“Tempat ini tidak banyak berubah semenjak aku kecil.”
“Ayahmu bekerja pada tuan Taiki?”
Riki menerawang mengingat masa lalunya, “ya, ayahku adalah seorang Samurai ternama, namun ayah dan ibu tinggal terpisah karena suatu hal. Ayah sering berkunjung ke tempat ibu dan menjemputku untuk menginap di sini. Di tempat ini kemudian aku dipaksa untuk belajar ilmu pedang. Aku seringkali babak belur dihajar olehnya, aku sangat membenci ayahku, beliau orangnya sangat keras, dari kecil aku dididik untuk menjadi seorang Bushi, padahal aku sangat membenci peperangan.” cerita Riki singkat.
“Hahahaha… Aikawa, cukup tentang diriku, bagaimana denganmu?” lanjut Riki lagi.
“Diriku? Ya, inilah cerita bagaimana aku bisa berada di tempat bernama Geisaku ini. Suatu hari terjadi penyerbuan di desaku, aku tidak mengerti apa yang terjadi, katanya desaku sarang pemberontak, lalu Tuan Taiki mengadopsiku saat menemukanku dalam invasi tersebut. Aku sedang terduduk di samping rumahku yang terbakar, menangis dan tidak tahu harus apa.”
Aikawa melanjutkan ceritanya.
“Ketika sampai di sini, mulanya, aku diberi kamar enak, makanan dan pelayanan yang baik, namun suatu hari Tuan Taiki memaksakan untuk memandikan diriku, tentu saja aku berusaha menolak, namun dia terus memaksa dan membuka bajuku, saat itulah tiba-tiba tuan Taiki berteriak-teriak dan berlari keluar ruangan.”
“Berteriak-teriak? Apa yang dia katakan?” tanya Riki.
“Anak laki-laki… anak laki-laki… ternyata kau anak laki-laki!!! KELUAR KELUAR DARI KAMAR MANDIKU!! begitu katanya.” Aikawa lanjut bercerita. “Aku tidak mengerti, dari pertama kan aku memang anak laki-laki?”
Riki tertawa terbahak-bahak mendengarnya sambil melihat rupa Aikawa.
“Tidak ada yang salah dengan tubuhmu Nak, Aku yakin masa pertumbuhanmu masih panjang Nak…” ucap Riki.
Aikawa hanya diam menggeleng-geleng tidak mengerti dengan jawaban Riki barusan.