Episode 9. Lelah

1617 Kata
Liburan semester sudah tiba membuat semua pelajar kegirangan, bebas tidur tanpa diganggu oleh alarm, bebas bermain tanpa terganggu oleh pekerjaan rumah yang memusingkan, dan juga bebas melakukan apa saja yang tidak bisa di lakukan ketika sekolah. Hanya saja beberapa dari mereka merasa sedih karena uang jajan tidak diberikan meskipun libur sekolah. Lain dengan mereka yang menanti nanti liburan seperti ini, Alvaro sudah sejak pagi tadi lebih tepatnya sejak pukul tujuh pagi sudah harus menghadapi guru les privatenya. Ia duduk dengan malas di kursi kayu perpustakaan yang terbilang luas dirumahnya mendengarkan pria paruh baya dengan kacamata kotak yang bertengger di hidungnya sedang menjelaskan tentang materi baru. Sekarang sudah pukul 11.30, lima belas menit lagi jam les pertamanya selesai dan akan dilanjutkan nanti pukul satu siang. Alvaro meregangkan badannya sambil bersandar ke belakang, ia meminum air putih yang ia bawa dari pagi tadi. Ia akan menunggu makanannya disini, terlalu malas untuk bangun dan berjalan keluar. Lagipula dirinya sedang tidak nafsu memakan apapun, lidahnya terasa pahit sejak sarapan tadi. Alvaro mengambil buku yang menarik perhatiannya di salah satu rak, dia membacanya sambil duduk di bangkunya tadi. Cahaya matahari memasuki ruangan ini melalui jendela kaca yang terbuka, korden yang berearna putih berterbangan akibat angin, udara cukup dingin saat ini. Sepertinya musim akan berganti menjadi dingin sekarang, badannya masih terasa dingin meski ia memakai kaos dengan bahan yang tebal. Hidungnya mencium aroma kayu yang bercampur dengan aroma buku, aroma yang familiar di indra penciumannya. Ia menyukai itu, ia bahkan dengan sengaja tidak menambahkan pewangi ruangan hanya untuk menikmati aroma ini. Alvaro mengenakan jaket yang sengaja ia bawa tadi, udara tiba tiba terasa sangat dingin di badannya. Belakangan ini sering terjadi hujan disertai petir, mungkin karena itu kulitnya terasa lebih dingin dibanding biasanya. Alvaro membuka lembar per lembar halaman dari novel yang terbilang tebal itu, gaya bahasa yang ringan dan alur yang sedang diminati pasaran saat ini. Alvaro tidak menoleh ketika pelayan masuk setelah mengetuk pintu, piring berisi makanan disajikan di meja yang luas ini. Buku buku disingkirkan di pinggir, ia menutup novel dan memakannya dalam diam meski terasa hambar di lidahnya. Dibanding menghabiskan sepiring makanan di depannya, ia memilih menaruh sendok dan membawa nampan itu turun. Tiba - tiba saja ia menginginkan sekaleng minuman bersoda, membawa sepiring nasi yang hanya dimakan tiga sampai empat suap kebawah. Salah satu pelayan yang masih berseliweran mengerjakan pekerjaannya mengambil alih nampan ditangannya. Alvaro berjalan menuju lemari pendingin untuk mengambil sekaleng soda dan membawanya ke atas, ketika ia kembali ia dapat melihat guru privatenya sudah duduk di kursi kayu. "Siang, Alvaro." Alvaro duduk di depannya hanya mengangguk untuk menyapa balik. Les dimulai beberapa menit setelahnya, materi demi materi kembali di sajikan oleh guru lesnya. Matanya semakin sulit untuk lama terbuka, dia kurang tidur beberapa hari ini. Wajahnya pucat dan kepalanya pening seperti ditusuk jarum, dia merebahkan kepalanya pada meja. Memutuskan untuk tidur selama beberapa saat meski jam lesnya belum berakhir dan guru di depannya masih berceloteh menjelaskan materi baru yang semakin memusingkan kepalanya. Entah berapa lama ia tertidur yang pasti kini tubuhnya sudah pindah di kasur dalam kamarnya, kepalanya semakin pening bahkan kini terasa sedikit berat dan berputar putar. Dadanya sedikit sesak dan berat untuk bernafas, apakah ia saat ini sedang sakit? Alvaro mengerjapkan matanya yang berat untuk di buka, mengelus keningnya yang terasa panas dan berkeringat. Ia duduk, mengambil segelas air putih di nakas dan meminumnya. Pukul 19.30, hampir sehari ia tertidur tapi tubuhnya belum juga membaik. Pintu di kamarnya di ketuk beberapa kali, ia tidak mengeluarkan suara hanya diam sambil melihat pintu yang kini semakin terbuka. "Tuan sudah bangun? Dokter sudah tiba tadi, beliau berkata bahwa ini efek kelelahan. Karena anda sudah sadar sekarang lebih baik makan lalu meminum obat,"ucap pelayan itu sambil menaruh semangkuk bubur dan obat, Alvaro bisa menebak bahwa itu adalah obat yang sangat pahit ketika melihat ukurannya yang besar. Tunggu, ada yang aneh. 'karena anda sudah sadar?' ia pingsan? Tidak tidak, ia tadi tertidur kok. Sungguh. Tapi ia juga tidak bisa menyangkalnya, Alvaro adalah tipe anak yang sensitif ketika tidur. Jika ia sampai di kamar tanpa terganggu, berarti itu kemungkinan yang ada kan? Pelayan berpamitan untuk keluar, Alvaro melirik ke arah mangkuk berisi bubur di nakas sampingnya. Tidak nafsu makan tapi tetap harus makan, ia tidak suka sakit karena ia akan terlihat lemah. Sungguh menyebalkan. Setelah menghabiskan bubur dan meminum obat, ia merebahkan tubuhnya di kasur. Matanya kembali memberat ketika kepalanya sudah menempel pada bantal, memejamkan mata dan kembali tertidur lagi. *** Alvaro harus bedrest selama beberapa hari hingga kondisi tubuhnya membaik, ia sempat demam tinggi kemarin bahkan asma yang ia miliki sempat kembali pada tubuhnya lagi. Setelah benar benar pulih, ia kembali bertemu guru guru lesnya. Jadwalnya tidak seketat kemarin, tapi cukup lama, penuh hingga selesai liburan semester. Sebelum di ubah, ia seharusnya mendapatkan waktu bebas selama dua hari sebelum masuk ke sekolah. "Selamat siang, bagaimana kondisi anda?"sapa guru sains nya. "Membaik, terima kasih." Alvaro dengan tulus berterima kasih, pasalnya ia katanya pingsan di jam ketika beliau sedang mengajar. Untung saja beliau sempat mengecek keadaannya yang tertidur pulas eh pingsan dan segera memanggil pelayan. "Bukan masalah, jaga kesehatan itu lebih penting." Alvaro mengangguk sambil tersenyum, ia kembali fokus pada pelajaran di depannya. Mengulang materi kemarin yang tidak ia simak karena sakit. Hanya dengan menghitung jari sekolah akan dimulai, pembagian selembaran raport akan diberikan ketika hari pertama masuk sekolah. Sekolahnya memakai sistem raport akan diberikan pada siswa jika bukan ujian kenaikan, setelah sekolah dimulai akan diadakan free class selama satu minggu. Katanya sih hitung hitung tambahan istirahat ketika liburan, biasanya di waktu begitu osis akan menambahkan beberapa lomba antar kelas. Alvaro belum membuka ponsel selama beberapa hari, ia tidak tahu kepastian akan ada lomba atau tidak. Meskipun ada sekalipun ia tetap tidak minat mengikuti, malas lebih baik berdiam diri di uks untuk tidur siang atau membaca di perpustakaan sekolah. Seluruh jadwal lesnya hari ini sudah berakhir, Alvaro merebahkan tubuhnya di kasur setelah beberapa jam terduduk di kursi, pegal. Ia merasa bosan saat ini, sudah makan dan meminum obat, lalu apa yang harus ia lakukan sekarang? Membuka ponsel yang beberapa hari ini belum ia buka, beberapa pesan tidak penting yang muncul di roomchatnya. Tidak berminat membalas, hanya membaca dan menekan tombol home. Ia juga tidak memiliki minat memainkan sebuah game dari ponselnya, tangannya beralih menggenggam remote tv dan menekan ke saluran lokal. Hanya sinetron saja yang ada disana, Alvaro tidak suka itu. Ponsel yang berada di sampingnya bergetar, sebuah panggilan suara dari Gabriel. Tumben sekali, mendiamkannya beberapa saat karena berpikir mungkin gadis itu salah pencet tapi panggilan suara ketiga kembali masuk ke ponselnya. "Kenapa?"tanyanya ketika sudah menekan tombol hijau. "Gak apa apa, kangen aja. Lo lagi apa?" Alvaro mengeryitkan dahinya heran dan berulang kali mengecek si penelpon. "Sehat?"tanyanya tidak yakin. "Sehat, lo gimana sehat?" "Lumayan." "Lo tau gak gue lagi coba bikin kue, enak tau. Besok waktu udah masuk sekolah gue bawain mau ya?" "Emang kalau gue nolak lo gak bakal bawain?" "Gak sih, bakal tetep gue bawain hehe. Lo gak ada alergi apa apa kan?" "Gak." "Oke, harus lo habisin. Nanti gue tungguin sampe habis pokoknya." "Mm." "Lo lagi apa? Sibuk gak?" "Sibuk." "Sibuk apa?" "Napas." Lama tidak ada suara sampai telinganya mendengar tawa nyaring dari sana, telinganya berdengung sebentar membuat Alvaro dengan spontan mengelus telinganya. "Oke, gue percaya aja deh. Lo masih inget kan soal taruhan kemarin? Lo harus siap kalau gue jadi pacar lo Al!" "Gak bakal." "Lo gak mau nanya balik gitu ke gue Al? Gak apa apa kok, udah kelihatan dari muka lo. Muka muka cowok yang gak laku." Ah berisik sekali cewek ini, tapi entah kenapa Alvaro sedikit enggan untuk mematikan panggilan, anggap saja pengisi kebosanan. "Penting?" "Iya, menurut gue. Biar kayak orang orang lagi pdkt gitu tau, lo mah datar datar amat." Panggilan berlangsung hingga pukul 2 pagi, entah pembahasan apa yang mereka bicarakan hingga pagi. Ralat, hanya Gabriel yang mencari pembahasan, Alvaro hanya membalas dengan satu kata dua kata saja. Panggilan mati dengan sendirinya saat Gabriel ketiduran dan Alvaro yang ikut tertidur. Ketika Alvaro terbangun di pagi hari, ada dua pesan dari gadis itu yang masuk ke ponselnya, menanyakan tentang siapa yang mematikan telepon tadi. Ia tidak berniat membalas, hanya membaca pesan itu dan kembali ke layar utama ponselnya. Kepalanya terasa pusing mungkin karena posisi tidur yang tidak benar dan handphone yang masih menyala berada di samping kepalanya. Jam sudah menunjukkan pukul 7 pagi, ketika ia selesai mandi pintu kamarnya di ketuk. Ia sudah memperingatkan pelayan di rumahnya kemarin, jika ia tidak menjawab ketukan tinggalkan saja makanannya di depan pintu dan pergi. Terkadang ia terlalu malas untuk menjawab dan berjalan membuka pintu, merepotkan. Di depan pintu sudah di siapkan satu nampan yang berisi satu sandwich dan sepiring nasi lengkap dengan lauknya, bahkan mereka juga menyiapkan segelas s**u panas dan juga air putih. Akibat dari ia terlalu malas turun untuk makan dalam keadaan sepi di rumah ini. Alvaro memakannya sambil menonton televisi, hari libur begini banyak kartun yang di tayangkan di channel lokal. Jarinya berhenti menekan tombol remote tepat di channel kartun mobil balap, menontonnya dengan wajah datar tanpa antusiasme. Meski begitu ia menjadi lambat ketika mengunyah saking terfokusnya pada televisi. Ponselnya bergetar beberapa kali, ada panggilan masuk lagi sepertinya. Ia menekan tombol hijau tanpa mengalihkan pandangan dari televisi dan menempelkannya di telinga. "Al, kok di lo gelap?"tanya seorang di sebelah sana, panggilan kali ini terasa lebih ramai sepertinya. "Hm?"tanyanya tidak paham. "Lo dimana? Kok layar lo gelap?" Hah? Layar? Alvaro segera menjauhkan ponselnya dari telinga. Sial, ini panggilan video dari ketiga temannya. "Ah gue kira telepon suara,"ucapnya dengan datar, ia menyenderkan ponselnya di gelas agar berdiri, menekan tombol speaker dan melanjutkan makannya sambil menonton televisi. Ia bahkan tidak nimbrung untuk berbicara bersama temannya, hanya sesekali menjawab dengan singkat tanpa mengalihkan pandangan dari layar televisi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN