~Kepercayaanku telah hancur ibarat kepingan kaca~
Jihan memutuskan pulang ke rumahnya membawa Lili, bocah itu sudah tertidur sejak perjalanan pulang. Jihan terperenyuk di lantai kamarnya, ia tak bisa lagi menahan air matanya lagi terus mengalir. Hatinya hancur beribu kepingan ranting kecil yang berserakan tak berdaya.
Sebodoh inikah Jihan meletakan perasaannya sendiri, sesak menyelimut d**a wanita itu. Berulang kali patah hati, menghancurkan kepercayaannya saat ini. "Tega kamu lakukan ini, Mas. Salah aku apa? Sakit hati aku, Mas." Lirih Jihan sendiri tersayat luka yang tak berdarah.
"Astaga.. non, ada apa? Kenapa non Jihan nangis seperti ini." Bi Surti hendak membersihkan kamar Jihan, ia pikir Jihan belum pulang. Tapi saat masuk ia melihat Jihan sudah terduduk di lantai dengan make upnya yang sudah berantakan, tambah lagi air mata yang membasahi pipinya.
Jihan memeluk Bi Surti, ia tak tau lagi harus mengutarakan rasa sakitnya ini pada siapa, dia tnxa bisa percaya pada Bi Surti yang sudah ia anggap seperti sendiri. "Bi, Mas Alif. Hiks.. Hiks.." Ringis Jihan pada Bi Surti.
"Non, kenapa? Cerita sama bibi. Enggak baik memendam rasa sendirian, non." Ucap Bi Surti mengelus punggung Jihan. Bi Surti tak tega melihat Jihan yang nangis pilu seperti itu.
"Mawar hamil, bi. Mereka baru menikah tapi kenapa Mawar sudah hamil 3 bulan, bi. Hancur hati Jihan, Bi. Hiks." Kata Jihan dengan getir melepaskan pelukannya pada bi Surti.
"Non Jihan yakin?" Jihan semakin trenyuh hatinya.
"Jihan dengar sendiri dari dokter, bi. Hancur semua kepercayaan Jihan pada Mas Alif." Jihan kini meletakkan kepala di atas paha Bi Surti.
"Kalau non Jihan nggak kuat, nyerah aja, non. Daripada non Jihan sakit terus menerus." Bi Surti tau betul bagaimana kebahagiaan kedua orang ini dulu sebelum masalah melanda pada hubungan mereka.
Walaupun belum memiliki anak, tapi mereka saling mencintai, dan saling menjaga perasaan. Sampai petir mendatang pada keduanya, hari itulah awal mula Mawar membuat hancur semuanya.
"Jihan mencintai takdir Jihan, Bi. Jika memang Allah sudah takdirkan mas Alif hidup bersama Jihan, pasti rencana Allah lebih indah, Bi."
"Ya Allah, Non. Baik banget sih jadi perempuan. Udah disakiti masih aja bertahan. Padahal Pak Alif sudah jelas lukai non Jihan."
"Enggak papa, Bi. Doain aja Jihan bisa ikhlas." Gumam Jihan mengusap air matanya.
Syukurnya setelah bercerita dengan Bibi Surti, Jihan sedikit lega. Perasaannya ia sudah lebih membaik, ia pun mengusap.air matanya beralih menatap Lili, harusnya ia bertemu dokter untuk konsultasi keadaan Lili tapi karena bertemu Mas Alif tadi ia terpaksa menundanya.
"Loh ini anak siapa, Non?" Tanya Bi Surti penasaraan melihat Lili yang masih tertidur pulas.
"Anak teman Jihan, Bi. Lucu ya?"
"Iya non, cantik lagi."
"Bi, soal yang tadi, hmmm... Jangan cerita Mas Alif ya. Jihan mohon ya, Bi."
"Iya, non. Tenang aja."
Setelah keluar Bi Surti, Jihan bermain dengan Lili yang sudah terbangun. Bahkan Jihan tak sadar jika sudah mulai senja. "Astaga Lili ternyata sudah sore! Lili, temani amma masak yuk, nanti om Alif pulang." Seru Jihan pada Lili membuat anak itu tertawa geli.
"Lili kok tawain ammah?" Serunya lagi sambil menggendong Lili menuruni anak tangga.
Jihan meminta Bi Surti untuk menemani Lili bermain di kamarnya, karena kalau Mawar dan suaminya. Mawar pasti banyak tanya Lili, Jihan malas harus bicara pada merek berdua. Walau pun hatinya masih sangat hancur saat ini, ia tetap melakukan kewajibannya memasak untuk Alif suaminya. Jihan memasak apa yang ada di dapur, karena isi kulkas sudah hampir kosong. Jihan lupa jika ia belum berbelanja, biasanya memang hanya Jihan yang berbelanja keperluan dapur, sebab ia juga memasak, itu kenapa dia lebih memilih pergi sendiri daripada menyuruh bi Surti.
Jihan membersihkan ayam yang mau di masak sop olehnya, kemudian ia memotong beberapa sayur. Di selang ia memasak, Jihan mendengara deruhan suara mobil Alif suaminya. Sekarang Jihan bingung harus bersikap seperti apa di hadapan Alif yang telah menimbunkan luka dihatinya.
Alif baru keluar dari mobilnya, ia tersenyum melihat mobil istrinya sudah tertata rapih di halaman rumahnya. Ia sempat pikir jika Jihan akan menginap lagi di rumah orang tuanya. Nyatanya istrinya pulang membuat Alif menghembuskan napas lega. Ia bahkan tak perduli pada Mawar yang berdiri di sampingnya, pria itu tergesa memasuki rumah mencari keberadaan Jihan. Mencium bau aroma masakan yang wangi, Alif yakin Jihan berada di dapur. "Assalamualaikum." Ucap antusias Alif.
"Walaikumsalam." Jawab dingin Jihan membuat Alif terhentak. Rasanya belum pernah Jihan bersikap dingin padanya. Meski biasa Alif membuatnya kesal, Jihan tetap menghormatinya sebagai suami.
Mawar berjalan mengekori Alif, dengan muka yang masam Mawar menatap Jihan seolah ingin mencabut nyawanya. "Mas, kamu buru-buru banget. Aku capek tau." Protes Mawar yang di tinggal Alif.
"Kalau capek kamu bisa balik ke kamar kamu 'kan." Komentar Alif membuat Mawar sangat marah, hingga sengaja ia mengeliut pada Alif.
"Tapi, aku maunya ke kamar bareng kamu, sayang." Ucap genit Mawar membuat Jihan menghempaskan napas panjang. Jihan berusaha tidak melihat apa yang dihadapannya, ia menyibukan dirinya dengan bahan masakan.
"Mawar! Kamu masuk duluan aku ingin bicara dengan Jihan." Mawar menghentakan kakinya kesal lalu pergi, tanpa perduli diriya yang tengah hamil.
Alif meletakan tas kerjanya di atas counter kitchen, biasanya Jihan selalu menyambutnya pulang dengan hangat, bahkan tas kerjanya wanita itu yang selalu mengambil dari tangan Alif. Padahal tadi pagi sikap Jihan masih biasa saja dengan dirinya. "Aku pikir kamu nggak pulang lagi hari ini." Ujar Alif.
"Buktinya aku pulang 'kan." Ketus Jihan membuat Alif semakin tak menentu dengan perubahan sikap dingin Jihan.
"Jihan, aku mau mandi setelah masak kam---"
"Kamu punya istri dua, kamu suruh Mawar aja yang siapkan air panas kamu." Potong Jihan. Tak dapat membuat Alit berkata-kata lagi.
Setelah mendengar ucapan Jihan, Alif pergi meninggalkan Jihan, air mata pun kembali menetes ketika Alif melangkah pergi. Pria itu menuju ke kamarnya, Alif kaget melihat Lili anak temannya Jihan. 'Jadi Lili mash disini.' ucap Alif ketika melihat Lili.
"Pak Alif, sudah pulang?" Ucap Bi Surti sambil merunduk hormat.
"Bi Surti boleh keluar, biar saya yang jaga Lili."
"Baik, Pak." Bi Surti meletakan Lili bermain sendiri. Ketika Bi Surti hendak keluar kamar, Alif menghentikannya.
"Bi, tunggu saya mau bertanya." Gumam Alif menatap Bi Surti tanpa ekspresi apapun. Membuat Bi Surti yakin pasti Alif ingin bertanya tentang istrinya.
"Tanya apa ya, Pak?"
"Bibi tau Jihan kenapa? Sikap Jihan tidak seperti biasanya." Gusar Alif berharap mendapat jawaban dari Bi Surti tentang perubahan Jihan padanya.
"Enggak tau, Pak." Alif mendengus lemah, pria itu yakin suatu terjadi pada Jihan. "Apa ada yang lain lagi, Pak?"
"Enggak ada, bibi boleh pergi. Makasih ya." Sebenarnya Bi Surti sedikit ragu jika Alif berbuat seperti apa yang Jihan katakan. Setaunya Alif sangat mencintai Jihan, waktu meminta menikah lagi, bibi bahkan melihat sorot mata penyesalan.
Tak lama Bi Surti keluar, Jihan masuk kamarnya. Wanita itu sama sekali tidak tersenyum pada suaminya. Jihan butuh waktu menjedakan rasa sakitnya. Dia lebih memilih menghampiri Lili yang bermain. "Mimimimi.." celoteh Lili, walau belum lama bersama Lili, Jihan paham yang Lili minta.
"Lili, mau minum s**u. Ammah bikin dulu ya." Jihan mengambil botol s**u Lili, untungnya ia sudah menyiapkan termos air untuk membuat s**u, hingga ia tak perlu ke dapur lagi.
Alif mendekati Jihan, melihat sikap Jihan hancur seperti sekarang membuat hati Alif terluka. "Jihan, aku mau bicara sama kamu."
"Kamu belum mandi 'kan. Lebih baik kamu mandi di kamar Mawar sana, aku mau istirahat sebentar." Ucap Jihan dengan dingin.
"Jihan, kamu marah sama aku?" Lontar Alif sama sekali tidak membuat Jihan menggubris perkataan Alif.
"Sudah ya, Mas. Aku capek hari ini, lebih baik kamu ke kamar Mawar sana."
Alif berpikir sepertinya Jihan sangat marah padanya. Dia sama sekali tak tau apa yang membuat Jihan semarah ini padanya. Alif keluar memberikan waktu untuk Jihan lebih tenang agar nantinya bisa bicara dengannya.