Sudah beberapa hari berlalu sejak kejadian dimana ban kendaraan milik teman teman Gabriel di rusak, keadaan sudah sedikit membaik meskipun sesekali dapat mendengar hal ini di pembicaraan beberapa murid. Sebagian dari mereka berbicara dengan maksud menertawakan, sungguh.
Tapi entah sudah yang keberapa kali mereka melihat Alvaro dan Gabriel selalu bersama. Gosip gosip mulai berdatangan dari mulut ke mulut, Gabriel cukup friendly sebenarnya jika saja ia tidak salah memilih teman. Yah tidak sepenuhnya menyalahkan teman Gabriel sih.
Seperti saat ini contohnya, Gabriel sudah mengikuti Alvaro sejak pria itu menginjakkan kakinya keluar dari perpustakaan hingga kini keluar dari kantor guru. Jangan ditanya wajah Alvaro seperti apa yang pasti sangat terganggu, lain dengan wajah Gabriel yang malah sumringah.
Alvaro berhenti dan melirik ke arah Gabriel dengan lelah, "ada apa?"
Belum Gabriel menjawab, Alvaro sudah menyela dengan tebakan yang pas mengenai jawaban Gabriel nantinya. "Gak apa apa, gak usah hirauin gue. Anggep gue gak ada,"cerocosnya dengan kesal.
Gabriel tertawa dan berjalan ke samping Alvaro, "emang gak apa apa kok, ada masalah soal ini?"
"Ada, lo ganggu."
"Orang gue diem aja gimana bisa ganggu lo?"
"Sama temen lo sana, jangan ikutin gue!"
"Males ah, bosen. Kalo sama Alvaro kan belum bosen." Alvaro menaikkan satu alisnya dengan heran, ia memilih tidak menjawab ucapan Gabriel dan berjalan memasuki kelasnya.
"Gue liat liat lo makin deket sama tuh cabe,"ucap Jeeskya segera saat ia duduk di bangkunya, Gabriel sudah tidak mengikutinya sejak di pintu tadi. Gadis itu berpamitan padanya untuk bersama teman temannya yang berada di kelas sebelah, Alvaro hanya berjalan masuk dengan tidak perduli.
"Dari awal udah begitu." Kali ini Dipta yang berbicara dengan ketus, sungguh ia lelah melihat Alvaro yang tidak mau tegas menolak Gabriel ketika gadis itu mendekat. Padahal Alvaro adalah pria ber tempramen buruk tapi kenapa seakan akan membuka tangan untuk gadis itu mendekat.
Reegan tidak mengatakan apa apa, tapi jelas sekali dari wajahnya bahwa ia tidak suka. Alvaro juga tidak menanggapi, pikirannya sedang dipenuhi oleh beberapa masalah. Ia tidak bisa memikirkan ini ketika tiba di rumah, tidak memiliki waktu.
"Senin udah ujian semester aja, gak kerasa."
"Lo gimana Al? Kan baru pindah di tengah tengah semester."
Alvaro tersentak sedikit ketika tangannya di colek oleh Jeeskya, dia menatap ketiganya dengan tatapan penuh tanya.
"Ngelamun ya lo? Gue nanya lo gimana besok ujiannya, lo kan masuknya di tengah semester."
"Gak gimana gimana, masuk di tengah atau akhir bukan masalah buat gue." Oke Alvaro akui ini sedikit sombong, tapi jujur itu bukan masalah. Karena di tegah atau di akhir sekalipun ia harus mendapatkan nilai sempurna. Justru mendapat nilai jelek dengan alasan adaptasi lah yang akan menjadi masalah. Sungguh.
"Iya dah tau gue, sombong bener."
"Lo gak ngerasa aneh gitu Al sama tingkahnya si Gabriel?"tanya Jeeskya padanya, lagi.
"Anehnya?"tanyanya kembali.
"Tuh cewek kan udah ada pacar, si Dizan. Aneh kan kalau deketin lo tapi pacarnya gak ngamuk ngamuk ke lo."
Alvaro mengangguk paham, ia juga setuju pada awalnya. "Udah mantan katanya,"jawabnya membuat mata ketiganya melotot kaget.
"Enggak kok, masih pacaran. Orang gue masih sering liat Snap nya mereka."
"Hooh, di closefriend juga banyak."
Alvaro menghendikkan bahunya tidak perduli, toh bukan dirinya yang mendekati Gabriel. Ponsel di tangannya bergetar selama beberapa detik, muncul notif dari seseorang yang sedang di bicarakan.
Gabriel : Kuping gue panas pasti lagi di ghibahin kan sama temen lo?
Alvaro : Y.
Tidak mau menanggapi terlalu lama ia kembali membuka gamenya, hari ini semua guru sedang rapat sehingga kelas kelas menjadi kosong tanpa ada tugas. Senin besok adalah ujian semester, cukup membuat beberapa murid sedikit rileks meskipun sebenarnya tidak.
"Hari ini jalan dulu yuk, senin udah ujian,"ajak Jeeskya dengan wajah penuh harap.
"Kemana?"tanya Reegan yang sedari tadi diam.
"Taman bermain yuk, lagi rame pada ke sana,"ucap Dipta dengan semangat, saking semangatnya ia sampai menunjukkan beberapa foto dari sosial media ke arah mereka.
"Gue skip." Alvaro tidak bisa pergi bermain, entah akhir pekan ataupun hari biasa. Jam les tambahannya terlalu panjang hingga memenuhi otaknya yang sudah panas ini.
"Les lagi?"tanya Reegan padanya, terkadang Reegan sedikit kasihan padanya. Pasalnya Alvaro tidak memiliki waktu untuk bermain sama sekali, ah kecuali game yang selalu ia mainkan entah ada atau tidaknya waktu luang.
Alvaro mengangguk tanpa mengalihkan pandangan dari game di tangannya. "Gue harus pulang,"ucapannya satu ini membuat Jeeskya dan Dipta yang baru saja mengenalnya mengeryit penuh tanya.
Pulang kemana? Emang selama ini Alvaro enggak pulang?
"Oh, tumben lo."
Reegan paham arti kata 'pulang' disini, kata ini merujuk pada rumah kakek dari ayahnya. Sudah hal biasa jika mendekati hari ujian Alvaro akan pulang kesana, untuk menjaga agar jam belajarnya tidak terganggu. Cukup melelahkan pikiran.
Dipta dan Jeeskya melirik ke arah Reegan yang di balas tatapan seolah berbicara 'nanti gue jelasin'
"Jadi lo gak bisa?"
Alvaro menggeleng, dia langsung mendongak ketika mengingat sesuatu. "Gue kayaknya bisa kalau hari ini,"ucapnya sambil mengingat-ingat lagi.
"Serius lo? Tapi masa hari ini,"jawab Jeeskya kembali lesu.
"Gak boleh minta ijin dulu?"
Mendegar pertanyaan Dipta, Alvaro menghendikkan bahunya tidak tahu. Entahlah, mungkin iya mungkin tidak. Tapi sepertinya persentase kemungkinan tidak adalah 75%, tapi mari kita coba dulu.
"Lihat besok,"ucapnya pada akhirnya.
Mereka berdua bersorak gembira lain dengan Reegan yang menatapnya dengan cemas. Alvaro hanya membalas menatap seolah olah bukan apa apa.
***
"David,"panggilnya pada David yang duduk di bangku sebelah supir.
"Ya, tuan muda?"
Alvaro menatap kearah kaca lebih tepatnya ke arah mata David yang melihat kearahnya melalui kaca itu, dia seolah olah ragu ketika akan berbicara.
"Besok kosong bisa?"tanyanya dengan nada ragu.
"Kosong? Ada apa?"
"Main."
"Ditolak."
Alvaro menghendikkan bahu acuh, tidak apa jika David menolak, ia akan bertanya pada kakeknya secara langsung nanti. Matanya kembali menatap ke arah jendela, jalanan raya semakin sepi, kanan kiri semakin dipenuhi oleh pepohonan yang rindang. Tangannya menekan tombol agar jendela terbuka, menghirup udara yang belum tercemar polusi sama sekali.
Rumah utama, ah ralat, rumah kakeknya cukup jauh dari perkotaan meskipun tidak bisa disebut perdesaan juga, tidak rercemar polusi dan juga jarang ada mobil atau motor yang berseliweran di jalanan utama. Pohon pohon rindang masih terjaga di pinggir jalan, bahkan di dalam kawasan perumahan pun masih dapat ditemui pepohonan yang memberi kesan sejuk.
Setelah satu setengah jam berada di dalam mobil, mereka memasuki sebuah perumahan yang bisa dibilang mewah di kawasan sini. Mobil berhenti di depan gerbang hitam yang menjulang tinggi, setelah menekan klakson beberapa kali gerbang terbuka dengan sendirinya.
Ia turun dari mobil dan berjalan masuk diikuti David.
"Selamat datang." Alvaro mengangguk pada beberapa pelayan rumah ini.
"Alvaro sudah sampai?"sapa wanita yang usianya memasuki kepala 6, neneknya.
"Selamat sore, Nek." Neneknya beralih memeluk tubuhnya sambil beberapa kali mengelus kepalanya.
Tidak nyaman.
"Makan dulu, kakekmu sudah menunggu di ruang makan."
Alvaro mengikuti neneknya, David sudah pergi ke ruangannya. Jantungnya berdetak beberapa kali, padahal ia belum berbicara apa apa tapi sudah tegang saja. Dalam hati ia sudah menduga bahwa kakeknya akan marah mengingat keputusan pemindahan sekolah secara sepihaknya tanpa berbicara terlebih dahulu oleh kakeknya.
"Cucuku sudah kembali, haruskah aku mengucapkan selamat datang dan memelukmu juga?"ucap kakeknya dengan wajah datarnya.
"Selamat sore, kakek."
"Ah iya, selamat sore. Bagaimana sekolah baru mu? Kupikir tidak akan ada masalah dengan itu jika melihat bahwa kau yang memilih sendiri bukan?"
"Baik, akan ada ujian senin besok."
"Baguslah, aku tidak akan berkomentar saat ini. Kita tunggu saja hasil ujianmu besok."
Alvaro menganggukkan kepalanya, tangannya mengepal di samping badannya. Bagaimana caranya ia meminta ijin? Belum ijin saja aura kakeknya sudah penuh tekanan seperti ini.
Mereka mulai makan dengan diam, setelah selesai dengan kegiatan makannya ia berpamitan untuk kembali ke kamar.
Merebahkan tubuhnya pada kasur yang dingin, menatap sekeliling dengan seksama. Masih sama seperti dulu tidak ada sesuatu yang di rubah tata letak benda-benda disini.
Pintu kamarnya diketuk selama beberapa kali, nampaklah wajah neneknya yang tersenyum dengan ramah di sana, Alvaro mempersilahkan neneknya masuk kedalam. Neneknya masih sama seperti dulu, selalu melakukan kontak fisik padanya sebelum apapun.
"Mau bercerita dengan nenek?"tanya neneknya ketika sudah duduk di sofa yang berada di dalam kamar.
Alvaro duduk di sampingnya lalu menggeleng, tidak ada yang bisa di ceritakan disini. Apapun.
"Nenek dengar kamu sudah punya teman, sekali kali pergi bermain bersama mereka, Alvaro kan masih muda jadi habiskan waktu bersama teman sekali kali tidak apa apa."
Alvaro tidak menjawab, matanya terpaku pada meja kaca di depannya.
"Apa memang boleh?"tanyanya dalam pikiran.
Neneknya masih berbicara mengenai hal-hal apapun di sampingnya, Alvaro tidak banyak menanggapi. Bagaimanapun ucapan neneknya hanya akan menjadi angan-angan yang mana selalu membuatnya berpikir 'apa memang bisa?' setiap saat.
"Baiklah nenek sepertinya sudah mengganggu waktu istirahat Alvaro, nenek akan kembali. Selamat istirahat, Alvaro."
Neneknya keluar sendiri, Alvaro masih diam dan tidak bergerak selama beberapa saat. Ia mengedipkan matanya beberapa kali lalu mengacak acak rambutnya dengan kesal, tangannya menekan film dengan acak dan membiarkannya untuk mengisi suara di kamar ini tanpa melihat ke layar.
Ia memasuki kamar mandi hanya untuk berdiam di depan kaca besar di sana, menatap wajah ragunya selama beberapa saat sebelum tertawa terbahak bahak hingga ujung matanya berair.
Ah lucu sekali, sejak kapan ia menjadi takut seperti ini. Hanya karena ia belum mendapat hukuman akan kesalahannya kemarin, kenapa ia harus takut? Lagipula ia kan tuan muda disini, yaa! satu satunya tuan muda yang diberikan banyak harapan oleh orang orang disini. Tentu saja itu semua karena ia sangat berkompeten untuk menjadi penerus keluarga ini, bahkan ayah dan ibunya yang bodoh itupun secara tidak sadar mengakuinya. HAHA!
Dia berjalan ke shower untuk mandi, membuka pakainnya satu persatu dan berdiri di bawah pancuran air hangat disana. Lagi lagi ia terdiam selama beberapa saat, memikirkan skenario dan kemungkinan kemungkinan yang ada.
Neneknya berkata tidak apa apa, pasti tidak apa apa bukan?
Tidak! Ini pasti kenapa kenapa, lagipula kenapa ia berpikiran sangat pendek? Sejak kapan kakeknya yang seperti serigala mandiri menjadi lemah didepan wanita? Mustahil!
Ia menekan tuas shower agar air berhenti lalu mengacak acak rambutnya dan berdecak kesal.
Kenapa ia harus ragu lagi jika semua jawaban sudah sangat jelas?Bicara pada kakeknya dan dapatkan beberapa pukulan seperti biasanya. Itu sangat mudah bukan? Jawaban simple dan 100% akan terjadi.