudah. Tidak apa-apa, kau sudah bersamaku sekarang. Kau aman, An." Pram membawa tubuh Andaru ke dalam pelukan hangatnya. Mengusap punggung gadis itu dengan lembut untuk menyalurkan kehangatan dan ketenangan. Rasa takut itu mereda dalam pelukan Pram. Lelaki itu, lagi-lagi melindunginya. Lagi-lagi memeluknya dalam kegelapan. Lantas jika seperti ini, bagaimana Andaru akan melindungi hatinya sendiri? "Aku yang akan melindungimu. Kau sepenuhnya tanggung jawabku mulai detik ini. Jadi tolong ... jangan menjauh dariku, An," bisik Pram meninggalkan kecupan di puncak kepala gadis tersebut. Andaru terdiam, menelan segala rasa kecewa juga perasaan yang mendesak untuk dilepaskan. Pada akhirnya, kedua lengan gadis itu membalas pelukan Pram. Ia menumpahkan segalanya di sana. Dalam dekapan d**a bidang Pram. Lelaki yang menyelamatkannya dari kegelapan. 'Tidak akan kubiarkan lintangku meredup lagi kali ini.' ~A k s a m a~ "Waktumu tidak banyak bukan?" Pria tua itu meletakkan gelas teh miliknya yang tersisa setengah kosong. Matanya menyorot Pram yang sejak tadi tak banyak bicara. Hanya Rahman yang sedari tadi mendominasi percakapan. Selebihnya, Pram hanya menjawab seperlunya saja. "Kau pasti melakukan sesuatu yang membuatnya harus menghabisimu malam itu, 'kan? Harusnya kau lebih berhati-hati berurusan dengan Wayan Wijaya." "Kau benar-benar melihatku mati malam itu?" Kek Rahman menghela napas pendek. Ia menatap langit-langit rumahnya yang usang menghindari pandangan Pram. Sebelum kemudian mengangguki pertanyaan dari pria yang duduk di depannya. "Tapi, orang seperti aku bisa apa? Bukankah orang-orang sepertimu sudah seharusnya paham apa yang aku maksudkan?" "Kau benar." Pram menunduk. Meremat kesepuluh jarinya dengan perasaan tak menentu. "Lantas, apa kau pernah sangat dekat dengannya? Dilihat dari caranya menatap mayatmu, pasti hubungan kalian cukup dekat." "Memang dia menatapku seperti apa?" tanya Pram. Kek Rahman melenyapkan senyumnya, "Seperti seseorang yang tengah kehilangan." "Waktumu tidak banyak lagi, aku hanya akan membantumu semampuku," ucap kek Rahman. Mendengarnya Pram tersenyum entah kenapa. Ia merasa tengah dikasihani oleh lelaki tua yang bahkan tak ia kenal. "Kenapa begitu? Kau melakukannya karena merasa bersalah padaku?" balas Pram sarkas. Kek Rahman tak menjawab. Ia menandaskan teh dalam gelas hingga tak bersisa. Menghela napasnya panjang, dan memaku foto yang menenpel pada dinding ruangan tersebut. "Gembong n*****a dan penjualan wanita di pasar gelap yang bersembunyi di balik gelar Presiden perusahaan berita terbesar." Kek Rahman tersenyum misterius lagi. "Bukankah hal itu sangat menarik?" sambungnya. Dahi Pram berkerut heran, dari mana juga kek Rahman tau tentang sisi gelap dunia Wayan Wijaya? Tentang wajah lain dari seorang Presdir yang sangat dihormati, juga diagung-agungkan di mata masyarakat. Pasalnya, Wayan Wijaya juga termasuk salah satu tokoh masyarakat, pria itu sering muncul di tv sebab memberikan banyak sumbangan ke beberapa yayasan dengah jumlah besar. "Jangan heran begitu. Aku tau karena dulu aku juga sempat bekerja dengannya. Tiga tahun aku menjadi supir pribadi Wayan Wijaya, sampai kemudian aku mengundurkan diri dan memilih untuk hidup seperti ini." "Kenapa?" Lagi-lagi hanya embusan napas kek Rahman yang terdengar di telinga Pram. Pria itu masih tersenyum seperti sebelumnya. Lengkungan kurva yang tak bisa diartikan oleh Pram sedari tadi. "Dia menyukai gadis cantik ... dia juga yang menghancurkan putriku," ucapnya sendu. Sepasang mata Pram membelalak terkejut. Akan tetapi, melihat dari gestur kek Rahman dan juga nada ucapannya. Lelaki tua itu tak mungkin sedang menipu. "Maksudmu ...?" Silabus dari bibir Pram dibalas anggukan oleh Kek Rahman. Membenarkan apa yang tengah berada dalam pikiran lelaki malang yang tengah gamang mencari kebenaran tentang kematiannya. "Karena itu kau harus berhati-hati, jaga kekasihmu dengan baik," tutur kek Rahman. "Dan lagi, lakukan apa pun yang tengah kau yakini meski tingkat keberhasilan itu hanya satu persen. Karena seiring berjalannya waktu, ragamu tak akan sepenuhnya utuh. Semuanya akan memudar perlahan tanpa kau sadari, Pram." Ia tampak berpikir sebentar mencerna kalimat panjang yang baru saja dijabarkan oleh lawan bicaranya. Bukankah maksud kek Rahman barusan Wayan Wijaya bisa saja mencelakai Andaru sewaktu-waktu? Mungkin saja seseorang yang membuat kekacauan di rumah Andaru waktu itu adalah orang yang dikirim oleh Wayan Wijaya? Pram mengepalkan jemari hingga terlihat buku tangannya terlihat memutih. Jika memang benar demikian, pria itu memang sangat keterlaluan. Kenapa juga ia harus menyakiti orang-orang yang berada di sekitarnya? Apa dengan membunuhnya itu tidak cukup? "Sosok hitam yang menyebut dirinya sebagai malaikat maut, dia akan selalu membayangimu, Pram. Mengingatkan saat kau mulai lengah dan goyah, karena itu kuatkan tekadmu untuk menyelesaikan semua teka-teki ini meskipun memuakkan. Aku akan membantumu bernegoisasi, supaya kau tak berakhir seperti putriku satu-satunya." Pram menyimak dengan emosi yang mulai meluap-lupa. Bayangan tentang kedekatannya bersama Wayan Wijaya yang begitu panjang membuat semuanya terasa semakin menyesakkan. Seolah-olah sebuah batu besar sedang diletakkan di antara dirinya untuk menghimpit Pram hingga mati, lagi. "Dia tidak bergerak sendiri. Ada pria berbahaya yang menjadi kaki tangannya saat ini, dan sepertinya kau juga tau bahwa pria itulah yang menghabisimu nyawamu malam itu," terang kek Rahman. Sejenak Pram mengangkat kepalanya untuk menatap kek Rahman lebih dalam. Sorot mata tua itu masih tajam, menyiratkan dendam yang tak terucap juga kebencian yang tersimpan rapat. Akan tetapi, bolehkah Pram mempercayai orang asing secepat ini? Namun, ia juga tak memiliki pilihan lain selain percaya dengan apa yang saat ini ia dengar. "Suryabasa," cicit Pram. Kek Rahman mengangguk pelan. "Yah, psikopat gila yang sudah menghabisi puluhan nyawa manusia itu berhasil kabur menjadi buronan polisi. Saat ini ia pasti diam-diam mengintaimu. Jadi, berhati-hatilah." Tepat sekali! Pram sudah menduga bahwa b******n licik itu pasti terlibat dalam kasus pembunuhannya juga detektif malang tersebut. Sebab dulu, Pram juga sempat menulis artikel tentang napi tersebut. "Aku tidak akan lengah kali ini. Akan kupastikan, tidak ada lagi yang boleh terluka di sekitarku," gumam Pram mengepalkan tinjunya. Tuk .... Segelas air dingin telah berpindah ke dalam perut Pram. Gelas kaca itu sengaja diletakkan di atas meja dengan sedikit tekanan. Pram memejamkan matanya sejenak. Mengingat kejadian di bawah lampu juga ucapan kek Rahman perihal Wayan Wijaya. Kini Pram sepenuhnya yakin bahwa Suryabasa pasti bekerja sama dengan mantan bosnya. Pasti pria itu yang menjadi tangan kanan Wayan Wijaya untuk melakukan segala kebusukan. "Baiklah, aku tidak akan main-main sekarang." Dalam dapur apartemen yang temaram itu Pram menoleh ke ruang tamu yang senyap. Pencahayaan di sana lebih baik, sepenuhnya adalah sinar bulan yang muncul malu-malu di balik awan mendung menembus jendela kaca setinggi langit-langit ruangan. Ada seseorang yang ingin ia lindungi mulai saat ini. Jika dulu perjuangannya adalah demi keselamatannya seorang diri. Kini ada Andaru yang harus ia jaga sepenuh hati. Gadis itu meringkuk dengan mata terpejam di sofa panjang yang empuk, cukup luas menampung tubuh kecil Andaru yang terlelap di sana setelah menghabiskan setengah gelas dari cokelat panas buatan Pram. Pria itu berjalanen mendekat, ia sempat merampas selimut milik Bara sebelumnya dan kini menutupi tubuh Andaru dengan selimut tersebut. Pram melipat kaki panjangnya hingga lutut pria itu menyentuh lantai dan bersimpuh di depan wajah Andaru. Wajah itu tampak tenang dalam tidurnya, tanpa sadar menciptakan kurva simetris di wajah Pram. "Aku tidak mungkin sengaja membuatmu terluka, An. Kau harus percaya padaku, karena aku ...," ucapannya terhenti. Pram tersenyum sambil menyelipkan helaian rambut Andaru yang menutupi sebagian wajah ke belakang telinga. Pria itu memiringkan kepalanya, sepasang netra Pram terus membelai wajah Andaru yang terlelap tenang. "Aku tak bisa kehilanganmu, An." 'Aku mencintaimu, Andaru. Sangat mencintaimu.' Hanya kalimat itu yang mampu Pram sampaikan. Selebihnya, biarlah Pram menyimpan perasaannya dalam diam. Seperti Andaru yang sejak dulu menantinya dengan penuh kesabaran. Pram pun akan melakukan hal yang sama. Menunggu. Membiarkan waktu menjawab semua perasaannya, hingga menyampaikannya pada gadis itu. Jika memang ia ditakdirkan untuk memiliki Andaru barang sesaat, Pram sudah pasti akan bersyukur akan hal itu. Namun, jika pun ia tak pernah ditakdirkan untuk bersama dengan gadis itu, ia akan tetap bersyukur. Karena setidaknya, ia telah melewati banyak waktu berdua dengan Andaru. Entah itu tentang tawa, atau pun air mata. Pram benar-benar bersyukur telah dipertemukan dengan lintang-nya "Kau ingin minum? Sepertinya aku tidak bisa tidur," suara Bara membuat atensi Pram teralihkan. Ia menoleh, mendapati Bara yang entah sejak kapan telah berdiri di depan pintu kamarnya sambil menggaruk-garuk kepala dan sesekali menguap. "Aku punya sebotol wine mahal pemberian Papa, kau ingin mencoba?" tawar Bara lagi. Pria itu sudah berjalan ke lemari kaca yang menjadi tempat bermacam-macam miniatur kayu. Ada tiga botol wine dengan bentuk yang berbeda. Bara tampak berpikir sebelum kemudian mengambil botol wine yang berada di tengah. "Cepat kemari, kita harus minum sampai besok pagi." Pram terkekeh pelan, ia menegakkan tubuh dan berjalan mendekati Bara yang sudah menyiapkan dua gelas kosong. "Bukankah besok kau harus bekerja?" balas Pram memegangi gelasnya. Bara hanya mendesah malas. Kini ia sibuk memenuhi gelasnya dengan minuman berwarna ungu pekat tersebut. Sebelum kemudian meminumnya dalam satu tegukan. "Akh ... benar-benar menyegarkan." "Kalau seperti itu, kau bisa mabuk sebelum pagi." Bara tak menggubris, ia menuangkan lagi satu gelas wine dan menatapnya. "Apa kau hanya akan terus menyanyi seperti itu? Tidur saja sana," sergah Bara. Pram terkekeh lagi, kini ia segera meneguk gelas pertama miliknya. Rasa pahit dan manis yang mendominasi lidah pria itu seolah membuat matanya lebih segar. Pram seperti dibangunkan kembali dari tidur panjang. Seluruh pusing dan juga beban pikiran yang mengisi kepalanya seakan diangkat begitu saja. Baiklah, ia harus mengakui kali ini. Bahwa Bara selalu memiliki cara terbaik untuk membuatnya merasa lebih baik. "Hidup ini memang sangat busuk!" ucap Pram meneguk gelas kedua miliknya. Bara terkekeh menuangkan wine ke dalam gelasnya sendiri. Rasanya ia seperti tengah dibawa terbang melayang. "Hidup ini melelahkan, bodoh." "Tentu saja, karena kau miskin dan tidak mempunyai kekuasaan, tentu hal itu sangat melelahkan." Bara menimpali. "Kau harus bekerja keras seperti orang gila jika ingin memiliki kehidupan yang baik. Menjilat orang-orang berpangkat dan merendahkan dirimu serendah-rendahnya di depan para b******n itu. Begitu cara kerjanya bukan?" Pram tersenyum menatap gelas kosong di tangannya. Ia menghela napas panjang, sedikit sesal mengampirinya malam ini. "Yah, kau benar ... harusnya aku tidak hidup seperti itu, Kumbara." Keduanya mendadak dibebat hening. Saling diam membiarkan angan-angan mereka menyelami lubuk hatinya masing-masing. Sampai suara bel apartemen berbunyi nyaring, keduanya saling pandang. Bara menatap Pram yang melirik jam tangannya. Ini masih pukul tiga malam, siapa yang bertamu selarut ini? Lagi pula, apartemen ini tak pernah memiliki tamu sebejelumnya. Lantas, siapa yang tengah menekan bel membabi-buta di depan sana? BERSAMBUNG!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN