Hiruk pikuk suasana kantin membuat seorang pria menghela nafas malas. Siapa lagi kalau bukan Alvaro, nampak jelas di wajahnya yang tampan tergambar bahwa ia sangat sangat terganggu oleh keramaian ini. Siang ini adalah jam istirahat, sejak bel istirahat berbunyi Dipta -teman satu bangkunya saat ini langsung menarik tangannya ke arah kantin. Dan disinilah dia saat ini, dengan wajah malas duduk di bangku pojok kantin dan dikelilingi oleh tiga teman satu sekolahnya.
"Itu muka asem bener dah, senyum napa,"ucap Reegan. Sepertinya pria itu sudah tidak tahan dengan mimik wajah Alvaro yang tidak enak dilihat meskipun sebenernya dia tetap tampan.
"Berisik." Alvaro menjawab dengan malas, matanya terpaku pada layar ponsel dengan tangan yang sibuk mengetikkan huruf demi huruf disana.
Dipta berdehem sebelum menanyakan apa yang akan mereka pesan, kali ini ia akan mengalah dengan memesankan makanan temannya.
"Gue bakso sama es teh,"ucap seorang gadis, yang Alvaro ingat dia bernama Jeeskya. Mereka -Jeeskya dan Dipta - sepupuan, Alvaro sendiri sebenarnya baru saja bertemu dengan dia beberapa hari yang lalu. Gadis itu cukup supel sehingga Alvaro sedikit dekat dengannya, yah meski hanya sedikit.
"Gue samain aja." Dipta mengangguk dan melirik ke arah Alvaro yang masih diam sambil memainkan ponselnya.
Merasa diperhatikan sedari tadi, ia membuka mulutnya, "samain aja."
Dipta berdiri dan berjalan menuju stand bakso untuk memesan makanan. Tak lama ia datang dengan membawa nampan berisi empat mangkok bakso, dibelakangnya ada satu pekerja stand yang mengikutinya sambil membawa nampan berisi minum.
Alvaro makan dengan diam, ia hanya mengangguk dan menggeleng untuk menanggapi teman temannya. Meski makan dengan kecepatan normal, ia tetap menjadi yang pertama menyelesaikan makanannya. Bosan kembali melandanya, ia memilih membuka ponselnya bolak balik membuka game dan sosial media. Sebenarnya Alvaro bukanlah tipe orang yang aktif di media sosial, tapi ini pengecualian karena ia sangat sangat bosan saat ini. Ia yakin tidak akan bisa berkonsentrasi jika membuka document yang berisikan materi dan latihan soal dari guru private yang baru diterimanya tadi pagi.
Matanya membelalak ketika merasakan rasa panas mengalir dari bahu hingga ke tangannya, Reegan yang pertama kali terbangun dari kagetnya, dengan cepat ia mengambil tisu yang ada di meja dan memberikan padanya.
"Lo gak kenapa kenapa?"tanya Dipta padanya.
"Hati hati kalau jalan,"peringat Jeeskya pada seorang yang entah siapa itu.
Alvaro menghela nafas dengan kasar, tangan kirinya memasukkan ponsel ke dalam kantong celana dan berdiri tanpa mengeluarkan suara. Ia mengucapkan beberapa patah kata sebelum berjalan keluar kantin untuk mengganti bajunya yang setengah basah. Kakinya melangkah menuju loker dan membuka pintu loker dengan kesal, tangannya mengambil seragam cadangan dengan kasar.
Oke, pertama ia akan memutuskan untuk mengganti pakaiannya sebelum berjalan menuju uks untuk tidur. Hm hm meskipun entah sudah berapa kali ia merutuk dalam hati, tapi ia juga sedikit merasa bersyukur karenanya ia tidak perlu mencari alasan untuk tidur di ranjang uks. Meski terasa sangat panas tapi lukanya tidak begitu serius sehingga ia harus mendapatkan perawatan serius, mungkin sedikit tersiksa karena rasa panas.
Alvaro memasuki uks dengan tenang, matanya melirik ke sekeliling dan tidak menemukan siapapun disana. Ia memasuki satu ruangan yang hanya dipisahkan oleh tirai dengan jari yang mengoles salep pada lukanya, kakinya melangkah masuk ke dalam setelah menarik tirai agar menutup. Derit ranjang menyapa telinganya saat ia merebahkan badannya di sana, tangannya memasukkan earphone tanpa kabel ke telingannya setelah mengotak atik playlist sebelum mulai memejamkan matanya dan memasuki dunia mimpi.
***
Alvaro mengedipkan matanya berkali kali, ia mendudukkan badannya dan meraih ponsel yang ia taruh di nakas tadi. Tiga jam berlalu untuknya tidur, pantas saja tubuhnya terasa sedikit ringan. Ia meregangkan tubuhnya sebentar lalu berjalan keluar uks dengan malas, setelah ini adalah jam pelajaran olahraga. Mendengar jam pelajaran olahraga di jam terakhir saja sudah membuatnya malas, hanya saja guru olahraganya sedikit keras kepala. Beliau akan mencari anak murid yang membolos dan mengadukannya pada orang tua murid.
"Dari mana lo?"tanya Dipta yang sedang memakai baju olahraga saat ia memasuki kelas dengan wajah masih mengantuk.
Alvaro menjawab sambil mengucek matanya beberapa kali sebelum menjawab, "tidur."
Alvaro membuka kancing kemejanya dengan mata sedikit menyipit, sepertinya ia belum benar benar terbangun dari tidurnya. Ia mengganti kemeja putih dengan seragam olahraganya, kelasnya memiliki kebiasaan dimana pria mengganti pakaian di kelas sedangkan yang wanita pergi ke toilet. Meski masih ada beberapa cewek yang masih nekat mengganti baju di kelas, yah pasti paham lah.
"Gue denger hari ini praktek basket,"ujar salah satu pria yang duduk di bangku depan.
"Tadi gue liat kelas sebelah main voli,"sahut yang lain.
Alvaro tidak terlalu mengenal mereka, bahkan ia juga tidak mengetahui nama masing masing mereka.
"Kayak gak tau tuh guru aja lo pada, pak Dodot kan agak beda dari yang lain,"ujar Dipta. Dapat dikatakan bahwa di antara Alvaro dan temannya - Dipta, Reegan, dan Jeeskya - Dipta lah yang memiliki social butterfly paling baik dibandingkan yang lain, semua orang seolah olah akrab satu sama lain dengannya.
Kelas 2.1 berjalan kearah lapangan yang tanpa membuka mata hati saja sudah terasa panasnya. Alvaro berdecak kesal ketika merasakan panas matahari menyengat di kulitnya. Suara peluit berkali kali terdengar tapi tak satupun dari mereka yang bergegas menghampiri sumber suara. Manusia bagian mana yang akan semangat berolahraga ketika matahari sedang terik teriknya?
"Kalian ini jalan aja kok lelet." Guru olahraganya berteriak dengan kesal saat mereka tiba di hadapannya. Tangannya menekuk di pinggang khas ibu tiri di sinetron sinetron, beliau menghela nafas sebelum melanjutkan ucapannya, "hari ini kita basket. Sebelum itu kalian pemanasan dulu, yang laki laki lari 8 putaran perempuan setengahnya saja lalu setelah itu kalian bagi tim masing masing 5 orang. Paham?"
"Paham."
"Baiklah, silahkan dimulai."
Mereka berlari memutari lapangan dengan mulut yang tak henti hentinya mengoceh. Angka demi angka terus di teriakkan saat mereka melewati titik awal, saat angka mencapai nomor 8 mereka merosot lunglai ke tanah tanpa perduli kotor. Alvaro menunduk sambil menselonjorkan kakinya dengan nafas yang tak beraturan, wajah hingga lehernya banyak mengeluarkan keringat yang menambah kesan tampan. Aroma tubuhnya bercampur dengan aroma keringat, ia tidak dapat mengungkapkan aroma tubuhnya saat ini.
"Alvaro, lo udah dapat tim?" Alvaro mendongak sambil menghalang sinar matahari menggunakan tangannya, ia menggelengkan kepalanya membuat pria yang tidak ia ketahui namanya ini bersorak kegirangan. "Lo gabung tim gue aja, si Dipta udah sama sebelah dari tadi,"lanjutnya.
Matanya beralih ke arah Dipta yang sedang melambaikan tangan kearahnya, ia jadi mengingat ucapan Dipta dan Reegan tentang Alvaro yang tidak bisa mengingat siapa saja teman satu kelasnya. Alvaro mengangguk ke arah pria, ia berdiri dan menepuk celananya beberapa kali sambil bertanya "nama lo?"
Pria itu terkejut kecil mendengarnya, "ah gue? gue Kevan."
Alvaro menganggukkan kepalanya, mereka berjalan beriringan menuju beberapa orang yang duduk melingkar di bawah bayanga pohon. Jika dipikir pikir kenapa tadi ia tidak kesana saja, dibanding tempat duduknya yang cenderung terpapar sinar matahari tempat itu sedikit lebih sejuk karena berada di bawah bayangan pohon yang ditanam di samping lapangan.
"Gue yakin lo juga gak kenal mereka, itu namanya Zidan, yang itu Fadly sama Tio, satunya lagi Kevin kembaran gue."
Dimana letak perbedaan antara Kevan dan Kevin?
Mereka menyapanya dengan ramah, Alvaro hanya membalas dengan mengangguk dan tersenyum tipis. Peluit berbunyi membuat semua murid bangkit dari duduk leha lehanya untuk berkumpul di tengah lapangan. Tim laki laki dibagi menjadi dua, jumlah yang wajar mengingat ia berada di jurusan IPA.
Pertandingan pertama adalah tim laki laki, jika dilihat dari segi logika sudah dipastikan bahwa tim lawan akan menang. Dilihat dari segi tubuh saja sudah kalah, timnya yang berisi anak anak kurus kering melawan tim lawan yang bisa dibilang bongsor. Apalagi tim lawan memiliki beberapa anak club basket yang menambah persentase kemenangan. Tapi siapa yang tahu jika timnya akan menang meski hanya keberuntungan, hm siapa tahu kan.
Gak, itu mustahil. Ayo pesimis.
Peluit berbunyi menandakan pertandingan dimulai, sudah dipastikan dalam hal Jump ball bahwa mereka tidak akan mendapatkan kesempatan. Benar saja, bola dikuasai tim lawan dalam sekejap, Alvaro memundurkan kakinya menuju posisi bertahan. Mereka bermain beberapa putaran, menyerang dan bertahan secara bergantian. Bola melayang ke arahnya dari Zidan, Alvaro memantulkan bola ke tanah beberapa kali sambil melakukan tipuan melewati pemain lawan, ia melompat pelan lalu melemparkan bola ke arah ring di lingkaran three points.
Alvaro adalah tipe orang yang gampang bosan, ketika ia bosan ia akan melakukan kegiatan yang belum ia kuasai. Dalam artian jika ia lemah akan satu point ia akan menekuninya, orang tuanya terlebih kakek dari ayahnya tidak akan mau menerima satupun celah kekurangan sejak Alvaro kecil, ini berakibat padanya hingga ia besar. Alvaro tidak suka ketika mengetahui bahwa ia tidak bisa pada satu hal, meski manusia bukanlah makhluk yang sempurna. Terlebih melihat orang lain melakukan apa yang tidak ia kuasai dengan sempurna, rasa ambisiusnya akan meningkat dengan tajam.
Kemenangan di raih oleh tim lawan dengan selisih point yang terbilang tipis dengan timnya, Alvaro melangkahkan kakinya menuju bawah pohon rindang. Mendudukkan dirinya yang sudah lengket oleh keringat selama beberapa saat sebelum berdiri untuk membeli minum, meskipun pak Dodot ehem pak Dodi terbilang galak, beliau tidak akan melarang muridnya membeli minum untuk menghindari dehidrasi ketiga olahraga.
Alvaro meneguk air putih sambil berjalan ke arah lapangan, jam olahraga masih tersisa sekitar dua jam lagi. Entah ikut aturan dari mana, sekolahnya memiliki tiga jam untuk pelajaran olahraga yang sebagian jamnya cenderung digunakan sebagai bermain main. Alvaro tidak akan heran jika hal ini terjadi di sekolahnya yang dulu, sekolahnya merupakan sekolah berbasis asrama dimana muridnya diwajibkan tinggal di sekolah dan jam pelajaran akan selesai di malam hari jika di tambah dengan jam belajar mandiri.
Brukk
"Heh kalau jalan lihat - lihat dong!"
Alvaro melirik ke arah gadis yang membentaknya, wajahnya tersiram air dalam botol minumnya yang membasahinya hingga ke seragam. "Ah sorry, gue gak lihat,"ucapnya dengan nada biasa saja.
Gadis itu melihat ke arahnya dan terkejut, matanya mendelik saat mengingat wajah penuh kecongkakan Alvaro beberapa hari yang lalu, tangannya mengacung ke arah wajahnya dan berkata dengan sedikit teriakan, "lo!"
"Halo?"sapa Alvaro dengan sedikit terkekeh.