Bab 7

1049 Kata
~Letak Rasa Sakit Telah Menerkam Ulu Hati~ Jihan meminta tolong Bi Surti menyiapkan makan malam untuk Alif, ia masih enggan untuk bicara atau berhadapan kedua orang ini. Jihan lebih memilih untuk bermain dengan Lili. Karena Jihan tidak tau bagaimana meletakkan rasa sakit itu sendiri. Tok.. Tok.. Tok.. Jihan berpaling pada pintu yang tertutup rapat, ia yakin itu Bi Surti yang mengantar makan malam untuknya. "Masuk aja, Bi." Sahut Jihan. Wanita itu tergemap menatap sosok yang masuk ternyata suaminya sendiri. Jihan terpaksa membiarkan Alif masuk. "Kamu belum makan? Aku bawain makanan untuk kamu." Ucap Alif meletakan makanan diatas meja kamar mereka. "Makasih." Kata Jihan sambil melirik pria itu. Alif mendarat menduduki tubuhnya di ranjang. "Biar aku yang jaga Lili, kamu makan dulu. Kalau dingin nggak enak." Gumam Alif meraih Lili, langsung dirampas Jihan. "Enggak usah! Tunggu Lili tidur aja." Ketus Jihan membuat Alif menghempaskan napas panjangnya. Sepertinya Alif harus bicara hati ke hati pada Jihan, ia tak tahan melihat sikap Jihan yang seperti sekarang. Alif mengambil piring berisi nasi dan lauk yang Jihan masak, lalu ia mendaratkan sendok pada mulut Jihan. "Aaaaa.. makan! Biar aku suapkan." "Apaan sih, Mas. Aku bisa sendiri." Protes Jihan pada Alif. "Kamunya keras kepala. Sayang, aku nggak mau kamu sakit. Aaaaa!" Paksa Alif yang membuat Jihan tak bisa menolak, pasalnya Alif sudah menyodorkan nasi dihadapannya. "Hmmm.. gitu dong." Jihan tak mengerti, Alif tampak masih sangat mencintainya. Tapi kenapa Alif tega melakukan hal buruk diluar batas dengan Mawar. Apa ini juga alasan Alif menikahi Mawar. "Udah ya! Biar aku suap sendiri." Ucap Jihan kesal sekaligus mengambil piring di tangan Alif. Tidak ada senyum mengembang di bibir Jihan, ia memilih makan dengan cepat agar bisa menggantikan posisi Alif yang bermain dengan Lili yang terlihat jelas mata anak kecil sudah sayu. "Sepertinya Lili mengantuk, sayang. Aku tiduri dia ya." "Hmmm.." Hanya suara deheman yang terdengar dari telinga Alif. Laki-laki itu membaringkan Lili, lalu menepuk pelan p****t Lili agar cepat tertidur. Jihan tersenyum tipis karena Alif meniduri Lili seperti dirinya. Apalagi Alif memperlakukan Alif dengan baik. Jihan lalu teringat sebentar lagi Alif akan memiliki anak, pedih rasanya hati Jihan. Ia belum sepenuh ikhlas dengan semua ini. Jihan selesai makan, ia meneguk minum. Kemudian ia duduk bersender disamping Lili. "Mas, aku udah selesai. Kamu balik kamar kamu. Makasih ya." Ucap Jihan. Alif menggeleng tak percaya, sejak kapan ia pisah kamar dengan Jihan. Hingga ia harus pergi dari kamarnya sendiri. "Jihan, ini kamar kita. Aku harus balik ke kamar yang mana?" Jihan mengigit bibir bawah, kenapa ia melontarkan kalimat yang malah membuatnya bodoh dihadapan suaminya sendiri. "Kamar istri muda kamu." Celetuk Jihan tepat sasaran. Alif tidak tau kenapa Jihan seperti sangat marah, terlihat jelas dari sorotan mata yang seakan mengintimidasi dirinya. Dulu saat meminta izin menikahi Mawar, Alif sangat gelisah dihantui rasa bersalah pada Jihan. Istrinya sampai tidak bicara selama seminggu padanya. Untuk pertama kalinya ia melihat Jihan patah hati karenanya. Tapi yang membuatnya tak mengerti, Jihan menyetujui pernikahan itu, ia bingung sendiri terbuat dari apa hati Jihan, hingga tidak runtuh mendapat ombak menghantam rumah tangga mereka. "Jihan, kamu marah sama aku? Kalau memang iya, jelaskan salah aku, jangan diam. Karena diam nggak bisa selesaikan masalah." Ucap Alif pada Jihan. Wanita membelakangi tubuhnya, ia tak kuat menatap Alif lagi, untungnya ada Lili sebagai pembatas mereka. "Sudahlah, Mas. Aku capek, mau tidur." Alif memanjangkan leher memastikan apa Jihan ingin tidur. Alif tersentak ketika melihat istrinya mengusap air matanya berulang kali. Alif turun dari ranjang dengan pelan, ia mendekati Jihan, pria itu tak ingin berlarut Jihan marah padanya. Kemudian diam-diam ia sudah berada di hadapan Jihan, membuat Jihan terjenggit. "Kamu ngapain di situ?" "Lihat istri aku nangis. Sekarang jawab ada apa?" Ucap Alif dengan raut muka datar. Ia berjongkok menatap Jihan di sisi ranjang. Bukannya menjawab, ia justru semakin terisak. Rasanya bibir Jihan berat sekali untuk mengatakan kesalahan suaminya, padahal sudah jelas hatinya sangat terluka. "Jihan, kalau kamu diam masalah nggak akan selesai. Dan aku juga nggak tau salah aku apa?" Timpal Alif berharap mendapat jawaban dari sang pengisi hati. Jihan membenahi tubuhnya, ia duduk bersender di ranjang, sambil menghapus air matanya, kemudian ia menghembuskan napas panjang. "Aku tadi kerumah sakit, mau check up rutin jantung Lili." Akhirnya Jihan mengeluarkan suaranya. "Lili kenapa?" "Lili punya penyakit lemah jantung dari lahir. Hari ini Lili melakukan konsul pada dokter." Jelas Jihan lalu kembali meneteskan air mata, bagaimana ia melanjutkan penjelasan yang telah mengetahui alasan Alif menikahi Mawar. "Lalu?" "Aku lihat kamu di rumah sakit bersama Mawar, aku udah tau jika Mawar hamil sudah tiga bulan. Hiks." Alif terteguk mendengar penjelasan Jihan, sekarang ia paham kenapa Jihan bersikap sangat angkuh padanya. "Kamu bisa jelaskan, mas. Kenapa Mawar bisa hamil 3 bulan." Rasanya Jihan tak bisa menahan tangis yang siap menopang di pipinya. Alif merengkuh kedua tangan Jihan. "Aku minta maaf." Lirih Alif tak sanggup menatap mata Jihan. Melihat Jihan terluka melihat jantung remuk, apalagi dia menjadi alasan Jihan terluka. "Jadi ini alasan kamu menikahi Mawar, mas. Kenapa? Apa aku tidak baik melayanimu di ranjang hingga begitu mudah kamu lakukan itu bersama Mawar. Hiks.. Hiks.." "Bukan seperti itu, Jihan." "Lalu seperti apa, Mas. Aku pikir kamu menikahi Mawar karena ingin memiliki anak, merasakan jadi seorang ayah tapi kenyataannya kamu telah melakukan sebelum kalian menikah. Sakit hati aku, Mas." Jihan menepis tangan Alif, untuk pertama kalinya Jihan berani bersikap kasar melawan Alif. Alif memeluk Jihan, namun Jihan memberontak memukul punggung Alif untuk melepaskan pelukannya. "Lepaskan aku, Mas." Ucap Jihan menerka. "Aku mohon jangan tinggalkan aku, Jihan. Aku sangat mencintaimu. Berikan aku kesempatan." Jihan tersenyum getir mendorong Alif. "Cinta? Kalau kamu mencintaiku tidak akan ada Mawar di antara kita. Aku mencoba ikhlas dengan semua ini, Mas. Tapi ternyata aku manusia biasa, mas. Bisa marah dan sakit hati. Hanya saja aku mencintai takdir yang Allah berikan padaku." Alif sudah tersudut, ia benar-benar tak menyangka Jihan bisa semarah ini. Ia sangat mengenal Jihan yang lembut dan menghormatinya sebagai suami. Alif terdiam, ia mencoba memeluk Jihan kembali, namun dengan cepat Jihan menjauh dari Alif, ia turun dari ranjang. "Aku yang bersalah, maafkan aku. Jangan bersikap seperti ini padaku, Jihan." "Jadi menurutmu aku harus menanggapi semua ini seperti apa, mas." Suara Jihan terdengar parau. Alif menarik tangan Jihan, lalu menjatuhkan Jihan kepelukannya. "Maafkan aku. Maaf." Hanya kata-kata itu yang mampu Alif katakan. Karena ia sudah menanamkan gores dihati Jihan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN