Prolog - Awal Pertemuan
Bekasi - 20 Agustus 2015
"Hai Nora"
Jinora membalas setiap orang yang menyapanya dengan senyuman singkat. Tidak seperti biasanya, Hari ini gadis itu terlihat sangat letih dan mengantuk walau matahari sudah bersinar terang di langit. Jinora memang terlambat bangun hari ini karena ia terlalu asik menonton serial kesukaannya semalam. Padahal hari ini adalah hari Senin, hari di mana ia harus berangkat lebih awal karena ada upacara bendera. Untung saja tadi malam hujan jadi lapangan sekolah basah, jadi gadis manis itu tidak jadi di jemur di lapangan karena terlambat.
Gadis itu memasuki kelasnya dengan pikiran kosong karena kantuk yang teramat sangat. Ia melempar tasnya ke atas mejanya lalu langsung menidurkan kepalanya yang terasa berat. Ia benar benar sangat lelah sekarang dan hal yang paling di butuhkannya hanyalah tidur sebentar sebelum Pak Fernan, wali kelasnya yang sangat galak itu menghancurkan pagi indahnya.
"Nor tau gak? Katanya ada anak baru ganteng bakal datang hari ini. Dengar dengar sih cowok itu dari bandung. Aahh, jangan jangan dia kaya Dilan di novel yang kemarin gue baca itu!" Ucap Irina, dengan histeris dan semangat membara sampai sampai semua pandangan orang mengarah kepadanya, namun ucapannya di abaikan oleh lawan bicaranya yang sedang fokus menyelami dunia mimpi.
Seperti biasa, gadis manis itu memang selalu menyukai pria tampan, dan dapat di pastikan anak baru akan pasangan barunya jika pria itu memang seperti yang orang katakan. Karena bukan Irina namanya jika tidak berhasil mendapatkan hati lelaki incarannya. Gadis itu memang terkenal akan kecantikannya, tak heran hampir semua lelaki tampan dan tenar di sekolah ini pernah menjadi pacarnya. Makannya selain terkenal dengan kecantikannya, gadis itu juga suka di cap sebagai Playgirl karena suka berganti ganti pasangan.
"Setampan apapun tuh cowok, mana mungkin nih bocah suka. Orang setampan gue aja cuman bisa jadi sahabat dia" Ucap Seorang pria yang baru dan langsung menimbrung percakapan. Lelaki menaruh tasnya di sebelah Jinora lalu memandang gadis yang sedang terlelap itu dengan penuh perhatian sambil tersenyum manis.
Pria dengan senyuman manis itu adalah Arjuna, sahabat baik Jinora sejak kecil. Ia sebenarnya memang menyukai Jinora sejak dulu. Namun sayang, entah sahabatnya itu terlalu tidak peka atau bagaimana, Gadis manis yang sedang ia tatap itu tidak pernah tau sampai sekarang tentang perasaannya. Walau sebenarnya hal itu terlihat jelas dari setiap sikap penuh perhatiannya terhadap Jinora, bahkan mungkin orang yang tidak mengenal mereka bisa langsung tau kalau salah satu dari mereka memiliki rasa yang lebih dari teman.
Sejujurnya tanpa Arjuna ketahui pun Jinora juga pernah menyukai. Jinora menyukai Arjuna pada saat awal awal pertemuan mereka. Awal pertemuan mereka sangat berbeda dari sekarang. Awalnya Jinora adalah seorang gadis kecil yang baru pindah dari Jakarta dan tidak mengetahui apapun tentang Bekasi, karena hal itu Arjuna suka meledekinya dengan sebutan ‘Anak Kota Norak’ dan mereka bertengkar hampir setiap hari seperti Kucing dan Anjing bahkan kakak kakak mereka sudah Lelah menghadapi pertengkaran kedua anak kecil itu.
Namun hal itu berubah saat Jinora mulai kembali bersekolah. Orangtua Jinora memilih sekolah yang sama dengan Arjuna karena sekolah itulah yang paling dekat dengan rumahnya, dan hal itu membuat Jinora akhirnya harus bertemu musuhnya setiap hari. Namun ternyata hal itu berbanding terbalik dengan ekspetasinya, di sekolah Arjuna lebih pendiam dan berlaku baik kepadanya. Jinora dan Arjuna pun menjadi sahabat seiring berjalannya waktu karena sering main dan pulang bersama. Pada saat itu sebenarnya Jinora menyukai Arjuna namun ia memendam dan melupakannya, sampai akhirnya ia menganggap hal itu adalah cinta monyet biasa.
“Lama lama Aku takut sama kamu Nor, lama lama kamu bisa belok beneran” Ucap Eliza yang baru selesai membaca buku tebal di tangannya. Gadis itu sengaja menganggu tidur sahabatnya denga menyentil dahi Jinora. Jinora langsung terbangun dan memegang dahinya yang terasa panas sambil berdecih kesal.
"Ish sakit Liza! kalo aku jadi pinter gegara sering sentil kamu sentil gimana? Nanti hidupku membosankan kaya kamu" Omel Jinora sambil mengusap usap dahinya sambil mengerucutkan bibirnya namun orang yang di omeli malah tertawa bahagia melihat sahabatnya sengsara.
Seperti percakapan mereka barusan, Jinora memang paling anti dengan percintaan dan laki laki. Bukannya tidak normal dan tidak ingin sendirian selamanya, namun ia benar benar malas mengurusi masalah percintaan. Karena kisah percintaan manis dan Bahagia itu menurutnya hanya dongeng belaka. Cinta menurut pandangannya itu hanya jatuh dan cinta. Bahagia lalu sakit, Datang lalu Pergi. Dan ia tidak butuh hal tidak berguna semacam itu.
Namun walaupun ia terlihat sangat malas berhubungan dengan masalah percintaan bukan berarti ia tidak pernah mencintai seseorang, bukan berarti ia tidak pernah jatuh cinta dengan seseorang. Ia hanya tidak pernah menceritakannya atau menunjukan hal itu kepada siapapun, bahkan sahabat sahabatnya.
Sebenarnya selain Arjuna, dulu ia pernah menyukai seseorang dengan sifat yang bertolak belakang denganya. Walaupun begitu ia sangat berjuang keras demi mendapatkan orang itu. Namun sayang, pria itu terlalu dingin dan tidak pedulu akan cintanya. Tepat sebelum Jinora menyatakan cintanya, Pria itu sudah jadian duluan dengan sahabat baiknya, Eliza. Sakit? Tentu saja, namun ia tidak punya hak untuk sedih ataupun kecewa karena ia juga tidak pernah di anggap oleh pria itu.
“Selamat pagi semuanya, bapak ingin memperkenalkan teman baru kalian” Ucap Pak Fernan, Guru kimia dan wali kelas XI- MIPA 1 yang tiba tiba sudah berdiri di depan kelas. Jinora mendengus kesal, gagal sudah rencananya untuk kembali berkelana di dunia mimpi.
Pak Fernan memberi kode kepada seseorang untuk masuk dengan melambaikan tangannya. Seorang pria bertubuh lumayan tinggi memasuki pintu kelas, seketika kelas menjadi sangat rebut dan berisik. Tetapi Jinora lebih memilih untuk kembali menidurkan kepalanya di atas meja sambil memainkan handphone dari sakunya.
“Semuanya diam! Silakan perkenalkan diri kamu nak” Teriak Pak Fernan memukul meja dengan keras yang membuat kelas hening seketika.
“Hai, Gue Raziel. Salam kenal” Ucap Pria itu memperkenalkan diri dengan singkat. Kelas seketika kembali ramai karena perkenalan aneh Raziel. Jinora pun langsung mengalihkan perhatiaannya ke pria itu, baru kali ini ada seseorang seberani itu bercanda saat guru killer yang sekaligus menjabat sebagai wali kelasnya itu sedang berada di sebelahnya
“Jangan gitu, yang lengkap nak. Nama, Sekolah lama, Umur, Hobi juga bisa. Terus bahasanya juga yang sopan” Tegur Pak Fernan membuat orang yang di tegur hanya bisa mengusap usap kepalanya dengan ekspresi bingung.
“Baik saya ulang, perkenalkan nama saya Raziel Sadeli Kamandaka atau bisa kalian panggil Raziel. Saya dulu sekolah di bandung lalu pndah kesini karena bosen di bandung cuman di kasih makan baso aci terus uy. Saya sudah pasti seumuran sama kalian semua, karena kalo enggak gak mungkin saya masuk kelas ini kan? Hobi saya makan, tidur, dan bernapas. Salam kenal” Kata Pria bernama Raziel itu mengulang perkenalannya yang sebenarnya lebih seperti bercandaan, walau terlihat jelas ia mencoba keras menutupi aksen sundanya dengan Bahasa formal.
“Huft, baiklah. Silakan duduk di tempat yang kosong Raziel. Oke, anak anak hari ini saya ada urusan jadi saya akan kasih tugas saja hari ini” Ucap Pak Fernan meminta Raziel duduk lalu menulis tugas yang akan ia berikan di papan tulis.
“Oke, dia target gue selanjutnya. Ganteng terus mirip Dilan lagi, idaman banget” Ucap Irina dengan mantap sambil menatap pria yang sedang mencari-cari bangku kosong di belakang.
Jinora memutar matanya malas lalu ikut menatap Raziel yang kini sudah duduk dan berkenalan dengan anak laki laki lain di kelasnya. Kalau di perhatikan dengan jelas pria itu memang lumayan tampan dan atletis. Tubuh pria itu lumayan tinggi dan berotot, ia juga memilik paras menawan dengan rahang yang lumayan tegas, kulitnya berwarna sawo matang namun tidak membuat ia tampak dekil malah membuatnya eksotis.
Jinora yang tanpa sadar memperhatikan Raziel langsung tersadar saat kedua manik mereka bertemu lalu Raziel langsung tersenyum kepadanya. Namun Jinora tidak membalas senyuman itu dan malah langsung membuang muka. Gadis itu merutuki dirinya karena sikap bodohnya lalu lebih memilih untuk kembali menyelami dunia mimpi walau pipi terasa sedikit panas.
“Imut juga? Menarik ” Pikir Raziel yang awalnya sedikit kaget dengan sikap aneh Jinora namun rasa bingung itu berganti dengan rasa penasaran yang mengisi kepalanya sekarang sekarang.