Alvaro menyerahkan jaketnya ke arah gadis tadi, beberapa murid yang berada di kelas melirik kearah mereka dengan penasaran. Ia menghela nafas ketika masih mendengar ocehan gadis itu yang hanya berisi dengan omelan untuknya. Ahhh berisik sekali.
"Iya, gue minta maaf. Perlu gue cuciin baju lo?"tanyanya dengan nada malas, tahu kok kalau ini tidak jelas karena disini ia yang salah. Tapi kan gadis ini juga salah, udah tau ada orang minum bukannya nyingkir malah nabrak padahal kan jalanan juga masi luas.
"Gak perlu, gue punya ART,"ucap gadis itu sambil mengenakan hoodie hitam miliknya, sebenarnya gak usah pake hoodie juga gak masalah kan itu air putih, emang dasarnya lebay aja kayanya.
Alvaro hanya menjawab dengan oh dan mengambil seragamnya, ia membuka bajunya sebelum melirik ke arah gadis tadi yang masih berdiri di sampingnya dengan tangan yang terlipat di d**a.
"Lo masih mau disini?"tanyanya sambil mengganti pakaian.
"Lo gak punya malu banget ya? ada banyak cewek disini bisa - bisanya ganti baju di kelas."
"Biasa aja, lo sendiri gimana? udah tau gue ganti baju bukannya nyingkir."
Gadis tadi berdecak sambil berjalan mengikutnya, Alvaro melirik dengan heran ke arah gadis itu. "Lo ada urusan apalagi sama gue?"tanyanya dengan kesal.
"Urusan yang mana? bagian di kantin atau lo nyiram gue?"
Alvaro tidak menanggapi ia memilih diam sambil berjalan memasuki kantin, ada beberapa murid sekelasnya yang masih menggunakan seragam olahraga sambil memakan makanan. Alvaro berbelok ke salah satu stand makanan disana dan membeli sekotak s**u vanilla, saat ia akan membayar sebuah tangan menjawil pinggangnya membuatnya melirik dengan malas.
"Sekalian, hehe."
"Hehe,"ejek Alvaro dengan wajah kesalnya, ia mengulurkan selembar uang sepuluh ribuan kepada penjual.
Alvaro berjalan menuju kelasnya, bel pulang akan berdering beberapa menit lagi. Masih dengan mengenakan celana olahraga dan kemeja putih ia berjalan tanpa menengok ke arah gadis tadi, Alvaro sempat menengok ke name tagnya yang tertuliskan nama Gabriel. Oh haha.
Alvaro menggendong tas sekolahnya dan berjalan menuju pintu gerbang yang masih tertutup, ia duduk di bangku pos satpam sambil memainkan ponsel. Tepat 15 menit kemudian bel sekolahnya berbunyi. Alvaro bergegas memasuki mobil jemputan yang baru saja sampai.
Jalanan cukup padat saat ini, mungkin karena bertepatan dengan pulangnya anak anak sekolah. Alvaro melihat ke arah jendela sedari tadi, menatapnya seakan akan mobil dan motor dijalanan lebih enak di pandang. Saat ini mobilnya sedang melaju dengan kecepatan rata rata menuju tempat dimana ia bimbel, ia baru saja mendaftar ke tempat ini beberapa hari yang lalu sebenarnya, dan ini adalah hari pertama ia masuk.
"Sebelum jemput beliin burger dulu bisa kan?"tanyanya saat mobil melewati tempat makan cepat saji yang cukup terkenal.
"Seperti biasa mas?"tanya pak Hari sambil melihatnya dari kaca.
Alvaro hanya menjawabnya dengan mengangguk. Mobil berhenti di depan sebuah gedung yang cukup ramai, ada beberapa anak anak remaja yang keluar masuk dari sana. Ia menginjakkan kakinya keluar dari mobil, aroma polusi dan terik matahari menyapanya.
Alvaro memperlihatkan id card nya ke arah resepsionis dan langsung di arahkan ke sebuah ruangan yang berada di lantai dua. Ia memasuki ruang kelas dengan bangku tunggal, ada beberapa anak yang sama sepertinya. Mereka dengan santai berbicara satu sama lain dan cenderung meliriknya dengan penasaran.
Beberapa jam telah berlalu, kepalanya kini terasa sangat berat. Ia berjalan keluar dari gedung ini sambil menggelengkan kepalanya beberapa kali, tangannya menekan pelipis dengan teratur sambil melirik jam tangan berwarna hitam yang melingkar di pergelangan tangannya.
07.25
Ah pantas saja ia merasa pusing, perutnya belum terisi sama sekali sejak istirahat pertama tadi.
Alvaro membuka pintu mobil dan duduk di kursi penumpang, tangannya terulur mengambil paperbag yang baru saja di ulurkan oleh pak Heny, supirnya. Mengambil burger dan memakannya sambil melirik ke arah jalanan saat mobil sudah melaju.
Ayo isi perut terlebih dahulu sebelum bertemu dengan guru private yang lain.
***
Desahan ringan terdengar saat tubuh terhempaskan di kasur, wajahnya terlihat lelah dengan mata yang tertutup oleh pergelangan tangan. Matanya terbuka dan melirik ke arah jam dinding.
Pukul 11.45, pikirnya.
Beberapa menit yang lalu ia sudah menyelesaikan semua kegiatannya hari ini, mengerjakan pr, mengikuti tutor, mengulas pelajaran, dan juga mandi. Ah lagi lagi ia melupakan fakta bahwa perutnya belum terisi sejak makan burger tadi, ia bangkit dan berjalan keluar dari kamarnya.
"Apakah ada yang bisa saya bantu?"tanya seorang pelayan, dapat dilihat oleh Avaro bahwa wajahnya terkejut saat melihatnya di dapur.
"Gak ada, bisa sendiri,"jawabnya tanpa mengalihkan pandangannya dari rak makanan instan di dapur.
"Biar saya buatkan." Alvaro berdecak kesal, matanya melirik ke arah pelayan yang kini menundukkan kepalanya terkejut. Tuan mudanya ini memiliki tempramen yang sangat buruk, serius.
Alvaro menghela nafasnya dengan kasar, ia mengambil satu bungkus mie kuah dan memberikan ke pelayan tadi. "Kayak biasanya,"ucapnya sebelum berjalan menuju ruang keluarga yang namanya hanya sebatas formalitas saja.
Alvaro menekan tombol di remote berkali kali berharap menemukan sesuatu yang menarik matanya, ah got it, sebuah kartun anak anak yang tidak ia ketahui judulnya. Sebenarnya ia tidak terlalu tertarik, hanya saja entah mengapa disini hanya ini yang lebih baik daripada yang lain. Tangannya meraih ponsel yang sedari tadi bergetar, membuka aplikasi bertukar pesan yang mana sumber dari segala notif yang ada. Tumben sekali.
Abcde
Jeeskya osis
Hai ganteng.
Reegan
Baru sadar lo?
Reegan
Jes bagi contekan ya besok.
Dipta 2-3
Jaman sekarang masi nyontek?
Dipta 2-3
Gak level.
Reegan
Ngaca brodi
Dipta 2-3
Udah sering, kalau di lihat lihat gue makin cakep
Jeeskya osis
Sok iye bener si Dipta.
Reegan
Cakepan juga gue, songong.
Dipta 2-3
Iri bilang, brodi.
Jeeskya
Diem, gue yang paling cakep udah.
Reegan
Ada yang percaya lo ngomong begini? @Jeeskya osis
Jeeskya osis
Tidak ada yang bisa dipercaya selain diri sendiri.
Alvaro
. . .
Alvaro telah menghabiskan makanannya sedari tadi, ia membawa mangkok bekas makannya ke tempat cuci piring. Tidak ada apapun yang tersisa disana, tangannya menaruh ponsel ke tempat yang kering dan mulai mencuci bekas makannya. Tidak akan ada masalah jika ia meninggalkan bekas makannya sebenarnya, hanya saja matanya belum mengantuk dan tidak ada yang bisa ia lakukan setelah ini. Anggap saja kegiatan menghabiskan waktu agar ia cepat mengantuk.
Alvaro menaiki tangga menuju kamarnya sambil menyedot sekotak s**u strawberry, tangannya yang satu sibuk membawa makanan ringan untuk di makannya sambil menonton film. Ia sudah memutuskannya tadi, akibat dari matanya yang tidak mengantuk ia memutuskan untuk menonton film di televisi meskipun tidak tahu apa yang akan ditontonnya.
***
Alvaro melenguh pelan saat dirasa matahari mulai memasuki kamarnya, ia baru saja tertidur jam lima pagi tadi. Kelinci mana yang berani mengganggu tidurnya?!
Ah tidak, ini karena . . . dia terlambat alias bangun kesiangan. Fyi sejak ia mengamuk karena tidurnya diganggu saat baru saja terlelap, beberapa pelayan memilih untuk tidak menggangu tidurnya mau seberapa telatnya dia. Yah itu bagus, lebih baik begini.
Dengan santai ia memasuki kamar mandi dan melakukan ritual mandinya, tak apa jika terlambat. Mottonya adalah gak boleh masuk? Ya balik. Toh nilainya akan baik baik saja selama dia tetap belajar.
"Aden, selamat pagi,"sapa pak Heny saat ia sudah tiba di sebelah mobil.
"Pagi."
Lagi lagi ia melupakan sarapan, tenang ini bukanlah masalah besar. Tapi sekarang perutnya sudah sangat sangat panas, dan ia tidak nyaman dengan hal ini. Mobil terus melaju menuju sekolahnya dan perutnya terus terasa panas, padahal jam sudah menunjukkan pukul delapan lebih. Oke, moodnya mulai memburuk sejak saat ini.
"Kamu terlambat, berdiri di depan tiang bendera sampai bel istirahat,"titah guru bk padanya.
Alvaro berjalan ke arah lapangan, ia berdiri di depan tiang bendera dengan tegak. Wajahnya tertunduk untuk menghalangi matanya dari matahari, masih ada waktu sekitar satu setengah jam sebelum bel pelajaran berganti.
Mulai dari insomnia, telat bangun, tidak sarapan, terlambat, dan sekarang di hukum. u*****n apa yang cocok dikatakannya saat ini.
Bugh
Alvaro tersentak ke depan saat bola basket menghantam punggungnya cukup keras. Ia melihat kebelakang dengan kesal, seorang pria tersenyum tanpa dosa ke arahnya.
"Sorry, bolanya terbang." Bohong! Jelas berbohong, itukan bola basket bukan balon yang dengan mudah terbang. Lagipula ia tak merasakan angin sedikitpun dari tadi.
Alvaro berdecak kesal dan menendang bola basket yang terjatuh di sampingnya hingga menghantam tiang ring basket di seberang hingga berbunyi keras. "Sorry, kaki gue terbang,"ucapnya sambil tersenyum sombong.
Beberapa menoleh dengan terkejut ke arahnya, Alvaro dengan santai mengambil tas dan berjalan ke kelasnya tanpa perduli batas hukumannya. Moodnya sudah hancur sejak malam, ia harus menenangkan diri untuk tidak meledak - ledak saat ini.
"Tumben lo telat,"ucap Galang, teman bangku depannya. Saat ini guru dikelasnya sedang keluar untuk mengambil kertas soal ulangan hari ini, ia sudah bertemu di depan pintu tadi sebelum beliau keluar. Meski hanya diam dan melirik untuk kode segera masuk ke arahnya sih.
"Kesiangan."
"Gak di bangunin emang?" Kali ini Candra yang duduk di bangku sebelah Galang yang bertanya.
"Gak suka." Alvaro menjawab dengan jujur, jelas sekali dari nadanya ia mengkode untuk tidak ditanya - tanya lagi, terlalu malas menjawab.
Guru pengajar pun masuk dengan membawa setumpuk harapan, eh setumpuk soal ulangan harian. Tradisi lama, dimana seminggu sebelum ujian akan diadakan ulangan setiap mata pelajaran. Cukup membuat muntah apalagi moodnya sedang memburuk sejak pagi, yang sekarang lebih menjadi jadi ketika kepala dan perutnya mulai tidak bisa diajak bekerja sama.
Dipta tidak membuka suara sedari tadi, berteman dengan Alvaro selama beberapa bulan ini membuatnya paham dengan suasana hatinya. Lagipula suasana hati Alvaro kan selalu buruk setiap saat, hal sekecil apapun bisa membuat suasana hatinya menjadi buruk. Sudah bukan hal mengejutkan jika pria itu tiba - tiba menjadi ketus atau tidak menjawab sama sekali.