“Alvaro Gibradest, pindahan dari Jerman. Salam kenal,”ucap Alvaro pada teman kelasnya yang baru.
Ingat Alvaro kan?
Bagaimana ini semua terjadi?
Semua berawal dari . . .
Flashback
Hidungnya menghirup udara bandara dalam dalam, matanya melirik sekeliling ruangan yang sudah beberapa bulan ini tidak ia kunjungi. Dia Alvaro, sudah lima bulan ia tak mengunjungi Negara kelahirannya ini akibat ujian akhir yang cukup menyita waktu dan pikirannya.
Kakinya melangkah menuju pintu keluar bandara diikuti oleh David – pengawal sekaligus calon asistennya kelak, dia memasuki mobil jemputan yang sudah menunggunya sedari tadi dan menjatuhkan pantatnya dengan nyaman di bangku penumpang.
Jarinya menari di atas layar ponsel miliknya, sudah beberapa minggu ini ia tak bertukar kabar dengan sahabat satu satunya, Gladis. Apa yang sedang dilakukan gadis itu ya kira kira? Yah apapun itu intinya hari ini Alvaro berniat mengunjungi rumah Gladis karena ini adalah hari dimana umurnya tepat 15 tahun. Betapa bahagianya dia.
Mobil mulai berjalan setelah David dan supirnya duduk di kursi depan setelah memasukkan barang barangnya ke bagasi. Ia menyenderkan badannya kekursi penumpang, jarinya masih sibuk mengirim pesan yang sedari tadi belum dibalas.
“Tempat Gladis dulu, bisa kan?”tanyanya sambil memandang jalanan yang cukup padat.
“Tapi hari ini nyonya besar menunggu anda,”ucap David meliriknya dari spion.
“Nenek bisa menunggu lebih lama,”ucapnya tanpa mengalihkan pandangan dari luar jendela mobil.
“Bukankah pertemuan anda dengan nyonya besar lebih penting, tuan muda? Nona Gladis juga dapat menunggu anda.” Alvaro memutar kepalanya hingga menghadap ke depan, matanya fokus pada pantulan David di meja. Menatapnya dengan wajah datar seperti mengisyaratkan untuk tidak membantah lebih banyak lagi membuat David sedikit takut.
“Perasaanku tidak enak.”
David mengeryitkan keningnya dengan wajah penuh tanya, dia mengangguk ke arah supir yang langsung diterima dengan jelas. Mobil berhenti pada sebuah rumah sederhana yang entah mengapa lebih ramai dari biasanya, Pak Heny – supirnya - memutari mobil guna membukakan pintu untuknya.
“Kalian tunggu disini,”ucapnya sebelum benar benar menuruni mobil tanpa melepas kacamata tanpa kaca yang membuat beberapa orang yang berada di rumah Gladis meliriknya dengan penasaran. Kaki yang beralaskan sepatu bermerk ternama memijak tanah halaman rumah Gladis.
“Ada nikahan? Rame banget, tumben,”tanyanya dalam hati. Mendengar bisikan para tetangga, ibu Gladis tergopoh-gopoh keluar dari dalam untuk menghampirinya. Matanya menyipit melihat wajah yang sepertinya ia kenal.
“Nak Alvaro?”tanya ibu Gladis dengan wajah sembab. Alvaro mengeryit dengan heran meski tetap menyalami wanita di depannya.
“Kok ramai ramai, ada apa ya bu? Gladisnya ada?”tanya nya sambil menengok ke arah dalam berusaha mencari cari sosok gadis yang di rindukannya.
Daripada menjawab, beliau malah menangis yang membuat Alvaro terkejut dan bertanya tanya. “Loh bu, kenapa? Ada apa?”tanya nya dengan heran. Beberapa wanita yang seumuran dengan beliau menghampiri dan mengelus elus pundaknya agar lebih tenang.
“Maaf nak, gladis,”ucap beliau sambil terisak isak yang justru membuat perasaannya semakin tidak enak. Beberapa bapak bapak yang duduk dikursi plastik di teras menyingkir untuk mempersilahkan keduanya duduk.
Alvaro diam menunggu ibu Gladis yang sedang ditenangkan oleh kerabatnya, otaknya bertanya tanya dengan siapa Gladis menikah hingga membuat ibunya menangis terisak seperti ini.
Eh? Jangan bilang . . .
“Maaf, Gladis sudah gak ada.” Satu kalimat itu seolah membungkam otaknya yang sedari tadi berpikir positif. Matanya melebar badannya terdiam kaku meski begitu bibirnya berusaha tersenyum dan menyangkal.
“Maksudnya? Gladis gak lagi bercanda kan?”ucapnya masih berusaha berpikir positif.
Tanpa ada jawaban, ibu Gladis melirik salah satu remaja seumurannya dan berkata, “tolong antar tamu ibu ke tempat Gladis.”
Pria itu mengangguk dan mengisyaratkan untuk mengikutinya. Dia masih terdiam kaku dengan isi kepala yang masih belum bisa mencerna keadaan. Mereka berjalan ke tepat yang tak jauh dari sini, disepanjang jalan Alvaro berharap bahwa ini hanya sebagian dari Surprise yang disiapkan gadis itu di hari ulang tahunnya. Badannya membeku, otaknya blank saat mereka memasuki sebuah TPU, lidahnya semakin kelu saat mereka berhenti digundukan tanah dengan batu nisan yang tertuliskan nama yang sangat ia hafal.
Gladisya Restianti
19 Januari 2002
7 Maret 2021
Badannya terduduk di tanah basah depan gundukan tanah, tangannya terlipat di lutut dengan wajah menahan tangis. Pantas saja perasaannya tidak enak selama beberapa hari, ternyata ini alasannya. Gladisnya, cinta pertamanya, telah kembali pada pemilik yang sesungguhnya.
“Bener – bener kejutan ya, Dis. Kado yang belum pernah gue pikirin sebelumnya, haha,”ucapnya dengan dagu bertumpu pada tangannya.
“Sejak kapan? Kenapa?”tanyanya pada pria yang berdiri di sebelahnya.
“Tiga hari yang lalu, gue gak tau jelasnya, yang gue denger cuman dia balik setelah empat hari gak pulang.” Pria itu menengok ke arahnya yang masih terdiam, “gue tunggu lo di depan.”
Pria yang tidak di ketahui namanya itu berjalan memberi ruang untuknya. Alvaro tersenyum dan berjalan menghampiri sisi samping gundukan tanah itu. Dia berjongkok sambil mengelus nisan dengan penuh kasih sayang. “Harusnya gue lebih perhatiin lo ya Dis, padahal gue balik setelah lama gak ketemu yakan?”
“Harusnya lo meluk gue aja, lo pasti kangen kan sama gue? Iya tau kok.” Alvaro mendongak ke atas mencegah agar air matanya tidak mengalir, dia kembali melirik ke arah batu nisan di depannya dengan mata yang buram, “ah hari ini mendung, lo pasti lagi nangis guling guling kan disana? Lo kan cengeng kalau ketemu gue. Lo jahat Dis, ninggalin gue yang gak punya sandaran sama sekali.”
Dia pun memutuskan untuk berdiri setelah menghela nafas panjang. “Kado lo kali ini bener bener yang terburuk Dis, sorry,” ucapnya sambil berjalan menjauhi gundukan tanah tanpa menengok kebelakang sama sekali. Ia bahkan tidak mengucapkan selamat tinggal ataupun berterima kasih.
“Thanks.”
“Gak masalah.”
Dan setelah kejutan yang benar benar mengejutkannya, Alvaro memerintahkan David untuk mencari si api yang menjadi penyebab adanya asap, tak terkecuali si penyulut yang membuat berkobarnya api.
Akhir dari flashback.
Jadi intinya gitu lah, Alvaro memutuskan untuk pindah ke salah satu SMA swasta pada awal kelas 11. Ia memutuskan pindah meski harus mendapatkan beberapa pukulan di wajahnya, siapa lagi kalau bukan ayahnya.
Ia berjalan menuju salah satu bangku yang kosong di depan. Jujur, ia tidak nyaman dengan posisi bangku ini apalagi disebelahnya terisi. Meskipun terlihat seperti murid teladan, ia juga termasuk kedalam jajaran murid penyuka bangku belakang. Ah sial, ia sedang tidak beruntung sepertinya.
Pelajaran dimulai saat seorang guru masuk, semua murid langsung terdiam sambil menyiapkan beberapa buku. Alvaro melirik buku yang di sodorkan di tengah, kimia. Ahhh benar kan ia sedang tidak beruntung. Baru saja masuk sudah di suguhi oleh rumus kimia yang sangat sangat menyebalkan. Cihh
***
Bel sekolah berdering beberapa menit yang lalu, Alvaro melangkahkan kakinya menuju kantin. Berjalan sendirian, mengabaikan tatapan penasaran beberapa murid yang berada di koridor. Kakinya memasuki kantin, matanya menatap sekeliling mencari sosok laki laki yang dikenalnya.
“Gue kira lo gak tau jalan,”ucap seorang pria dengan tiba tiba sambil merangkul pundaknya sok akrab.
Alvaro menepis tangan yang berada di pundaknya dengan kasar, wajahnya menoleh menatap pria tadi. Reegan namanya, keduanya cukup akrab mengingat mereka pernah bimbel di tempat yang sama meski hanya sebatas teman. Bisa dikatakan mereka memiliki kesamaan dalam beberapa hal.
“Sok kenal lo,”candanya membuat Reegan terkekeh.
“Lo cari tempat, biar gue yang pesan makan. Bakso doyan kan lo?”ucap Reegan sambil berjalan menjauhinya dengan tangan yang dimasukkan ke kantong celana.
“Kagak doyan kalau dari lo.” Reegan mengacungkan jari tengahnya tanpa berbalik badan.
Alvaro menduduki satu satunya meja kursi yang masih kosong, ia memainkan game di ponselnya. Game yang sedang ia gemari beberapa hari belakangan ini, candy crush saga. Jarinya menari menekan beberapa item yang sama di ponselnya sambil menunggu teman bodohnya selesai memesan.
“Sorry, ini tempat duduk kita.” Suara lembut seorang gadis secara tiba tiba. Ia menolehkan kepalanya ke arah samping dimana ada sekumpulan gadis, sepertinya mereka satu geng?
Kepalanya beralih melirik sekeliling meja mencari tanda hak milik, “sorry, gak ada namanya. Lo yang beli?”
Wajah mereka seperti sedang kesal. Akhirnya, salah satu di antara mereka menggebrak meja dengan kencang membuat beberapa orang melirik ke arahnya. “Apa maksud lo?”
Alvaro berdiri lalu mengantongi ponselnya ke saku, ia mengulurkan tangannya ke arah pipi gadis yang menggebrak meja tadi. Wajahnya mendekat ke samping tepat di sebelah telinga lalu membisikkan sesuatu, “lain kali dikasih tanda hak milik tuh meja. Kayak gini contohnya.”
Alvaro berjalan menjauhi setelah mencium pipi gadis tadi, bibirnya tersenyum miring saat tahu bahwa gadis itu hanya terdiam membisu. Tentu saja Alvaro mengetahui namanya, yah meski hanya sebatas nama dan muka saja. Ia mendekati salah satu meja yang hanya diisi dua orang saja.
“Kosong?”tanyanya pada mereka.
“Gabung aja, kosong kok.” Alvaro duduk setelah mendapatkan ijin dari mereka. Ia kembali memainkan ponselnya.
Tak lama dari itu, Reegan datang sambil membawa dua mangkok bakso dan juga dua gelas es jeruk. Dia duduk tepat di samping Alvaro membuat dua orang tadi melirik dengan penasaran.
“Lama lo,”cibirnya sambil memasukkan ponsel ke saku.
“Antri, gak sopan lo,”balas Reegan sambil mendorong mangkok bakso dan es jeruk ke arahnya.
“Nyerobot lah, biasanya juga nyerobot.”
“Saran gue sih lo mending diem, sebelum gue suapin sambel.” Reegan mengangkat sesendok penuh berisi sambal ke arah Alvaro.
Alvaro hanya menghendikkan bahu dan mulai memakan baksonya dengan diam.