Jihan sudah membereskan seluruh barangnya, hatinya seakan berat meninggalkan kota jakarta. Sekarang detik semakin dekat, menitan jam semakin berlalu. Sejujurnya Jihan begitu naif, ia menginginkan melepaskan tapi hatinya justru berdarah-darah tanpa luka. Batinnya bergejolak hebat menatap foto pernikahan yang sempat ia ambil dari rumah Alif. 'Mas apa yang harus aku lakukan? Kenapa kau begitu menghancurkan hatiku.' Jihan membatin sendiri dalam duka laranya, luka yang berhasil menyayat dalam hatinya. Jihan telah membuat drama hidupnya sendiri. Jiwanya kembali terserang runtuhan kekecewaan, air mata sudah tak bisa ia tahan lagi. Siapa yang tak pernah patah hati dan kecewa, semua orang pernah merasakannya termasuk Jihan. Dia wanita biasa, sama seperti yang lain, meski dalam pendiriannya in

