Bab 8

1075 Kata
~Kata Maaf Tidak Bisa Menyembuhkan Luka Hati~ Kata Maaf masih tergiang di telinga Jihan, sudah seminggu berlalu kejadian Alif meminta maaf padanya. Jihan tak bisa dengan mudah memaafkan Alif setelah semua yang terjadi. Sekarang ia justru semakin kesal, saat turun dari kamarnya ia melihat Mawar duduk santai di depan televisi dengan beberapa cemilan di nakas hadapan belum lagi kutik yang berserakan. Jihan selama ini menjaga kebersihan rumah namun wanita tak tau diri ini membuat rumahnya berantakan. "Mawar! Saya minta tolong jangan buat rumah saya berantakan." Tegur Jihan menatap kesal pada Mawar. Jihan tidak ingin selalu di injak Mawar setiap saat, ia memiliki harga diri. Dan sekarang ia akan menunjukan sikap tegas pada Mawar. "Mbak Jihan sayang ini juga rumah saya, Lupa? Hah?" Sahut Mawar enteng masih menggenakan kutik di kukunya yang lentik. Astagfirullah... Jihan beristigfar berulang kali, Jihan lelah berhadapan dengan Mawar, tapi jika Mawar di biarkan, pasti akan seenaknya pada Jihan. "Saya minta kamu bersihkan semua ini." Geram Jihan, malah mendapat senyum miris dari Mawar. Mawar bangkit dengan berani menantang Jihan, ia tak perduli dengan Jihan yang nyonya besar di rumah ini. "Dengar ya! Saya juga nyonya di rumah ini, kalau mbak nggak suka dengan kehadiran saya, Mbak aja yang pergi. Lagi pula mbak itu nggak guna jadi istri, MANDUL. nggak bisa bahagiakan suami." Penuturan kasar Mawar telah mampu melukai hati Jihan, kesabaran Jihan seakan sudah habis, ia hendak menampar Mawar, namun tangannya terhenti. Jihan sadar ia tidak boleh melakukan hal buruk, kalau begitu bukankah sama saja dia seperti Mawar. d**a bergemuruh menahan amarah yang memuncak. "Kenapa gak jadi? Silakan tampar." Tantang Mawar membuat Jihan memilih meninggalkan Mawar. Mawar tersenyum puas dengan kemenangannya sendiri. Untuknya Jihan bukan apa-apa. Dia berpikir, kelak dialah yang akan menjadi nyonya besar rumah milik Alif. Jihan menangis hendak kembali ke kamar, ia tidak mandul. Kata-kata Mawar membuat Jihan sangat kesal dan marah. Selama ini Jihan selalu sudah sabar dan bersikap baik pada Mawar, tapi sepertinya Mawar tidak bisa bersikap baik padanya. Lagi pula Jihan selalu rutin setiap bulan bersama Alif mengontrol kesuburan mereka berdua. Kedua sangat subur, hanya memang mereka belum di berikan keturunan. Setiap pertemuan keluarga besar, kalimat sensitif itu telah membelah hati Jihan. Itu kenapa setiap ada pertemuan keluarga Alif Jihan menghindari untuk datang, Jihan tak mampu mendengar hinaan demi hinaan. Apalagi ibu tiri Alif seperti tidak menyukainya dari awal pernikahan Alif dengannya. Bruk.. Jihan tersentak, ia menumbruk suaminya sendiri ketika melewati kamar Mawar, sejak kejadian Alif meminta maaf. Jihan memang minta tolong Alif untuk tidak tinggal di kamar mereka, sudah sulit bagi Jihan memaafkan Alif. Walau begitu Jihan tidak lalai melayani Alif di ranjang, jika Alif menginginkan, Jihan memberikannya, namun setelah melakukannya ia selalu mengurai air mata dalam kesendirian. Jihan sudah merasa menjadi p*****r Alif. Bagaimana tidak, Alif hanya datang untuk memuaskan nafkan batinnya. Lalu ia akan kembali pada Mawar tanpa berusaha meminta maaf kembali padanya. "Jihan, kenapa kamu menangis?" Tanya Alif khawatir pada Jihan. Ia hendak merengkuh pelukan Jihan agar lebih tenang. Namun secepa kilat Jihan menjauhi tubuhnya dari Alif. "Jangan sentuh aku!" Jihan mendelik tajam pada Alif dengan napas menggebu marah. Alif yakin suatu terjadi pada Jihan sampai semarah ini. "Kamu kenapa? Jawab aku." Alif berusaha mendekati Jihan. Tapi sepertinya Jihan tak ingin di dekatinya. "Kamu tanya dengan istri kesayangan kamu! Aku rasanya capek tinggal di rumah ini." Kata Jihan lalu melanjutkan langkah ke kamarnya. Alif tergemap sejenak, ia tak mungkin membiarkan Jihan pergi dari rumahnya. Alif sangat mencintai Jihan. Seminggu ini Alif memang tidak berusaha meminta maaf pada Jihan, sebab ia tahu Jihan sangat marah padanya. Tapi Alif sudah pernah mengatakan pada Jihan ia akan selalu menunggu kata maaf pada Jihan. Alif selalu meminta Jihan melayaninya sebagai alasan agar bisa bertemu istrinya. Padahal Alif tau sekali Jihan selalu menangis. Sakit rasanya setiap melihat Jihan menangis karena terpaksa melayaninya. Alif sendiri tidak pernah menyentuh Mawar sejak hari pernikahan mereka, setiap tidur di kamar Mawar ia selalu tidur di sofa. Alif tak ingin melukai hati Jihan lagi, sudah cukup untuk Alif kehadiran Mawar merusak rumah tangganya dan Jihan. Alif turun kebawah, ia melihat kelakuan Mawar semakin menjadi, Alif menarik kuat tangan Mawar menyeret wanita itu ke ruang kerjanya untuk bicara. "Aauh.. Mas, sakit! Lepaskan aku! Kamu lupa aku lagi hamil." Protes Mawar tidak membuat Alif bergeming. "Kamu apain istri aku sampai nangis!" Alif tampak sangat marah. "Ohh.. ngadu istri kamu." Namun Mawar terlihat santai, seolah tidak melakukan kesalahan apapun. Mawar tidak suka setiap hari Alif tidur hanya menyebut nama Jihan. Memang pernikahan mereka terjadi karena accident malam itu, tapi tetap saja Alif sama sekali tidak memberikan nafkah batin seperti Jihan. "Mawar, aku udah peringati kamu jangan ganggu Jihan! Dia istriku!" Gertak Alif memancarkan kemarahan dimatanya. "Lalu aku siapa? Aku juga istrimu, mas. Kamu selalu nomor satu mbak Jihan. Sedangkan aku cuma seperti pajangan. Bahkan kamu udah nggak adil sama aku." "Nggak adil gimana? Aku lakukan kamu sama, aku berusaha adil, aku berikan uang bulanan kamu sama seperti Jihan. Aku juga udah belikan mobil sama seperti Jihan 'kan. Apalagi?" "Kamu tuh nggak nafkahi batin aku. Kamu hanya lakukan itu sama mbak Jihan. Bahkan kita tidur nggak seranjang." Alif mengacak mukanya dengan kasar, ia tak mungkin mengkhianati Jihan dengan bersetubuh lagi dengan Mawar. Sudah cukup kesalahannnya dengan menikahi Mawar melukai hati Jihan. "Sudah cukup ya Mawar! Aku udah pernah mengatakan ini, kamu memang sudah menjadi istriku. Tapi jangan meminta yang luar batas yang tidak bisa aku berikan, yaitu cinta. Aku tidak pernah mencintaimu, Mawar." Mawar sangat marah, ia menggepal tangannya. Perlahan ia menghembuskan napasnya. Ia tau titik kelemahan Alif pada bayi dalam kandungan, hanya itu yang bisa membuat Alif tidak menjauh darinya. Mawar berpura pingsan membuat Alif seketika panik. "Ya Allah.. Mawar!" Panik Alif langsung mengangkat Mawar menuju kamar perempuan itu. Alif meminta tolong Bi Surti memanggil dokter segera. Jihan masih menangis karena kesal, seketika ia mendengar suara ribut suaminya. Jihan mengusap air matanya lalu keluar melihat apa yang terjadi. Wanita itu pun melangkah keluar terlihat pintu kamar Mawar terbuka lebar. Jihan mencoba mengintip sedikit, walaupun hatinya ragu, namun ia tetap lakukan. Tatkala ia melihat Jihan pingsan, Alif mengenggam erat tangan Mawar seolah takut kehilangan wanita itu. Air mata Jihan menetes kembali. Dia berpikir jika suaminya sudah sangat mencintai Mawar, bahkan mungkin mengabaikan dirinya. Hati Jihan hancur kembali ibarat kaca pecah yang tak bisa kembali utuh jika diperbaiki. Begitu pula hati Jihan, kecewa, marah, terluka. Sudah sulit untuk hanya sekedar maaf. Kadang Jihan ingin lari dari semua ini, rasanya sudah tak sanggup ia lewati sendiri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN