Bekasi, 16 September 2015
“Akhirnya bisa makan juga” Ucap Jinora lega kepada dirinya sendiri sambil membawa semangkuk makanan pedas khas cianjur kesukaannya itu.
Berbicara tentang Seblak, Jinora jadi mengingat kembali orang yang membuatnya kewalahan hari ini. Karena anak baru itu Jinora sampai tidak sempat makan apapun dari pagi, karena ia harus berjalan kesana kemari untuk mencari Raziel. Belum lagi sebelumnya ia harus di omeli oleh Bu Hesti, ketua kesiswaan yang sangat galak berjam jam sedari pagi. Oleh karena itu Jinora tidak bisa makan dari pagi, bahkan untuk beristirahat sebentar saja tidak bisa. Dan yang paling menyebalkan orang yang membuat ia harus menjalankan hari yang menyebalkan ini sampai sekarang belum terlihat batang hidungnya.
Sudahlah, lebih baik ia merilekskan pikirannya sebelum pelajaran Olahraga di mulai. Mumpung semua anak di kelas masih menganti baju dan biasanya itu akan memakan waktu lama apalagi anak perempuan, Mereka akan dandan, menyisir rambutnya, memakai parfum di seluruh tubuhnya, bahkan ada yang mandi terlebih dahulu. JInora tidak memperdulikan itu karena itu memang bukan urusannya, tapi jika di tanya ia lebih baik simple, cepat, dan apa adanya seperti sekarang.
Jinora mengambil sesuap besar makanan yang berwarna merah menyalah itu. Ia melahapnya dengan cepat seperti orang yang belum makan seabad. Tapi gadis itu memang sangat menyukai sensasi membakar lidah dan berkeringat akibat makanan itu. Rasanya semua masalah hilang dan pikiran membaik setelah memakan itu.
Tapi tunggu sebentar..
Gadis itu melupakan satu hal terpenting.
Oh iya minum, Air Minum! Ia lupa membeli air minum di kantin tadi.
Jinora ingin sekali merutuki dirinya sendiri, mengapa hari ini ia sial sekali? Ia juga lupa membawa bekal dan minum dari rumah. Itu memang masih bisa ia atasi, tapi apa sekarang? Ia lupa membeli air minum padahal tenggorokannya terasa sangat panas seperti terbakar. Lebih bodohnya tadi ia malah membeli seblak level 10 yang tentu saja itu level terpedas dan maksimal. Jinora terus mengipas – kipas wajahnya yang terlihat sangat merah seperti tomat dan tanpa sadar air mata pun mulai mengalir karena ikut terasa perih sehingga ia harus menutup matanya.
Sampai akhirnya sebuah benda dingin terasa di pipi merah Jinora. Jinora membuka matanya perlahan dan melihat seorang pria jangkung berdiri di hadapannya dengan dua botol air mineral dingin. Pria itu adalah Raziel, orang yang membuat hari Jinora menjadi hancur berantakan sedari pagi.
“Muka lu merah banget kaya tomat, nih minum” Kata Raziel setengah meledek sambil memberikan sebotol air mineral yang sudah terbuka.
Tanpa aba-aba Jinora langsung mengambil Air Mineral itu dan meneguknya sampai habis bahkan ia mengambil botol lain dari tangan Raziel dan lagi lagi meneguknya hingga habis. Orang yang mempunyai botol itu hanya tertawa kecil sambil tersenyum manis melihat tingkah Jinora.
Jinora mengelus elus perutnya lalu mengambil napas Panjang dan menghembuskan perlahan, menikmati beberapa waktu sebelum akhirnya bersiap siap mengatakan sesuatu di depan orang yang sudah merusak harinya itu.
“LU KEMANA AJA SIH! GUE NYARIIN LU YAH KELILING SEKOLAH!!” Teriak Jinora dengan sangat keras mungkin sangking kerasnya teman temannya di kamar mandi lantai 3 bisa mendengar teriakannya.
Mata Raziel membulat sempurna dan badannya mundur perlahan karena kaget dengan perubahan gadis di depannya itu. Bagaimana bisa gadis imut itu langsung berubah drastis menjadi sangat galak seperti Singa. Mungkin benar apa yang di katakan anak anak tongkrongannya kalua Gadis yang mencuri perhatiannya beberapa hari ini sebenarnya sangat galak dan menyeramkan.
Seperti yang teman temannya bilang, beredar berita bahwa dulu gadis manis ini pernah membuat seorang anak masuk rumah sakit karena di tendang bagian k*********a oleh Jinora. Pada saat itu Jinora sedang asik bermain permainan indah masa kecil Bersama teman temannya, kotak pos. Lalu tiba tiba anak itu muncul bersama kawan kawannya datang merusuhi permainan dan mengoda Jinora. Jinora yang lama lama kehilangan dengan sikap pria itu langsung bangkit dan menendang pria itu di bagian k*********a. Seperti itulah cerita teman temannya, bahkan saat menceritakan hal itu terlihat jelas raut muka serius dan merinding di wajah mereka.
“Kenapa emangnya? Suka suka gue dong” Balas Raziel datar lalu bangkit meninggalkan Jinora tetapi Jinora segera menarik tangannya. Sejujurnya Raziel agak takut dengan cerita itu, tapi ia tidak akan menyerah dengan gadis ini.
“KENAPA?! LU BILANG KENAPA? GEGARA LU GUE DI OMELI BU HESTI BERJAM JAM TERUS HARUS NYARIIN LU SAMPAI LUPA ISTIRAHAT PADAHAL SEKARANG UDAH JAM 1!” Teriak Jinora dengan perasaan kesal yang mengebu gebu. Ingin sekali rasanya ia menampar mulut kurang ajar Raziel. Bagaimana bisa ia berkata seenaknya begitu.
“So what? Yang di omelin kan lu, yang di suruh cariin gue juga lu, dan yang tersiksa jadinya lu bukan gue. Jadi ini bukan masalah gue, gue cuman jalanin aksi gue biar lu kena hukum” Ucap Raziel yang membuat darah Jinora semakin mendidih, bisa bisa anak itu dengan gampangnya berbicara seperti itu seakan akan tidak terjadi masalah. Dan apa dia bilang? Ia cuman menjalankan aksinya biar aku di hukum? Gila.
Sebelum Jinora mulai kembali meneriakan sumpah serapahnya kepada Raziel. Pak Joko sudah meneriakan pluitnya yang membuat keduanya langsung melihat ke sumber suara. Tanpa di sangka ternyata semua anak di kelasnya sudah turun dan berada di lapangan. Jinora berdecih pelan lalu menatap Raziel dengan tajam kemudian ikut berbaris di barisannya.
“Muka lu merah banget terus keringatan gitu, lu gak papa?” Tanya Arjuna yang melihat Jinora baru memasuki di barisan yang membuat dua temannya yang lain melirik ke arahnya.
“Gak papa cuman tadi makan seblak aja” Jawab Jinora datar dengan muka yang terlihat sangat muram seakan akan ada aura gelap mengelilinginya. Arjuna yang menyadari ada yang salah langsung dia dan bertanya dengan dua sahabatnya yang lain dengan memberikan kode. Eliza dan Irina hanya menaikan kedua pundaknya karena memang tidak ada yang tau mengapa sahabatnya tiba tiba terlihat sangat kesal.
Jinora kini memang terlihat sangat kesal dan marah, bahkan mungkin hampir semua orang tidak berani menyapa atau mengajaknya berbicara saat ini. Mukanya yang tadi merah semakin memerah karena memendam semua amarahnya, Ia tidak bisa langsung mengeluarkan semua amarahnya kepada si perusak harinya itu karena jarak barisan mereka terlalu jauh, jadi ia hanya bisa mengomel di dalam hati saja.
Jinora melirik tajam kearah Raziel lalu Raziel yang menyadari hal itu langsung menjulurkan lidahnya seperti meledek. Jinora semakin naik pitam tapi ia tidak bisa berbuat apa apa jadi ia hanya mengerutu kesal seperti sedang mengucapkan mantra. Sedangkan di sisi lain orang yang sedang di sumoah serapahi oleh Jinora malah senyum senyum seperti orang bodoh karena menganggap sikap gadis itu sangat lucu dan imut walau sedikit menyeramkan.