Episode 5. Aneh

1798 Kata
Berbeda dengan hari hari sebelumnya yang mana ia harus dipaksa terlebih dahulu untuk ke kantin, kali ini Alvaro dengan senang hati mengikuti temannya. Perutnya sudah terasa panas sejak tadi, ditambah lagi dengan ulangan harian yang terasa seperti mencekik hari hari sebelum ujian semester. "Kepala gue dug dug dug mulu dari tadi, udah tau mau ujian semester bukannya dikasih refreshing malah dikasi ulangan mulu,"oceh Dipta dengan kesal. Jeeskya memukul kepala Dipta dengan pelan, "itu biar orang - orang otak kayak lo bisa ada waktu buat belajar." "Gak juga, gue ulangan kaga ulangan tetep ga belajar,"kali ini Reegan yang menimpali sambil memasukkan sesendok kentang rebus di siomay ke mulutnya. Alvaro hanya diam tidak menanggapi, giginya dengan sibuk mengunyah sayur yang berada di mie ayamnya. Mie ayamnya terasa sangat pedas kali ini, sepertinya ia terlalu banyak menambah cabai tadi. Ini membuat perutnya semakin panas. Tangannya menyingkirkan mangkuk mie ayam yang belum ia habiskan, tidak mau menambah sakit. "Kenapa?"tanya Reegan ketika melihat ia mendorong makanan yang belum selesai. "Pedes." "Dari tetehnya begitu?"tanya Jeeskya dengan penasaran. "Udah gue bilang beli nasi aja tadi." Dipta hanya diam tapi bergerak untuk mengambil sebotol air putih dan roti isi cokelat yang berada di pojok kantin. "Perut lo gak apa apa?"ucap Dipta sambil menyodorkan air putih kepadanya. Alvaro menggelengkan kepalanya sambil memakan roti yang dibelikan oleh Dipta, matanya kembali fokus pada ponsel yang kini menampilkan layar game. Reegan menepuk rambut Alvaro beberapa kali, "mau pesen yang lain?" Ctak Alvaro menepisnya dengan kesal, ia tidak suka kepalanya di pegang pegang. "Gak perlu,"jawabnya dengan ketus. "Galak banget si adek kecil satu ini,"goda Reegan, Jeeskya tertawa terbahak bahak. Bagi Reegan, Alvaro ini sudah seperti adik baginya. Usia mereka yang selisih 1 tahunan lebih menjadi salah satu faktor penyebab Reegan merasa seperti memiliki adik. Meskipun hanya ia yang merasa. "Jangan di goda Gan, nanti ngamuk." Alvaro melirik tajam ke arah mereka bertiga, menyebalkan. "Oh gue lupa, semalem ada yang minta nomor lo ke gue. Lo kenal?"tanya Jeeskya sambil membuka ponselnya. Alvaro menggelengkan kepalanya, ia tidak mengenal siapapun selain mereka bertiga. "Kacau lo anak baru udah banyak fans aja." "Fans apaan, yang minta nomor dia tuh bukan orang yang disarankan untuk diajak berteman." Jeeskya berbicara sambil mengecilkan suaranya di akhir kalimat, Alvaro mengerutkan alisnya penasaran. Tidak disarankan untuk diajak berteman hm? Siapa? "Oh dia?"ucap Dipta dengan heboh. Reegan melirik dengan penasaran, " siapa?" "Gak tau, tadi biar keliatan tau aja sih." "Ye Jamal." "Capek banget punya saudara kayak lo." Mengabaikan temannya yang kelewat gila ini, ia bertanya, "terus lo kasih?" "Gak lah, gak ngasih alasan sih anaknya." Sesaat mereka kembali bercanda, ketukan dari meja menghentikan pembicaraan. Gabriel berdiri dengan senyum dan tangan yang membawa paperbag. "Nih,"ucapnya sambil menyodorkan paperbag ke arahnya, Alvaro melongok menengok isinya. Oh jaketnya kemarin. "Lo cuci?"tanya Alvaro tanpa melirik Gabriel, hidungnya mencium wangi pelembut pakaian. Oke cukup sadar diri. "Udah kok, gue perlu bilang makasih gak nih?" "Gak perlu." Gabriel mengangguk, berbalik badan melangkahkan kakinya menuju meja tempat teman temannya duduk. "Nah dia tuh, tidak disarankan untuk diajak berteman,"ucap Jeeskya segera saat Gabriel sudah jauh dari pandangan mereka. "Jaket lo ada di dia? Tumben." Alvaro ini tipe anak yang tidak suka meminjamkan barangnya, padahal dibanding tidak suka Alvaro lebih ke malas aja kalau minjemin tapi gak di balikin sih. "Gak sengaja gue sembur,"ucap Alvaro dengan jujur membuat ketiganya tertawa terbahak - bahak. "Terus dia gak ngamuk?"tanya Dipta masih dengan tawanya. "Ngamuk." Mereka bertiga masih saja tertawa, jelas saja tertawa. Ini yang di sembur si Gabriel loh, anak yang katanya 'tukang bully' di sekolah ini apalagi embel - embel mantan pacarnya ketua geng motor. Bestie tersayangnya si Lavenya - adiknya Radizan - sih wkwk. Baru saja dibicarakan sudah ada kejadian nyata di depan mata, lihat saja gerombolan Gabriel itu sudah mengamuk dengan segerombol cewek yang berada di tengah meja. Bahkan tidak menahan diri hingga membuat gelas dan mangkok kaca sampai pecah. Jeeskya sebagai ketua osis dengan sigap berdiri dan menghampiri sumber kebisingan. "Udah gak heran lagi sih gue kalau mereka yang berulah,"ucap Dipta sok tidak perduli padahal wajahnya seakan ingin tahu. "Paling rebutan si Dizan, kayak gak tau aja,"ucap Reegan dengan malas. Jujur, Reegan gak suka banget sama mereka. Padahal dia bukan tipe anak yang begitu meskipun orang orang bilang dia galak dan sedikit tidak enak diajak bercanda. Alvaro baru saja menyelesaikan game nya, ia hendak berdiri untuk pergi ke toilet sebentar. "Mau kemana?"tanya Reegan saat melihatnya berdiri. "Toilet." *** Alvaro menghentikan langkahnya sambil mendengus kesal, ia melirik ke arah belakang dimana ada Gabriel mengikutinya sedari ia keluar dari toilet tadi. "Sampai kapan mau ikutin gue?" "Gak tau, lo jalan aja jangan anggap gue." Gabriel mengikutinya dengan senyum senang, wajahnya yang ceria membuat beberapa murid di koridor melirik dengan penasaran. Tak lama punggungnya terasa tertabrak oleh sesuatu saat ia tiba - tiba berhenti. "Lo kalau nge rem jangan mendadak dong- eh? halo bisu!" Alvaro mengeryit penasaran pada gadis yang menghalangi jalannya, kepalanya tertoleh pada Gabriel yang berada di belakangnya. "Temen lo?"tanyanya. "Apa gue perlu jawab pertanyaan kayak gini disaat jawabannya udah jelas?" Alvaro menghendikkan bahunya acuh tak acuh, ia melirik ke arah gadis tadi seolah bertanya, "kenapa?" Gadis itu tidak menjawab, hanya mencoret coret kertas dan disodorkan padanya. "Aku mau minta maaf, kemarin gak sengaja numpahin kuah ke kamu." Alvaro membaca dengan seksama, Gabriel juga ikut menoleh dengan kepo. "Oh santai,"ucapnya sambil mengembalikan kertas tadi. Gadis itu tersenyum dan membungkuk khas orang minta maaf lalu berlari pergi memasuki sebuah ruang kelas. Alvaro melanjutkan jalannya tanpa memperdulikan Gabriel yang senantiasa mengekor layaknya anak itik. "Lo kenal si bisu, Al?" Alvaro melirik ke arah Gabriel yang sudah pindah di sampingnya, ia menggeleng sebagai jawaban. "Bisu?"tanyanya "Bukan bisu sih gue rasa, dia gagap aja jadi jarang ngomong. Takut di bully kali, padahal dia diem juga makin di bully haha." Alvaro memutar bola matanya malas, "kuker." "Bukan kuker ini namanya mengakrabkan diri sama teman sekolah." "Gak sehat,"ucapnya telak, ia membelokkan jalannya memasuki ruang kelasnya. "Ada apa?"tanyanya lagi pada Gadis yang kini duduk di bangku Dipta. "Hah?" "Kantin." "Oh, biasa lah orang gatel. Lagi gak mood gue buat nyari ribut sama cewek gatel." Gabriel menjelaskan sambil mencoret coret halaman kosong buku di depannya, "lo gak mau nanya dia gatelin siapa?" "Gak penting." "Sok dingin banget, tapi gak papa sih gue suka yang cuek cuek gini." Alvaro melirik jijik ke arahnya, lagian si Gabriel kan udah ada pacar. "Lo udah ada cowok, gak usah gatel,"ucapnya sambil menggeser posisi duduknya sedikit menjauh. "Siapa? Dizan? Bukan pacar gue itu, udah mantan dari lama." Gabriel menjelaskan padanya seolah olah Alvaro sangat ingin tahu tentang dia dan Dizan. "Gak nanya,"jawabnya setelah diam beberapa saat. "Iya deh iya, eh mutual yuk. Kali aja lo suka sama cewek yang cantik, pinter, baik hati, dan tidak sombong kaya gue,"ucap Gabriel sambil menopang dagu ke arahnya. Alvaro meliriknya dengan tatapan herannya, baik hati katanya. Hahahaha bercanda? "Gak perlu, thanks." "Yah gak masalah sih, gue bisa minta sama yang lain. Kecuali dari ketos sok cantik itu sih, sok cantik, sok iya, sok keren, sok pahlawan juga. Najis." Wajah gadis itu sangat kesal seperti memiliki dendam dari kecil. Tapi tetap cantik kok, oke Alvaro mengakui. "Lagi ngomongin diri sendiri?" "Gue antagonis sih, bukan pahlawan. Maaf deh." "Sadar diri ternyata." Mereka berdua beradu cek cok selama beberapa saat, bukan sih lebih ke Gabriel ngomel dan Alvaro cuma diam aja. Males nanggepin orang aneh. Dipta memasuki kelasnya sendirian dengan bersiul, matanya terhenti pada sepasang murid yang duduk di bangku pojok dengan dipenuhi tatapan dari murid murid lain. Sejak kapan Alvaro dekat dengan Gabriel? Brakk "Eh santai dong!"bentak Gabriel setengah terkejut, Alvaro juga terkejut selama beberapa saat. "Lo ngapain duduk disini?"tanya Dipta to the point, wajahnya sangat jelas tercetak raut tidak suka pada Gabriel. "Suka suka gue lah, lo yang beli ini bangku?"jawabnya dengan sewot. "Kalau iya kenapa? Gak seneng lo?" "Nyenyenye, makanya dikasih tanda milik, gini nih contohnya." Gabriel mencondongkan wajahnya ke arah Alvaro dan mencium pipinya dengan cepat. Alvaro : . . . Dipta dan anak kelas : . . . "1 sama. Dadah Alvaro, nanti lagi ya!"teriak Gabriel sambil berlari keluar kelas. Alvaro mendecakkan lidahnya dengan kesal, tangannya mengusap bekas bibir Gabriel dengan kasar hingga pipinya memerah sebelah. Orang gila. Dipta tersadar dari wajah terkejutnya, dia langsung menggebrak meja dengan keras, heboh. "Lo sama dia ada hubungan apa?"tanyanya tanpa menghiraukan wajah Alvaro yang sudah hampir meledak ledak karena emosi. "Gak ada." "Gak mungkin gak ada, udah sampai cium - cium pipi. Circle temanan dia gak bagus, gue gak ada hak larang lo jadi semua terserah lo." Alvaro berdehem singkat dan menyiapkan buku pelajarannya karena guru pengajar sudah masuk ke kelasnya. Bel pulang baru saja berbunyi, Alvaro berjalan menuju parkiran dengan sendiri. Sangat diherankan karena koridor yang tidak pernah sepi ini menjadi sepi meskipun bel pulang baru saja berbunyi lima menit yang lalu. Ia melirik ke arah parkiran dimana ada segerombolan murid memenuhi sebuah objek sambil berbisik bisik, ia melengos tidak perduli dan berjalan ke arah luar gerbang. "Alvaro!"panggil sebuah suara yang tidak mau Alvaro ingat namun sayangnya ia mengingatnya. Alvaro menyipitkan matanya melirik ke arah sumber suara dengan malas, "apaan?"tanyanya dengan wajah malas dan tangan yang menutupi matanya dari sinar matahari. Gabriel, gadis yang memanggilnya berlari menjauh dari kerumunan menujunya. Wajahnya yang sedikit kesal berganti menjadi memelas, berdiri di depannya dengan tangan yang di tautkan sok sok malu padahal gak punya. "Gue boleh nebeng lo gak?" "Mobil lo?" Aneh, tentu saja. Murid di sekolah ini meskipun belum memiliki SIM dan KTP mereka dengan nekat menaiki kendaraan pribadi, meskipun beberapa dair mereka masih menggunakan bis umum. "Gak tau tuh, ada yang coret coret mobil gue sama temen temen gue. Bannya juga di bocorin pake paku, gue udah panggil montir sih tapi datengnya agak sorean. Boleh ya gue nebeng, gue doang kok soalnya yang lain udah minta jemput keluarganya." Gabriel menunduk sok sedih sebelum melanjutkan ucapannya, "keluarga gue lagi gak di rumah Al, masa lo tega liat gue lontang - lantung di halte." "Gue juga di jemput,"tolaknya sambil berjalan menjauh, Gabriel memberengut dan berlari menghampirinya. Tangannya melingkar di pergelangan tangan Alvaro dengan kencang, jangan lupakan kepala yang menyender di bahunya. Seolah olah mengenalnya dengan baik, tidak sopan. "Gab, lepas." "Gak mau, nebeng doang kok. Gak jauh rumah gue dari sini,"kekeh gadis itu. "Ya tinggal jalan kalau deket." "Capek, gue gak bisa naik kendaraan umum. Suka mabuk." Alasan, sungguh cuma alasan yang tidak masuk akal. Masuk akal sih kalau orang lain yang ngomong, tapi ini Gabriel. "Bukan urusan gue." "Pelit banget jadi cowok, gak gentle." Gabriel masih membujuknya sambil menggoyang goyangkan tangannya seperti anak kecil, sok imut. Alvaro menghela nafas kesal, ia melirik ke arah pak Heny yang juga meliriknya. "Fine!, pertama dan terakhir." Gabriel bersorak riang, memasuki mobil jemputan Alvaro dengan pintu yang sudah di bukakan oleh supirnya. Alvaro menghela nafas kasar, ia mengusap kemejanya yang sedikit kusut. Ia mendudukkan dirinya di samping Gabriel dengan wajah kesalnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN