Episode 7. Tidak Ada

1606 Kata
Alvaro merebahkan badannya dengan bosan, ujung bibirnya ngilu dan pahanya juga membiru. Sialan! Ia sudah menduga semua ini tapi tetap saja masih merasa kesal. Beberapa jam yang lalu ia sudah meminta ijin pada kakeknya, ah tidak lebih tepatnya beliau memanggilnya setelah mendengar ijinnya dari David. Si bodoh itu mengadu ah? Tidak perlu khawatir karena ia hanya disidang selama beberapa saat sebelum mendapatkan beberapa pukulan dan cambukan. "Cucuku yang ambisius meminta istirahat untuk bermain ah? Sebenarnya selelah apa kamu sampai berani meminta hal seperti ini." Ia dipaksa mengaku karena alasan yang ia berikan tidak logis. Ketika ia sudah mengaku, bogeman dari kakeknya sudah menyapa wajahnya. Duh si tua ini sudah tua tapi masih saja kuat, mantan preman ya? "Ketahui batasanmu dan masuklah ke kamar. Pelayan akan membawakan makananmu, jangan dibuang ataupun di abaikan. Paham?" Dan disinilah ia sekarang, berada di kamarnya yang membosankan. Hukuman dari kebohongan katanya, memang jika ia jujur ia tidak akan mendapatkan hukuman? Sama saja bukan? Tok tok Alvaro melirik ke pintu setelah melirik jam dinding, sudah waktunya makan siang ternyata. Pelayan masuk membawakan nampan yang berisi beberapa makanan dan minuman, ia mengkode mereka untuk segera pergi setelah menaruhnya di meja. Alvaro memakannya dalam diam, bibirnya sedikit nyeri ketika ia membuka mulut. Tenang saja ia sudah mengobati luka sobek di sudut bibir tadi. Selesai makan ia merebahkan tubuhnya di kasur lagi, jarinya menekan tombol di remote beberapa kali. Mencari film yang bisa di lihatnya untuk mengisi kebosanan akibat ponselnya disita oleh kakek tadi. Untung saja ia tidak berjanji pada teman temannya kemarin. *** Mulutnya menguap dan tangannya mengucek matanya hingga berwarna sedikit merah. Ah ia ketiduran tadi dan ini masih sore. Masih ada beberapa saat sebelum makan malam disajikan, memilih mandi dan membuka kertas berisi latihan soal yang sudah berada di meja belajarnya. Sepertinya David baru saja mendapat latihan soal dari guru privatenya ketika ia tertidur. Pintu kembali di ketuk selama beberapa saat, kini wajah seorang gadis yang lebih muda darinya muncul dari balik pintu. Alvaro memutar bola matanya malas namun tetap mempersilahkan gadis itu masuk. "Hari ini weekend, ayo kita jalan jalan!" Alvaro menghembuskan nafasnya dengan kasar, ia menunjuk luka di bibirnya dan lebam di tulang pipi kearah gadis itu. "Astaga, lagi?" "Perlu gue jawab?" "Sayang banget, beneran gak boleh? Padahal jarang jarang kakak mau pulang." Alvaro tidak menjawab, tatapannya terpaku pada lembar soal di hadapannya. Tidak mau memikirkan sesuatu yang sudah menjadi hal biasa di hidupnya, lagipula ia tidak merasa kecewa ataupun sedih sama sekali. "Yaudah deh, aku sama abang aja. Dadah kakak!" Gadis itu keluar dan menutup pintu kamarnya dengan rapat, Alvaro tidak mau menjawab satupun ucapannya. Dia sepupunya, ibunya adalah adik dari ayahnya alias tantenya. Berbeda dengan dirinya, kakek lebih membebaskan sepasang saudara kembar itu dibanding ia yang cucu satu satunya dari anak pertama. Tidak perduli seberapa muak bibirnya mencari alasan agar sedikit lebih bebas, kakeknya akan tetap menolak. Berbeda dengan sepupu kembarnya, tanpa meminta ijin pun kakek akan diam saja dan mengangguk memperbolehkan. Tidak adil? Apakah itu hal yang penting disini? Alvaro kembali melanjutkan kegiatannya hingga jam makan malam datang, ia makan dengan diam setelah mengatakan pada pelayan untuk tidak memperbolehkan siapapun mengganggunya lagi. Cukup sering ia lakukan. Sudah dibilang meski wajahnya yang seperti remaja pemberontak, ia adalah anak yang ambisius seperti ucapan kakeknya. Tidak suka ketika sedang melakukan pekerjaan di ganggu, ia bahkan akan marah jika jam tidur dan jam sendirinya terganggu. Terlebih ketika ia mendapatkan hukuman seperti ini, tempramennya akan sangat sangat mudah memburuk seolah olah akan mengamuk setiap saat. *** "Karena masih dalam masa hukuman, jadwal kemarin dan hari ini akan dipindah di hari berikutnya. Apa tidak apa apa?" David sudah sejak pagi berada di kamarnya, pria ini masih dalam masa pelatihan oleh kakeknya. Ia sudah terbiasa keluar masuk rumah ini seperti dirinya, usianya masih masa masa kuliah meski David sendiri sudah tinggal menunggu wisuda saja. "Apa kalau gue bilang kenapa kenapa bakal ngaruh?" "Itu sedikit mustahil." Alvaro mengangguk paham, tangannya memakan camilan di meja dengan mata yang terpaku pada kartun di televisi. "Jam berapa pulang?"tanyanya membuka suara. "Besok pagi. Perkiraan tiba tepat saat bel masuk berbunyi, apakah ada masalah dengan ini?"tanya David setelah membuka tabletnya. "Gak masalah, santai aja ngobrolnya. Gak ada orang." David mengangguk dan mulai mengobrol seperti seorang teman, pada dasarnya mereka kan lumayan akrab meskipun baru kenal ketika ia memasuki SMA. Ya namanya juga sering barengan tiap hari. "Kapan hp gue dikembaliin?"tanyanya penasaran. "Sebelum berangkat, bisa gue ambilin sekarang kalau lo mau." Alvaro menolak, itu akan menimbulkan masalah jika benar-benar terjadi. *** Matahari sudah menyapa, Alvaro sudah duduk di mobilnya dengan tenang. Mereka saat ini sedang melakukan perjalanan untuk kembali ke rumah orang tuanya, ralat Alvaro kembali ke sekolah. Dengan seragam lengkap yang membungkus badannya jangan lupakan juga jaket putih dan kacamata yang saat ini tidak lupa ia bawa. Meskipun matanya sehat sehat saja alias tidak membutuhkan kaca mata, Alvaro terbiasa memakainya entah ketika belajar hingga larut malam atau saat saat seperti ini. Mobil sudah melaju cukup jauh, matanya masih menatap pada buku di tangannya. Kali ini sebuah novel bergenre fantasi yang mendapat kesempatan ia baca, baru semalam ia menemukan novel ini di sudut rak buku di perpustakaan rumahnya. Alurnya menarik meski masih memakai gaya bahasa yang kuno alias berat dan baku. Dibanding fantasi isi cerita ini lebih bisa disebut misteri dengan beberapa teka teki sebuah kasus tersebar di sini. Alvaro tidak mau memikirkannya, ia hanya membaca dan membiarkan alur berjalan semestinya. Sebenarnya ia bukanlah tipe anak yang suka membaca novel seperti ini, tetapi ini karena semalam dirinya sedang merasa bosan berada di kamarnya dan memilih memasuki perpustakaan. Hanya tempat itu yang menjadi pengecualiannya ketika mendapat hukuman. "Apakah ada yang ingin dibeli terlebih dahulu?"tanya David saat mobil sudah memasuki area perkotaan, suara klakson berkali kali terdengar. Alvaro menekan tombol di sampingnya sehingga jendela tertutup rapat, aroma polusi sangat mengganggunya. "Tidak, langsung ke sekolah aja." Ia kembali membaca novel dengan telinga yang tersumbat earphone wireless, ia tidak sempat mengatur playlist tadi membuat beberapa lagu dengan music yang sedikit kencang menyapa gendang telinganya. Tali masker berwarna hitam menggantung di salah satu telinganya, luka di bibir dan tulang pipi belum sepenuhnya hilang masih meninggalkan bekas yang samar membuatnya harus menutup menggunakan masker. Mobil berhenti di depan gerbang sekolahnya, ia menutup novel dan mengaitkan tali masker ke telinga satunya lagi. Tanpa menunggu pak Heny membuka pintu, ia sudah membukanya dan berjalan memasuki lingkungan sekolah. Sisa setengah jam sebelum ujian di laksanakan, Alvaro menatap papan pengumuman mencari namanya berada di ruangan apa untuk ujian kali ini. "Pagi,"sapa seorang gadis yang baru tiba di sampingnya. Alvaro melirik ke arah sumber suara, oh Gabriel ternyata. Ia mangangguk sekali tanpa berniat menjawab sapaan gadis itu, ia mendengar rumor bahwa peringkat satu umum ujian lalu di ambil oleh gadis ini. Cukup mengesankan jika memikirkan sikapnya yang sedikit ugal-ugalan. Pantas saja sekolah tidak menindak lanjuti kebisingan yang ada, seperti kasus pembullyan contohnya. "Gue denger lo punya nilai bagus sebelum masuk sini, mau bertaruh?"tawar gadis itu padanya. "Gak minat,"jawabnya sambil berjalan keluar dari kerumunan, ia sudah menemukan dimana namanya berada. Kelas 3-3, kelas yang berada di pojok lantai tiga dengan rumor bahwa kelas itu cukup kotor bahkan cahaya matahari saja malas masuk ke kelas itu saking kotornya. "Lo nolak bukan karena takut kalah kan?"tanya Gabriel yang kini mengikutinya menaiki tangga. "Gue nolak karena udah pasti menang." "Sombong banget, ayo taruhan. Kalau lo menang lo bisa minta apa aja ke gue, tapi kalau gue yang menang lo harus turutin semua yang gue minta termasuk jadi pacar gue." Alvaro berheti dari jalannya, keningnya mengeryit dengan aneh ketika mendengar ucapan Gabriek yang terakhir, 'jadi pacarnya huh? Gak menarik.' "Gak ada untungnya gue pacaran sama lo." "Ada kok, lo bisa dapet cewek yang cantik, pinter, manis, pengertian, perhatian. Gak bakal lah lo terlihat gak laku kalau sama gue." "Gak sama lo sekalipun gue tetap laku." "Oke, deal ya!"ucap Gabriel final. Apa apaan, diakan belum setuju. "Terserah." Alvaro lelah berbicara dengan orang aneh sepertinya, dia berjalan dengan cepat menaiki tangga tanpa memperdulikan Gabriel yang masih mengikutinya. Ia berhenti ketika melihat wajah ketiga temannya di koridor, menghampirinya dan menaruh tas kebawah dengan kesal. "Baru dateng lo?"tanya Reegan padanya yang dijawab anggukan saja. Alvaro membuka hoodie nya dan melemparnya ke atas tasnya, Jeeskya berdecak lalu meraih hoodienya untuk di lipat dan dimasukkan ke dalam tas. Alvaro meregangkan badannya hingga meninbulkan suara yang khas, tangannya membuka masker dan memasukkan ke dalam tasnya. Lebam samar masih menempel di tulang pipinya membuat Reegan tertawa terbahak-bahak melihatnya. "Wes buset, tumben sepi. Masih sehat lo?" "Kaki gue rame." Dipta dan Jeeskya yang sudah diberi tahu oleh Reegan kemarin hanya diam sambil menatap dengan prihatin. Jujur ia lebih suka ditertawakan daripada dikasihani. Alvaro duduk di samping Jeeskya dengan punggung yang bersandar pada dinding pembatas, tangannya membuka lembar per lembar halaman novel yang belum selesai ia baca. "Novel apa itu?"tanya Jeeskya padanya dengan penasaran, Alvaro menyodorkan pada gadis itu yang langsung di terima dengan semangat. "Gila gaya bahasanya bukan gue banget, masih sehat otak lo abis baca ginian?" Alvaro menghendikkan bahunya acuh, toh ia membaca tanpa menggunakan pikiran untuk memikirkan teka teki yang ada. Terlalu merepotkan. "Alurnya oke,"jawabnya membuat Jeeskya mengangguk setuju. Jeeskya adalah tipe perempuan yang suka membaca novel ringan, terlalu malas katanya. Alvaro juga setuju dengan itu sebenarnya, hanya saja novel ini cukup menarik untuknya yang sedang kebosanan. Alvaro melirik Dipta yang hanya diam sedari tadi, seperti bukan dirinya saja. Sikunya menyenggol Jeeskya dan menatapnya seolah bertanya 'kenapa'. "Ditolak teteh kampus katanya,"ucap Jeeskya dengan berbisik. Alvaro mengangguk paham, Dipta memiliki kriteria yang menarik dimana ia menyukai gadis yang lebih tua darinya. Seperti tante tante mungkin? Alvaro menepuk bahunya beberapa kali seolah memberi semangat. Semangat Dipta, semangat untuk mencari pengganti teteh kampus menjadi teteh janda. Bercanda.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN