Siapa yang tidak ingin pernikahan sempurna, memiliki pasangan yang setia serta pengertian. Mungkin itu impian setiap wanita. Sama seperti yang Jihan inginkan, namun keinginannya menjadi suram sejak ada Mawar ditengah pernikahan yang baik-baik saja. Jihan termenung dalam kesendiriannya merindukan Alif. Sekarang ia memikirkan keadaan Alif, sehatkah suaminya disana, teratur atau tidak makannya. Pagi hari menusuk tulang rusuknya seakan mengingat bagaimana setiap paginya ia sibuk mengurus makan suami. 'Mas aku rindu.. apakah kamu disana baik.' Gumam Jihan dalam hati. Tok.. Tok.. Tok.. Suara pintu membuyarkan lamunannya, ia menatap pintu yang tertutup rapat. Kemudian ia melangkah membuka pintu itu. "Selamat pagi, Mbak." Ucap Saidah dengan ramah. Jihan membalas dengan senyuman. "Pagi, Said

