Hari ini adalah hari terakhir mereka ujian, murid - murid mengeluh tepat ketika bel selesai ujian berbunyi. Wajah mereka seolah olah bahagia setelah belajar terlalu keras hingga mengabaikan jam tidur dan jam makan yang menjadi berantakan.
Alvaro menghela nafas kasar ketika sudah keluar dari ruangan yang gelap itu. Dirinya seolah olah dihadirkan di tengah tengah jembatan goyang, dimana jika ia terjatuh akan dimakan buaya tapi jika ia berjalan akan dimakan oleh dinosaurus. Tidak ada jalan untuk berbalik arah karena jembatan terlalu goyah, bahkan jika ia tetap berdiri di tengah tengah jembatan akan roboh dengan sendirinya.
Beberapa hari yang lalu kepala sekolah memanggilnya ke kantor, ia ditawarkan untuk mengikuti olimpiade sains yang akan diadakan beberapa bulan lagi. Ia tidak masalah dengan itu, hanya saja jam istirahatnya akan semakin berkurang dengan jam tambahan ini. Ditambah dengan taruhannya dengan Gabriel beberapa hari yang lalu, Alvaro berniat untuk meminta Gabriel untuk tidak mengganggunya lagi tapi itu percuma. Gadis itukan salah satu dari anggota olimpiade yang kemungkinan besar menjadi partnernya.
Jika nilainya turun ia akan diberi hukuman, tapi jika nilainya berada di posisi umum ia akan masuk menjadi anggota olimpiade yang juga seperti hukuman baginya. Maju mundur tetap saja membuatnya menderita.
Alvaro akan berencana untuk bermain terlebih dahulu bersama ketiga temannya, memenuhi janji dimana mereka akan bermain ke taman hiburan yang terkenal di kota ini. Cukup sulit membuat David menyetujui tanpa memberi laporan pada kakek dan ayahnya, tapi pada akhirnya ia memberi setuju dengan persyaratan dimana jadwal belajarnya akan bertambah di hari libur. Bukan masalah, toh biasanya seperti itu bukan?
Mereka berniat pergi menggunakan motor milik Dipta dan Reegan, tapi saat berada di parkiran motor mereka terdiam ketika melihat paku yang tertancap di kedua ban.
"Siapa yang bikin gara gara kayak gini?"bentak Reegan dengan kesal, beberapa murid yang berada di parkiran tersentak kaget. Pamor Reegan dan Dipta cukup sebanding dengan Radizan yang notabenenya adalah ketua geng motor.
"Gue, kenapa? Masalah?"
Mereka berempat menoleh dengan bersama sama kearah sumber suara, disana berdiri seorang pria diikuti gerombolannya yang menatap mereka dengan sombong. Beberapa gadis berada di gerombolan itu menatap kearahnya dengan congkak, lain dengan Gabriel yang mengedipkan satu mata ke arahnya.
"Ada masalah apa lo sama gue?"tanya Dipta dengan kesal karena motor kesayangannya tidak bisa digunakan.
"Gak ada masalah sih sama lo, adanya sama temen lo si anak baru, bener kan?"ucap Dizan padanya. Alvaro melihatnya dengan pandangan penuh tanya, mereka berdua kan tidak saling mengenal sama sekali.
"Maksud lo?"tanyanya.
"Simple aja, gak usah deketin cewek gue. Cukup,"ucap ptia itu lagi, Gabriel menyangkal dengan kencang dari belakang punggung pria itu.
"Gue sama lo udah putus dari lama, Dizan. Berhenti larang larang gue."
"Emang ada mantan yang masih kayak lo sama gue? Gue gak pernah anggap kita putus ya, Gab!"
Alvaro melihat dengan malas, drama picisan macam apa ini sialan?! Gabriel yang mendekatinya kenapa ia yang kena imbasnya?
"Berantem dulu gih, coba tanya ke cewek lo siapa yang ngedeketin siapa disini." Alvaro berjalan ke arah mobil yang sudah di mintanya dari David tadi, dua orang dengan baju biru kemari untuk mengurus motor milik dua temannya.
Keempatnya berjalan memasuki mobil tanpa perduli dengan drama picisan dari mereka berdua, ia sudah berpesan bahwa mereka bisa membawa motor temannya ke rumahnya ketika sudah selesai. Apakah Alvaro sudah pernah mengatakan bahwa ia bisa mengendarai kendaraan pribadi sebelumnya? Jika belum maka ia akan mengatakannya saat ini. Ia menyetir mobil berwarna putih ke taman bermain yang terkenal di kota ini.
"Sorry." Alvaro mengatakannya tanpa menjelaskan apapun, seharusnya mereka paham sih. Anggap saja montir dan mobil ini adalah ucapan permintaan maaf darinya mengenai hal tadi.
"Bukan salah lo, santai aja."
Suasana kembali sepi sampai Alvaro mengucapkan satu kata yang membangkitkan emosi untuk menggebuknya, "emang."
Memang siapa yang merasa bersalah disini? ia kan hanya meminta maaf bukannya bersalah.
Umpatan demi u*****n memenuhi gendang telinganya yang suci ini, baiklah ia sudah meminta maaf meskipun tidak merasa bersalah sama sekali.
***
Jam sudah menunjukkan pukul lima lebih lima puluh, mereka sudah mencoba semua wahana disini mulai dari yang ringan sampai yang berat. Bahkan sudah mencoba memasuki rumah hantu yang hanya gelap tanpa hantu sama sekali, ini hantunya hanya bisa dilihat anak yang indigo saja kali ya?
Saat ini keempatnya duduk di bangku sebuah street food yang masih berada di kawasan taman bermain ini. Berbagai makanan disajikan disini, mulai dari camilan yang bisa dimakan sambil jalan hingga makanan berat seperti nasi goreng, bakso, dan lain lain.
Alvaro memesan seporsi bakso komplit dengan segelas minuman kemasan rasa leci itu. Badannya mengikuti kemana Jeeskya berjalan, Reegan dan Dipta sudah duduk di bangku sambil menunggu pesanan. Ia saat ini sedang mengikuti Jeeskya yang sedang memilih sate satean yang di bakar di salah satu tenda disana.
Tangan gadis itu dengan senang hati memilih beberapa tusukan dan menaruh di piring yang dipegang oleh Alvaro. Alvaro kurang paham apa nama makanan itu, hanya saja ada bakso dan juga sosis ada juga makanan yang berbentuk seperti kerucut dan masih banyak lagi. Ia norak dengan makanan makanan yang sedang hits seperti ini.
"Di bakar pedes semua ya kak,"ucap gadis itu pada penjual. Ia menyodorkan piring di tangannya yang langsung di terima penjual itu.
"Di kursi nomor berapa kak?"tanya penjual pada mereka berdua.
"Kursi berapa tadi Al?"
"25."
"Nah nomor 25 ya kak, makasih."
Setelah membayar, mereka berjalan menuju bangku dengan beriringan, Alvaro duduk dengan nyaman. Semua pesanan sudah sampai ternyata, menambahkan kecap dan sedikit sambal kedalamnya dan mulai makan dengan diam. Jika boleh jujur, ini adalah kali pertama ia mendatangi tempat seperti ini. Mengingat semua keluarganya seperti apa pasti sudah jelas bukan?
Cukup lama pesanan tambahan milik Jeeskya yang terbilang sangat penuh datang, ralat bukan hanya milik gadis itu saja tapi milik mereka berempat. Hanya saja mereka membebaskan gadis itu untuk memilih apapun.
"Gila, lo serius milih ini semua?"ucap Dipta dengan terkejut, Alvaro mengambil satu tusuk yang sedari tadi menarik perhatiannya.
Menggigit satu dan mengangguk. Cukup enak ternyata.
"Ini namanya dumpling, lo pasti gak pernah jajan yang beginian kan pas sd?"ucap Reegan padanya, Alvaro mengangguk setuju. Boro boro jajan, sebelum bel pulang saja jemputannya sudah tiba di gerbang menunggunya. Tidak ada kesempatan untuk bermain, lagipula sekolahnya tidak pernah ada abang abang yang jualan di depan gerbang. Katanya sih dilarang oleh kepala yayasan.
"Sekolah gue asrama,"ucapnya setelah menghabiskan satu tusuk.
"Kalaupun bukan asrama juga gak bakal ada yang jualan beginian,"balas Jeeskya, benar juga sih sebenarnya.
"Yaudah besok lo yang adain aja, Jes,"ucap Dipta bercanda, Jeeskya mengangguk dengan semangat.
"Bener juga, siapa tau gue jualan beginian balik balik jadi rich people kan."
"Bener tuh."
Alvaro menggelengkan kepalanya, lucu saja mendengar percakapan mereka ini. Ponsel di meja bergetar membuatnya dengan spontan mengambil, ada pesan ternyata. Pesan itu dari aktris drama picisan yang tadi dilihatnya secara live, siapa lagi kalau bukan Gabriel.
Gabriel : Sorry yang tadi.
Gabriel : Dizan emang agak gila anaknya, tolong maklum ya.
Alvaro : Sans.
Matanya beralih pada bar notifikasi yang baru saja masuk, pesan dari David yang mengatakan bahwa motor kedua temannya sudah sampai dengan baik di rumah. Hanya satu pesan, Alvaro membalas dengan kata oke saja sebelum menutup ponsel dan menaruhnya di dalam tas.
Mereka menghabiskan pesanan terakhir dengan diselingi bercanda, setelah selesai mereka kembali ke rumah Alvaro untuk mengambil motor. Rumahnya cukup jauh dari kawasan sini, hampir menghabiskan waktu sekitar setengah jam untuk tiba di kawasan perumahan rumahnya.
Mobil putih berhenti di gerbang berwarna silver yang menjulang tinggi, tembok putih yang sama tingginya dengan ujung diberi besi yang runcing memutari rumah ini. Cukup besar dan menimbulkan kesan mewah dari luar.
Brengsek, tidak hanya bagian luar, tapi bagian dalamnya bahkan lebih mewah. Halaman yang luas, air mancur di tengah tengah juga garasi yang penuh dengan mobil berbagai warna dan berbagai merk terpampang di samping.
Alvaro memarkirkan mobilnya pada tempat kosong disana, mengambil tas dan mempersilahkan ketiga temannya untuk keluar sebelum mengunci pintu mobil dan mengantongi kuncinya. Mereka bertiga diarahkan menuju motor yang terparkir di samping dua motor besar berwarna hitam, motor milik Alvaro.
"Thanks ya Al, sorry ngerepotin,"ucap Dipta sambil menyalakan mesin motor berwarna biru tua miliknya.
"Santai, gak mau mampir dulu?"tawarnya pada mereka. Agak ragu sih sebenarnya karena saat ia parkir tadi ia melihat mobil yang biasa dipakai ayahnya disana yang artinya ayahnya sudah pulang.
"Gak perlu, udah malam. Gak enak juga,"tolak Reegan, Alvaro mengangguk dan membiarkan ketiganya pulang.
Ia melangkahkan kakinya memasuki rumah yang langsung disambut oleh beberapa pelayan. Alvaro berjalan tanpa melirik menuju kamarnya, tidak ada ayahnya di ruang keluarga dan ruang makan yang artinya beliau berada di ruang kerjanya.
Mengherankan, mengingat ayahnya adalah tipe pria yang tidak akan pulang kerumah terlebih ketika weekend tiba. Terlalu sibuk dengan keluarga selingkuhannya, ehem maksudnya keluarga barunya.
"Hari ini seperti biasa." Pelayan yang berada di belakangnya mengangguk paham dan mulai menyiapkan makanan untuk makan malam kedua tuan dirumah ini.
Alvaro melanjutkan jalannya menaiki tangga memutar di rumah ini, cukup melelahkan mengingat ia sudah berjalan hampir setengah hari tadi.
"Baru pulang?"
Tangannya berhenti bergerak untuk membuka pintu, badannya membalik dan menemukan Ayahnya berdiri di ruangan samping dengan tangan yang bersedekap di d**a. Wajahnya tajam penuh dengan emosi, seolah olah Alvaro melakukan pembunuhan pada seseorang di jalan.
"Papa pulang?"tanyanya sok tenang.
"Saya pikir setelah mendapat hukuman dari kakekmu kamu jadi sedikit paham, ternyata percuma."
Alvaro menundukkan kepalanya, tangannya mengepal di samping badan berusaha menekan emosinya sendiri yang hanya akan membuat ayahnya semakin marah.
"Berhenti merepotkan saya, Alvaro. Kamu ini sudah sebesar ini tapi tidak paham paham, harus seperti apalagi saya mendidik kamu? Sialan!"
Alvaro tidak menjawab meskipun pikirannya dipenuhi kata kata yang ingin di teriakkan pada pria tidak tahu malu di depannya ini.
Mendidik katanya hah? Bagian mana yang mendidik sebenarnya?
"Jika nilaimu memburuk kembalilah ke sekolah asrama, saya tidak akan menerima sebuah penolakan lagi. Mengerti?"
"Ya, papa."
Ayahnya berbalik sambil memijat pelipisnya, hari ini ia aman dari pukulan papanya. Alvaro memasuki kamar dengan wajah datar, tangannya mecengkram tali tas sekolahnya dan melemparnya hingga mengenai gelas dan teko kaca di meja depan televisi. Dua benda itu terjatuh ke lantai sehingga menimbulkan bunyi pecahan yang sangat keras, air putih didalam teko mengalir membasahi lantai.
Alvaro tidak perduli dengan hal itu, ia menghela nafas kasar untuk menekan emosinya lagi. Membuka seragam dan melemparnya ke keranjang pakaian kotor, pikirannya hanya berisi u*****n u*****n kotor untuk ayahnya.
"Emang cocok mereka,"ucapnya dalam hati.