bc

The Black Umbrellas Army

book_age16+
51
IKUTI
1K
BACA
revenge
independent
brave
bxg
mythology
feminism
first love
friendship
virgin
gorgeous
like
intro-logo
Uraian

Takamanoraha Miyuki, wanita yang menjadi pemimpin sebuah kelompok yang memutuskan untuk lari dan bersembunyi di sebuah benteng di tengah hutan yang diberi nama 'Takamanomon'. Mereka dianggap sebagai pasukan pemberontak karena tidak mau mengikuti pemerintah feodal. Miyuki mengembangkan senjata api jenis bedil untuk melawan para pasukan istana yang terus mengganggu kehidupannya.

Kokunosaki Rikiguro seorang putra Samurai Jepang yang dibesarkan dengan didikan yang keras oleh ayahnya, ia dilatih untuk menjadi pendekar hebat walau ia sangat teramat membenci peperangan.

"The Black Umbrellas Army" adalah sebuah cerita tentang perjuangan hidup dan perjuangan cinta.

chap-preview
Pratinjau gratis
Negeri Bunga Sakura
Di sebuah negeri di mana dipercaya sebagai tempat tinggal sang Dewa Matahari… Krisis sedang berlangsung, militer bekuasa dan membentuk pemerintahan di setiap daerah-daerah, daerah khusus tersebut dipegang oleh seorang Tuan tanah yang diberi kekuasaan secara penuh oleh keluarga Shogun yang berkuasa kala itu. * * * Malam itu sedang terjadi hujan badai disertai angin kencang dan ledakan petir yang terus menerus bersahutan di langit. “Aku tidak tahan lagi dengan sikapmu, sungguh tidak pantas kau membeli banyak wanita seperti itu. Apa kau tidak pernah memikirkan anakmu?” “Aku menyelamatkan mereka dari majikan-majikan mereka yang kasar, aku juga menyelamatkan mereka dari prostitusi, negeri ini sedang krisis.” “Tetapi kau tidak memikirkan perasaanku saat kau bersenang-senang dengan mereka.” “Apa yang kau bicarakan? Mereka menyenangi diriku, mereka menyerahkan diri mereka tanpa kuminta, mungkin itu balas budi mereka kepada pahlawan yang telah menyelamatkan mereka.” “Sungguh hina, dan kau pun menikmatinya!” “Bicara apa sih dari tadi kau ini? Tugasmu besarkan saja anak itu! Kau tidak suka dengan cara hidupku? Kau pikir siapa yang merawatmu dan memberimu tempat tinggal selama ini!? Silahkan enyah dari istanaku jika kau tidak suka lagi dengan kehidupan di sini!” “Tuan Taiki, engkau seorang Bushi, kau seharusnya memiliki jiwa ksatria dalam dirimu, namun siapa dirimu? Tak ubahnya badut berpedang yang hanya bisa bersenang-senang, dan menyuruh orang lain untuk melakukan tugasmu.” [Bushi = Ksatria, istilah dalam sejarah Jepang.] “DIAM!! Aku sudah cukup muak denganmu wanita tua. Sekarang kau pilih, keluar dari ruanganku, atau akan kuusir kau untuk selamanya!” “TAIKI!!! bagaimana mungkin kau tega melakukan ini, anakmu sebentar lagi akan lahir…” “Biarlah, aku tak membutuhkan anak dari wanita hina sepertimu! Kalau begitu sikapmu, tak pantas kau hidup dalam istanaku!” “TAIKI KAU b******n, PENJAHAT!” sang wanita maju hendak mencakar wajah Taiki, namun Taiki menghindar dan menampar wanita itu sekuat tenaga hingga terhempas dan tergeletak di lantai. “WANITA HINA!! WANITA TAK TAHU DIUNTUNG, KALIAN SEKALI p*****r TETAP p*****r!! KELUAR!! PENGAWAL!! SERET p*****r TUA MURAHAN INI KELUAR DARI ISTANAKU!!” Dua orang pengawal istana menyeret wanita tua malang itu dan membuangnya keluar istana. “SEMOGA KAU MEMBUSUK DI NERAKA, TAIKI!!! KUHARAP SELURUH DEWA DI LANGIT MENGUTUKMU SEHINGGA BUMI TIDAK DAPAT MENERIMA JASADMU.” Wanita tua berlari dengan isak tangis menahan dinginnya hujan dan tiupan angin badai, perlahan menghilang ditelan rimbunnya hutan. Wanita malang yang pergi dengan tertatih-tatih itu, tidak ada lagi yang mendengar tentang dirinya, tak lagi jelas rimbanya. * * * Tahun demi tahun, bulan demi bulan, hari demi hari berlalu, seorang putra Samurai kini telah menginjak usia dewasanya, latihan pedangnya begitu sempurna, gerakannya cekatan dan tangannya gesit. Semenjak kecil Ayahnya menanamkannya kebiasaan menolong yang lemah dan memahami tanggung jawabnya sebagai ksatria dan memahami arti nilai bushido dalam jiwa seorang ksatria. Setelah Ayahnya meninggal, sang Putra Samurai melanjutkan pengabdian ayahnya kepada tuan Taiki, pimpinan daerah kekuasaan Geisaku. Menghadaplah sang Putra Samurai bernama Kokunosaki Rikiguro kepada tuannya. “Oh, jadi dirimu putra Samurai Kokunosaki, baiklah aku ingin melihat kemampuanmu.” Taiki mengeluarkan pedangnya. “Tuan, anda ingin mencoba berduel dengan saya? Tidakkah sebaiknya kita memakai Sinai saja?” [Sinai = Pedang bambu untuk latihan Kendo (ilmu beladiri berpedang).] “Ahahaha, kenapa? Apa kau takut aku melukaimu? Lagipula biarkan gadis-gadis cantik ini melihat pertunjukkan kita.” “Baiklah jika tuan memaksa.” Rikiguro mengeluarkan pedangnya. Di aula istana duel mereka berlangsung, dentingan pedang diikuti riuh sorakan para gadis. Ayunan pedang Taiki menyerempet wajah Riki yang refleks melihatnya. Ayunan itu menghasilkan goresan kecil dan meneteskan darah. Taiki tertawa bangga memamerkan ilmu berpedangnya dan para gadis pun bertepuk tangan. Namun tiba-tiba Riki mengimbangi ilmu berpedangnya dan balas memukul mundur Taiki. Riki mengayunkan pedangnya dan ujung mata pisau pedang itu sukses menggores lengan Taiki, mengalirkan darah. Gadis-gadis terdiam melihat tuannya tergores kalah. “Ah, maaf, apakah Tuan tidak apa-apa?” tanya Riki. “Kau… ya… ya… aku sengaja tadi mengalah, karena ingin melihat seluruh kemampuanmu, rupanya kau memang sangat hebat seperti ayahmu. Kau pasti akan menjadi Samurai yang setia seperti dirinya. Wahahahaha…” “Ooohh tuan terluka, mari dirawatkan lukanya…” para gadis-gadis itu menghampiri dan membelai tuannya. Taiki pun membalas mereka dengan kolokan manja. “Rikiguro, istirahatlah hari ini, datanglah kemari nanti sore, akan kutunjukkan sesuatu. Pengawal akan menunjukkan tempat peristirahatan.” Riki berjalan keluar istana dan mendapati sebuah rumah khusus untuk para penjaga, seorang pelayan bertubuh kecil menyambutnya. “Silahkan tuan, apa yang anda butuhkan katakan saja kepada saya…” “Tidak perlu nona kecil, saya hanya akan beristirahat dan melihat-lihat tempat ini.” “E—nona??? Bukan, saya laki-laki koq…” “Oh, maaf.” Riki terkejut melihat diri pemuda itu, karena tubuhnya kecil, kulitnya putih bersih, bulu matanya begitu lentik dan wajahnya seperti anak perempuan. “Saya Aikawa Sakurai, saya yang akan melayani anda di sini. Kalau anda membutuhkan sesuatu panggil saja diriku. Apa anda mau berkeliling dan melihat-lihat tempat ini?” “Aku sudah pernah melihatnya saat aku kecil, ayahku yang membawaku, tetapi bolehlah engkau menemaniku, mungkin di sini banyak perubahan, lagipula dengan begitu kita bisa berkenalan.” balas Riki. “Baiklah.” balas Aikawa.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Accidentally Married

read
110.1K
bc

Long Road

read
148.2K
bc

Billionaire's Baby

read
285.9K
bc

My Sweet Enemy

read
49.1K
bc

Everything

read
283.5K
bc

Bukan Cinta Pertama

read
59.0K
bc

Undesirable Baby 2 : With You

read
168.2K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook