Luka
Tak ada yang tahu kemana cinta akan bermuara, di saat kita menyadari bahwa ternyata cinta lebih banyak memberi luka daripada menguntai tawa. Laila memahami itu sejak awal, tetapi ia selalu percaya jika lelaki itu berbeda.
Pertemuan setahun lalu, di sebuah acara fashion show yang digelar perusahaan di bidang fashion sekaligus brand ternama, MOA, tempat Laila bekerja sebagai salah satu fashion designer, membuat perempuan itu terpesona akan kharisma yang dimiliki Mirza Kalandra Djaya.
Lelaki matang berusia dua puluh tujuh tahun itu adalah pemilik perusahaan ternama, PT Kalandra Djaya yang bergerak di bidang manufaktur tekstil. Satu-satunya perusahaan yang mensponsori acara yang digelar oleh MOA.
Dari sanalah mereka bertemu, berkenalan, dan menjalin hubungan khusus. Laila yang polos, begitu terpikat akan ketampanan yang dimiliki Mirza. Cinta yang ditawarkan lelaki itu menjadi alasan untuk tetap bersama, meski luka akan datang seiring hubungan mereka berjalan.
Enam bulan menjalin kasih, ternyata tak bisa menjamin bahagia selamanya. Mirza yang lebih disibukkan dengan pekerjaannya yang bolak-balik luar negeri, membuat Laila menyadari, jika hubungan mereka takkan mudah. Namun, ia masih terus menikmati kisah cinta yang tak biasa.
"Apa kau mau melewati malam ini denganku, Sayang?" bisik Mirza sepulang mereka dari acara fashion show yang digelar perancang busana ternama tanah air.
Mobil Mercedez Benz S-Class milik wajah tampan rupawan itu masih terparkir di halaman Grand Hyatt, Jakarta. Suasana sudah cukup sepi, sehingga mereka bisa leluasa mengobrol sebelum memutuskan untuk pulang.
Laila ragu. Sisi hatinya mengatakan ingin selalu bersama lelaki itu, tetapi sisi lainnya menolak. Ia tak mau terjerumus dalam nista sebelum ikatan suci pernikahan. Namun, Mirza seakan menggoda dengan tatapan penuh gairah dan senyum yang selalu membuatnya terpesona.
Apalagi saat lelaki itu mulai mengelus kepala perempuan dengan rambut panjang tergerai, lalu mencium bibirnya lembut. Laila menikmati sensasi gelenyar di perutnya. Sepasang netra bening itu mengatup, merasakan kenikmatan yang diberikan kekasihnya.
Malam itu, menjadi malam panjang bagi pasangan yang saling jatuh cinta. Namun, keduanya seakan lupa akan dosa. Dipenuhi gairah yang tak berkesudahan, Laila pun memutuskan ikut ke apartemen lelaki itu.
Berkali-kali mereka melakukannya. Di mana ada kesempatan, di situ keduanya tak bisa menahan rasa yang tengah bergejolak. Laila dan Mirza lupa, jika cinta mereka sudah berjalan di luar batas.
Kerinduan yang selalu diuntai dalam hati, tak bisa segera untuk dituntaskan kala lelaki itu datang dari Filipina setelah menandatangani proyek kerja sama dengan perusahaan tekstil di sana. Laila gundah, karena sang kekasih tak kunjung menghubunginya. Padahal, biasanya tak memakan waktu lama, Mirza sudah mengunjungi rumahnya.
Lelaki itu seketika tak menganggapnya ada. Laila seperti orang asing yang baru saja dikenal. Membuat perempuan itu hanya bisa menangis dalam senyap.
Diebannya lengan Laila kala hendak meraih tangan lelaki itu. Mirza seakan tak peduli dengan linangan air mata yang penuh pengharapan. Ia berjalan gontai dengan wajah dingin dan rahang yang mengeras.
"Kau benar-benar tak mengenaliku, Mas?" teriak Laila yang merasa diabaikan kekasihnya dalam sekejap saja.
Lelaki dingin itu berhenti. Diam sesaat, mengepalkan sebelah tangan menahan amarah. Ia merasa terganggu dengan kedatangan Laila yang mengaku sebagai kekasihnya itu. Berbalik menghadap perempuan yang berdiri tak jauh di hadapannya.
Masih dengan tatapan penuh kesal, Mirza menghampiri Laila. Menatap ke dalam iris hitam perempuan berambut panjang itu. Sejenak, pandangan mereka mengalirkan rasa yang berbeda di antara keduanya.
"Sudah aku bilang, aku tak pernah mengenalmu. Aku tak tahu, kenapa kau mengaku-ngaku sebagai pacarku. Jika kau terus-terusan bersikap seperti ini, aku tak akan segan melaporkanmu atas tindakan yang tidak menyenangkan," ujarnya dengan amarah yang meluap.
"Aku pun tak tahu, kenapa dalam waktu lima hari saja, kau tidak mengenaliku sama sekali. Kau lupa jika aku adalah perempuan yang kau cintai?" Laila tak kalah meyakinkan kekasihnya.
"Apa buktinya jika aku adalah pacarmu?"
Laila terdiam. Ia tak bisa membuktikan hal itu. Selama berhubungan dengan Mirza, tak sekali pun mereka foto berdua, seperti kebanyakan orang yang memadu kasih, mengabadikan momen kebahagiaan mereka dalam sebuah kenangan berupa foto.
"Kau tak bisa membuktikan itu, kan? Bagaimana aku bisa mempercayaimu, Nona?"
Laila bergeming. Bulir bening terus saja mengaliri pipinya yang putih. Ia tak bisa berbuat apa-apa untuk meyakinkan Mirza, jika mereka memiliki hubungan khusus.
Kini, luruh sudah harapannya. Jalinan kasih yang mereka bina selama ini, harus kandas begitu saja. Ada apa dengan Mirza? Kenapa lelaki itu tak mengenalinya setelah pulang dari luar negeri?
Beberapa hari setelahnya....
Laila berlari menyusuri koridor rumah sakit Medika, tempat ibunya dirawat karena hipertensi yang sudah diderita selama dua tahun belakangan ini. Setelah menanyakan nomor ruangan ke bagian administrasi, perempuan itu tergesa-gesa ingin segera sampai di sana.
"Ibu ...," panggilnya lirih setelah melihat keadaan perempuan yang telah melahirkannya itu tampak terbujur lemah di atas ranjang.
Sang ibu hanya tersenyum melihat kedatangan putri semata wayang. Diraihnya tangan yang sudah menujulur. Digenggam erat seakan tak ingin terlepaskan.
"Ibu baik-baik saja, Nak. Maaf, sudah membuatmu khawatir," ucap Ratna dengan seulas senyum yang mampu sedikit menenangkan perasaan Laila.
"Kau tidak bersama Mirza?"
Pertanyaan Ratna membuat hati Laila kembali mencelus. Sejak pertemuan terakhirnya dengan Mirza tiga hari lalu, ia memang belum bisa melupakan perbuatan lelaki itu yang tiba-tiba tak mengenalinya.
Setelah perang yang bergejolak dalam hati, Laila memutuskan untuk melupakan hubungan yang pernah terjalin di antara mereka. Namun, ketika kenyataan bahwa dua garis merah tergambar jelas di test pack yang sengaja ia beli di apotik setelah merasakan ada gejala aneh yang terjadi padanya, ditambah dengan telah lewatnya masa haid yang biasa datang di awal bulan, membuat perasaan perempuan itu kian tak karuan.
Panik, takut, sedih, dan terluka, tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Bahkan, saat sahabat baiknya di kantor, tempat ia biasa mencurahkan segala rasa dan lara menanyakan keadaanya yang terlihat murung dan kusut, Laila hanya menggeleng lemah.
Dunianya terasa gelap seketika. Bagaimana bisa menghadapi sekelilingnya saat tahu ia berbadan dua? Lelaki yang seharusnya bertanggung jawab atas buah kesalahan yang mereka lakukan, malah mengaku tak pernah mengenalinya. Akankah Mirza mau mengakui anak yang kini mulai tumbuh di rahimnya?
Kepolosannya telah merenggut masa depan yang tengah Laila bangun dengan kehadiran calon manusia baru. Kepalanya dipenuhi berbagai pikiran yang datang silih berganti. Argumen yang kian menyesakkan di dalam otak, menimbulkan psikosomatis terjadi pada perempuan tinggi semampai itu. Selain morning sickness yang dialami, degup jantungnya pun terasa berpacu lebih cepat.
"Jadi, kamu hamil?" tanya Vania sesaat setelah pemeriksaan dokter.
Laila kedapatan pingsan di kantor saat jam makan siang. Vania pikir karena sahabatnya itu terlalu memikirkan hubungan dengan Mirza. Namun, saat ia membawa perempuan itu ke klinik dan dokter mengatakan jika kondisi ibu dan bayinya baik-baik saja, kontan membuat asumsi seketika berubah.
"Jadi, anak ini adalah anak Mirza?" Vania bertanya lagi. Ia seakan tak percaya dengan kenyataan, jika sahabatnya tengah mengandung anak dari lelaki yang bukan hanya mencampakan, tetapi juga mengaku tak pernah mengenali perempuan itu.
Laila hanya mengangguk. Wajahnya begitu pucat. Tak ada seulas senyum yang biasa diperlihatkan setiap kali mereka bersama.
"Apa yang sekarang akan kau lakukan?" Ingin sekali Vania bicara mengenai pendapatnya. Namun, ia akan mendengar terlebih dulu apa yang ada dalam pikiran perempuan itu.
Tak ada tanggapan. Laila seperti tengah asyik dengan dunianya sendiri. Tatapan itu terlihat menyimpan beban yang teramat berat. Sebagai sahabat, Vania memahami masalah yang kini tengah dihadapi perempuan itu. Namun, ia pun tak bisa berbuat apa-apa, selain memberikan saran terbaik.
"Laila ...."
"Aku akan membesarkan anak ini sendiri," ucap perempuan itu pasti. Kedua netranya terlihat sendu dan menyimpan luka yang dalam.
"Kau harus mengatakannya pada Mirza," ucap Vania meminta sahabatnya bicara jujur pada lelaki itu.
"Apa yang bisa diharapkan dari lelaki yang tak mengenaliku? Apa kau pikir, Mirza akan mau mengakui bayi yang ada dalam kandunganku ini sebagai anaknya?"
"Kau belum mencobanya, Laila."
Perempuan itu tersenyum sinis, lalu menunduk. Selama beberapa saat, ia larut dalam pikirannya, membuat Vania harus menyentuh lembut pundak itu.
"Laila, aku akan menemani masa-masa sulitmu. Kau coba dulu mengatakan kenyataan ini pada Mirza, ya?"
Laila menggeleng.
"Tolong, janganlah bersifat degil, Laila. Apa kau sudah siap menghadapi kenyataan atas kehamilan tanpa suami?"
"Aku akan pergi dari kota ini. Jauh ke tempat di mana tak ada seorang pun yang akan mengenaliku."
"Dengan ibumu? Apa dia mau?"
Perempuan itu terlihat gelisah. Ia mulai bimbang saat mengingat tentang ibunya. Kembali nyeri merayap hati yang kian rapuh.
"Laila ...."
Sentuhan lembut sang ibu membuyarkan lamunan Laila seketika. Dilihatnya perempuan penuh kasih itu. Bagaimana mulai mengatakan kenyataan kalau kini ia tengah mengandung?
Laila mendesah.
"Mas Mirza sedang ke luar kota, Bu," ujar Laila berbohong. Hanya itu satu-satunya alasan yang terlintas. Ia belum siap mengatakan kebenaran yang terjadi. Apalagi harus jujur dengan keadaannya saat ini.
Sang ibu hanya mengulas senyum. Laila mencoba memperlihatkan bahwa ia baik-baik saja, padahal dalam hatinya bergemuruh tak menentu. Belum saatnya memberitahukan kenyataan, meski ingin sekali berlabuh dalam pelukan hangat menenangkan milik perempuan itu.